Genderang perang telah disemarakkan. Semua berubah seketika. Aku tak
berniat merubahnya, tapi keadaan lah yang menyihir dengan sihir alam. Sekali
lagi aku tak percaya. Ini keajaiban yang tak sesuai dengan nuraniku.
“Selamat ya, udah ketrima di universitas. Ciye ciye... Makan-makannya
ditunggu ya,” ujar setiap orang yang lalu lalang dengan berbinar. Aku hanya
tersenyum, tapi tidak dengan hatiku. Aku mengisi angket dengan iseng dan tak ku
sangka aku akan tembus.
Sekali lagi ku lihat namaku yang tercetak di papan pengumuman. Ingesti
Anggraeni. Ku telusuri nama-nama yang lain, mencoba mencari nama yang sekiranya
akrab di telingaku. Eza Prabuanang. Eza Prabuanang? Astaga?!
“Kenapa gue tembus sih?!” ujar suara di belakangku dengan kesal. Ternyata
bukan hanya aku yang tak menerima keputusan ini. Beruntungnya diriku ada teman
yang senasib denganku.
Ku balikkan tubuhku dan ku dapati sosok yang amat ku kenal.
“Eza?!”
ZZZZZ
“Wez...udah siap jadi anak seni, Nges?” goda Eza dengan jahilnya. Aku yang
mendengar hanya tersenyum sinis.
“Apaan sih lo. Lo tau kan, gue ngga pernah punya bakat di bidang seni.
Cita-cita gue itu pengen jadi insinyur, bukan seniwati,” jawabku sebal. Eza pun
melotot kemudian tertawa. Saat itulah aku dapat melihat bahwa tak banyak
perubahan yang terjadi pada Eza. Semua sama seperti tiga tahun yang lalu.
“Hahaha... Kalo lo ngga suka, kenapa daftar?”
“Gue cuma menguji keberuntungan. Dan ternyata gue adalah orang yang
beruntung. Lo juga kenapa daftar kalo pada akhirnya lo ngga suka diterima?”
“Eih, darimana lo tau itu?”
“Gue punya kuping, Eza. Gue denger tadi lo mendengus kesal.”
“Bokap maksa gue. Daripada gue berdebat terus-terusan, akhirnya gue nurut
aja.”
“Emang lo sebenernya pengen lanjut kemana?”
“Kemana aja. Asal jurusan arsitektur, gue rela dikirim ke Papua.”
Aku merasakan desir kembali di hati. Setelah tiga tahun ku berusaha menepis
rasa itu, akhirnya pada hari ini aku merasakan kembali. Rasa yang telah lama
gersang. Yah, rasa cinta dan sayang. Aku tau, aku tak pernah memiliki Eza. Aku
hanya menyukainya secara diam-diam. Namun lubuk hati terdalam sangat nyaman
berada di sisinya.
“So, mau ngambil keberuntungan, atau mau menguji keberuntungan lagi?” tanya
Eza seraya menyeruput jus jeruknya.
“Eh, oh, sepertinya aku mau ambil aja deh. Daripada buang-buang duit,
mending yang udah pasti aja.”
“Oke, besok kita tes toefl bareng ya. Gue tunggu lo di gasebo. Awas lo kalo
telat!”
“Siap bos!”
ZZZZZ
“Sial! Kenapa gue bisa telat bangun sih?!” runtukku saat berlari ke depan
rumah.
Sepuluh menit lagi tes akan dilaksanakan. Namun bus tak kunjung singgah.
Lagi-lagi aku mengutuk diri ini yang tak bisa mengendarai motor, meski ada satu
motor nganggur di garasi.
“Kenapa ngga gue coba?”
Aku berlari menuju garasi dan kulajukan motor denngan kencang. Ternyata aku
jago juga. Ini pertama kalinya aku mengendarai motor dan langsung sangat ahli
seperti ini.
ZZZZZ
Ku berlari menuju gasebo. Ternyata sepi. Tak ada siapapun. Ah, seharusnya
aku berpikir kalau Eza akan masuk ruangan duluan karena tes sudah berlangsung.
Aku segera berlari ke ruangan ujianku dan langsung duduk di kursiku. Selembar
kertas sudah tergeletak di depanku. Segera ku isi sebisaku.
Bell tanda selesai pun berdering. Aku melangkah gontai karena hanya separuh
yang dapat ku kerjakan.
“Hai! Lo telat ya tadi? Kenapa?” sapa Eza tiba-tiba. Ia menarik lenganku
dengan seenaknya.
“Ih! Aku tadi telat bangun. Dan lo tau, gue tadi kesini naik motor! Padahal
gue belum pernah nyoba sebelumnya. Tapi gue sama sekali ngga inget gimana
perjalanannya. Yang gue inget, gue udah di gasebo.”
“Ngimpi kali lo!”
Aku juga merasa bahwa ini mimpi. Semua orang yang berada di sekitar kami
menatap aneh pada Eza. Sepertinya Eza juga merasa demikian. Tapi ia mencoba
cuek.
Tiba-tiba ponsel Eza berdering. Kami menghentikan langkah kami dan Eza
mengangkat panggilan itu.
“Hallo? Iya, Fan, gue lagi sama Ingesti. Iya, iya, Fani. Ntar lo langsung
ke TKP aja. Iya, oke, thanks ya. Bye!”
“Siapa, Za?”
“Oh, ini Fani. Inget kan? Temen SMP kita.”
“Oh... Teman sekaligus mantan lo?”
“Hehehe... Tapi sumpah, gue udah move on kok dari dia.”
“Terus? Apa hubungannya sama gue?” meski aku menjawab demikian, tapi
sebenarnya hatiku sakit. Atau...lebih tepatnya cemburu.
Eza mengangkat bahu dan melangkah kembali.
Ternyata Eza menuju motornya. Ngomong-ngomong, aku markirin motorku di mana
ya?
“Ayo naik!” ajak Eza dengan ringan.
“Tapi motor gue?”
“Udah, tinggal dulu aja. Ntar gue anter ke sini lagi. Kita jalan-jalan dulu
aja!”
Aku pun naik di motor Eza. Rasa itu semakin menguat. Bagaimana jika cinta
ini hadir lagi dan semakin membuatku tak bisa berpaling?
ZZZZZ
Eza membawaku ke tempat yang sangat indah. Taman mawar. Penjaga taman
lagi-lagi menatap aneh pada Eza. Kenapa? Ada yang aneh dengannya?
Eza membayar dua karcis dan kami pun masuk. Eza telah menyiapkan satu meja
khusus untukku. Dengan berbagai makanan di atasnya dan pemandangan mawar yang
luar biasa cantik. Ia bahkan mempesilahkan aku duduk.
“Ingesti, sebenernya...gue.....”
“Bentar-bentar. Toilet di mana ya, Za? Gue kebelet. Hehehe,”
“Lo lurus aja, ntar ada jalan belok, lo belok. Di situ toiletnya.”
Aku pun buru-buru ke toilet. Aku belum siap jika seandainya Eza menyatakan
perasaannya padaku. Apa dia serius? Atau aku hanya dijadikan pelarian? Apa yang
harus aku jawab?
Ku melintasi cermin, namun tak kutemukan bayanganku pada cermin itu. Apa
arti ini semua? Kenapa banyak kejadian janggal hari ini?”
Aku kembali mengingat dari awal. Kejadian-kejadian aneh yang menimpaku.
Mulai dari aku tak mengingat perjalanan, tak mengingat di mana aku memarkir
motor, tiba-tiba ada di gasebo, tatapan-tatapan aneh yang ditujukan pada Eza,
dan sekarang? Cermin pun tak mau memantulkan bayanganku?
“Apa jangan-jangan....gue...gue udah mati?”
Aku terisak. Takut bahwa pikiranku ini benar. Penjaga taman yang lewat pun
tak memperdulikanku. Seakan-akan aku memang tak ada. Aku takut, hatiku sakit,
dan aku terus menangis.
Ku lihat sosok cantik Fani dengan wajahnya yang memerah seperti habis
menangis menghampiri Eza. Walau samar, aku dapat mendengar pembicaraan mereka.
“Fani, lo kenapa?”
“Ingesti, Za. Ingesti...”
“Lo ini ngomong apa? Dari tadi Ingesti sama gue. Sekarang dia emang lagi ke
toilet. Dan gue grogi banget mau ngungkapin perasaan gue.”
“Eza sadar! Ignesti kecelakaan dan udah meninggal!”
“Maksud lo?! Fan, lo denger ya, Ingesti masih hidup! Lo jangan ngaco!”
“Lo yang harusnya sadar! Gue liat dengan mata kepala gue sendiri, Eza! Gue
liat jenazah Ingesti langi dibawa ke rumahnya! Bahkan sekarang motor dan bekas
darahnya sedang diselidiki polisi! Kalo lo ngga percaya, lo ikut ke Jalan
Kartini!”
Aku masih tak percaya kalau aku sudah meninggal. Aku menangis
sejadi-jadinya. Eza dan Fani berjalan ke arahku. Mungkin Fani tak akan bisa
melihatku. Tapi Eza? Untuk sementara aku sembunyi di dalam tempat sampah.
“Ingesti?! Lo di mana? Lo masih hidup kan?” teriak Eza yang banjir air
mata.
“Eza sadar! Mungkin tadi Ingesti cuma mau pamitan sama lo!”
Tubuh Eza lemas. Dengan dibantu Fani, ia melangkah menuju mobil Fani. Aku
pun berjalan mengendap-endap mengikuti mereka dan ikut masuk ke dalam mobil
Fani.
ZZZZZ
Benar saja. Di Jalan Kartini, aku dapat melihat motorku dan banyak darah
yang mulai mengering. Kini aku percaya, aku hanyalah roh halus, hantu! Bukan
manusia lagi!
Fani melajukan mobilnya kembali menuju pemakaman. Eza yang tak kuat dengan
kenyataan itu pun pingsan di tempat. Aku hanya dapat menangis melihat tubuh
berbalut kain mori dimasukkan ke dalam tanah.
“Selamat tinggal, Kasih. Selamat tinggal. Aku sayang kalian semua,” ujarku
mencoba tegar. Air mata tak lagi mengalir. Aku menatap langit dengan senyum
tipis.
“Tuhan...jika memang aku telah Kau
takdirkan untuk menghadapmu, aku ikhlas. Aku rela. Tapi tolong beri aku
kesempatan untuk pamit pada Eza. Baru sebentar aku merasakan kebahagiaan
dengannya. Izinkan aku mengucap salam perpisahan untuknya.”
ZZZZZ
“Ingesti? Kamu benar-benar masih hidup kan?”
Aku hanya tersenyum di hadapan Eza dan berharap dapat tegar. Dengan
bijaksana, aku berpamitan, “Eza, aku sayang kamu. Aku cinta kamu. Tapi biarkan
cinta ini abadi. Abadi bersama rohku yang telah berada di alam yang berbeda.
Maaf, aku tak dapat menemanimu lagi. Aku hanyalah roh, hanya hantu.”
“Tapi aku ngga peduli. Aku bahagia menjalin kasih denganmu, walau kau bukan
manusia. Aku mohon, tetaplah di sisiku.”
“Kamu mau aku bahagia kan? Ikhlaskan aku pergi, Eza.”
Eza diam tanpa kata. Aku menutup mataku sejenak. Tak kuasa aku memandang
wajah Eza yang penuh luka.
“Apakah kamu akan benar-benar bahagia jika aku ikhlaskan dirimu pergi?”
“Ya.”
Eza memelukku. Tuhan telah memberiku hadiah terindah, karena Ia memberiku
kesempatan dapat menyentuh Eza. Aku membalas pelukan terakhir ini.
“Pergilah, Ingesti,” bisik Eza halus.
Perlahan, tubuhku semakin memudar, dan pada akhirnya aku dapat marasakan
tubuhku terbang ke angkasa, meninggalkan cintaku di bumi.
“Terkadang, cinta memang tak harus
memiliki. Tapi setidaknya, cinta harus diungkapkan. Entah apa pun itu
jawabannya, jangan sampai kau menyesal karena belum sempat mengatakannya. Apa
pun jenis kelaminmu, itu tak menjadi halangan. Karena mencintai adalah hak
semua insan, tanpa mengenal gender. Aku bahagia, meski aku harus pergi
meninggalkan cintaku. Karena setidaknya, aku sudah memberi tahunya, bahwa aku
mencintainya.”
ZZZZZ
