Serba-Serbi Kehidupan Sastra

Terima kasih telah mengunjungi blog ini

Kamis, 11 September 2014

Ghost in My Love


Genderang perang telah disemarakkan. Semua berubah seketika. Aku tak berniat merubahnya, tapi keadaan lah yang menyihir dengan sihir alam. Sekali lagi aku tak percaya. Ini keajaiban yang tak sesuai dengan nuraniku.
“Selamat ya, udah ketrima di universitas. Ciye ciye... Makan-makannya ditunggu ya,” ujar setiap orang yang lalu lalang dengan berbinar. Aku hanya tersenyum, tapi tidak dengan hatiku. Aku mengisi angket dengan iseng dan tak ku sangka aku akan tembus.
Sekali lagi ku lihat namaku yang tercetak di papan pengumuman. Ingesti Anggraeni. Ku telusuri nama-nama yang lain, mencoba mencari nama yang sekiranya akrab di telingaku. Eza Prabuanang. Eza Prabuanang? Astaga?!
“Kenapa gue tembus sih?!” ujar suara di belakangku dengan kesal. Ternyata bukan hanya aku yang tak menerima keputusan ini. Beruntungnya diriku ada teman yang senasib denganku.
Ku balikkan tubuhku dan ku dapati sosok yang amat ku kenal.
“Eza?!”
ZZZZZ
“Wez...udah siap jadi anak seni, Nges?” goda Eza dengan jahilnya. Aku yang mendengar hanya tersenyum sinis.
“Apaan sih lo. Lo tau kan, gue ngga pernah punya bakat di bidang seni. Cita-cita gue itu pengen jadi insinyur, bukan seniwati,” jawabku sebal. Eza pun melotot kemudian tertawa. Saat itulah aku dapat melihat bahwa tak banyak perubahan yang terjadi pada Eza. Semua sama seperti tiga tahun yang lalu.
“Hahaha... Kalo lo ngga suka, kenapa daftar?”
“Gue cuma menguji keberuntungan. Dan ternyata gue adalah orang yang beruntung. Lo juga kenapa daftar kalo pada akhirnya lo ngga suka diterima?”
“Eih, darimana lo tau itu?”
“Gue punya kuping, Eza. Gue denger tadi lo mendengus kesal.”
“Bokap maksa gue. Daripada gue berdebat terus-terusan, akhirnya gue nurut aja.”
“Emang lo sebenernya pengen lanjut kemana?”
“Kemana aja. Asal jurusan arsitektur, gue rela dikirim ke Papua.”
Aku merasakan desir kembali di hati. Setelah tiga tahun ku berusaha menepis rasa itu, akhirnya pada hari ini aku merasakan kembali. Rasa yang telah lama gersang. Yah, rasa cinta dan sayang. Aku tau, aku tak pernah memiliki Eza. Aku hanya menyukainya secara diam-diam. Namun lubuk hati terdalam sangat nyaman berada di sisinya.
“So, mau ngambil keberuntungan, atau mau menguji keberuntungan lagi?” tanya Eza seraya menyeruput jus jeruknya.
“Eh, oh, sepertinya aku mau ambil aja deh. Daripada buang-buang duit, mending yang udah pasti aja.”
“Oke, besok kita tes toefl bareng ya. Gue tunggu lo di gasebo. Awas lo kalo telat!”
“Siap bos!”
ZZZZZ
“Sial! Kenapa gue bisa telat bangun sih?!” runtukku saat berlari ke depan rumah.
Sepuluh menit lagi tes akan dilaksanakan. Namun bus tak kunjung singgah. Lagi-lagi aku mengutuk diri ini yang tak bisa mengendarai motor, meski ada satu motor nganggur di garasi.
“Kenapa ngga gue coba?”
Aku berlari menuju garasi dan kulajukan motor denngan kencang. Ternyata aku jago juga. Ini pertama kalinya aku mengendarai motor dan langsung sangat ahli seperti ini.
ZZZZZ
Ku berlari menuju gasebo. Ternyata sepi. Tak ada siapapun. Ah, seharusnya aku berpikir kalau Eza akan masuk ruangan duluan karena tes sudah berlangsung. Aku segera berlari ke ruangan ujianku dan langsung duduk di kursiku. Selembar kertas sudah tergeletak di depanku. Segera ku isi sebisaku.
Bell tanda selesai pun berdering. Aku melangkah gontai karena hanya separuh yang dapat ku kerjakan.
“Hai! Lo telat ya tadi? Kenapa?” sapa Eza tiba-tiba. Ia menarik lenganku dengan seenaknya.
“Ih! Aku tadi telat bangun. Dan lo tau, gue tadi kesini naik motor! Padahal gue belum pernah nyoba sebelumnya. Tapi gue sama sekali ngga inget gimana perjalanannya. Yang gue inget, gue udah di gasebo.”
“Ngimpi kali lo!”
Aku juga merasa bahwa ini mimpi. Semua orang yang berada di sekitar kami menatap aneh pada Eza. Sepertinya Eza juga merasa demikian. Tapi ia mencoba cuek.
Tiba-tiba ponsel Eza berdering. Kami menghentikan langkah kami dan Eza mengangkat panggilan itu.
“Hallo? Iya, Fan, gue lagi sama Ingesti. Iya, iya, Fani. Ntar lo langsung ke TKP aja. Iya, oke, thanks ya. Bye!”
“Siapa, Za?”
“Oh, ini Fani. Inget kan? Temen SMP kita.”
“Oh... Teman sekaligus mantan lo?”
“Hehehe... Tapi sumpah, gue udah move on kok dari dia.”
“Terus? Apa hubungannya sama gue?” meski aku menjawab demikian, tapi sebenarnya hatiku sakit. Atau...lebih tepatnya cemburu.
Eza mengangkat bahu dan melangkah kembali.
Ternyata Eza menuju motornya. Ngomong-ngomong, aku markirin motorku di mana ya?
“Ayo naik!” ajak Eza dengan ringan.
“Tapi motor gue?”
“Udah, tinggal dulu aja. Ntar gue anter ke sini lagi. Kita jalan-jalan dulu aja!”
Aku pun naik di motor Eza. Rasa itu semakin menguat. Bagaimana jika cinta ini hadir lagi dan semakin membuatku tak bisa berpaling?
ZZZZZ
Eza membawaku ke tempat yang sangat indah. Taman mawar. Penjaga taman lagi-lagi menatap aneh pada Eza. Kenapa? Ada yang aneh dengannya?
Eza membayar dua karcis dan kami pun masuk. Eza telah menyiapkan satu meja khusus untukku. Dengan berbagai makanan di atasnya dan pemandangan mawar yang luar biasa cantik. Ia bahkan mempesilahkan aku duduk.
“Ingesti, sebenernya...gue.....”
“Bentar-bentar. Toilet di mana ya, Za? Gue kebelet. Hehehe,”
“Lo lurus aja, ntar ada jalan belok, lo belok. Di situ toiletnya.”
Aku pun buru-buru ke toilet. Aku belum siap jika seandainya Eza menyatakan perasaannya padaku. Apa dia serius? Atau aku hanya dijadikan pelarian? Apa yang harus aku jawab?
Ku melintasi cermin, namun tak kutemukan bayanganku pada cermin itu. Apa arti ini semua? Kenapa banyak kejadian janggal hari ini?”
Aku kembali mengingat dari awal. Kejadian-kejadian aneh yang menimpaku. Mulai dari aku tak mengingat perjalanan, tak mengingat di mana aku memarkir motor, tiba-tiba ada di gasebo, tatapan-tatapan aneh yang ditujukan pada Eza, dan sekarang? Cermin pun tak mau memantulkan bayanganku?
“Apa jangan-jangan....gue...gue udah mati?”
Aku terisak. Takut bahwa pikiranku ini benar. Penjaga taman yang lewat pun tak memperdulikanku. Seakan-akan aku memang tak ada. Aku takut, hatiku sakit, dan aku terus menangis.
Ku lihat sosok cantik Fani dengan wajahnya yang memerah seperti habis menangis menghampiri Eza. Walau samar, aku dapat mendengar pembicaraan mereka.
“Fani, lo kenapa?”
“Ingesti, Za. Ingesti...”
“Lo ini ngomong apa? Dari tadi Ingesti sama gue. Sekarang dia emang lagi ke toilet. Dan gue grogi banget mau ngungkapin perasaan gue.”
“Eza sadar! Ignesti kecelakaan dan udah meninggal!”
“Maksud lo?! Fan, lo denger ya, Ingesti masih hidup! Lo jangan ngaco!”
“Lo yang harusnya sadar! Gue liat dengan mata kepala gue sendiri, Eza! Gue liat jenazah Ingesti langi dibawa ke rumahnya! Bahkan sekarang motor dan bekas darahnya sedang diselidiki polisi! Kalo lo ngga percaya, lo ikut ke Jalan Kartini!”
Aku masih tak percaya kalau aku sudah meninggal. Aku menangis sejadi-jadinya. Eza dan Fani berjalan ke arahku. Mungkin Fani tak akan bisa melihatku. Tapi Eza? Untuk sementara aku sembunyi di dalam tempat sampah.
“Ingesti?! Lo di mana? Lo masih hidup kan?” teriak Eza yang banjir air mata.
“Eza sadar! Mungkin tadi Ingesti cuma mau pamitan sama lo!”
Tubuh Eza lemas. Dengan dibantu Fani, ia melangkah menuju mobil Fani. Aku pun berjalan mengendap-endap mengikuti mereka dan ikut masuk ke dalam mobil Fani.
ZZZZZ
Benar saja. Di Jalan Kartini, aku dapat melihat motorku dan banyak darah yang mulai mengering. Kini aku percaya, aku hanyalah roh halus, hantu! Bukan manusia lagi!
Fani melajukan mobilnya kembali menuju pemakaman. Eza yang tak kuat dengan kenyataan itu pun pingsan di tempat. Aku hanya dapat menangis melihat tubuh berbalut kain mori dimasukkan ke dalam tanah.
“Selamat tinggal, Kasih. Selamat tinggal. Aku sayang kalian semua,” ujarku mencoba tegar. Air mata tak lagi mengalir. Aku menatap langit dengan senyum tipis.
Tuhan...jika memang aku telah Kau takdirkan untuk menghadapmu, aku ikhlas. Aku rela. Tapi tolong beri aku kesempatan untuk pamit pada Eza. Baru sebentar aku merasakan kebahagiaan dengannya. Izinkan aku mengucap salam perpisahan untuknya.
ZZZZZ
“Ingesti? Kamu benar-benar masih hidup kan?”
Aku hanya tersenyum di hadapan Eza dan berharap dapat tegar. Dengan bijaksana, aku berpamitan, “Eza, aku sayang kamu. Aku cinta kamu. Tapi biarkan cinta ini abadi. Abadi bersama rohku yang telah berada di alam yang berbeda. Maaf, aku tak dapat menemanimu lagi. Aku hanyalah roh, hanya hantu.”
“Tapi aku ngga peduli. Aku bahagia menjalin kasih denganmu, walau kau bukan manusia. Aku mohon, tetaplah di sisiku.”
“Kamu mau aku bahagia kan? Ikhlaskan aku pergi, Eza.”
Eza diam tanpa kata. Aku menutup mataku sejenak. Tak kuasa aku memandang wajah Eza yang penuh luka.
“Apakah kamu akan benar-benar bahagia jika aku ikhlaskan dirimu pergi?”
“Ya.”
Eza memelukku. Tuhan telah memberiku hadiah terindah, karena Ia memberiku kesempatan dapat menyentuh Eza. Aku membalas pelukan terakhir ini.
“Pergilah, Ingesti,” bisik Eza halus.
Perlahan, tubuhku semakin memudar, dan pada akhirnya aku dapat marasakan tubuhku terbang ke angkasa, meninggalkan cintaku di bumi.
Terkadang, cinta memang tak harus memiliki. Tapi setidaknya, cinta harus diungkapkan. Entah apa pun itu jawabannya, jangan sampai kau menyesal karena belum sempat mengatakannya. Apa pun jenis kelaminmu, itu tak menjadi halangan. Karena mencintai adalah hak semua insan, tanpa mengenal gender. Aku bahagia, meski aku harus pergi meninggalkan cintaku. Karena setidaknya, aku sudah memberi tahunya, bahwa aku mencintainya.”

ZZZZZ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar