Love Secret, You and Me
Di hamparan
pasir putih, ku bisikkan kata yang sebenarnya aku sendiri tak mengerti makna
sesungguhnya dari kata itu. Di hadapan deburan ombak yang berkejaran dan saling
menggulung satu sama lain, aku bertanya pada diriku sendiri, “Akankah rasa yang
telah lama mati akan muncul ke permukaan dengan gaya angkat yang cukup tinggi?”
Bayangan akan
masa lalu yang buram kembali terlintas, walau hanya sekelebat. Masa lalu yang
membuat hatiku tercabik-cabik dan cukup membuatku termotivasi dengan kepedihan
itu. Kepedihan yang ditancapkan oleh insan pecinta alam. Sungguh, kalimat
perpisahan yang tak terpikirkan sama sekali meluncur begitu saja dengan
perantara teknologi.
Sudah ku coba,
menunggu ketidakpastian. Sudah ku coba, menunggu dengan sepenuh hati,
membiarkan dia berdiri di sisi orang lain dengan senyumannya. Aku tersenyum
melihatnya bahagia, namun itu hanya senyum palsu. Senyum yang tidak dari dalam
hati, sementara hati menangis dalam sakit.
Dan kini,
benih-benih yang tak ku inginkan tiba-tiba saja mucul kembali, dengan objek
yang berbeda. Meski berulang kali aku menepisnya, namun rasa bahagia tak dapat
dipungkiri, rasa iri tak dapat dicegah, dan rasa kesepian tak dapat dihapuskan.
Aku bahagia, bahagia yang tulus hadir saat mengetahui dia ada di dekatku. Aku
iri, ya, iri, iri pada makhluk yang ditakdirkan bisa selalu dekat dengannya
meskipun tak terjadi apa-apa di antara mereka. Aku kesepian, setelah mencari
ujung helai rambutnya tak terlihat dari pandangan.
Mungkinkah aku
termakan oleh cibiranku sendiri yang mengatakan, “Ah, dia kok kekanak-kanakan
banget sih! Ah, dia kok ngga bisa menjaga mulutnya sih! Ah, dia kok emosian
sih! Iuh, penampilannya kok aneh banget ya? Ngga benget deh!”
Tapi sekarang?
Semua itu berbanding terbalik. Aku merindukan sosoknya yang dahulu sempat dekat
denganku. Aku merindukan pesan-pesan profesionalnya. Aku merindukan sifat
kekanak-kanakannya yang mengatakan, “Ah, capek ah, balik aja lah. Pusing aku!”
Semua itu
identik dengan kata “Cinta”. Namun aku ragu, mungkin ini hanya rasa rinduku
pada seseorang yang memiliki kemiripan 80% dengannya. Mereka sama-sama pecinta
alam, sama-sama tinggi, sama-sama memiliki urutan kehadiran satu angka di
belakangku. Sifat mereka juga identik. Aku tak mau terbuai oleh rasa semu.
Guk! Terjaga aku mendengar suara olongan
anjing. Ku tolehkan kepalaku ke belakang, dan ku dapati seekor anjing dengan
bulu jarang dan berkulit hitam legam berlari ke arahku. Aku menutup mata dengan
harap-harap cemas.
Satu detik, dua
detik, lima detik, tak terjadi apa-apa. Ku beranikan diri untuk membuka mata.
Sosok berkaos bola memainkan bolanya di atas putihnya pasir, dan anjing itu
ikut bermain dengannya. Sosok itu.........Yova?
òòò