Serba-Serbi Kehidupan Sastra

Terima kasih telah mengunjungi blog ini

Rabu, 29 Oktober 2014

Cerbung (Love Secret, You and Me) bagian 1

Love SecretYou and Me
Di hamparan pasir putih, ku bisikkan kata yang sebenarnya aku sendiri tak mengerti makna sesungguhnya dari kata itu. Di hadapan deburan ombak yang berkejaran dan saling menggulung satu sama lain, aku bertanya pada diriku sendiri, “Akankah rasa yang telah lama mati akan muncul ke permukaan dengan gaya angkat yang cukup tinggi?”
Bayangan akan masa lalu yang buram kembali terlintas, walau hanya sekelebat. Masa lalu yang membuat hatiku tercabik-cabik dan cukup membuatku termotivasi dengan kepedihan itu. Kepedihan yang ditancapkan oleh insan pecinta alam. Sungguh, kalimat perpisahan yang tak terpikirkan sama sekali meluncur begitu saja dengan perantara teknologi.
Sudah ku coba, menunggu ketidakpastian. Sudah ku coba, menunggu dengan sepenuh hati, membiarkan dia berdiri di sisi orang lain dengan senyumannya. Aku tersenyum melihatnya bahagia, namun itu hanya senyum palsu. Senyum yang tidak dari dalam hati, sementara hati menangis dalam sakit.
Dan kini, benih-benih yang tak ku inginkan tiba-tiba saja mucul kembali, dengan objek yang berbeda. Meski berulang kali aku menepisnya, namun rasa bahagia tak dapat dipungkiri, rasa iri tak dapat dicegah, dan rasa kesepian tak dapat dihapuskan. Aku bahagia, bahagia yang tulus hadir saat mengetahui dia ada di dekatku. Aku iri, ya, iri, iri pada makhluk yang ditakdirkan bisa selalu dekat dengannya meskipun tak terjadi apa-apa di antara mereka. Aku kesepian, setelah mencari ujung helai rambutnya tak terlihat dari pandangan.
Mungkinkah aku termakan oleh cibiranku sendiri yang mengatakan, “Ah, dia kok kekanak-kanakan banget sih! Ah, dia kok ngga bisa menjaga mulutnya sih! Ah, dia kok emosian sih! Iuh, penampilannya kok aneh banget ya? Ngga benget deh!”
Tapi sekarang? Semua itu berbanding terbalik. Aku merindukan sosoknya yang dahulu sempat dekat denganku. Aku merindukan pesan-pesan profesionalnya. Aku merindukan sifat kekanak-kanakannya yang mengatakan, “Ah, capek ah, balik aja lah. Pusing aku!”
Semua itu identik dengan kata “Cinta”. Namun aku ragu, mungkin ini hanya rasa rinduku pada seseorang yang memiliki kemiripan 80% dengannya. Mereka sama-sama pecinta alam, sama-sama tinggi, sama-sama memiliki urutan kehadiran satu angka di belakangku. Sifat mereka juga identik. Aku tak mau terbuai oleh rasa semu.
Guk! Terjaga aku mendengar suara olongan anjing. Ku tolehkan kepalaku ke belakang, dan ku dapati seekor anjing dengan bulu jarang dan berkulit hitam legam berlari ke arahku. Aku menutup mata dengan harap-harap cemas.
Satu detik, dua detik, lima detik, tak terjadi apa-apa. Ku beranikan diri untuk membuka mata. Sosok berkaos bola memainkan bolanya di atas putihnya pasir, dan anjing itu ikut bermain dengannya. Sosok itu.........Yova?

òòò

Kamis, 11 September 2014

Ghost in My Love


Genderang perang telah disemarakkan. Semua berubah seketika. Aku tak berniat merubahnya, tapi keadaan lah yang menyihir dengan sihir alam. Sekali lagi aku tak percaya. Ini keajaiban yang tak sesuai dengan nuraniku.
“Selamat ya, udah ketrima di universitas. Ciye ciye... Makan-makannya ditunggu ya,” ujar setiap orang yang lalu lalang dengan berbinar. Aku hanya tersenyum, tapi tidak dengan hatiku. Aku mengisi angket dengan iseng dan tak ku sangka aku akan tembus.
Sekali lagi ku lihat namaku yang tercetak di papan pengumuman. Ingesti Anggraeni. Ku telusuri nama-nama yang lain, mencoba mencari nama yang sekiranya akrab di telingaku. Eza Prabuanang. Eza Prabuanang? Astaga?!
“Kenapa gue tembus sih?!” ujar suara di belakangku dengan kesal. Ternyata bukan hanya aku yang tak menerima keputusan ini. Beruntungnya diriku ada teman yang senasib denganku.
Ku balikkan tubuhku dan ku dapati sosok yang amat ku kenal.
“Eza?!”
ZZZZZ
“Wez...udah siap jadi anak seni, Nges?” goda Eza dengan jahilnya. Aku yang mendengar hanya tersenyum sinis.
“Apaan sih lo. Lo tau kan, gue ngga pernah punya bakat di bidang seni. Cita-cita gue itu pengen jadi insinyur, bukan seniwati,” jawabku sebal. Eza pun melotot kemudian tertawa. Saat itulah aku dapat melihat bahwa tak banyak perubahan yang terjadi pada Eza. Semua sama seperti tiga tahun yang lalu.
“Hahaha... Kalo lo ngga suka, kenapa daftar?”
“Gue cuma menguji keberuntungan. Dan ternyata gue adalah orang yang beruntung. Lo juga kenapa daftar kalo pada akhirnya lo ngga suka diterima?”
“Eih, darimana lo tau itu?”
“Gue punya kuping, Eza. Gue denger tadi lo mendengus kesal.”
“Bokap maksa gue. Daripada gue berdebat terus-terusan, akhirnya gue nurut aja.”
“Emang lo sebenernya pengen lanjut kemana?”
“Kemana aja. Asal jurusan arsitektur, gue rela dikirim ke Papua.”
Aku merasakan desir kembali di hati. Setelah tiga tahun ku berusaha menepis rasa itu, akhirnya pada hari ini aku merasakan kembali. Rasa yang telah lama gersang. Yah, rasa cinta dan sayang. Aku tau, aku tak pernah memiliki Eza. Aku hanya menyukainya secara diam-diam. Namun lubuk hati terdalam sangat nyaman berada di sisinya.
“So, mau ngambil keberuntungan, atau mau menguji keberuntungan lagi?” tanya Eza seraya menyeruput jus jeruknya.
“Eh, oh, sepertinya aku mau ambil aja deh. Daripada buang-buang duit, mending yang udah pasti aja.”
“Oke, besok kita tes toefl bareng ya. Gue tunggu lo di gasebo. Awas lo kalo telat!”
“Siap bos!”
ZZZZZ
“Sial! Kenapa gue bisa telat bangun sih?!” runtukku saat berlari ke depan rumah.
Sepuluh menit lagi tes akan dilaksanakan. Namun bus tak kunjung singgah. Lagi-lagi aku mengutuk diri ini yang tak bisa mengendarai motor, meski ada satu motor nganggur di garasi.
“Kenapa ngga gue coba?”
Aku berlari menuju garasi dan kulajukan motor denngan kencang. Ternyata aku jago juga. Ini pertama kalinya aku mengendarai motor dan langsung sangat ahli seperti ini.
ZZZZZ
Ku berlari menuju gasebo. Ternyata sepi. Tak ada siapapun. Ah, seharusnya aku berpikir kalau Eza akan masuk ruangan duluan karena tes sudah berlangsung. Aku segera berlari ke ruangan ujianku dan langsung duduk di kursiku. Selembar kertas sudah tergeletak di depanku. Segera ku isi sebisaku.
Bell tanda selesai pun berdering. Aku melangkah gontai karena hanya separuh yang dapat ku kerjakan.
“Hai! Lo telat ya tadi? Kenapa?” sapa Eza tiba-tiba. Ia menarik lenganku dengan seenaknya.
“Ih! Aku tadi telat bangun. Dan lo tau, gue tadi kesini naik motor! Padahal gue belum pernah nyoba sebelumnya. Tapi gue sama sekali ngga inget gimana perjalanannya. Yang gue inget, gue udah di gasebo.”
“Ngimpi kali lo!”
Aku juga merasa bahwa ini mimpi. Semua orang yang berada di sekitar kami menatap aneh pada Eza. Sepertinya Eza juga merasa demikian. Tapi ia mencoba cuek.
Tiba-tiba ponsel Eza berdering. Kami menghentikan langkah kami dan Eza mengangkat panggilan itu.
“Hallo? Iya, Fan, gue lagi sama Ingesti. Iya, iya, Fani. Ntar lo langsung ke TKP aja. Iya, oke, thanks ya. Bye!”
“Siapa, Za?”
“Oh, ini Fani. Inget kan? Temen SMP kita.”
“Oh... Teman sekaligus mantan lo?”
“Hehehe... Tapi sumpah, gue udah move on kok dari dia.”
“Terus? Apa hubungannya sama gue?” meski aku menjawab demikian, tapi sebenarnya hatiku sakit. Atau...lebih tepatnya cemburu.
Eza mengangkat bahu dan melangkah kembali.
Ternyata Eza menuju motornya. Ngomong-ngomong, aku markirin motorku di mana ya?
“Ayo naik!” ajak Eza dengan ringan.
“Tapi motor gue?”
“Udah, tinggal dulu aja. Ntar gue anter ke sini lagi. Kita jalan-jalan dulu aja!”
Aku pun naik di motor Eza. Rasa itu semakin menguat. Bagaimana jika cinta ini hadir lagi dan semakin membuatku tak bisa berpaling?
ZZZZZ
Eza membawaku ke tempat yang sangat indah. Taman mawar. Penjaga taman lagi-lagi menatap aneh pada Eza. Kenapa? Ada yang aneh dengannya?
Eza membayar dua karcis dan kami pun masuk. Eza telah menyiapkan satu meja khusus untukku. Dengan berbagai makanan di atasnya dan pemandangan mawar yang luar biasa cantik. Ia bahkan mempesilahkan aku duduk.
“Ingesti, sebenernya...gue.....”
“Bentar-bentar. Toilet di mana ya, Za? Gue kebelet. Hehehe,”
“Lo lurus aja, ntar ada jalan belok, lo belok. Di situ toiletnya.”
Aku pun buru-buru ke toilet. Aku belum siap jika seandainya Eza menyatakan perasaannya padaku. Apa dia serius? Atau aku hanya dijadikan pelarian? Apa yang harus aku jawab?
Ku melintasi cermin, namun tak kutemukan bayanganku pada cermin itu. Apa arti ini semua? Kenapa banyak kejadian janggal hari ini?”
Aku kembali mengingat dari awal. Kejadian-kejadian aneh yang menimpaku. Mulai dari aku tak mengingat perjalanan, tak mengingat di mana aku memarkir motor, tiba-tiba ada di gasebo, tatapan-tatapan aneh yang ditujukan pada Eza, dan sekarang? Cermin pun tak mau memantulkan bayanganku?
“Apa jangan-jangan....gue...gue udah mati?”
Aku terisak. Takut bahwa pikiranku ini benar. Penjaga taman yang lewat pun tak memperdulikanku. Seakan-akan aku memang tak ada. Aku takut, hatiku sakit, dan aku terus menangis.
Ku lihat sosok cantik Fani dengan wajahnya yang memerah seperti habis menangis menghampiri Eza. Walau samar, aku dapat mendengar pembicaraan mereka.
“Fani, lo kenapa?”
“Ingesti, Za. Ingesti...”
“Lo ini ngomong apa? Dari tadi Ingesti sama gue. Sekarang dia emang lagi ke toilet. Dan gue grogi banget mau ngungkapin perasaan gue.”
“Eza sadar! Ignesti kecelakaan dan udah meninggal!”
“Maksud lo?! Fan, lo denger ya, Ingesti masih hidup! Lo jangan ngaco!”
“Lo yang harusnya sadar! Gue liat dengan mata kepala gue sendiri, Eza! Gue liat jenazah Ingesti langi dibawa ke rumahnya! Bahkan sekarang motor dan bekas darahnya sedang diselidiki polisi! Kalo lo ngga percaya, lo ikut ke Jalan Kartini!”
Aku masih tak percaya kalau aku sudah meninggal. Aku menangis sejadi-jadinya. Eza dan Fani berjalan ke arahku. Mungkin Fani tak akan bisa melihatku. Tapi Eza? Untuk sementara aku sembunyi di dalam tempat sampah.
“Ingesti?! Lo di mana? Lo masih hidup kan?” teriak Eza yang banjir air mata.
“Eza sadar! Mungkin tadi Ingesti cuma mau pamitan sama lo!”
Tubuh Eza lemas. Dengan dibantu Fani, ia melangkah menuju mobil Fani. Aku pun berjalan mengendap-endap mengikuti mereka dan ikut masuk ke dalam mobil Fani.
ZZZZZ
Benar saja. Di Jalan Kartini, aku dapat melihat motorku dan banyak darah yang mulai mengering. Kini aku percaya, aku hanyalah roh halus, hantu! Bukan manusia lagi!
Fani melajukan mobilnya kembali menuju pemakaman. Eza yang tak kuat dengan kenyataan itu pun pingsan di tempat. Aku hanya dapat menangis melihat tubuh berbalut kain mori dimasukkan ke dalam tanah.
“Selamat tinggal, Kasih. Selamat tinggal. Aku sayang kalian semua,” ujarku mencoba tegar. Air mata tak lagi mengalir. Aku menatap langit dengan senyum tipis.
Tuhan...jika memang aku telah Kau takdirkan untuk menghadapmu, aku ikhlas. Aku rela. Tapi tolong beri aku kesempatan untuk pamit pada Eza. Baru sebentar aku merasakan kebahagiaan dengannya. Izinkan aku mengucap salam perpisahan untuknya.
ZZZZZ
“Ingesti? Kamu benar-benar masih hidup kan?”
Aku hanya tersenyum di hadapan Eza dan berharap dapat tegar. Dengan bijaksana, aku berpamitan, “Eza, aku sayang kamu. Aku cinta kamu. Tapi biarkan cinta ini abadi. Abadi bersama rohku yang telah berada di alam yang berbeda. Maaf, aku tak dapat menemanimu lagi. Aku hanyalah roh, hanya hantu.”
“Tapi aku ngga peduli. Aku bahagia menjalin kasih denganmu, walau kau bukan manusia. Aku mohon, tetaplah di sisiku.”
“Kamu mau aku bahagia kan? Ikhlaskan aku pergi, Eza.”
Eza diam tanpa kata. Aku menutup mataku sejenak. Tak kuasa aku memandang wajah Eza yang penuh luka.
“Apakah kamu akan benar-benar bahagia jika aku ikhlaskan dirimu pergi?”
“Ya.”
Eza memelukku. Tuhan telah memberiku hadiah terindah, karena Ia memberiku kesempatan dapat menyentuh Eza. Aku membalas pelukan terakhir ini.
“Pergilah, Ingesti,” bisik Eza halus.
Perlahan, tubuhku semakin memudar, dan pada akhirnya aku dapat marasakan tubuhku terbang ke angkasa, meninggalkan cintaku di bumi.
Terkadang, cinta memang tak harus memiliki. Tapi setidaknya, cinta harus diungkapkan. Entah apa pun itu jawabannya, jangan sampai kau menyesal karena belum sempat mengatakannya. Apa pun jenis kelaminmu, itu tak menjadi halangan. Karena mencintai adalah hak semua insan, tanpa mengenal gender. Aku bahagia, meski aku harus pergi meninggalkan cintaku. Karena setidaknya, aku sudah memberi tahunya, bahwa aku mencintainya.”

ZZZZZ

Jumat, 22 Agustus 2014

Kisah Anak Kos Baru

Hei, bersyukur sekali hari ini aku bisa menggerakkan jemari kembali untuk berbagi cerita dengan teman-teman media massa. oke, kali ini aku pengen cerita tentang kehidupan awalku di Yogyakarta sebagai anak kos.

Kamis, 14 Agustus 2014

PPSMB as Lantern in the Dark!


PPSMB, mungkin terdengar asing bagi masyarakat pada umumnya. Oke, pada kesempatan kali ini, saya Mita Putri Indrayanti dari Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada akan membagikan sedikit goresan-goresan sebagai mahasiswa baru UGM 2014.

PPSMB adalah Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru. Yaaa gambaran umumnya PPSMB adalah “OSPEK”nya UGM. Pada tahun 2014, PPSMB dibagi menjadi 3 bagian, yakni PPSMB Universitas yang bernama PALAPA, PPSMB Fakultas, dan PPSMB Jurusan. Nama PPSMB Fakultas dan PPSMB Jurusan berbeda-beda, sesuai fakultas dan jurusan masing-masing. Pada Fakultas Teknik, nama PPSMB Fakutasnya PRISMA, dan pada jurusan Teknik Kimia, nama PPSMB Jurusannya POLIMER.
Ketiga bagian PPSMB tersebut saya yakin memiliki maksud dan tujuan yang baik untuk kami, para Mahasiswa Baru UGM. Kalau menurut saya pribadi, PPSMB as Lantern in the Dark. PPSMB seperti lentera dalam kegelapan. Mengapa lentera? Bukan matahari, bulan, bintang, lilin, senter? Karena:
1.      Matahari hanya muncul saat pagi, siang, dan sore hari. Di saat itu tidak ditemukan kegelapan. Kalau pun ada suatu ruangan yang gelap gulita, maka sinarnya menyusup hanya pada jarak tertentu saja dan itu tidak cukup untuk pandangan kita.
2.      Bulan hanya memantulkan cahaya dari matahari.
3.      Bintang, memang bintang memantulkan cahaya sendiri dan menerangi kegelapan malam. Namun bintang saja tidak cukup.
4.      Lilin, panasnya akan membakar lilin itu sendiri sehingga tubuhnya akan habis perlahan.
5.      Senter terlalu instan, padahal sesuatu yang didapat dengan instan hasilnya tidak akan maksimal.

Sedangkan Lentera, lentera sangat fleksibel dan sangat berarti bagi manusia. Lentera lebih tahan lama daripada lilin, dan lebih butuh perjuangan daripada senter. Jadi ibaratnya seseorang mau melewati sebuah lorong panjang yang sangat gelap, namun ada setitik cahaya di ujungnya. Jika seseorang itu membawa lentera, ia butuh perjuangan dalam menyalakannya, kemudian ia akan membawanya menyusuri lorong. Hanya lentera yang menemaninya hingga menuju titik terang itu.
Jadi, maksud saya, PPSMB ibarat lentera awal kita agar kita lebih mengenal kampus kita tercinta, UGM, yang akan menunjukkan kepada kita bagaimana kita bisa menjalani kehidupan sebagai mahasiswa akan mencapai kejayaan di masa yang akan datang sehingga mampu menjunjung nama Indonesia kita tercinta!

Sabtu, 31 Mei 2014

WESTLIFE, I MISS YOU

Miss you

 




I can't sleep,
I just can't breathe,
when your shadow is all over me baby,
Don't wanna be,
a fool in your eyes,
Cause what we had was built on lies,

And when our love seems to fade away,
Listen to me hear what I say,

I don't wanna feel,
the way that i do,
I just wanna be,
right here with you,
I don't wanna see,
see us apart,
I just wanna say it straight from my heart,
I miss you.....

What would it take,
for you to see,
To make you understand,
that i'll always believe, (always believe)
You and i,
can make it through,
And i still know,
I can't get over you,

Cause when our love seems to fade away,
Listen to me hear what I say,

I don't wanna feel,
the way that I do,
I just wanna be,
right here with you,
I don't wanna see,
see us apart,(see us apart)
I just wanna say it straight from my heart,
oh baby i miss you,
i do...

Cause when our love always fades away,
Listen to me hear what I say,

I don't wanna feel,
the way that i do,
I just wanna be,
right here with you,
I don't wanna see,
see us apart, (oh no ,see us apart)
I just wanna say it straight from my heart,
I miss you, i miss you,
i do...

I don't wanna feel,
the way that I do, (the way that i do)
I just wanna be, (just wanna be)
right here with you, (right here with you)
I don't wanna see, (don't wanna see)
See us apart,(see us apart oh baby)
I just wanna say it straight from my heart
oh baby i miss you,
i do...

Rabu, 28 Mei 2014

De Angel 1 Karya Luna Torashyngu part 13 sampai selesai

Part 13

TIGA orang staf berada di dalam sebuah ruangan berukuran 4 x 4 meter. Ruangan itu adalah tempat memantau situasi di ruang istirahat para Genoid di sebelahnya. Dalam ruangan yang dipenuhi berbagai macam panel elektronik tersebut mereka bergantian memonitor kondisi tubuh lima Genoid yang sedang tidur dalam tabung raksasa. Para Genoid itu tidur dengan sistem kryogenik, yaitu dengan membekukan tubuh mereka dengan suhu -150oC. Sistem ini memperlambat metabolisme tubuh mereka. Komputer-komputer canggih memantau siklus tubuh para Genoid secara digital, sementara sebuah layar monitor berukuran 20 inci menampilkan visualisasi ruang istirahat.

Pintu ruang pemantau terbuka. Seorang staf lain masuk ruangan.

“Bagaimana? Semua oke?” tanyanya pada salah seorang staf yang berada di dekat layar monitor.

“Semua dalam kondisi normal. Jantung, pernapasan stabil,” jawab yang ditanya.

“Mereka tidur seperti bayi,” sambung yang lain.

“Bayi yang berbahaya,” kata pria yang baru masuk. Dia berbadan tinggi kurus, berambut agak keriting, serta mamaki kacamata. Namanya Burhan, berusia akhir tiga puluhan. Dia penanggung jawab ruangan ini. Sambil meminum secangkir kopi yang dibawanya untuk mengusir kantuk, Burhan melihat ke layar monitor.

“Gadis yang baru masuk itu... cantik juga. Terlalu cantik sebagai seorang Genoid,” kata staf yang berada di dekat layar monitor dan bertubuh agak gemuk, namanya Andreas, yang baru di awal tiga puluhan.

“Aku pernah mendengar Pak Chiko memanggilnya Angel...” sambung temannya, namanya Tigor, usianya hampir sebaya dengan Andreas.

“Angel? Sang bidadari? Sebutan yang pantas...” balas Andreas.

“Kau itu, selalu aja memikirkan wanita. Makanya sampai sekarang kau belum kawin-kawin!” kata Tigor lagi.

“Justru yang cantik itu sangat berbahaya. Tidak ada yang menduga dia bisa membunuh orang dalam sekali pukul,” sambung Edwin, rekannya yang lain sambil tertawa, diikuti rekan-rekannya.

Burhan cuma tersenyum mendengar gurauan rekan-rekan kerjanya. Bagi mereka, bercanda seperti ini merupakan salah satu cara untuk mengusir rasa kantuk dan kebosanan yang kadang menghinggapi mereka. Bayangkan, selama 24 jam mereka harus selalu berada di dalam ruangan dan mengawasi komputer tanpa boleh lengah sedikit pun. Mereka bisa sedikit bersantai jika para Genoid sedang berada di luar ruang istirahat. Itu pun jika nggak ada tugas lain.

“Pantas aja kau betah dekat layar monitor,” kata Edwin lagi.

“Tidak ada bedanya. Aku tidak lihat apa-apa. Mereka semua diselimuti uap es. Apa yang harus aku lihat?” Andreas membela diri. Burhan tersenyum sambil terus melihat layar monitor. Tiba-tiba senyumannya hilang. Dia seperti melihat ada sesuatu yang aneh pada layar.

“Bagaimana status Angel?” tanya Burhan. Tigor segera melihat layar komputer yang menjadi tanggung jawabnya.

“Jantung normal, pernapasan normal, aktivitas normal. Semua baik-baik aja,” kata Tigor kemudian.

“Lakukan deep scan. Aku ingin tahu statusnya secara lengkap.”

Tigor melakukan apa yang diperintahkan Burhan.

“Denyut jantungnya enam puluh tujuh per menit, pernapasan lima belas per menit, tekanan darah seratus dua puluh tiga per seratus. Seperti manusia normal aja...”

“Matikan kryo untuk Nomor Empat!” perintah Burhan membuat Edwin yang menangani bagian ini terheran-heran.

“Pak...”

“Lakukan saja!” Edwin nggak membantah lagi. Seketika itu juga tabung tempat Genoid No. 4 berwarna kemerah-merahan, uap es yang menyelimuti kabut perlahan-lahan lenyap, dan sosok yang berada di dalamnya menjadi semakin jelas.

“Laki-laki. Bukan dia...” gumam Burhan yang melihat isi tabung. Andreas dan yang lainnya yang tadi sempat menahan napas saat akan melihat isi tabung itu seakan kecewa dengan apa yang mereka lihat.

“Bagaimana bisa? Kalian terus memantau monitor, kan?” Mendengar pertanyaan Burhan ketiga staf lain berpandangan, seolah-olah menyuruh rekannya untuk menjawab.

“Tadi layar monitor sempat mati. Sekitar lima menit. Tapi ketika Edwin akan pergi ke ruang sebelah, monitor kembali normal,” Tigor menjelaskan.

“Kapan?”

“Sekitar satu jam yang lalu. Ketika itu kami sedang memantau Nomor Empat yang akan dimasukkan tabung...”

“...dan ketika layar monitor menyala kembali, ada seorang menjaga di dekat tabung. Dia memerintahkan untuk menghidupkan sistem kryo. Katanya Nomor Empat telah masuk tabung dengan bantuannya, karena dia merasa lelah,” Andreas menambahkan.

“Kalian sempat melihat isi tabung?”

Ketiga staf itu menggeleng.

“Tertutup tubuh si penjaga. Kami tidak sempat berpikir panjang waktu itu. Kami kira semuanya baik-baik aja.”

“Itu dia...”

Burhan segera bangkit dan melangkah ke arah telepon yang tergantung di dinding ruangan.

“Di sini ruang pemantau. Genoid Nomor Empat hilang!”

***

Sudah sekitar satu jam Andika berada dalam sebuah ruangan yang gelap dan penuh barang yang makin menambah sempit keadaan ruangan yang nggak begitu besar. Tampaknya ruangan itu emang diperuntukkan untuk gudang. Bau nggak sedap juga menghiasi kegelapan yang menyelimuti Andika. Tapi Andika nggak peduli dengan semua itu. Dia lebih memfokuskan diri untuk memulihkan tubuhnya yang babak belur dihajar Fika. DNA Genoid pada tubuh Andika membuat proses pemulihan luka-luka pada tubuhnya berjalan lebih cepat. Walau begitu dia masih susah menggerakkan tubuhnya. Andika cuma tergolek lunglai, bersandar pada boks-boks yang terdapat di ruangan tersebut.

Andika nggak tahu alasan Chiko mencegah Fika membunuh dirinya. Mungkin Chiko udah tahu dirinya juga Genoid. Dan jika menyimak ucapan Chiko tentang Fika, bukan nggak mungkin Chiko juga akan memanfaatkan dirinya. Menjadikannya prajurit Genoid yang selalu tunduk pada setiap perintahnya. Andika memilih lebih baik mati daripada dijadikan sebagai alat pembunuh. Dia nggak mau menjadi boneka untuk kedua kalinya.

Ibu, mungkin aku nggak akan bertemu Ibu lagi. Maafkan Andika, Bu! batin Andika. Dia teringat wajah ibunya yang masih ada di Philadelphia. Sampai saat ini ibunya belum tahu Andika bekerja untuk CIA. Ibunya mengira dia sibuk dengan kuliahnya di Boston.

Samar-samar Andika mendengar suara langkah mendekati ruangan tempatnya disekap. Itu pasti salah satu penjaga yang akan melihat keadaannya, atau mungkin sekadar numpang lewat! pikir Andika. Nggak lama kemudian terdengar suara gaduh di luar. Andika tidak begitu memerhatikan suara itu.

Pintu ruangan terbuka. Sebersit cahaya menyeruak masuk bersamaan dengan pintu yang terbuka. Seorang penjaga masuk dengan... menyeret penjaga lain! Samar-samar Andika dapat melihat penjaga yang diseret itu pingsan.

“Pake bajunya kalo pengin keluar dari sini!” Tiba-tiba penjaga yang berdiri di hadapannya berbicara. Suaranya agak aneh, nggak hanya gaya bicaranya, tapi nada suaranya... suara wanita! Dan cuma satu orang yang dikenal Andika berbicara seperti itu.

“Fika?” tanya Andika lirih. Dia menengadah. Walau cahaya yang masuk nggak banyak, dia bisa mengenali Fika yang berdiri di hadapannya dengan mengenakan seragam penjaga. Rambutnya yang panjang disembunyikan di balik topi.

“Lo udah baikan, kan? Gue rasa waktu satu jam cukup bagi Genoid untuk memulihkan diri.”

“Ya, tapi nggak secepat itu...” Andika bangkit dan melepas baju penjaga yang tergeletak di dekatnya.

“Fika? Kamu, kamu masih ingat ama aku?”

“Tentu aja. Gue nggak bakal lupa ama lo... ama orang yang udah ngebohongin gue. Mereka bisa mencuci otak gue, tapi nggak bisa mencuci hati gue.”

“Tapi, di ruang latihan...”

“Kalo gue nggak mematuhi perintah untuk berhadapan dengan lo, mereka bisa tau gue belum sepenuhnya di bawah pengaruh mereka. Lalu mereka akan menyuruh Genoid lain berhadapan dengan lo. Dan kalo itu sampe terjadi, lo nggak bakal bisa bertahan selama itu. Mereka lebih kuat daripada gue. Lo akan langsung terbunuh.”

Ternyata selama pertarungan tadi Fika belum mengeluarkan seluruh kemampuannya. Itu sebabnya Andika dapat mengimbanginya cukup lama. Genoid lain pasti akan langsung membunuhnya. Andika nggak menyadari hal itu.

“Gue tahu ruangan itu diawasi. Makanya gue harus kelihatan bersungguh-sungguh ngelawan lo. Gue paksa lo ngeluarin semua kemampuan lo. Gue yakin mereka ngeliat kemampuan bertarung lo dan tahu lo Genoid, mereka nggak akan ngebunuh lo. Dan dugaan gue bener...”

“...sekarang cepet pake baju itu sebelum mereka tau gue nggak ada di ruang istirahat. Gue tunggu di luar.” Seusai berkata demikian, Fika berbalik dan melangkah keluar.

“Tunggu...”

Fika menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Andika.

“Bagaimana kamu mendapat kemampuan beladiri yang hebat? Kamu pasti juga mendapat kemampuan menembak dan yang lainnya, kan? Bagaimana kamu bisa mendapatkan semua itu dalam waktu satu hari?”

“Panjang ceritanya. Gue ceritain ntar kalo kita bisa keluar dari sini dengan selamat...” jawab Fika singkat kemudian meneruskan langkahnya.

* * *


Part 14

24 jam sebelumnya...

MATA yang terpejam itu terbuka. Terdengar suara-suara sdi sekelilingnya.

“Dia sudah sadar...”

“Kita belum selesai. Cepat tambah dosis biusnya!”

Dan mata itu pun terpejam kembali.

***

Fika membuka matanya. Entah udah berapa lama dia pingsan. Yang jelas saat ini dia berada di tempat tidur, dalam sebuah ruangan yang didominasi warna putih. Sekilas mirip ruang operasi, atau minimal ruang perawatan rumah sakit. Hal ini diperkuat dengan adanya berbagai macam peralatan medis di dalam ruangan ini. Fika melihat dirinya. Dirinya saat ini memakai baju seperti baju operasi berwarna serbaputih, tanpa mengenakan apa-apa lagi di baliknya. Dua selang infus tertempel pada tangan kanannya.

Di mana gue? tanya Fika dalam hati. Gadis itu teringat dirinya ditangkap di kafe. Dia dimasukkan ke minibus dan dibawa ke suatu tempat. Di dalam minibus, tiba-tiba salah satu dari orang yang menangkap Fika, yang duduk di belakang tempat duduknya, membekap mulutnya menggunakan kain yang udah dibubuhi kloroform. Saat itu Fika merasa mengantuk. Tubuhnya lemas. Fika nggak ingat apa-apa lagi, dan ketika sadar dirinya udah berada di tempat ini.

Fika berusaha bangun. Tapi jangankan bangun, menggerakkan tubuhnya pun dia nggak bisa. Seluruh bagian tubuhnya seperti menjadi batu. Terasa berat dan kaku.
          
Ya Tuhan, kenapa gue? Apa yang mereka lakukan ama diri gue?

Beberapa kali mencoba, hasilnya sama aja. Posisi terbaik yang didapatnya cuma mengangkat badannya sampai batas perut. Dari pinggang sampai kakinya terasa lumpuh total. Yang didapatnya justru keringat yang mulai mengalir dari tubuhnya. Padahal ruangan tempatnya berada memakai AC, dan Fika pun mengenakan baju yang tipis.

Setelah beberapa kali mencoba tanpa hasil akhirnya Fika menyerah. Dia kembali ke posisi semula. Fika cuma bisa pasrah, menunggu apa yang akan terjadi pada dirinya.

Kenapa gue masih hidup? Apa sebenarnya yang mereka inginkan dari gue?

Pintu ruangan terbuka. Empat orang berpakaian seperti jas lab berwarna biru muda memasuki ruangan. salah seorang di antaranya mendekati Fika, sedangkan yang lainnya, ada yang menuju peralatan medis yang ada di situ, ada juga yang cuma berdiri menunggu.

“Kau sudah sadar,” kata staf yang mendekatinya.

Fika ingin bicara tapi dia baru sadar mulutnya juga nggak dapat terbuka. Kini dia bagaikan sebuah patung. Orang yang mengajaknya bicara mengeluarkan jarum suntik dari dalam saku jasnya. Dia menyuntikkan jarum suntik yang berisi obat ke dalam selang infus Fika. Fika yang udah pasrah cuma bisa memejamkan mata. mungkin aja orang itu menyuntik mati dirinya.

“Tunggu beberapa menit, kau akan bisa bicara dan bergerak lagi...” kata orang yang menyuntiknya.

Ucapannya benar. Sekitar sepuluh menit kemudian Fika bisa menggerakkan tubuhnya kembali, walau masih terasa lemas. Mulai dari jari-jari tangan dan kakinya, lalu merambat ke sekujur badannya. Walau begitu Fika nggak berkata atau melakukan gerakan apa pun. Dia tetap diam di tempat tidurnya. Fika bahkan nggak melawan saat salah seorang staf lab wanita membimbingnya bangkit. Pandangan matanya tetap kosong.

Dengan menggunakan kursi roda, Fika dibawa ke sebuah ruangan. di ruangan itu udah menunggu seorang pria bertubuh kurus dan mengenakan jas. Pria itu mengenalkan dirinya sebagai Chiko Chandra.

“Bagaimana perasaanmu, Nona Fika?” tanya Chiko. Fika nggak langsung menjawab pertanyaan itu, melainkan menatap Chiko dalam-dalam.

“Bapak yang merencanakan semua ini?” Fika balik bertanya. Itu dugaannya, karena melihat pakaian Chiko yang rapi, berbeda dengan yang lain yang rata-rata mengenakan jas lab atau baju penjaga berwarna hitam.

“Chiko, panggil aja Chiko.” Chiko mengulurkan tangan mengajak Fika bersalaman. Tapi Fika tetap diam. Dia nggak ingin bersalaman dengan orang yang menyebabkan kematian mamanya juga kehancuran hidupnya.

“Kenapa Bapak lakukan ini? Kenapa Bapak bunuh Mama? Kenapa Bapak hancurkan hidup Fika?”

Chiko menghela napasnya dalam-dalam mendengar pertanyaan Fika. Dia berbalik, memandang ke arah kaca jendela yang menghadap ruang besar setinggi tiga tingkat. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana.

“Sebetulnya saya tidak mengharapkan hal itu sampai terjadi. Jika saja dari awal kau menurut pada kami, kejadiannya tidak akan sampai begini. Ibumu akan hidup sampai saat ini. Kau akan segera pulang dan berkumpul kembali dengan ibumu...” jawab Chiko tanpa memandang Fika.

“Bapak bohong. Bapak udah merencanakan ini semua, kan? Bapak nggak ingin Fika hidup. Kenapa Bapak belum membunuh Fika?”

“Kenapa kau berpikir begitu? Apakah temanmu yang mengatakan hal itu? Siapa dia?”

Mendengar itu Fika jadi teringat pada Andika. “Nggak. Bukan siapa-siapa. Cuma teman.”

Untung Chiko nggak mendesak Fika lebih lanjut.

“Kau Geniod. Terlalu berharga untuk dibunuh. Dan aku orang yang menghargai sesuatu yang berharga dan bernilai tinggi. Karena itu aku akan memberimu kesempatan yang berharga pula.”

“Apa maksud Bapak?” Chiko berbalik menghadap Fika.

* * *

Part 15

DUTA yang baru tiba di rumahnya tertegun. HP yang sedang dipegangnya dibiarkannya tanpa ditutup. Sementara di ujung telepon, ada yang menanti jawabannya.

“Halo... halo?”

Baru aja Duta menerima berita saat ini satu peleton Kopassus bersenjata lengkap sedang menuju pabrik PT Venon Regen. Mulanya secara kebetulan dia berpapasan dengan konvoi truk militer yang membawa prajurit di jalan. Merasa heran dengan adanya pengangkutan prajurit di malam hari, Duta menghubungi markas Kopassus, karena dia melihat lambang militer pada truk itu adalah lambang P Kopassus. Dan jawaban yang baru diterimanya sungguh di luar dugaannya.

Dari mana mereka tahu? tanya Duta dalam hati. Tim gabungan militer dan intelijen Indonesia baru dibentuk kemarin. Duta tahu pasti itu karena dia ikut dalam rapat pembentukan tim bersama Panglima TNI. Nggak mungkin dalam waktu 24 jam mereka bisa mengungkap kasus ini. Pasti ada pihak lain yang terlibat. Mungkin juga agen-agen intelijen selama ini telah mencium kegiatan mereka. Apa Dave tahu hal ini?

Terlintas di pikiran Duta untuk menghubungi Chiko, memberitahukan hal ini dan menyuruhnya melakukan evakuasi. Tapi Duta berpikir kembali. Kalaupun dia memberitahu sekarang, sudah terlambat. Pasukan Kopassus pasti udah sampai di areal pabrik. Terlambat untuk melakukan evakuasi sekarang. Chiko juga pasti udah mengetahui hal ini. Dan Duta tahu sifat Chiko yang nggak akan menyerah begitu aja. Pasti akan terjadi baku tembak yang sengit. Apalagi Chiko pasti akan mengerahkan para Genoid untuk menghadapi satu peleton Kopassus. Tampaknya akan terjadi perang kecil di sekitar pabrik. Dan Duta tahu dirinya dalam posisi terjepit. Jika para Genoid bisa mengalahkan pasukan khusus, dirinya pasti akan disalahkan Chiko. Bahkan mungkin Chiko bisa mengira dirinya yang memberitahu lokasi laboratorium. Lagi pula sampai berapa lama Chiko bisa bertahan? Jika satu peleton Kopassus yang datang kalah, pasti akan datang lagi pasukan yang jumlahnya jauh lebih besar, dan seterusnya. Sampai kapan para Genoid itu sanggup menghadapi mereka? Cepat atau lambat laboratorium itu akan dihancurkan. Dan jika hal itu terjadi, keterlibatannya bisa terbongkar. Pemakaian anggaran Militer hampir satu triliun untuk membangun laboratorium Genoid akan diselidiki. Dia bukan aja akan dipecat dari Militer di akhir masa dinasnya, tapi juga akan diseret ke Mahkamah Militer. Penjara sudah pasti menunggunya.

Tidak! Aku tidak boleh ikut hancur! batin Duta. Beberapa bulan lagi Duta akan memasuki masa pensiun. Dan dia nggak ingin hancur di akhir masa dinasnya. Biarlah proyek besar yang direncanakannya bersama Chiko untuk menghidupi masa pensiunnya hancur, tapi nggak dirinya. Satu-satunya jalan adalah bertindak secepat mungkin. Menghancurkan bukti yang dapat menunjukkan keterlibatannya, sebelum semuanya terlambat.

Duta berpikir sejenak. Kemudian menekan tombol pada HP-nya.

“Halo? Dave? Kau baru sampai? Ada sesuatu yang harus kubicarakan sekarang. Ini penting, tidak bisa ditunda...”

***

Dalam waktu yang bersamaan Chiko menerima dua berita yang mengagetkan. Yang pertama adalah berita menghilangnya Fika. Belum sempat bereaksi atas berita tersebut, datang berita kedua yang lebih mengejutkannya. Daerah sekitar pabrik PT Venon Regen udah dikepung sepasukan Kopassus bersenjata lengkap yang siap menerobos masuk.

“Bagaimana mereka tahu tempat ini?” tanya Prof. Wischbert yang sedang bersama Chiko.

“Duta...” gumam Chiko geram.

“Duta?”

“Dia memang tidak dapat dipercaya...”

Chiko menoleh ke arah komandan pasukan jaga yang melapor padanya. “Berapa penjaga kita yang sekarang ada?”

“Semuanya ada satu peleton. Tapi yang kita lawan adalah Kopassus, Pasukan khusus Angkatan Darat.”

“Bukankah Duta menyiapkan prajuritnya untuk back-up?”

“Benar Pak. Satu peleton mantan Militer Indonesia yang berada langsung di bawah komando Duta. Jika kita hubungi mereka sekarang, paling cepat satu jam lagi mereka baru datang. Itu juga kalau mereka bisa menembus blokade militer yang mengepung daerah sekitar pabrik.”

“Staf yang lain? Berapa yang ada di sini?”

“Ada tiga puluh lima orang.”

Chiko berpikir sejenak, memeras otaknya. “Kalau begitu nyatakan tempat ini dalam status Siaga Satu. Cepat hubungi barak. Minta mereka kirim seluruh personil yang ada ke sini secepatnya. Sementara itu, persenjatai para staf. Kita gunakan mereka untuk membantu.”

“Tapi Pak, mereka staf sipil. Lagi pula sepuluh di antaranya wanita. Mereka tidak mungkin disuruh bertempur. Memegang senjata saja mungkin baru pertama kali.”

“Bilang pada mereka... mereka akan tewas atau tertangkap jika tidak mau bertempur. Cepat kerjakan!”

Komandan pasukan jaga nggak dapat membantah lagi. Setelah memberi hormat dia pun keluar dari ruangan.

“Anda akan membangunkan para Genoid?” tanya Prof. Wischbert.

“Tentu aja. Tapi tidak akan aku suruh semuanya menghadapi TNI. Sebagian akan kusuruh mencari Nomor Empat. Aku yakin dia masih belum keluar dari sini...”

***

Fika berjalan bersama Andika menyusuri koridor. Seragam penjaga yang mereka pakai mampu mengelabui orang-orang yang berpapasan di jalan. Tapi Fika harus memperlambat jalannya karena tubuh Andika belum sepenuhnya pulih.

Suara sirine meraung-raung, disusul dengan berubahnya cahay alampu di seluruh koridor menjadi berkedip, seperti lampu hazard.

“Mereka udah tau gue nggak ada...” ujar Fika. Tiba-tiba terdengar suara menggema di seluruh koridor dan ruangan laboratorium.

“Perhatian... ini ruang kontrol. Laboratorium sekarang berada status Siaga Satu! Seluruh personil keamanan harap siaga di tempat masing-masing. Seluruh staf harap melapor ke bagian masing-masing! Kami ulangi... seluruh staf harap melapor...”

“Ini bukan tentang gue. Nggak mungkin mereka sibuk kayak gini kalo cuman buat nyari gue...” ujar Fika lagi.

“Jadi...”

“Perasaan gue nggak enak. Sebaiknya kita cepat keluar dari sini.” Fika mencekal tangan Andika untuk mengajaknya berlari.

***

“Berhenti!”

Sebuah suara menghentikan langkah Fika dan Andika. Seorang penjaga mendekati mereka. Pakaiannya sedikit berbeda dengan yang mereka berdua kenakan. Seragamnya pakaian komandan regu.

“Mau ke mana kalian? Kenapa lari?”

“Kami, kami harus siaga di posisi kami...” Andika yang menjawab. Sementara Fika cuma diam sambil sedikit menunduk agar tidak bisa dikenali.

Komandan regu itu memandang Andika dan Fika bergantian, seolah belum percaya dengan apa yang dikatakan Andika.

“Kau...” dia menunjuk Fika.

“Dari sektor berapa? Dan berapa nomor kalian?”

“Eee... kami dari sektor 5B,” jawab Andika. Sektor 5B adalah sektor tempatnya ditahan. Andika sempat membaca tulisan sektor 5B saat hendak kabur.

“Aku tidak tanya padamu, tapi dia! Kenapa dia tidak menjawab!?” bentak komandan itu. Fika maju mendekat ke hadapan si komandan, dan menengadah.

“Kau...”

Belum sempat si komandan regu itu menyelesaikan kalimatnya, tangan kanan Fika bergerak cepat mencekik leher pria itu.

“Fika!”

Walau cuma menggunakan satu tangan, tapi cekikan tangan kanan Fika sangat kuat, membuat komandan regu nggak dapat bernapas, apalagi mengeluarkan suara. Fika baru melepaskan cekikannya ketika akhirnya dia tergolek lemas. Tubuh si komandan regu terjatuh di lantai.

“Fika...” Andika nggak menyangka Fika akan berbuat seperti itu. Membunuh orang tanpa ekspresi. Seperti pembunuh berdarah dingin.

“Siapa kalian?”

Seorang penjaga kebetulan melihat semua itu. Jarak antara mereka cukup jauh.

“Kita ketahuan!”

Fika segera mengacungkan senjatanya. Rentetan tembakan terdengar, dan tubuh penjaga yang memergokinya pun roboh bersimbah darah.

“Ayo pergi!”

Suara tembakan menarik perhatian penjaga lain yang ada di sekitar situ. Dalam sekejap mereka berdatangan ke arah suara tembakan itu berasal, dan menemukan dua rekan mereka udah menjadi mayat. Mereka juga sempat melihat bayangan Fika dan Andika yang mencoba kabur.

“Di sini sektor 1D. Ada penyusup kemari. Kemungkinan salah satunya adalah Nomor Empat. Mereka mengenakan seragam penjaga!” lapor salah seorang penjaga melalui alat komunikasi yang dipasang pada telinganya.

***

Konvoi truk yang mengangkut satu SSK Detasemen 88 terhalang blokade yang dilakukan pihak militer, satu kilometer dari pabrik PT Venon Regen. Pak Oni yang berada di dalam minibus pada barisan depan konvoi turun dari mobilnya dan menemui seorang prajurit yang menjaga blokade.

“Maaf, Pak, Bapak tidak bisa lewat,” kata prajurit itu.

“Ada apa?”

“Ada operasi militer di sekitar sini. Ini operasi tertutup. Seluruh daerah diblokir dalam radius satu kilometer, Pak.”

“Itu termasuk pabrik PT Venon Regen,” bisik AKP Syaiful Amdi, Komandan SSK Detasemen 88 yang menyertai Pak Oni.

“Kami juga ada operasi kepolisian di daerah ini. Izinkan kami masuk...” kata Pak Oni.

“Maaf, Pak, ini perintah dari komandan kami. Tanpa izin komandan kami tidak bisa memperbolehkan siapa pun memasuki daerah ini.” Prajurit itu tetap tegas pada pendiriannya. Pak Oni tahu, percuma memaksa prajurit yang nggak punya kewenangan apa pun untuk memutuskan.

“Kalau begitu aku ingin bicara pada komandan kalian...” kata Pak Oni. Prajurit itu memandang pada rekan di sampingnya, seolah minta pertimbangan.

“Kalian bilang butuh izin dari komandan kalian untuk lewat, kan? Bagaimana kami bisa minta izin kalau tidak bertemu komandan kalian? Saya membawa satu kompi pasukan Detasemen 88, dan kami ada tugas yang sangat penting!” suara Pak Oni meninggi. Dia agak kesal dengan ulah prajurit yang dia anggap memperlambatnya.

“Baik. Saya akan beritahu komandan. Silakan Anda tunggu sebentar,” kata prajurit satunya, kemudian setengah berlari menuju sebuah Jeep yang ada di lokasi itu. Tampaknya ada peralatan komunikasi di Jeep tersebut. Selang beberapa lama prajurit itu kembali.

“Komandan kami akan segera datang kemari. Silakan Anda menunggu...”

***

“Seluruh petugas keamanan harap memakai kode merah...”

“Kode merah? Apa artinya?” tanya Fika yang mendengar perintah dari ruang kontrol melalui ear-set.

“Mana aku tahu...”

Fika dan Andika nggak sempat membahas hal itu karena serentetan tembakan memberondong mereka.

“Sial! Kalau begini jadinya terpaksa kita habisi mereka...” kata Fika sambil berlindung di balik tembok.

“Heran, dari mana mereka tahu posisi kita...”

“Mungkin kode merah itu.” Fika memegang ear-set-nya. “Mereka memindah frekuensi. Kode merah itu prosedur agar mereka dapat mengenali kita...”

“Jadi?”

“Nggak ada gunanya nyamar...” Seusai berkata demikian Fika keluar dari tempat persembunyiannya sambil melepaskan rentetan tembakan ke arah penjaga yang menembaki mereka. Dua orang terkena tembakan Fika dengan telak.

“Lo udah bisa bertempur, kan?” tanya Fika pada Andika. Andika mengangguk, lalu mengikuti Fika membalas tembakan para penjaga sambil berusaha mencari kesempatan kabur.
        
“Seluruh penjaga harap menuju Sektor Tiga. Ulangi, seluruh penjaga harap menuju Sektor Tiga tanpa kecuali...”

Perintah itu membuat seluruh penjaga yang sedang baku tembak dengan Fika dan Andika mundur dan meninggalkan tempat itu. Membuat Fika dan Andika terheran-heran.

“Kenapa mereka mundur?” tanya Fika.

“Entahlah. Tapi perasaanku jadi nggak enak...”

***

Perwira Menengah Satrio yang merupakan komandan tertinggi operasi militer menemui Pak Oni.

“Maaf, saya tidak dapat memenuhi permintaan Anda...” kata Satrio setelah mendengar penjelasan Pak Oni.

“Tapi target operasi kita sama. Kita bisa bekerja sama...” Pak Oni masih mencoba berargumen.

“Benar, tapi sejak kasus ini diambil alih oleh tim gabungan militer dan intelijen, kepolisian tidak punya wewenang lagi atas kasus ini.” Ucapan Satrio ada benarnya. Pak Oni pun mengakui hal itu, tapi dia nggak menyerah.

“Setidaknya biarkan kami membantu. Kami bisa mem-back-up pasukan Militer.”

Satrio cuma tersenyum mendengar ucapan Pak Oni.

“Saya hargai niat Anda. Tapi saya rasa itu tidak perlu. Anggota tim kami terdiri atas Kopassus yang terlatih baik untuk bertempur dalam situasi apa pun...” Satrio membuka topi lapangannya dan menggaruk kepalanya.

“Tapi jika bersikeras ingin membantu, Anda bisa memerintahkan pasukan Anda untuk membantu membuat blokade. Kami kekurangan personil untuk itu...” sambung Satrio. Pernyataan yang membuat Pak Oni agak tersinggung.

***

“Kita akan melakukan apa yang diminta militer, Pak?” tanya AKP Syaiful Amdi saat Pak Oni kembali ke mobilnya. Sementara itu Satrio juga udah kembali ke pasukannya.

“Mereka anggota Detasemen 88, pasukan khusus antiteror, bukan polisi lalu lintas. Bukan tugas mereka membuat blokade, membuka tutup jalan...” jawab Pak Oni dengan nada kesal.

“Jadi apa tindakan kita?”

Pak Oni melihat jam tangannya sambil berpikir.

“Pasti mereka punya pintu masuk lain. Kita sebarkan pasukan di luar blokade sekitar sini. Mungkin kita bisa menemukan petunjuk yang lebih baik daripada mereka,” kata Pak Oni dengan wajah berbinar-binar.

***

“Itu pintu menuju lift. Lo bisa keluar dari situ...” kata Fika sambil menunjuk pintu di depannya. Andika agak heran mendengar ucapan Fika.

“Kamu nggak ikut?”

“Ada sesuatu yang harus gue kerjain.”

“Tapi aku kan ke sini buat ngeluarin kamu.”

“Thanks. Tapi itu udah nggak penting lagi sekarang. Keadaan lo masih luka. Lo harusnya keluar dari sini selama masih ada kesempatan...”

“Kamu ingin balas dendam, kan?”

Pertanyaan Andika membuat Fika tertegun.

“Karena itulah kamu mau jadi prajurit mereka. Itu kamu lakukan supaya kamu punya kekuatan dan kemampuan seperti mereka. Benar, kan?” Andika terus mendesak Fika.

“Gue dan lo udah lihat kemampuan mereka. Mereka sangat kuat. Jika gue nggak sekuat mereka, nggak bakal ada peluang bagi gue buat balas dendam. Karena itu gue pura-pura mau saat diajak bergabung. Apalagi saat Chiko bilang gue bisa dapet kemampuan seperti itu dalam sekejap.”

“Tapi gimana kamu bisa lolos dari pencucian otak mereka? Mereka kan bisa baca pikiran kamu?”

“Saat itu gue kosongin pikiran gue. Yang gue pikirkan saat itu cuma perasaan sedih dan berduka. Gue coba hilangin semua perasaan dendam dan keinginan balas dendam pada diri gue. Emang berat, tapi gue berhasil. Perasaan dendam itulah yang membuat mereka nggak berhasil mencuci otak gue. Perasaan dendam itu yang memunculkan kembali memori gue yang sempat terhapus.”

“Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Kau akan mencari Chiko dan menembaknya?”

“Bukan cuma itu. Gue akan hancurin laboratorium ini. Gue akan ke pembangkit listrik nuklir laboratorium ini. Ledakan dari sana dapat menghancurkan semuanya.”

“Tapi itu dapat memicu ledakan nuklir. Jakarta dan sekitarnya bisa jadi Hiroshima kedua....”

“Jangan khawatirkan hal itu. Tempat ini berada lebih dari dua ratus meter di bawah tanah. Kalaupun terjadi ledakan nuklir, nggak akan sampai permukaan.”

“Tapi kamu akan ikut meledak.”

“Kalo sempet, gue akan keluar sebelum ledakan...”

“Kalo nggak?”

Fika terdiam sejenak. “Kalo nggak, mungkin ini udah nasib gue. Lagian gue udah nggak punya siapa-siapa lagi. Gue nggak keberatan kalo harus mati di sini...”

* * *


Part 16

SEBUAH mobil berhenti di depan sebuah gedung yang belum selesai dibangun. Dari dalam mobil keluar Dave sambil menenteng sebuah tas kerja. Dave mengamati sekeliling bangunan yang baru sekitar 60% selesai itu. Suasana gelap karena sama sekali nggak ada penerangan. Dengan dibantu cahaya senter, Dave memasuki gedung.

“Duta,” panggil Dave. Hening, nggak ada suara sedikit pun selain suara jangkrik dan binatang malam lainnya. Dave terus berjalan menyelusuri lantai dasar gedung yang rencananya akan diperuntukkan bagi tempat parkir itu.

Kilatan cahaya berkelebat terang di samping Dave. Ternyata cahaya menyilaukan itu berasal dari lampu mobil yang diparkir di dalam gedung.

“Jenderal Duta?”

Di antara nyala lampu, Duta berdiri di depan mobil. Dave mendekatinya.

“Kau bawa semua?” tanya Duta.

Dave mengangguk. “Semua tentang proyek Genoid ada di dalam tas ini.”

“Semuanya?”

“Semuanya...”

Duta menerima tas dari Dave.

“Kau yakin kita tidak akan terseret masalah ini?” tanya Dave.

“Jangan khawatir. Semua bukti tentang proyek Genoid telah ada di tanganku. Aku akan memusnahkannya.”

“Tapi bagaimana dengan bukti yang ada di lab?”

“Bukti itu akan hilang. Jika tidak, tidak akan ada yang percaya kata-kata Chiko dan Wischbert. Kita dapat membantahnya dengan mudah.”

“Kuharap begitu. Jika tidak, tamatlah karierku.”

“Sebetulnya masih ada satu bukti yang sangat penting yang harus segera dimusnahkan,” kata Duta.

“Bukti apa?”

“Ada di dalam mobilku. Kau bisa melihatnya sendiri...”

Dave melangkah ke arah pintu mobil Duta. Saat itulah Duta yang berada di belakangnya mengeluarkan sepucuk pistol dari balik jaketnya. Suara tembakan terdengar dua kali. Dave roboh ke tanah dengan punggung bersimbah darah.

“Bukti itu adalah kau. Jika kau buka mulut, aku bisa celaka,” kata Duta. Dengan sebelah kakinya Duta membalikkan tubuh Dave yang telungkup menjadi terlentang. Dave belum tewas. Napasnya masih terdengar. Matanya memandang Duta dengan penuh kebencian.

“Kau...” suara lirih Dave terdengar dari mulutnya yang mengeluarkan darah.

“Maaf, tapi aku ingin menikmati uang pensiunku secara utuh...” ujar Duta, sambil mengarahkan pistolnya ke kening Dave.

Suara tembakan kembali terdengar. Sesudah itu keadaan menjadi hening, sehening kesunyian malam yang emang senantiasa menyelimuti tempat tersebut.

***

DUAAARR!!

Ledakan keras terjadi ketika tim dari pasukan khusus meledakkan pintu masuk menuju lift yang berada di dalam lemari pendingin. Seketika itu juga terlihat lift yang merupakan satu-satunya akses masuk ke laboratorium yang berada di bawah tanah.

“Regu merah maju!”

Satu peleton pasukan khusus dibagi dalam empat tim yang masing-masing beranggotakan sepuluh orang, yaitu regu merah, hijau, kuning, dan biru. Sepuluh orang anggota regu merah masuk lift. Mereka akan menjadi regu pertama yang mencoba masuk lab. Tentu aja dengan risiko udah ditunggu oleh para penjaga yang pasti udah bersiap-siap di depan pintu lift.

***

“Mereka mencoba masuk,” kata salah seorang staf di ruang kontrol.

“Putuskan...” kata atasan di situ.

***

Baru beberapa meter lift berjalan ke bawah, tiba-tiba kabel-kabel lift terlepas satu per satu. Kontan lift tersebut terjun bebas dari ketinggian sekitar dua ratus meter dengan kecepatan tinggi. Ledakan besar terjadi ketika lift menghantam dasar. saking besarnya, bola api akibat ledakan sampai juga ke atas, ke pintu masuk. Jangan ditanya bagaimana nasib kesepuluh prajurit Kopassus yang berada di dalamnya.

“Kurang ajar!” maki Kapten Suhardi, komandan regu hijau. Rencananya setelah ini regunya akan menyusul regu merah.

“Mereka pasti telah tahu kedatangan kita. Mereka menjebak kita!!”

***

“Tunggu!” ujar Andika tiba-tiba.

“Ada apa?”

“Ada seorang anak berusia delapan tahun yang dibawa ke sini. Dia saksi mata apa yang dilakukan para Genoid di Papua. Kita harus menyelamatkannya lebih dahulu...”

“Tapi di mana?”

“Entahlah. Tapi yang kutahu kita nggak bisa meninggalkannya begitu aja.”

“Tapi gimana kalo dia udah dibunuh?”’

“Firasatku belum. Nggak ada salahnya kita mencoba.”

Serentetan tembakan menyambut mereka saat memasuki pintu sebuah koridor, membuat Fika dan Andika terpaksa berlindung di balik pintu masuk.

“Masih ada penjaga yang menghadang kita...” kata Andika.

“Bukan, lebih buruk lagi...” balas Fika.

Andika melihat ke arah penembaknya. Ucapan Fika benar. Yang menembaki mereka bukanlah penjaga, melainkan dua Genoid. Baik Fika maupun Andika tahu, nggak akan mudah melewati dua Genoid ini.

Fika mengganti magasin senjata MP5-HK yang dipegangnya. Kemudian balas menembak. Kedua Genoid itu tetap berlindung sambil balas menembak.

“Nomor Satu dan Nomor Tiga...” gumam Fika memerhatikan Genoid yang adu tembak dengan mereka.

“Kita nggak akan mundur... harus hadapi mereka. Lo udah mendingan, kan? Lo hadapi Genoid Nomor Tiga, gue hadapin Nomor Satu,” kata Fika sambil terus menembak.

“Yang mana yang Nomor Tiga?”

“Yang sebelah kanan.”

“Yang cewek? Nggak kebalik? Bukannya lebih cocok kalo kamu yang lawan dia?” Genoid No.3 emang seorang wanita berambut pendek.

“DNA Genoid Nomor Satu udah direkayasa Profesor Wischbert, sama dengan Nomor Dua yang lo liat di demo tadi. Peluang lo lebih besar kalo ngelawan Nomor Tiga. Tapi jangan anggap enteng. Kemampuan dia masih lebih baik daripada gue.”

“Kamu udah direkayasa?”

Fika menggeleng. “Baru Genoid Nomor Satu dan Nomor Dua yang udah direkayasa. Siap? Pada hitungan tiga kita maju sama-sama.”

“Pas hitungan tiga atau setelah hitungan tiga...” Andika nggak melanjutkan ucapannya karena tanpa diduga Fika keluar dari persembunyian tanpa menghitung lebih dulu.

“Eh...”

Gerakan Fika sangat cepat, berlari sambil menghindari berondongan tembakan. Sambil berlari, Fika melakukan tembakan. Bukan ke arah para Genoid, tapi ke atas. Sasarannya pipa yang dia tahu berisi gas. Tembakannya tepat, hingga pipa gas itu pecah, menimbulkan ledakan hebat yang efeknya menimpa para Genoid yang ada di bawahnya. Kedua Genoid itu segera melompat untuk menghindari akibat yang lebih fatal bagi mereka. Saat itulah mereka lengah sepersekian detik, dan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Fika. Tembakannya terarah pada Genoid No. 1 yang paling dekat dengannya. Tepat mengenai tubuhnya.

Sial, rompi antipeluru! kata Fika dalam hati.

Nggak ada jalan lain. Fika mengarahkan tembakannya ke arah kepala No. 1. Tapi belum sempat dia menembak, instingnya melihat gerakan No. 3 yang mengarahkan senjata ke arahnya. Fika meloncat ke belakang menghindari tembakan No. 3.

Gagal! batin Fika. Tapi paling nggak dia udah mengurangi kekuatan para Genoid itu. Fika melihat kedua Geniod terluka akibat ledakan pipa gas, dan itu pasti mengurangi kekuatan mereka beberapa persen.

Melihat Fika dalam kesulitan, Andika menembak untuk melindungi Fika. Fika berlari ke koridor di sebelah kanannya. Dia berharap salah seorang Genoid akan mengikutinya, dan semoga itu No.1. Harapan Fika terkabul. Genoid No. 1 bergerak mengejar Fika.

Andika yang melihat No. 1 mengikuti Fika nggak menyia-nyiakan kesempatan. Dia membidik No. 3 yang masih berada di tempatnya. Harus tepat kena kepala, sebab mereka memakai rompi antipeluru. Karena itu Andika nggak melayani berondongan tembakan No. 3. Dia memilih menghemat pelurunya. Baginya lebih baik menghadapi para Genoid dari jarak jauh. Bertarung melawan Fika saat dirinya masih segar aja dia udah kepayahan, apalagi melawan Genoid asli yang menurut Fika mempunyai kemampuan di atasnya. Apalagi saat ini dirinya sedang terluka.

***

Fika terus berlari menyusuri koridor. Dia mencari tempat yang baik untuk melawan No. 1. Tempat yang kira-kira memberi keuntungan baginya. Jika nggak begitu, kecil peluangnya untuk bisa menang melawan No. 1 yang udah mengalami mutasi DNA.

Fika membuka pintu sebuah ruangan yang nggak terkunci. Dia tahu ruang ini ruang makan utama seluruh personil lab. Banyak meja dan benda lain yang dapat dijadikan pelindung. Ada beberapa orang staf di situ. Fika menembakkan senjatanya ke udara, membuat staf-staf tersebut berlarian keluar. Fika menuju ke bagian dapur, menunggu di sana.

Sunyi. Belum ada tanda-tanda No. 1 akan masuk ke ruang makan. Fika membidik senjatanya tepat di depan pintu. Amunisi senjata yang dipegangnya udah menipis. Fika harus lebih menghemat peluru, karena nggak tahu berapa amunisi yang dimiliki No. 1.

Hampir 1 menit berlalu, tapi No. 1 belum juga terlihat. Fika jadi heran. Nggak mungkin selama ini! pikirnya. Atau mungkin No. 1 udah tahu ini jebakan dan dia juga menunggu di luar?

Tiba-tiba Fika seperti teringat sesuatu. Selain pintu masuk, ruang makan ini memiliki pintu belakang, khusus untuk memasukkan bahan-bahan makanan. Jangan-jangan...

BRAAKK!!!

Pintu belakang yang terletak di dapur hancur berantakan. Ternyata No. 1 yang mendobrak dari luar. Fika segera keluar dari dapur, diiringi rentetan tembakan.

Dibandingkan yang lain, tubuh Genoid No. 1 nggak terlalu besar, hanya lebih besar sedikit daripada Genoid No. 3 yang wanita. Tapi dia mendapat pendidikan kepemimpinan dan kecerdasan yang lebih baik daripada saudara-saudaranya. Karena itulah Genoid No. 1 diangkat menjadi pimpinan regu Genoid. Keahlian khususnya adalah menembak. Genoid No. 1 dapat menembakkan dua senjata sekaligus dari kedua tangannya, dan tepat mengenai sasaran. Sekarang sambil memberondongkan kedua senjata MP5-HK yang dipegangnya, dia mengejar Fika. Untung Fika mempunya kecepatan yang dapat digunakan untuk menandingi kecepatan peluru yang ditembakkan No. 1. Tapi nggak ukrung juga sebutir peluru menyerempet lengannya.

“Aaarghh...!!!” Fika berlindung di balik sebuah meja yang dijungkirkan olehnya. Dia mencari akal untuk membalas tembakan No. 1. Kalau dia melayani adu tembak, jelas pelurunya kalah banyak. Tapi nggak diladeni, dia akan terus dihujani tembakan. Meja yang terbuat dari kayu ini pun nggak akan selamanya mampu melindungi dirinya. Kini Fika benar-benar terjebak seperti tikus.

Tampaknya No. 1 nggak sabar juga. Setelah beberapa kali baku tembak, No. 1 mengeluarkan sesuatu dari balik pinggangnya. Granat! Cepat dia mencabut pin granat tersebut dan melemparkannya ke arah Fika. Untunglah saat itu Fika melongok dari balik meja karena heran kenapa No. 1 menghentikan tembakan. Ketika melihat granat dilemparkan ke arahnya, Fika harus berbuat sesuatu. Sambil melemparkan tubuhnya ke samping, dia melepaskan tembakan. Beruntung tembakannya tepat mengenai granat, saat granat itu di tengah perjalanannya. Ledakan keras terjadi. Ruang makan serasa akan runtuh. Fika sendiri terlempar akibat ledakan tersebut. Dia nggak dapat menahan pegangan pada senjatanya. Pecahan meja dan kursi menimpa tubuh Fika.

No. 1 melihat tubuh Fika nggak bergerak di antara puing-puing meja dan sebagian tembok ruang makan yang roboh. No. 1 keluar dari tempat persembunyiannya dan mendekati tubuh Fika, memastikan apakah Fika udah tewas. Sebagian tubuh Fika tertutup reruntuhan. Tubuhnya tampak diam, nggak ada napas yang keluar dari hidungnya. Tapi hal itu nggak membuat No. 1 yakin. Saat berjongkok hendak memeriksa denyut nadi Fika, No. 1 nggak melihat tangan kanan gadis itu bergerak. Tangan kanan Fika meraup debu-debu dari reruntuhan dan dengan cepat dilemparkan ke arah mata No. 1. Saat No. 1 nggak bisa melihat karena debu yang dilemparkannya, cepat Fika mengambil pisau yang terselip di celananya. Pisau itu ditusukkannya ke perut No. 1. Mata No. 1 membelalak. Fika menekan pisaunya ke dalam perut lawannya hingga menembus punggung. Darah mengalir nggak cuma dari perut yang ditusuk pisau, tapi juga dari mulut No. 1.

Fika mendorong tubuh No. 1 hingga tersungkur ke belakang, membuat pisau yang ditusukkan ke perutnya tercabut. Fika hendak menusukkan pisaunya kembali, ketika dilihatnya ekspresi wajah No. 1 yang sekarat. Saat itulah Fika sadar dia melakukan kesalahan. Hampir aja dia menjadi pembunuh berdarah dingin! Fika kembali memandang No. 1. Dia udah sekarat! Sekuat-kuatnya Genoid, pasti nggak akan bisa bertahan dari luka seperti ini. Apalagi Fika udah menusuknya tepat pada hatinya. Fika memasukkan kembali pisau ke sarungnya di kaki celananya. Dia mengambil senjata No. 1, dan dengan tertatih-tatih meninggalkan ruang makan. Walau nggak membunuhnya, ledakan granat tadi sempat membuat beberapa bagian tubuh Fika terluka. Tapi nggak ada waktu buat mengurus hal itu. Pikiran Fika sekarang cuma satu, bagaimana keadaan Andika?

***

Nasib Andika rupanya nggak lebih baik daripada Fika, walau juga nggak bisa dibilang lebih buruk. Amunisinya semakin menipis, sementara No. 3 belum ada tanda-tanda berhenti menembakinya.

Tapi keberuntungan masih menyertai Andika. Beberapa saat kemudian suara tembakan berhenti. Andika menunggu beberapa saat. Mungkin No. 3 sedang mengisi peluru. Tapi nggak ada suara sama sekali.

Dia pasti menunggu! pikir Andika. Ini kesempatan dia untuk lolos dari tempat persembunyiannya, lari ke tempat lain yang membuatnya lebih leluasa di seberang koridor. Andika menarik napas dalam-dalam, menghitung untuk dirinya sendiri, dan...

Sambil berguling di lantai Andika menembak ke arah persembunyian No. 3. Tapi nggak ada respons. Bahkan No. 3 nggak ada di tempatnya semula. Saat itulah Andika mendengar suara gerakan halus di belakangnya. Ketika dia menoleh, No. 3 udah berada di belakangnya, meloncat sambil melepaskan tendangan ke arah tangan Andika yang memegang senjata, membuat senjatanya terlempar. Belum sempat Andika bereaksi, No. 3 kembali melancarkan tendangan. Kali ini membuat tubuh Andika terlempar ke belakang.

Ternyata No. 3 udah kehabisan peluru, dan tampaknya ingin bertarung dalam jarak dekat! Setidaknya begitulah dugaan Andika. Tapi Andika keliru. No. 3 ternyata lebih tertarik pada senjata Andika yang terlempar. Andika baru tahu saat melihat arah pandangan No. 3.

Shit! batin Andika. Cepat dia bangkit hendak meraih senjatanya. Tapi No. 3 lebih dekat dan cepat. Genoid itu berguling dan meraih MP5-HK milik Andika. Andika yang mendekat ditendangnya kembali. Saat itulah No. 3 menodongkan laras senapannya ke kening Andika. Satu klik pada pelatuk senapan, tamatlah riwayat Andika. Senyum kemenangan menyeringai dari Genoid wanita itu. Andika cuma bisa menutup matanya. Pasrah.

Terdengar suara tembakan. Andika mengira dirinya tewas. Tapi ternyata nggak. Andika membuka matanya. No. 3 masih menodongkan senjatanya, tapi kali ini tampak kaku. Tatapan matanya kosong. Sedetik kemudian tubuh Genoid itu tersungkur ke lantai.

Fika berdiri beberapa meter di belakang No. 3. Tangan kanannya memegang sepucuk pistol. Pistol itu diperolehnya dari salah seorang staf yang berpapasan dengannya di koridor. Dari staf itu juga Fika tahu anak yang mereka cari dikurung di basement dua, di dalam salah satu kamar.

“Thanks,” kata Andika.

“Jangan dikira gue udah maafin lo...”

“Kamu luka,” kata Andika melihat tubuh Fika berlumuran darah dan bajunya yang sedikit compang-camping.

“Masih lebih baik daripada lo...” jawab Fika.

***

Andika mengambil kembali senjatanya. Masih tersisa sedikit peluru! katanya dalam hati.

“Anak yang lo cari ada di basement dua. Deket dari sini. Di sana cuma ada beberapa penjaga dan staf. Lo pasti bisa mengatasi mereka.”

“Kamu nggak ikut?”

“Gue harus ke pembangkit listrik mereka. Udah nggak ada waktu. Kata staf itu juga, saat ini pasukan TNI sedang menyerbu ke sini. Itu sebabnya seluruh penjaga sekarang berada di pintu masuk lab, termasuk para Genoid. Gue harus ledakkan pembangkit listrik sebelum TNI berhasil masuk. Lo juga cepet cari anak itu dan segera keluar dari tempat ini.”

“Kamu tetap akan meledakkan lab ini? Bagaimana dengan para staf? Mereka kan orang-orang sipil?”

“Itu risiko. Lo udah liat embrio-embrio mereka yang siap dikembangbiakkan, kan? Jumlahnya ratusan. Gue harus hancurin lab ini, untuk mencegah mereka membuat Genoid lagi. Bila perlu beserta seluruh bukti dan orang yang tahu soal ini.”

“Tapi, kamu akan keluar, kan?”

“Entahlah...”

“Kamu pasti bisa. Aku akan menunggumu di luar. Kamu harus janji akan keluar dengan selamat.”

Fika melihat ada tatapan lain pada mata Andika. Tatapan yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Seketika itu juga perasaan Fika jadi luruh. Dia baru sadar Andika udah mempertaruhkan nyawanya, masuk ke sarang macan untuk menyelamatkan dirinya. Andika nggak akan melakukan hal itu jika dia menganggap Fika cuma sebagai target operasi CIA. Fika nggak melihat Andika mendapat bantuan seperti layaknya operasi CIA, nggak seperti saat membawanya kabur menghindari kejaran anak buah Chiko. apakah Andika jatuh cinta padanya? Dan tatapan mata itu...

“Kamu janji akan keluar, kan?”

Entah kekuatan apa yang mendorong Fika mengangguk.

“Insya Allah, gue pasti keluar. Bidadari pasti kembali...” ujar Fika lirih sambil menatap mata Andika lekat-lekat. Lalu tanpa Andika duga, Fika mencium bibirnya. Cukup lama hingga Andika hanya bisa terdiam.

* * *
Part 17

PASUKAN KOPASSUS akhirnya berhasil mencapai pintu masuk laboratorium. Dengan menggunakan tambang, mereka bergantian turun melewati jalur lift yang terbakar, dimulai dari regu hijau. Seperti udah diduga sebelumnya, di pintu masuk mereka disambut para penjaga yang langsung memberondongkan senjata mereka.

“Bantuan pasukan belum datang?” tanya Chiko pada komandan penjaga yang berada di ruang kontrol.

“Belum, Pak. Kami mencoba mengontak mereka, tapi komunikasi terputus.”

“Mereka tidak akan datang,” gumam Chiko.

“Pak?”

“Mulai sekarang kita harus berusaha sendiri. Optimalkan semua personil yang ada...”

“Ba... baik... Pak...”

Keparat kau, Duta! Chiko mengutuk dalam hati. Pasti Duta udah mengetahui penyerbuan ini. Dia nggak mau ikut terlibat, hingga nggak mengirim pasukan yang berada di bawah komandonya, apalagi tahu jika kemungkinan bisa mengatasi pasukan khusus sangat kecil. Chiko udah lama mencurigai gerak-gerik Duta belakangan ini. Dia tahu orang seperti apa Duta, yang bersifat oportunis; selalu mementingkan diri sendiri, tapi lebih dahulu mencari selamat jika terjadi sesuatu.

“Pak! Pintu B telah jebol!” lapor salah seorang penjaga di ruang kontrol.

“Pasukan khusus?”

“Bukan, Pak! Tampaknya dari kepolisian.”

“Polisi?”

***

Saat itu satu SSK pasukan dari Detasemen 88 berhasil menemukan jalan masuk lain ke laboratorium. Jalan itu berada di dalam sebuah gua besar yang terletak di hutan dua kilometer dari pabrik. Biasanya pintu masuk dari arah gua digunakan untuk keluar-masuk kendaraan. Untuk mencegah pintu tersebut ditemukan, disebar cerita daerah tersebut sangat angker. Orang yang masuk ke gua nggak pernah keluar lagi. Tentu aja, karena siapa pun yang masuk pasti akan langsung dibunuh oleh penjaga pintu masuk. Bahkan saat menemukan pintu masuk ini, Detasemen 88 harus kehilangan dua anggotanya yang tewas tertembak.

“Berapa orang yang menjaga Pintu B?” tanya Chiko.

“Cuma lima orang, Pak.”

Kelima orang itu tentu aja bukan tandingan Detasemen 88 yang nggak aja berjumlah jauh lebih banyak tapi juga terlatih bertempur. Dalam sekejap mereka berhasil dilumpuhkan.

“Amankan tempat ini!” perintah AKP Syaiful Amdi yang memimpin penyerbuan.

***

Sementara itu di Pintu A yang merupakan pintu masuk utama, sekitar tiga puluh penjaga yang mati-matian menjaga pintu masuk nggak mampu menahan serbuan anggota Kopassus yang terus berdatangan dari atas. Secara teknis mereka kalah kelas melawan pasukan terlatih itu. Untung aja mereka dibantu dua Genoid yang banyak menewaskan prajurit Kopassus yang mencoba menerobos masuk. Satu per satu para prajurit itu berguguran.

“Pak! Regu hijau cuma tersisa empat orang! Regu kuning dan biru masing-masing delapan dan sembilan! Kita butuh tambahan orang!” kata prajurit yang memegang alat komunikasi.

“Kalau begitu minta tambahan satu peleton lagi!” perintah Satrio.

“Kurasa tidak perlu Mayor,” kata sebuah suara di belakangnya. Satrio menoleh. Duta sudah berada di belakangnya.

“Jenderal...” kata Satrio sambil memberi hormat.

“Aku telah memutuskan menghancurkan tempat kegiatan mereka. Pranowo juga udah tahu akan hal ini,” kata Duta. Pranowo adalah ketua tim gabungan militer dan intelijen yang menyelidiki kasus ini.

“Menghancurkan tempat itu?”

“Ya. Semuanya. Saat ini juga. Karena itu keluarkan pasukanmu dari tempat itu, lalu orang-orangku akan meletakkan ini...”

SatAndikamelihat benda berbentuk persegi panjang sebesar tas kerja.

“Ini C12, bahan peledak penemuan terbaru. Daya ledaknya sepuluh kali lipat dari C4, dan lebih stabil. Peledak sebesar ini cukup untuk meledakkan satu areal pabrik. Cukup diletakkan di dekat pintu masuk, dan BOOM! Efek ledakannya akan berantai, menyebar ke seluruh bagian.”

“Tapi,Jenderal, kabarnya di bawah sana juga ada staf sipil.”

“Lalu kenapa? Andaikata kita selamatkan mereka, mereka juga akan dihadapkan ke pengadilan dengan tuduhan subversi. Hukumannya adalah hukuman mati. Tidak ada bedanya bagi mereka mati sekarang atau nanti.”

“Walau begitu mohon Anda pertimbangkan dulu...”

“Kau ingin melawan perintahku?”

Satrio nggak dapat membantah ucapan Duta.

“Hubungi seluruh pasukan. Perintahkan mereka mundur...” perintah Satrio pada bawahannya.

***

“Mereka mundur! Pasukan militer mundur!”

“Tidak mungkin! Ada apa?” Chiko heran. Perasaannya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi.

***

“Profesor!”

Prof. Wischbert yang sedang berlari berhenti. Fika berada di belakangnya, menodongkan pistol ke arahnya.

“Too... tolong jangan bunuh aku. Mereka yang memerintahkan hal ini. Aku cuma melaksanakan perintah...” kata Prof. Wischbert sambil berlutut memohon pada Fika dengan muka pucat. Perhatian Fika justru tertuju pada tas yang dibawa Prof. Wischbert.

“Itu catatan formula Genoid, kan?” tanya Fika sambil menunjuk tas hitam yang dipegang erat Prof. Wischbert.

“Serahkan tas itu!”

“Ta... tapi...” Prof. Wischbert nggak meneruskan ucapannya karena Fika mendekat dan merampas tas tersebut dari genggamannya.

“Dengar... Genoid adalah penemuan paling berharga dari umat manusia. Kau tidak boleh memusnahkannya begitu aja. Formula itu bisa juga untuk kebaikan. Itu kan cita-cita Profesor Sahid.”

“Ya, sebelum kau mengkhianatinya dan membuatnya untuk kepentingan dirimu sendiri.”

“Aku terpaksa. Tapi aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku akan membuat Genoid sesuai cita-cita Profesor Sahid.”

“Terlambat!” Fika membuka tas hitam yang dipegangnya, kemudian memasukkan granat yang ditemukannya di salah satu ruang penjaga, setelah terlebih dahulu mencabut pin pengamannya.

“Jangan...”

Fika melemparkan tas jauh dari mereka. Saat menyentuh lantai, tas berisi dokumen penting dan granat itu meledak, membuatnya hancur lebur nggak tersisa.

“Tidaaak...” Prof. Wischbert cuma dapat meratapi dokumen yang menurutnya sangat penting itu. Belum tentu ada yang bisa membuat formula Genoid lagi dalam beberapa puluh tahun ke depan.

Fika melangkah pergi meninggalkan Prof. Wischbert yang masih terpaku di tempatnya.

***

Andika menghampiri dua penjaga yang berdiri di depan sebuah kamar. Untung keduanya mengira Andika salah satu rekan mereka, bahkan mereka menanyakan keadaan Andika yang terluka.

Andika cuma tersenyum menanggapi pertanyaan mereka. Tanpa diduga dia mengayunkan senjatanya ke salah satu penjaga, sementara kaki kirinya menendang penjaga yang lain. Kedua penjaga yang nggak menduga akan diserang sedemikian rupa nggak sempat mengadakan perlawanan. Cuma dalam satu gerakan Andika berhasil melumpuhkan kedua penjaga.

Andika membuka pintu kamar yang nggak terkunci. Tampak seorang anak laki-laki tertidur di ranjang yang ditutupi selimut tipis. Anak itu terbangun mendengar suara pintu dibuka. Wajahnya seketika itu juga memancarkan rona ketakutan. Dia meringkuk di pojok ranjang.

“Jangan takut... Kakak ke sini untuk menolongmu, membawa kamu keluar dari sini...” Andika mencoba menenangkan anak itu. Ucapannya manjur. Si anak tampak sedikit tenang.

“Siapa nama kamu?” tanya Andika.

“Bastian...”

“Bastian, nama yang bagus. Dengar... kamu mau keluar dari sini, kan?”

Bastian mengangguk.

“Kalau begitu kamu ikut Kakak ya... Kakak akan membawa kamu keluar dari sini.”

Sekali lagi Bastian mengangguk.

Andika menyeret kedua tubuh penjaga yang udah dilumpuhkannya ke dalam kamar.

“Mereka mati? Kakak bunuh mereka?” tanya Bastian.

“Tidak, mereka cuma pingsan...”

***

“Aktifkan sistem perlindungan penuh!” perintah Chiko.

“Anda yakin, Pak?”

“Lakukan aja!”

Seketika itu juga seluruh lampu di dalam laboratorium padam, diganti dengan nyala lampu hazard yang berwarna kuning dan merah yang cuma ada di bagian tertentu koridor, diiringi dengan suara sirine meraung-raung.

“Kepada seluruh personil, harap menuju ke tempat yang aman. Sistem perlindungan penuh akan aktif lima menit lagi!”

“Bagaimana status pasukan kita?”

“Mereka berada di Sektor Tiga, Pak! Saya sudah perintahkan untuk pindah ke Sektor Dua.”

“Tutup semua sektor dari arah pintu masuk. Dan perintahkan para Genoid ke ruanganku.”

“Baik, Pak!”

***

Andika yang menggendong Bastian melihat pintu-pintu antarkoridor mulai tertutup. Dia harus segera keluar dari tempat itu sebelum terjebak di dalam!

Andika segera berlari menyusuri koridor. Satu-dua pintu berhasil dilewati. Tapi dia terlambat melewati pintu ketiga.

Sial, harus cari jalan lain! batin Andika sambil menuju koridor lain.

***

Fika memasuki sebuah ruangan. Chiko ada di dalam, seolah menunggunya. Tampaknya itu ruang kerjanya.

“Kamu mencari reaktor nuklir, kan? Kamu akan bermaksud meledakkan tempat ini?”

Melihat Chiko, Fika menodongkan pistolnya.

“Kalau membunuhku, kamu tidak akan bisa masuk ke reaktor. Cuma aku yang tahu cara masuknya,” kata Chiko dengan tenang.

“Di mana reaktor nuklir itu? Reaktor itu nggak ada dalam peta.”

“Memang tidak ada, karena cuma aku yang tahu di mana reaktor itu. Jadi, kamu membutuhkanku.”

“Ciih...! Demi Tuhan, sampe kapan pun gue nggak akan bekerja sama dengan orang yang ngancurin hidup gue!”

“Tenang, kamu belum tahu kerja sama apa yang kutawarkan.”

“Apa maksud lo?”

“Aku tidak akan minta pengampunan. Kalau kamu mau membunuhku, silakan. Cuma aku punya satu permintaan.”

“Permintaan apa?”

“Dalam hidup, satu hal yang paling kubenci adalah dikhianati. Dikhianati oleh orang yang udah kita percaya. Di saat kita membutuhkan, mereka malah meninggalkan kita.”

“Jadi, teman-teman lo mengkhianati lo?”

“Duta dan Dave. Aku emang mempunyai ide proyek Genoid. Tadinya kami akan bekerja sama dengan CIA, tapi terganjal anggaran yang besar. Kami tidak mungkin meminta tambahan anggaran pada Pemerintah dan Kongres Amerika Serikat. Secara resmi proyek ini ditentang kongres, karena bertentangan dengan UU antikloning. Saat itu Duta datang. Duta bilang militer Indonesia bersedia mendanai proyek Genoid. Aku tidak tahu dari mana dia tahu soal proyek ini, dan dari mana pihak militer mendapat dana yang kami butuhkan. Yang jelas segala sesuatunya berjalan lancar, sampai timbul suatu masalah, yang diawali dari tidak mampunya ilmuwan-ilmuwan kami membuat zat Cathalyne seperti yang dibuat Profesor Sahid. Dan seterusnya kau sudah tahu kelanjutannya...”

“Jadi, apa yang mau lo tawarin ke gue?”

“Sederhana. Balaskan sakit hatiku. Duta dan Dave mencoba cuci tangan. Aku yakin mereka bahkan merencanakan melenyapkan tempat ini untuk menghilangkan keterlibatan mereka. Pengiriman pasukan TNI sebagai buktinya.”

“Tapi gue bukan pembunuh. Jadi maaf, gue nggak bisa nurutin permintaan lo. Dan mengenai gagalnya proyek ambisius lo, itu karena lo ingin mengingkari kodrat lo sebagai manusia. Lo ingin jadi Tuhan, karena itu sampe kapan pun lo nggak akan berhasil!”

“Bukannya kamu ingin membalas dendam atas apa yang menimpa dirimu dan keluargamu? Itu tujuanmu jadi Genoid, kan?”

“Lo tau?”

“Tidak susah menebak apa yang ada di pikiran gadis remaja seperti kamu. Walau kamu berusaha menutupinya, aku bisa membaca apa yang ada dalam pikiranmu. Walau begitu aku membiarkan kamu menjadi Genoid, mengisi otakmu dengan apa yang kamu perlukan. Aku mencurigai gerak-gerik Duta sejak lama. Sebetulnya bisa aja aku menghapus semua isi otakmu, tapi tidak kulakukan. Aku ingin kau tetap memiliki memori masa lalu, hingga bisa kuandalkan di saat-saat seperti ini.”

“Gue emang ingin membalas apa yang kalian lakukan pada gue, pada Mama, dan pada semua yang kalian korbankan untuk proyek gila ini. Tanpa lo suruh pun gue pasti nggak akan lepasin semua orang yang gue anggap nggak bertanggung jawab.”

“Jadi kita sudah sepakat?”

“Tunjukkan di mana reaktornya!?”

Chiko menuju lukisan yang tergantung pada salah satu dinding. Terdapat panel hitam mirip cermin di sana. Chiko menempelkan telapak tangan kanannya pada cermin itu. Rupanya cermin itu merupakan semacam scanner. Tiba-tiba Fika merasa lantai yang diinjaknya bergetar. Ternyata ada pintu rahasia di antara lantai itu. Pintu rahasia terbuka, dan tampak jalan masuk ke bawah yang dilengkapi tangga.

“Itu jalan menuju reaktor. Silakan, teruskan tujuanmu.”

Fika sedikit ragu-ragu. Tapi dia nggak punya pilihan lain.

“Awas kalo lo nipu gue!” gertak Fika sebelum masuk ke bawah.

Fika menyusuri tangga turun. Dia sampai di sebuah lorong yang ujungnya terdapat pintu lain. Fika membuka pintu yang ternyata nggak terkunci itu.

Chiko nggak berbohong. Di balik pintu terdapat reaktor nuklir yang cukup besar. Suhu panas menyergap saat Fika memasuki ruangan. Dia berdiri di beranda, di sisi ruangan yang besar. Terdapat jembatan kecil yang menghubungkan tempatnya berdiri dengan reaktor nuklir yang berada tepat di tengah-tengah ruangan. Di bawah jembatan itu adalah limbah nuklir yang dihasilkan reaktor. Suhunya mencapai 10000 C. Siapa pun yang jatuh ke sana pasti akan langsung jadi sate, Genoid sekalipun.

Fika segera berjalan melewati jembatan menuju reaktor. Nggak ada sistem pengamanan yang berlebihan dalam reaktor nuklir ini. Mungkin Chiko mematikannya atau terlalu berbahaya memasang perangkat keamanan di tempat sensitif ini.

Fika tahu mudah untuk meledakkan reaktor nuklir. Nggak perlu bahan peledak atau sejenisnya. Cukup dengan memberi beban berlebihan pada salah satu unsur radioaktif yang ada hingga menyebabkan unsur tersebut menjadi nggak stabil dan akhirnya memicu reaksi fisi secara berantai. Itu bisa dilakukan dengan memberi tekanan atau suhu di atas batas yang dapat diterima unsur tersebut. Semua itu udah tersedia pada reaktor. Fika menaikkan tekanan pada reaktor. Dia nggak menaikkan tekanan secara maksimal karena itu akan memberinya cukup waktu untuk keluar dari tempat ini. Dia tiba-tiba teringat janjinya pada Andika. Tanpa sadar seulas senyuman tersungging dari bibirnya. Senyuman yang pertama kali sejak kematian mamanya.
          
“Bahaya, tekanan meningkat... tekanan meningkat...”

Suara peringatan dari komputer nggak dipedulikan Fika, dia terus menaikkan tekanan melalui tuas pengontrol di sisi reaktor.
          
“Turunkan tekanan atau reaktor akan meledak...”

Beres! kata Fika dalam hati. Dia berbalik dan melihat sesuatu yang membuatnya terkejut.

Nggak mungkin! batinnya nggak percaya.

* * *
Part 18

“SEMUA pasukan telah keluar, Jenderal!”

“Bagus,” kata Duta.

“Siap ambil langkah selanjutnya. Atur waktu peledakan lima belas menit dari sekarang!”

***

“Seluruh pintu terkunci. Kita tidak dapat menerobos masuk!”

AKP Syaiful Amdi meneliti sebuah pintu logam yang menghalangi perjalanan mereka.

“Pakai segala cara! Bila perlu ledakkan!” perintahnya kemudian.

***

Andika berusaha melewati pintu yang tertutup dengan merusak sirkuit elektroniknya. Sejauh ini berhasil, sampai dia berhadapan dengan koridor yang ditutupi serangkaian sinar laser. Dia lebih terkejut lagi saat menyadari koridor di belakangnya yang tadi dia lalui juga aktif rangkaian yang sama. Dia dan Bastian terjebak di tengah koridor.

Andika tahu mereka nggak bisa terus dalam keadaan seperti ini. Dia ingin tahu laser jenis apa yang mengurungnya. Andika melepas jam tangannya dan melemparkan pada salah satu konfigurasi laser di depannya. Begitu menembus laser, jam tangan itu langsung terpotong menjadi beberapa bagian.

Laser pemotong! batin Andika. Nggak ada jalan baginya untuk lolos.

***

Di depan Fika tepat di seberang jembatan, berdiri Genoid No. 1. Darah tampak masih keluar dari perutnya, tapi dia berdiri tegak. Dan nggak cuma itu. Genoid No. 2 dan No. 5 ada di sisi kiri dan kanannya.

Bangsat kau, Chiko! maki Fika dalam hati. Dia menyesali kebodohannya yang terlalu mudah memercayai ucapan orang begitu saja, termasuk orang yang telah membuatnya menderita.

“Peringatan, inti menjadi tidak stabil... reaksi akan terjadi tiga puluh menit lagi...”

“Kalian nggak cukup bodoh untuk menembak, kan?” teriak Fika pada para Genoid yang, kecuali No. 1, menodongkan senjata ke arahnya. Fika berharap para Genoid terpancing perkataannya, dan nggak mau mati terkena ledakan nuklir.

No. 2 membuang senjatanya ke lantai, dan tanpa diduga tiba-tiba melompat ke jembatan dan maju menerjang Fika.

“Bodoh...” gumam No. 1.

Fika cepat mengarahkan pistol yang dipegangnya kepada No. 2. Tapi sebelum menembak, No. 5 yang masih memegang MP5-HK lebih dahulu menembaknya. Naluri Fika membuatnya cepat bertindak. Dia mengarahkan pistolnya ke tembakan yang dilepaskan No. 5. Dua peluru beradu di udara. Saat itulah Fika lengah. No. 2 udah berada di hadapannya dan langsung melancarkan tendangan ke arah tangannya yang memegang pistol. Pistol dalam genggaman Fika terlepas dan jatuh ke lantai. Belum sempat Fika bereaksi, No. 2 kembali melancarkan pukulan ke perutnya. Perut Fika serasa dihantam beban ribuan ton. Dia tersungkur ke lantai.

No. 2 menunggu Fika bangkit. Perlahan-lahan gadis itu mencoba berdiri. No. 5 membidik ke arah Fika. Tapi belum sempat dia melepaskan tembakan, tangan No. 1 yang berdiri di sebelahnya mencegah.

“Biarkan,” kata No. 1.

Belum sempat Fika berdiri sempurna, kedua tangan No. 2 bergerak mencekik leher Fika. Tentu aja Fika jadi sulit bernapas. Fika mencoba melepaskan cekikan pada lehernya, tapi tenaga No. 2 yang tubuhnya paling besar di antara Genoid lainnya terlalu kuat untuk dilawan. Dengan menggunakan leher Fika sebagai pegangan, perlahan-lahan No. 2 mengangkat tubuh Fika. Tubuh gadis itu semakin lemas. Mukanya semakin membiru, sedang tenaganya makin melemah.

“Jangan bunuh dia!”

Suara lantang No. 1 membuat No. 2 menoleh.

“Turunkan. Dia bagianku!”

Walau merasa sedikit nggak senang dengan perintah No. 1, No. 2 nggak berani membantah. Dia melepaskan cekikannya. Tubuh Fika pun terjatuh lemas. Fika batuk-batuk. Dia mengambil napas dalam-dalam.

Belum sempat bernapas lega, Fika merasakan cekalan tangan No. 2 pada tangan kirinya. No. 2 bermaksud menyeret Fika ke hadapan No. 1. Fika tentu nggak mau menyerah begitu aja. Dia melihat bagian kaki No. 2 terbuka untuk diserang. Tubuh Fika yang masih berada di lantai berputar, kaki kanannya menyapu kedua kaki No. 2, membuat No. 2 kehilangan keseimbangan. Fika segera mencoba berdiri. Tendangannya mendarat di bagian paling vital dari No. 2. Saat No. 2 mengerang kesakitan, Fika mendaratkan pukulan bertubi-tubi ke arah tubuhnya.

“Jangan tembak! Kau ingin membunuh kita semua!?” No. 1 kembali memperingatkan No. 5 yang kembali membidik Fika.

“Aku tidak akan gagal...” jawab No. 5 yang seperti No. 1 memiliki keahlian khusus menembak.

“Jangan ambil risiko, peluangmu cuma lima puluh persen...”

Fika terus melepaskan tendangan dan pukulan kepada No. 2, tapi Genoid itu belum pingsan juga.

Celaka! Bisa berabe nih! batin Fika.

Dia melihat kesadaran No. 2 lambat laun mulai pulih. Sementara itu, walau sejauh ini No. 1 dan No. 5 hanya mengamati dari jauh, mereka nggak mungkin membiarkan No. 2 dalam kesulitan.

Puncaknya, No. 2 bisa menangkis pukulan Fika. Dia menangkap tangan kanan Fika dan memuntirnya ke belakang. Fika tentu nggak tinggal diam. Dua jari tangan kirinya bergerak mencolok mata No. 2, membuat Genoid itu meraung dan mundur kembali. Dengan satu tendangan, Fika mematahkan pembatas jembatan yang terbuat dari besi dan mengambil besi patahannya sebagai senjata. Pikir Fika, adu tenaga dia pasti kalah, lebih baik mencari kesempatan menusuk di bagian yang mematikan. Tapi rupanya apa yang dipikirkan Fika terbaca oleh No. 1.

“Siasat lama!” teriak No. 1 sambil mencabut pisau dari kakinya. Pisau itu dilemparkannya ke arah Fika. Untung Fika melihatnya. Dia mengelak datangnya pisau. Serangannya ke arah No. 2 tertunda sejenak. No. 1 segera maju ke arena pertarungan.

Bertarung di tempat yang sempit melawan dua orang yang kekuatannya hampir seimbang dengannya tentu membuat Fika kerepotan. Walau No. 1 terluka, gerakannya masih cepat dan berbahaya. Beberapa kali Fika terkena pukulannya. Kalau aja No. 5 ikut maju mengeroyok, habislah Fika. Untung No. 5 cuma diam di tempatnya sambil terus membidikkan senjatanya. Dia tahu tempat di sekitar reaktor nuklir terlalu sempit untuk ditambah satu orang lagi.

***

Prajurit yang memasang C12 di pintu masuk udah kembali ke atas.

“Semua! Tinggalkan tempat ini!” perintah Duta. Dia melihat jam tangannya. Sepuluh menit lagi! batinnya.

***

Chiko masih termenung sambil duduk di balik meja kerjanya di depannya, lantai yang merupakan pintu masuk ke reaktor masih terbuka. Chiko mengira-ngira apa yang terjadi di dalam sana. Dia cuma tahu Fika udah menaikkan tekanan dalam reaktor hingga menyebabkan terjadinya reaksi fisik yang nggak stabil dan akan terjadi ledakan besar. Tapi kenapa baik Fika maupun tiga Genoid yang menyusulnya belum keluar, Chiko nggak tahu. sebetulnya di dalam reaktor terpasang kamera pengawas, dan Chiko bisa aja melihat apa yang terjadi melalui layar monitor yang ada di meja kerjanya. Tapi dia nggak melakukannya. Dia lebih suka mengira-ngira siapa yang akan memenangkan duel antar-Genoid tersebut. Walau Fika sendirian dan nggak sekuat Genoid-Genoid lain, Chiko nggak yakin Fika dapat ditaklukkan dengan mudah. Dia melihat ada sesuatu yang lain pada diri gadis itu. Sesuatu yang nggak dimiliki Genoid-Genoid ciptaannya. Sesuatu yang membuatnya dapat bertahan sejauh ini. Chiko menduga itu karena Fika tumbuh dan hidup di lingkungan manusia biasa, hingga DNA Genoid dalam dirinya mengalami evolusi, membuatnya menjadi Genoid paling sempurna yang pernah ditemuinya. Apalagi usia Fika masih muda. Kemampuannya masih bisa berkembang seiring dengan pertumbuhan umurnya.

Chiko mengeluarkan selembar foto berukuran 4R dari balik saku bajunya. Itu foto dirinya bersama anak dan istrinya yang sekarang tinggal di Atlanta, Amerika Serikat.

Maafkan Ayah, Nak! Ayah mungkin tidak bisa bertemu kalian lagi. Ayah harus bertanggung jawab atas segala perbuatan Ayah! batin Chiko sambil mengelus foto anak perempuannya yang masih kecil.

***

“Perhatian... reaktor akan meledak dua puluh menit lagi! Harap segera meninggalkan laboratorium...”

Peringatan itu nggak digubris tiga Genoid yang sedang bertarung mati-matian di dekat reaktor. Sementara itu guncangan kecil mulai terjadi.

Fika berhasil memukul pelipis kanan No. 1 dengan batang besi yang dipegangnya. Tapi dia nyaris terkena bogem mentah No. 2.

Celaka! Kalo begini gue bisa kalah! batin Fika. Tenaganya makin lama makin lemah, sementara kedua lawannya tampak masih segar bugar. Pada suatu kesempatan kedua tangan Fika bahkan berhasil ditangkap oleh No. 2 dari belakang. Untung aja sebelum terkunci dia sempat menendang, (lagi-lagi) bagian vital dari No. 2. Fika menunduk menghindari No. 2. Dia memilih menyingkirkan No. 1 yang udah terluka lebih dulu.

Dan pada suatu ketika Fika mendapat kesempatan. Dia berdiri di antara No. 1 dan No. 2. Saat No. 2 memukulnya, Fika melakukan split, hingga badannya turun. Pukulan No. 2 kontan dengan telak mengenai wajah No. 1, membuatnya terhuyung. Hidungnya mengeluarkan darah.

“Bodoh!” maki No. 1.

Fika berputar sehingga saat berdiri dia berada di belakang No. 2 dan No. 1. Dengan sekuat tenaga Fika melompat sambil menendang ke arah No. 2. Tendangannya mungkin nggak akan membuat No. 2 kesakitan, tapi cukup untuk mendorong tubuhnya. Sasaran Fika adalah No. 1 yang berdiri di dekat pagar pembatas. Tubuh No. 2 terdorong karena tendangan Fika, dan otomatis mendorong No. 1 yang ada di depannya.

“Shit!” umpat No. 1. Umpatan yang nggak ada gunanya, karena akibat dorongan itu tubuhnya terlempar melewati pagar pembatas. Sebelum tubuhnya jatuh ke bawah, No. 1 sempat meraih pagar pembatas. No. 2 juga ikut terlempar, dan dia meraih kaki No. 1 untuk mencegah dirinya jatuh. Kini kedua Genoid itu bergelantungan pada pagar pembatas.

No. 5 tentu aja nggak tinggal diam melihat kedua rekannya di ujung maut. Tanpa pikir panjang lagi dia melepaskan tembakan yang sedari tadi ditahannya. Fika melompat menghindari tembakan beruntun yang menghujani dirinya. Akibatnya tembakan itu menyebar ke mana-mana. salah satunya memutus kabel yang berasal dari reaktor, menyebabkan keadaan menjadi gelap gulita, karena aliran listrik dari reaktor terputus.

***

Satu menit sebelumnya...

Andika yang sedari tadi mencari cara untuk keluar dari kepungan laser terkejut. Kedua laser yang satu sama lain berjarak sekitar dua puluh meter tiba-tiba maju mendekat. Kedua laser itu akan mengimpit tubuhnya dan Bastian di tengah-tengah.

Makin lama kedua laser itu mendekat dengan kecepatan konstan. Andika nggak mempunyai jalan untuk meloloskan diri. Dia merasa kali ini nggak akan bisa selamat. Tubuhnya dan Bastian akan teriris-iris laser bagaikan roti yang teriris pisau yang sangat tajam. Yang bisa dilakukannya sekarang cuma menutupi tubuh Bastian agar anak itu nggak dapat melihat maut yang menjemputnya, serta berdoa semoga kematiannya dan kematian Bastian berlangsung cepat dan nggak menyakitkan. Semakin laser-laser tersebut mendekat, Andika menutup mata Bastian dengan telapak tangannya, sementara dia sendiri memejamkan mata.

Sedetik, dua detik, tiga detik... Sinar laser itu belum mengiris tubuhnya. Padahal menurut perhitungan Andika, seharusnya tubuhnya udah teriris dari tadi. Andika membuka mata. Yang ditemuinya cuma keadaan koridor yang gelap gulita. Laser yang menuju ke arahnya lenyap nggak berbekas. Nggak berapa lama lampu koridor kembali menyala. Walau belum tahu apa yang terjadi, Andika nggak menyia-nyiakan hal ini. Dia segera bangkit dan berlari mencari jalan keluar.

***

Lampu emang menyala kembali dengan sistem generator darurat. Tapi cuma lampu, nggak sistem keamanan lainnya. Pintu-pintu yang tadinya terkunci pun terbuka. Pasukan Detasemen 88 kembali bisa menerobos masuk. Dan mereka bertemu Andika yang sedang berlari.

“Jangan bergerak!”

Menyadari yang menodongnya adalah polisi, Andika nggak melawan. Dia menurunkan Bastian yang digendongnya.

“Kita selamat! Bapak-bapak ini polisi,” ujar Andika lirih pada Bastian. Bastian sendiri nggak begitu percaya ucapan Andika. Bayangannya tentang polisi adalah memakai seragam cokelat dengan topi di kepalanya, bukan orang berseragam serbahitam dan mengenakan topeng yang menodongkan senjata ke arah mereka. Dia bahkan merasa mereka itu seperti orang-orang yang menyerbu desanya.

“Kami bukan bagian dari mereka. Saya menyelamatkan anak ini. Dia saksi peristiwa di Papua yang akan dibunuh mereka...” kata Andika sambil menyodorkan Bastian ke depan. Polisi-polisi itu mana mau percaya. Mereka menyuruh Andika menjatuhkan senjata yang disandangnya dan mendekat. Setelah dekat, salah seorang dari anggota Detasemen 88 itu meringkus Andika dari belakang, sedang yang lain menarik Bastian dari pegangan Andika.

“Tenang Bastian... kamu akan selamat...” kata Andika ketika Bastian mulai menangis dalam cekalan seorang anggota Detasemen 88. Tubuh Andika dijatuhkan ke lantai dan tangannya diborgol dengan kasar.

“Apa Komisaris Oni bersama kalian? Saya ingin bertemu dengannya...” kata Andika. Ucapannya itu ternyata cukup ampuh. Perlakuan kasar pada dirinya berhenti.

“Kau kenal Komisaris Oni?” tanya salah seorang yang mengenakan topeng. Dia adalah AKP Syaiful Amdi.

“Saya yang mengirim pesan mengenai tempat ini padanya...” jawab Andika. “Dan sebaiknya kita segera keluar dari sini. Tempat ini akan meledak...” Suara Andika terputus suara gemuruh dari arah bawah. Seketika itu juga tempat itu bergetar hebat. Langit-langit mulai runtuh.

“Tidak ada waktu! Cepat keluar!!”

***

Akhirnya apa yang ditakutkan terjadi juga. Salah satu peluru mengenai reaktor yang berisi bahan radioaktif. Kebocoran pun nggak dapat dihindarkan. Tekanan meningkat dengan pesat. Perhitungan waktu ledakan menjadi nggak efektif lagi. Ledakan bisa terjadi kapan aja.

“Sudah kubilang jangan menembak! Dasar bodoh!” umpat No. 1 yang masih tergantung dengan No. 2 di bawahnya. Dia mencoba naik, memanjat pagar pembatas. Tapi tubuhnya yang terluka membuatnya menjadi lemah, sementara tubuh No. 2 yang bergantungan dengan memegang kakinya membuatnya semakin berat.

No. 1 menoleh ke arah No. 2.

“Maaf, salah satu dari kita tidak boleh mati...” katanya, lalu tangan kirinya bergerak, melepas sepatu bot yang menjadi pegangan No. 2.

“Jangan...” No. 2 memohon. Tapi bagi No. 1 permohonan itu nggak ada artinya. Sebelah sepatunya terlepas. Kedua tangan No. 2 kini berpegangan pada sebelah kaki No. 1 yang masih memakai sepatu. Dia mencoba merangkak naik, tapi No. 1 nggak membiarkannya.

“Akan kubalaskan dendammu pada Genoid wanita itu, saudaraku...” kata No. 1 sambil melepas sepatu sebelahnya. Dan dengan diiringi jeritan memilukan, tubuh No. 2 meluncur ke bawah, ke arah limbah nuklir bersuhu lebih dari 1000o C itu.

No. 1 merasa tubuhnya lebih ringan. Kini dia dapat naik. Tapi saat mencapai batas pagar ledakan keras dari reaktor pun terjadi. Tubuh No. 1 kontan tersapu udara panas yang keluar dari ledakan itu. Tubuhnya langsung meleleh tanpa sempat mengeluarkan satu suara pun.

***

Saat tahu reaktor udah bocor, Fika memutuskan untuk cepat keluar. Dia nggak melayani No. 5 yang terus menembakinya. No. 5 yang melihat Fika akan keluar nggak membiarkannya. Dia menghadang di pintu keluar. Nggak ada jalan lain bagi Fika, dia harus berhadapan dengan No. 5.

Untunglah saat itu amunisi No. 5 habis. Fika melihat itu sebagai peluang yang nggak boleh disia-siakan. Dia mencabut pisau dari kakinya dan melemparkannya ke arah No. 5. Nggak menyangka Fika akan melempar pisau ke arahnya, No. 5 mencoba menghindar, tapi jarak antara pisau itu dan dirinya terlalu dekat. Tanpa ampun pisau yang dilemparkan Fika menancap di antara kedua mata No. 5.

“Maaf...” ujar Fika. Saat itulah reaktor meledak. Fika berlari secepat mungkin ke atas, berpacu dengan bara api ledakan yang dapat melelehkan tubuhnya.

***

Sesampainya di ruang kerja Chiko, gadis itu sempat melihat pria itu tergeletak di kursi kerjanya. Di keningnya terdapat lubang peluru, dan sebuah pistol tergeletak dekat tangan kanannya. Tapi Fika nggak sempat memikirkan apakah Chiko bunuh diri atau dibunuh. Dia keluar meloncat saat ledakan dahsyat meluluhlantakkan ruang kerja Chiko. Bara api sempat mengenai tubuhnya.

Akibat dari ledakan reaktor nuklir sangat luar biasa. Walau berukuran sangat kecil, ledakan itu menimbulkan reaksi ledakan berantai. Struktur bangunan laboratorium mulai roboh. Para personil lab yang masih tersisa berlarian menyelamatkan diri, mencari pintu keluar.

Keadaan makin kacau saat ledakan reaktor disusul ledakan dari lantai atas di Pintu A yang diakibatkan oleh C12 yang dipasang militer. Nggak ada lagi tempat berpijak. Korban pun berjatuhan. Kalau nggak terbakar atau terkena ledakan, mereka menjadi korban karena terkena reruntuhan bangunan, atau terjatuh ke bawah.

Fika meloncati bangunan yang masih tersisa. Dia menuju pintu B, pintu yang dia tahu agak jauh dari sumber ledakan. Jika beruntung, dia bisa sampai di sana sebelum tempat ini benar-benar hancur. Fika melompat ke arah sebidang lantai yang masih utuh yang jaraknya sekitar lima belas meter dari tempatnya berada. Dia berhasil menggapai bibir lantai, kemudian naik. Saat itu Fika melihat kejadian memilukan. Seorang staf wanita terperangkap di sebidang lantai yang kanan dan kirinya udah ambruk. Staf itu nggak berani melompat ke lantai terdekat yang cuma berjarak kurang-lebih lima meter.

Entah kenapa saat itu timbul perasaan iba pada diri Fika. Staf wanita itu berusia kurang-lebih sama dengan mamanya. Dia merasa saat itu mamanya sedang memerlukan pertolongan. Fika segera melompat ke lantai tempat staf wanita tersebut.

“Cepat lompat!” kata Fika. Bukannya mengikuti ucapan Fika, staf wanita tersebut malah menggeleng sambil menangis. Fika nggak punya banyak waktu. Dia meraih pinggang wanita itu, dan dengan sekuat tenaga melemparkannya ke lantai terdekat. Berhasil. Wanita itu terjatuh tepat di lantai yang masih aman. Tapi saat itu terjadi ledakan besar. Lantai di atas tempat Fika berdiri runtuh disertai bola api yang sangat panas, tanpa ampun menerjang ke bawah. Fika nggak sempat menghindar. Lantai tempatnya berada runtuh diterjang reruntuhan di atasnya, dengan Fika masih berada di antaranya.

* * *
Part 19

Dua jam kemudian...

SINAR matahari pagi mulai menerangi bumi. Udara segar memancarkan kesejukan pagi yang alami. Biasanya di pagi yang cerah suasana di kawasan industri Cikarang, Bekasi mulai terlihat ramai. Para pekerja pabrik yang berjumlah ribuan yang tersebar di seluruh kawasan mulai masuk bekerja. Jalan masuk ke kawasan industri biasanya menjadi macet. Belum lagi adanya aktivitas penduduk di sekitar daerah itu, dan kegiatan lain yang makin menambah kemacetan.

Tapi pagi ini kemacetan di kawasan industri Cikarang bukan kemacetan biasa. Sejak subuh kawasan tersebut mendadak ditutup militer. Barikade terpasang di setiap jalan masuk. Hal itu membuat bukan aja para pekerja yang akan masuk bertanya-tanya, tapi juga penduduk sekitar. Para penduduk cuma tahu mereka mendengar truk-truk militer hilir-mudik di sekitar kawasan tersebut sejak tengah malam kemarin. Tapi selanjutnya mereka nggak tahu. Cerita yang berkembang, pihak militer sedang menggerebek sarang teroris internaFaizalal yang terdapat pada salah satu pabrik, yaitu PT Venon Regen. Cerita itu juga yang ditiupkan pihak militer untuk menutupi keadaan yang sebenarnya. Nggak ada seorang pun yang diizinkan melewati barikade, bahkan wartawan.

Duta tampak berada beberapa meter dari pintu gerbang pabrik. Seperti juga yang lainnya, dia sedang menunggu kabar dari tim pemeriksa dari Badan Tenaga Atom Nasional yang khusus didatangkan karena diduga adanya radiasi akibat ledakan nuklir di bawah tanah. Tim itu kini berada di dalam gedung yang menjadi pintu masuk ke laboratorium.

Tim udah keluar dari area pabrik. Tim pemeriksa yang beranggotakan lima orang itu memakai baju antiradiasi berwarna perak lengkap dengan masker penutupnya. Sesampainya di luar mereka masuk ke mobil khusus yang disediakan untuk melepas baju dan mensterilkan tubuh mereka.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya para anggota tim selesai disterilkan. Duta menghampiri ketua tim pemeriksa, Rusli Manan.

“Bagaimana?” tanya Duta.

“Sangat parah. Radiasi radioaktif di bawah sangat tinggi. Melebihi radiasi di Hiroshima dan Nagasaki. Untunglah jarak antara sumber radiasi dan permukaan tanah cukup jauh, hingga radiasi tidak sampai ke permukaan,” Rusli menjelaskan.

“Jadi, daerah ini aman? Penduduk tidak perlu dievakuasi?”

“Di permukaan aman. Tapi saya sarankan daerah ini dikosongkan dalam radius sekitar satu-dua kilometer. Jangan sampai ada yang menggali atau membor ke dalam tanah, setidaknya dalam jangka waktu lima tahun, karena dikhawatirkan akan membocorkan radiasi.”

Duta berpikir mendengarkan penjelasan Rusli. Mengosongkan daerah industri yang padat dalam waktu singkat bukanlah pekerjaan mudah. Banyak yang harus dilakukan. belum lagi dia harus meladeni para pemilik pabrik yang akan digusur.

“Bawah tanah sama sekali tidak bisa dimasuki?”

“Saat ini sama sekali tidak bisa. Tampaknya seluruh area di bawah terbakar habis. Hancur total. Mungkin sekitar satu-dua tahun lagi, saat tingkat radiasi sudah mereda, baru daerah itu bisa dimasuki.”

Mendengar ucapan Rusli, Duta mengangguk-angguk.

“Tempat apa itu sebenarnya? Saya heran ada yang bisa membangun tempat seperti itu di dalam tanah. Reaktor nuklir di dalam tanah? Dan di Indonesia? Sampai saat ini saya tidak bisa membayangkan hal ini. Mudah-mudahan semua orang yang ada di dalam telah keluar.”

“Ya. Mudah-mudahan...” kata Duta. Seulas senyum tersungging dari bibirnya.

***

Dua kilometer dari area pabrik, terdapat kesibukan lain. Puluhan anggota polisi berada di areal sekitar hutan di belakang kawasan industri. Mobil ambulans juga ada di sana, merawat korban yang bisa keluar dari laboratorium. Selain anggota Detasemen 88, beberapa staf juga berhasil keluar sebelum terjadi ledakan. Mereka beruntung karena pintu keluar yang menghubungkan laboratorium dan dunia luar sangat kuat, hingga nggak ikut hancur karena ledakan dan dapat menahan radiasi agar nggak keluar. Menurut rencana gua tempat terdapat pintu tersebut akan diledakkan hingga nggak ada yang bisa masuk dan menemukannya, dan radiasi dapat ditahan.

Andika duduk di bawah sebatang pohon yang terdapat di area tersebut. Borgol di tangannya sudah dilepas. Dalam kelelahan dan luka yang dialaminya, cowok itu masih sempat memikirkan nasib Fika. Nggak ada kejelasan mengenai nasib gadis itu, apa dia bisa keluar dengan selamat atau nggak. Dia teringat ucapan Fika terakhir saat mereka akan berpisah,
         
“Insya Allah, gue pasti keluar. Bidadari pasti kembali...”

Ternyata Fika nggak menepati janjinya. Tanpa sadar Andika mengusap bibirnya yang tadi dicium Fika. Ciuman itu masih terasa hangat dan membekas. Dia merogoh saku belakang celananya. Ada foto Fika yang diambilnya diam-diam saat masih mengamati gadis itu. Foto Fika dengan seragam sekolahnya. Andika sengaja menyimpan foto itu dari sekian foto yang diambilnya, karena menurutnya itulah foto Fika yang paling cantik. Dipandanginya foto Fika, seolah-olah gadis itu ada di hadapannya.

“Dia memang gadis baik,” kata seseorang di belakang Andika. Andika menoleh. Komisaris Oni berdiri di belakangnya. Perwira polisi itu kemudian duduk di samping Andika.

“Saya jarang bertemu dengan dia, walau dia sering main ke rumah. Tapi Reni begitu mengkhawatirkannya. Itu berarti dia anak yang baik. Benar kata Reni, Fika tidak mungkin melakukan semua hal yang dituduhkan padanya. Saya juga sempat ragu akan hal itu,” kata Pak Oni.

“Dia tidak ditemukan?” tanya Andika. Pak Oni menggeleng.

“Saya sudah cek ke pihak TNI. Fika juga tidak ada di tangan mereka. Mungkin saja dia masih di dalam. Dan melihat dahsyatnya ledakan, juga radiasi radioaktif yang ada, sangat tipis kemungkinan dia bisa selamat, kalau bisa dibilang tidak ada.”

“Saya mengerti...”

“Saya ikut berdukacita. Saya juga sedang bingung memikirkan bagaimana mengatakan hal ini pada Reni. Dia pasti akan sedih mendengar apa yang menimpa sahabatnya.”

Pak Oni menepuk pundak Andika. “Ada yang menjemput kamu. Saya bilang kamu sedang diinterogasi polisi.”

“Siapa?”

“Dari TNI. Katanya mereka akan menginterogasi kamu juga. Kalau kamu mau, kamu bisa pergi sekarang.”

Andika menoleh ke arah Pak Oni.

“Bapak membolehkan saya pergi?”

“Tentu. Sebetulnya kasus ini masih belum jelas bagi saya. Saya rasa banyak yang kamu sembunyikan. Tapi, sudahlah... saya tidak akan memaksa kamu. Saya merasa kasus ini tidak bakal terungkap. Biar TNI saja yang pusing soal ini. Masih banyak yang harus dikerjakan polisi untuk kepentingan orang banyak,” tandas Pak Oni.

“Kamu yakin tidak apa-apa? Tampaknya luka-lukamu harus segera dirawat...” lanjut Pak Oni yang melihat luka-luka di sekujur tubuh Andika.

“Tidak masalah, Pak. Saya tidak apa-apa.” Andika nggak mau mengambil risiko dirawat seperti manusia biasa. Dia nggak ingin jati dirinya ketahuan. Dalam beberapa jam luka-lukanya akan pulih dengan sendirinya.

Andika berjalan menemui orang dari TNI seperti yang dikatakan Pak Oni. Di dekat mobil minibus dengan warna hijau militer, seorang prajurit menghampiri Andika.

“Anda ditunggu di dalam mobil...”

Andika membuka pintu tengah minibus. Seseorang berpakaian militer udah menunggunya di dalam mobil. Kolonel Masdi!

“Cepat naik. Kita harus segera pergi dari sini,” kata Kol. Masdi. Andika tersenyum lalu masuk ke minibus.

* * *

Part 20

“Kamu nggak bisa lari, Fika...”
         
Gadis bernama Fika itu menoleh. Seorang laki-laki berada beberapa meter di belakangnya. Suasana yang gelap membuat Fika nggak bisa melihat wajahnya.
         
“Kamu siapa?” tanya Fika.
         
“Nanti kamu akan tahu. Juga apa yang ada di balik pintu itu. Satu hal yang pasti, kita nggak berbeda. Kita adalah satu. Kamu nggak bisa lari dari semua ini...”

***

Bunyi peluit kapal membangunkan salah seorang penumpang kapal cepat yang berangkat dari Batam. Penumpang itu adalah gadis enam belas tahun berkerudung merah muda. Dia adalah Fika. Wajah Fika menampakkan kedukaan yang mendalam. Masih ada bekas luka di kening kanannya yang ditutup perban. Dia memandang ke luar jendela kapal. Pulau Batam terlihat di kejauhan, makin lama makin kecil.

Mimpi itu masih terus menghantuinya. Fika belum bisa mengartikan mimpinya, apalagi mengenali laki-laki yang hadir dalam mimpinya. Walau begitu dia yakin mimpi itu punya hubungan dengan dirinya sebagai Genoid. Tadinya Fika menyangka setelah berbagai kejadian yang menimpa dirinya, mimpi itu akan hilang dengan sendirinya.

Seminggu berlalu sejak peristiwa di Cikarang. Peristiwa yang nggak mungkin bisa dilupakan Fika seumur hidupnya. Fika bisa selamat karena saat terjatuh, dia cepat menghindar dari reruntuhan material yang menimpanya. Darah Genoid yang mengalir dalam tubuhnya membuatnya dapat bertahan. Padahal saat itu dia udah pasrah. Tapi sekonyong-konyong Fika mendengar suara mamanya, yang memintanya agar jangan menyerah. Suara itu memberikan semangat baru bagi Fika. Fika dapat mencapai Pintu A yang hancur lebur karena ledakan C12. Daya ledakan C12 menahan kekuatan ledakan dari reaktor, hingga radiasi tertahan. Dengan menggunakan sisa-sisa tenaganya, Fika berhasil mencapai permukaan dengan bergelantungan pada dinding-dinding bekas lift. Saat itu seluruh pasukan militer udah meninggalkan area gedung sehingga Fika dapat keluar tanpa terlihat. Dengan luka yang sangat parah dan sisa-sisa tenaga yang ada, Fika bersembunyi sambil memulihkan tubuhnya.

Fika nggak tahu kabar tentang Andika. Dia sama sekali nggak tahu bagaimana keadaan cowok itu dan di mana dia sekarang. Tanpa sengaja Fika meraba lukanya. Sekarang dia punya bekas luka sama seperti Andika. Cuma bedanya bekas luka Andika ada di pelipis kiri, sedang dia di pelipis kanan.

Mata Fika melirik penumpang di sebelahnya. Seorang pria berusia setengah baya yang sedang terkantuk-kantuk. Di pangkuannya tergeletak selembar surat kabar yang baru dibacanya. Fika melihat headline surat kabar yang dicetak besar dengan huruf kapital tebal.

POLISI MASIH USUT KASUS PENYUSUPAN DI RUMAH SEORANG PERWIRA TINGGI MILITER INDONESIA

“Boleh pinjam korannya, Pak?” tanya Fika. Pria yang setengah tertidur itu membuka mata, kemudian menyodorkan surat kabar itu pada Fika, dan kembali memejamkan mata.

Fika membaca berita di bawah headline yang tadi dibacanya.
         
“Pihak kepolisian dibantu penyelidik dari TNI dan BIN masih menyelidiki kasus penyusupan yang terjadi di rumah Jenderal Duta dua hari yang lalu. Kasus yang menghebohkan itu membuat empat prajurit yang bertugas menjaga kediaman Perwira tinggi militer itu harus dirawat di RSPAD. Jenderal Duta sendiri menderita luka tembak di paha kanannya...” Fika berhenti sejenak, menarik napas, kemudian melanjutkan membaca.
        
“Belum jelas siapa dan apa motif pelaku. Walau coba dirahasiakan, menurut sebuah sumber kepolisian, pelaku adalah seorang gadis muda berusia sekitar 16-17 tahun dan mengenakan topeng. Yang mengherankan, bagaimana mungkin gadis tersebut seorang diri bisa masuk menerobos masuk ke rumah perwira tinggi militer yang dijaga ketat?”

Ingatan Fika kembali ke dua hari yang lalu, saat dia menerobos masuk rumah Duta. Tujuannya jelas, untuk membalas dendam atas apa yang menimpa dirinya. Dave udah tewas sehingga Duta satu-satunya target yang masih hidup. Fika berhasil melumpuhkan empat prajurit yang berjaga di depan rumah Duta. Dan tanpa kesulitan Fika pun berhadapan dengan perwira tinggi itu. Fika sempat menembak paha kanan Duta saat dia hendak kabur. Saat hendak menghabisi nyawa Duta, istrinya dan seorang cewek yang usianya kurang-lebih sama dengannya menghambur dan memeluk Duta, seraya memohon agar Fika nggak membunuhnya. Melihat itu Fika menjadi bimbang. Apalagi setelah melihat wajah anak perempuan Duta yang menangis, sambil melindungi ayahnya. Fika jadi teringat pada dirinya sendiri.
         
“Katakan apa yang sebenarnya terjadi pada pers, dan akui kesalahan Anda. Bersihkan nama orang-orang yang menjadi korban. Anda harus menanggung semua akibat dari apa yang udah Anda lakukan. Jika Anda nggak melakukan itu, saya akan kembali untuk membunuh Anda...” ancam Fika saat itu yang disanggupi oleh Duta. Fika memutuskan nggak membunuh Duta, dan memberinya kesempatan mengakui segala perbuatannya.

Ya Tuhan! Hampir aja aku menjadi seorang pembunuh berdarah dingin. Hampir aja aku menjadikan seorang anak menjadi anak yatim! batin Fika.

“Sumber kami yang tak dapat diungkapkan jati dirinya menyatakan kemungkinan hal itu dilakukan oleh gadis yang selama ini menjadi buronan polisi, RH alia sfika . RH menjadi buronan polisi karena terlibat beberapa kasus pembunuhan, termasuk pembunuhan terhadap ibu kandungnya sendiri dan beberapa petugas polisi di kantor polisi beberapa saat yang lalu. Menurut sumber tersebut, Jenderal Duta mengatakan RH melakukan itu untuk menteror dirinya dan keluarganya. Ada yang ingin menjadikan dirinya tumbal bagi kejahatan teroris tingkat tinggi. Jenderal Duta sendiri tetap menyangkal terlibat dalam masalah itu, walau dia mengakui memberi perintah untuk meledakkan sarang teroris di Cikarang. Menurutnya perintah itu dilakukan sebagai seorang prajurit sejati yang siap melakukan apa saja untuk keamanan bangsa dan negara. Menghancurkan sarang teroris yang menurutnya terbesar di Indonesia dan bersenjata canggih itu adalah untuk mencegah adanya teroris yang lolos dan membuat teror lagi di Indonesia. walau kemungkinan dihadapkan pada Dewan Kehormatan Perwira karena dianggap menyalahi prosedur, Jenderal Duta diperkirakan akan lolos dari hukuman karena mengalirnya dukungan baginya. Saat ini Jenderal Duta dan keluarganya berada di suatu tempat yang dirahasiakan dan dijaga ketat oleh prajurit khusus yang terlatih.”

Fika tersenyum sinis membaca berita itu.

Dasar Ular! batin Fika. Dia udah menduga Duta akan mengingkari janjinya. Sekarang dia bisa bersembunyi, tapi suatu saat pasti akan keluar juga. Fika sendiri saat ini lebih memilih pergi ke luar negeri, karena fotonya mulai banyak terpampang di mana-mana, baik media cetak atau elektronik. Dia dianggap sebagai buronan nomor satu yang sangat berbahaya, lebih berbahaya daripada teroris atau pembunuh kelas kakap. Setelah keluar dari Indonesia, barulah Fika menentukan langkah selanjutnya. Apakah akan kembali ke Indonesia, atau pergi ke tempat yang jauh, melupakan apa yang udah terjadi dan memulai hidup baru di negeri yang baru.

***

Harbour Front, Singapura tampak ramai saat kapal cepat baru berlabuh. Petugas imigrasi yang berjaga di pintu keluar pelabuhan sibuk memeriksa dokumen setiap warga negara asing yang akan masuk ke Singapura.

“Purpose in Singapore?” tanya petugas imigrasi wanita bermata sipit pada Fika sambil melihat paspor Fika.

“Visit a friend and shopping,” jawab Fika. Padahal dia nggak punya satu teman pun di Singapura. Kalo petugas itu menanyakan di mana alamat temannya, matilah dia.

Untung petugas wanita itu nggak bertanya lebih lanjut, karena antrean di belakang Fika emang masih panjang. Dia memandang wajah Fika sejenak, mencocokkannya dengan foto di paspor. Walau saat itu Fika memakai kerudung, sedangkan foto di paspor nggak, masih ada kemiripan yang terlihat. Si petugas kemudian mengambil sebuah stempel dan mencap paspor Fika.

“Welcome to Singapore, Miss Arista Rayesti ...”

* * *