Goresan
Hitam
Aku
adalah gadis usia 10 tahun. Goresan hitam tiga tahun lalu telah menyulap
pribadiku yang dulunya dimanjakan oleh materi, kini menjadi sosok pendiam dan
rapuh. Yah, goresan hitam itu telah membawaku ke dunia yang berbeda.
Malam
itu, air mata langit mengguyur ibu kota. Aku dan seorang wanita dengan calon
bayi yang masih bersembunyi di dalam rahimnya, tertidur di dalam kamar. Wanita
itu merupakan ibuku. Ayahku yang bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahaan
membuat kehidupan kami serba berkecukupan, sehingga membentuk pribadi manja
seperti diriku ini.
Dering
telpon mengganggu tidur kami. Perlahan, ibu beranjak menuju ruang tengah untuk
mengangkat telpon. Saat itu aku di antara alam sadar dan tak sadar, sehingga
samar-samar dapat kudengar suara ibu yang sepertinya berbicara dengan Ayah di
telpon. Samar-samar pula aku dapat menangkap ucapan ibu bahwa Ayah tak dapat
pulang karena harus keluar kota.
Sayangnya,
telpon itu merupakan kabar terakhir yang beliau berikan. Aku dan Ibu juga tak
tahu dimana keberadaan Ayah. Tak pernah Ayah pergi selama ini tanpa kabar
berlanjut. Ayah menghilang begitu saja seakan ditelan bumi. Hingga saat Ibu
melahirkan pun Ayah tak hadir untuk menemani. Susah payah Ibu berusaha
sendirian. Waktu itu Ibu sempat kritis, sehingga harus mendapat bantuan dari
sebuah alat pemacu jantung. Walau demikian, Aku bersyukur karena Tuhan masih
memberi kesempatan Ibu dan Adik baruku untuk hidup.
Masih
teringat pula dalam benakku ketika sahabat kecilku berkata,”Keyla, ada kabar
buruk! Kemarin aku liat ada orang yang mirip banget sama Ayahmu di koran, mati
karena dibunuh!”. Seketika itu pula hatiku bagai disobek menjadi serpihan dan
tercecer dimana-mana. Air mata mendesak untuk keluar dari peraduannya. Kaki
kecil milikku pun tak sanggup menunda untuk berlari menembus angin panas siang
itu.
Ketika
kusampaikan berita itu, Ibu terlihat menahan luka dengan menampakkan wajah
tegarnya. “Devi kelas berapa coba? Masih kelas satu SD bukan? Mana mungkin dia
cepat memahami isi koran yang bahasanya tinggi?! Devi pasti bohong! Ibu yakin
Ayah pasti masih hidup! Udah, jangan dipikir!” begitulah tanggapan yang
diberikan Ibu.
Hilangnya
Ayah juga pernah membuat Ibu tergoyah imannya. Pernah saat itu Ibu pulang
membawa sesajen yang diletakkan di kamar belakang. Aku yang masih kecil tak
begitu memahami apa maksud disimpannya sesajen itu. Namun, setelah sholat
maghrib, entah apa yang terjadi Ibu segera bangkit dan membuang semua sesajen
itu. Ada rasa lega dalam hati ketika Ibu membuangnya. Alhamdulillah, dengan
cepat Allah membimbing Ibu ke jalan yang lurus kembali.
Tahun
pun berganti tahun..., hingga sekarang aku belum tahu dimana keberadaan Ayah.
Tiba-tiba,
sesosok lelaki tinggi besar beruban dan berjanggut putih yang merupakan kakekku
mencium keningku. Akupun tersadar dari lamunanku. Dari kakek, aku mendapat
kasih sayang seorang Ayah yang sudah lama hilang. Tapi walau bagaimanapun, aku
tetap merindukan Ayah.
Sore ini
rencananya kami akan menetap di kampung halaman Ibu. Setidaknya itu yang Ibu
katakan. Aku, Ibu, Adikku, dan seorang lelaki botak dengan beberapa helai
janggut di rahang bawahnya yang tak kukenal duduk berhadapan dalam sebuah
kereta api.
Tiba-tiba
lelaki itu bertanya “kalau seandainya kamu ketemu Ayah, gimana perasaanmu,
Key?”
Dengan
datar aku menjawab “Kalau emang bisa, tentu perasaaanku senang. Tapi, apa
mungkin ketemu Ayah di kampung halaman Ibu?”
Dengan
nada sedikit meledek, beliau berkata “Siapa bilang kita mau ke kampung halaman
Ibumu? Kita akan mengunjungi Ayahmu!”
Akupun
semakin bingung. Hatiku kembali bertanya-tanya. Aku berusaha mencari jawabannya
dengan memandang Ibu. Namun ternyata Ibu hanya menunduk.
Perjalanan
yang memakan waktu 17 jam seakan-akan 1 abad. Setelah turun dari kereta, lelaki
itu memimpin jalan, dan menghentikan taxi. Ia duduk di depan, sedangkan Aku,
Ibu, dan Adik duduk di belakang. Adikku sedari tadi tidur di gendongan Ibu.
Sedangkan Aku hanya bisa bersandar di pundak Ibu.
Entah
berapa menit kemudian, kami sampai di depan sebuah gubug yang sangat berbanding
terbalik dengan rumah kami di Jakarta. Perlahan kami berjalan mendekat.
Terlihat sosok pria dengan garis wajah yang sangat ku kenal. Pria itu berambut
ikal panjang, berkaos biru polos dengan sepuntung rokok di tangan. Melihat
kehadiran kami, ia langsung membuang rokoknya.
“Ini
Keyla?”, tanyanya antusias yang hanya ku jawab dengan anggukan. Suaranya yang
khas mengingatkanku pada Ayah. Didekapnya tubuh kecilku. “Ini Ayah, Nak. Keyla
masih ingat Ayah?”, tanyanya lagi, dan lagi-lagi hanya ku jawab dengan
anggukan. Pelan, aku melepaskan diri dari pelukan Ayah.
“Aku
kebelet pipis.”, kataku sambil agak meringis, mencoba mengalihkan suasana agar
air mataku tak mengalir di hadapan lelaki ini yang ternyata Ayah.
Semua
yang mendengar ucapanku tertawa lepas. Tak terkecuali Ibu. Ayah pun
mempersilahkan kami masuk, dan aku diantar ke kamar mandi sederhana berpintukan
kain goni tak beratap, dan tak berlampu pula! Dengan sedikit takut, aku masuk
ke dalamnya. Di kamar madi, aku menangis sejadi-jadinya. Menangis dalam diam.
Bukan karena keadaan kami yang kini miskin. Bukan pula karena aku merindukan
kemewahan yang kumiliki dahulu. Akan tetapi, menangis karena melihat keadaan
Ayah yang berantakan tak terurus. Menangis karena bahagia, dapat berkumpul
kembali dengan Ayah, mendapatkan kembali kasih sayang Ayah. Dan dengan keadaan
yang sekarang ini, Aku menjadi sadar bahwa hidup tidak selalu diwarnai oleh
kekayaan, sehingga kita bisa seenaknya bermanja kepada orang tua. Tetapi
terkadang, hidup dihiasi oleh kekuragan, yang akan menjadikan pribadi kita
menjadi pribadi yang kuat, tegar, dan mampu bersaing di dunia kelak. Namun
rahasia, tetap menjadi rahasia. Dan biarlah itu tersimpan dalam diri Ayah maupun
Ibu, hingga saatnya aku pantas untuk tahu. J
### SELESAI ###

Tidak ada komentar:
Posting Komentar