Serba-Serbi Kehidupan Sastra

Terima kasih telah mengunjungi blog ini

Rabu, 11 September 2013

Cerpenku

Goresan Hitam


Aku adalah gadis usia 10 tahun. Goresan hitam tiga tahun lalu telah menyulap pribadiku yang dulunya dimanjakan oleh materi, kini menjadi sosok pendiam dan rapuh. Yah, goresan hitam itu telah membawaku ke dunia yang berbeda.
Malam itu, air mata langit mengguyur ibu kota. Aku dan seorang wanita dengan calon bayi yang masih bersembunyi di dalam rahimnya, tertidur di dalam kamar. Wanita itu merupakan ibuku. Ayahku yang bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahaan membuat kehidupan kami serba berkecukupan, sehingga membentuk pribadi manja seperti diriku ini.
Dering telpon mengganggu tidur kami. Perlahan, ibu beranjak menuju ruang tengah untuk mengangkat telpon. Saat itu aku di antara alam sadar dan tak sadar, sehingga samar-samar dapat kudengar suara ibu yang sepertinya berbicara dengan Ayah di telpon. Samar-samar pula aku dapat menangkap ucapan ibu bahwa Ayah tak dapat pulang karena harus keluar kota.
Sayangnya, telpon itu merupakan kabar terakhir yang beliau berikan. Aku dan Ibu juga tak tahu dimana keberadaan Ayah. Tak pernah Ayah pergi selama ini tanpa kabar berlanjut. Ayah menghilang begitu saja seakan ditelan bumi. Hingga saat Ibu melahirkan pun Ayah tak hadir untuk menemani. Susah payah Ibu berusaha sendirian. Waktu itu Ibu sempat kritis, sehingga harus mendapat bantuan dari sebuah alat pemacu jantung. Walau demikian, Aku bersyukur karena Tuhan masih memberi kesempatan Ibu dan Adik baruku untuk hidup.
Masih teringat pula dalam benakku ketika sahabat kecilku berkata,”Keyla, ada kabar buruk! Kemarin aku liat ada orang yang mirip banget sama Ayahmu di koran, mati karena dibunuh!”. Seketika itu pula hatiku bagai disobek menjadi serpihan dan tercecer dimana-mana. Air mata mendesak untuk keluar dari peraduannya. Kaki kecil milikku pun tak sanggup menunda untuk berlari menembus angin panas siang itu.
Ketika kusampaikan berita itu, Ibu terlihat menahan luka dengan menampakkan wajah tegarnya. “Devi kelas berapa coba? Masih kelas satu SD bukan? Mana mungkin dia cepat memahami isi koran yang bahasanya tinggi?! Devi pasti bohong! Ibu yakin Ayah pasti masih hidup! Udah, jangan dipikir!” begitulah tanggapan yang diberikan Ibu.
Hilangnya Ayah juga pernah membuat Ibu tergoyah imannya. Pernah saat itu Ibu pulang membawa sesajen yang diletakkan di kamar belakang. Aku yang masih kecil tak begitu memahami apa maksud disimpannya sesajen itu. Namun, setelah sholat maghrib, entah apa yang terjadi Ibu segera bangkit dan membuang semua sesajen itu. Ada rasa lega dalam hati ketika Ibu membuangnya. Alhamdulillah, dengan cepat Allah membimbing Ibu ke jalan yang lurus kembali.
Tahun pun berganti tahun..., hingga sekarang aku belum tahu dimana keberadaan Ayah.
Tiba-tiba, sesosok lelaki tinggi besar beruban dan berjanggut putih yang merupakan kakekku mencium keningku. Akupun tersadar dari lamunanku. Dari kakek, aku mendapat kasih sayang seorang Ayah yang sudah lama hilang. Tapi walau bagaimanapun, aku tetap merindukan Ayah.
Sore ini rencananya kami akan menetap di kampung halaman Ibu. Setidaknya itu yang Ibu katakan. Aku, Ibu, Adikku, dan seorang lelaki botak dengan beberapa helai janggut di rahang bawahnya yang tak kukenal duduk berhadapan dalam sebuah kereta api.
Tiba-tiba lelaki itu bertanya “kalau seandainya kamu ketemu Ayah, gimana perasaanmu, Key?”
Dengan datar aku menjawab “Kalau emang bisa, tentu perasaaanku senang. Tapi, apa mungkin ketemu Ayah di kampung halaman Ibu?”
Dengan nada sedikit meledek, beliau berkata “Siapa bilang kita mau ke kampung halaman Ibumu? Kita akan mengunjungi Ayahmu!”
Akupun semakin bingung. Hatiku kembali bertanya-tanya. Aku berusaha mencari jawabannya dengan memandang Ibu. Namun ternyata Ibu hanya menunduk.
Perjalanan yang memakan waktu 17 jam seakan-akan 1 abad. Setelah turun dari kereta, lelaki itu memimpin jalan, dan menghentikan taxi. Ia duduk di depan, sedangkan Aku, Ibu, dan Adik duduk di belakang. Adikku sedari tadi tidur di gendongan Ibu. Sedangkan Aku hanya bisa bersandar di pundak Ibu.
Entah berapa menit kemudian, kami sampai di depan sebuah gubug yang sangat berbanding terbalik dengan rumah kami di Jakarta. Perlahan kami berjalan mendekat. Terlihat sosok pria dengan garis wajah yang sangat ku kenal. Pria itu berambut ikal panjang, berkaos biru polos dengan sepuntung rokok di tangan. Melihat kehadiran kami, ia langsung membuang rokoknya.
“Ini Keyla?”, tanyanya antusias yang hanya ku jawab dengan anggukan. Suaranya yang khas mengingatkanku pada Ayah. Didekapnya tubuh kecilku. “Ini Ayah, Nak. Keyla masih ingat Ayah?”, tanyanya lagi, dan lagi-lagi hanya ku jawab dengan anggukan. Pelan, aku melepaskan diri dari pelukan Ayah.
“Aku kebelet pipis.”, kataku sambil agak meringis, mencoba mengalihkan suasana agar air mataku tak mengalir di hadapan lelaki ini yang ternyata Ayah.
Semua yang mendengar ucapanku tertawa lepas. Tak terkecuali Ibu. Ayah pun mempersilahkan kami masuk, dan aku diantar ke kamar mandi sederhana berpintukan kain goni tak beratap, dan tak berlampu pula! Dengan sedikit takut, aku masuk ke dalamnya. Di kamar madi, aku menangis sejadi-jadinya. Menangis dalam diam. Bukan karena keadaan kami yang kini miskin. Bukan pula karena aku merindukan kemewahan yang kumiliki dahulu. Akan tetapi, menangis karena melihat keadaan Ayah yang berantakan tak terurus. Menangis karena bahagia, dapat berkumpul kembali dengan Ayah, mendapatkan kembali kasih sayang Ayah. Dan dengan keadaan yang sekarang ini, Aku menjadi sadar bahwa hidup tidak selalu diwarnai oleh kekayaan, sehingga kita bisa seenaknya bermanja kepada orang tua. Tetapi terkadang, hidup dihiasi oleh kekuragan, yang akan menjadikan pribadi kita menjadi pribadi yang kuat, tegar, dan mampu bersaing di dunia kelak. Namun rahasia, tetap menjadi rahasia. Dan biarlah itu tersimpan dalam diri Ayah maupun Ibu, hingga saatnya aku pantas untuk tahu. J



### SELESAI ###

Tidak ada komentar:

Posting Komentar