Serba-Serbi Kehidupan Sastra

Terima kasih telah mengunjungi blog ini

Rabu, 29 Oktober 2014

Cerbung (Love Secret, You and Me) bagian 1

Love SecretYou and Me
Di hamparan pasir putih, ku bisikkan kata yang sebenarnya aku sendiri tak mengerti makna sesungguhnya dari kata itu. Di hadapan deburan ombak yang berkejaran dan saling menggulung satu sama lain, aku bertanya pada diriku sendiri, “Akankah rasa yang telah lama mati akan muncul ke permukaan dengan gaya angkat yang cukup tinggi?”
Bayangan akan masa lalu yang buram kembali terlintas, walau hanya sekelebat. Masa lalu yang membuat hatiku tercabik-cabik dan cukup membuatku termotivasi dengan kepedihan itu. Kepedihan yang ditancapkan oleh insan pecinta alam. Sungguh, kalimat perpisahan yang tak terpikirkan sama sekali meluncur begitu saja dengan perantara teknologi.
Sudah ku coba, menunggu ketidakpastian. Sudah ku coba, menunggu dengan sepenuh hati, membiarkan dia berdiri di sisi orang lain dengan senyumannya. Aku tersenyum melihatnya bahagia, namun itu hanya senyum palsu. Senyum yang tidak dari dalam hati, sementara hati menangis dalam sakit.
Dan kini, benih-benih yang tak ku inginkan tiba-tiba saja mucul kembali, dengan objek yang berbeda. Meski berulang kali aku menepisnya, namun rasa bahagia tak dapat dipungkiri, rasa iri tak dapat dicegah, dan rasa kesepian tak dapat dihapuskan. Aku bahagia, bahagia yang tulus hadir saat mengetahui dia ada di dekatku. Aku iri, ya, iri, iri pada makhluk yang ditakdirkan bisa selalu dekat dengannya meskipun tak terjadi apa-apa di antara mereka. Aku kesepian, setelah mencari ujung helai rambutnya tak terlihat dari pandangan.
Mungkinkah aku termakan oleh cibiranku sendiri yang mengatakan, “Ah, dia kok kekanak-kanakan banget sih! Ah, dia kok ngga bisa menjaga mulutnya sih! Ah, dia kok emosian sih! Iuh, penampilannya kok aneh banget ya? Ngga benget deh!”
Tapi sekarang? Semua itu berbanding terbalik. Aku merindukan sosoknya yang dahulu sempat dekat denganku. Aku merindukan pesan-pesan profesionalnya. Aku merindukan sifat kekanak-kanakannya yang mengatakan, “Ah, capek ah, balik aja lah. Pusing aku!”
Semua itu identik dengan kata “Cinta”. Namun aku ragu, mungkin ini hanya rasa rinduku pada seseorang yang memiliki kemiripan 80% dengannya. Mereka sama-sama pecinta alam, sama-sama tinggi, sama-sama memiliki urutan kehadiran satu angka di belakangku. Sifat mereka juga identik. Aku tak mau terbuai oleh rasa semu.
Guk! Terjaga aku mendengar suara olongan anjing. Ku tolehkan kepalaku ke belakang, dan ku dapati seekor anjing dengan bulu jarang dan berkulit hitam legam berlari ke arahku. Aku menutup mata dengan harap-harap cemas.
Satu detik, dua detik, lima detik, tak terjadi apa-apa. Ku beranikan diri untuk membuka mata. Sosok berkaos bola memainkan bolanya di atas putihnya pasir, dan anjing itu ikut bermain dengannya. Sosok itu.........Yova?

òòò