Sakura On My
Mind
Sebuah
kisah terukir dalam lembaran surat biru dalam kalbu. Lirih, angin menerpa
wajahku yang mulai lupa bagaimana caranya untuk tersenyum, bagaimana cara
menikmati dunia yang hanya sementara. Aku pun duduk di bangku panjang di depan kelas,
mengenang masa-masa indah yang sekejap mulai menghilang dan menjauh dari
nyataku.
Banyak
orang yang berpendapat bahwa masa-masa SMA merupakan masa terindah dalam hidup.
Lain halnya denganku. Hatiku sangat berat ketika meninggalkan dunia SMPku dan
beranjak ke dunia yang serba dewasa.
Masa-masa
MOS kian menjemput. Peluit tanda perang mulai disemarakkan. Kakak kelas yang
membimbing mulai menampakkan wajah sangarnya, menyiutkan hati yang tengah gusar
ini. Apalagi pagi ini aku datang terlambat, dan dipisahkan dari barisan kelas.
semakin gusarlah hati ini.
Rasa
syukur kupanjatkan karena aku mendapati seseorang yang sekelas denganku juga
dipisahkan dari barisan karena tidak memakai kaos kaki setengah lutut. Ia pun
akhirnya berdiri di sisiku. Ada perasaan hangat ketika ia melangkah mendekat ke
arahku.
Salah
seorang kakak kelas wanita mendekatiku, kemudian mengambil kartu nama yang terpasang
di saku pakaianku. Dengan tersenyum sinis, ia menyoret kata “Metha” di kartu
namaku. Kemudian ia berjalan menuju teman sekelasku tadi yang berdiri di
sisiku. Ia juga menyoret nama siswa pria itu. Sekilas aku melirik ke arahnya.
Wajahnya sangat khas dengan rambut ikal yang lucu. Tubuhnya cukup tinggi, dan
kulitnya pun putih. Kulirik kartu nama yang telah dianiaya oleh kakak kelas tak
berperasaan tadi. Dari situ, aku tau namanya. Dan...sungguh nama itu sangat
cocok untuknya.
Tanpa
kusadari ternyata sedari tadi kakak kelas memarahi siswa-siswa yang melanggar
peraturan, termasuk aku. Seorang kakak kelas yang begitu marah karena ucapannya
tak kuperhatikanpun mulai naik darah.
“Hei!
Kamu ini keterlaluan sekali! Ada kakak kelas yang berbicara malah ngga
diperhatikan!” hardik kakak kelas dengan garangnya. Aku yang masih belum sadar
dari alam takjubkupun justru tersenyum-senyum memperhatikan ketampanan siswa
pria tadi.
“Metha!
Ada apa dengan Izura?! Kenapa kamu liatin dia terus?! Mitha!” teriak kakak
kelas tadi dengan nada tinggi dan membahana.
Merasa
namanya disebut-sebut, lelaki yang bernama Izura itupun menoleh, dan
mendapatiku tengah memperhatikannya. Pandangannya yang tajam itulah yang justru
membangunkanku dari lamunan.
Rasa
gugup dan malu menjalar ke otakku. kakak kelas tadi tiba-tiba saja menangis.
Dengan terisak, ia mulai memasang wajah memelas, “Kalian tau ngga, dhe? Dua
bulan kakak nyiapin acara MOS ini! Dua bulan kakak-kakak disini ngga libur! Dua
bulan dhe, dua bulan! Tapi apa hasilnya?! Apa yang kami dapet?! Banyak diantara
kalian yang masih melanggar peraturan! Bahkan salah satu dari kalian dengan
terang-terangan tidak memperhatikan kami ketika berbicara! Kakak kecewa, dhe!
Kecewa!”
Akupun
tersindir oleh ucapan kakak kelas itu. Ditambah lagi kakak kelas yang lain
mulai turun tangan membentak-bentak angkatan kami. Rasa bersalah mulai
menyerangku.
Tak
kusangka sebuah tangan yang memegang permen bermerk “sakura” terulur ke arahku. Ternyata tangan itu milik Izura. Aku pun
melihat ke arahnya.
“Ambillah!”
bisiknya lirih sembari merundukkan tubuhnya agar lebih dekat dengan telingaku
Aku
pun meraih permen itu perlahan. Izura terseyum tipis, dan ia menambahkan, “buat
ngusir rasa bersalahmu. Udah ngga usah dipikirin! Kakakku sekolah disini.
Katanya, kakak-kakak kelas kita yang mbimbing kita waktu MOS itu cuma acting.
Mereka ngga bener-bener marah ke kita.”
“Makasih..”
jawabku lirih. Kemudian kami tertawa lirih tak bersuara.
“Sejak
pertama kali melihatmu, aku telah merasakan hal yang berbeda. Seakan hidup ini
lebih bermakna, dan masa-masa SMA adalah hal yang tak terlupa,” curahanku
setelah anganku mengembara pada masa-masa awal ku menginjakkan kaki di SMA.
Kuambil
sesuatu berharga dari balik kantong saku pakaianku. Sebuah permen lengkap
dengan bungkusnya dengan motif kotak-kotak jingga berpadu dengan putih
bertuliskan “Sakura”. Permen itu
adalah permen pemberian Izura yang mampu mengusir rasa bersalahku pada musim
itu. Bayangan akan masa-masa indah kembali menyeruak.
“Mau
somay?” tanya Izura sewaktu kami belajar kelompok bersama. Tidak hanya berdua
tentunya. Kami belajar ramai-ramai berempat. Aku, Izura, Iska, dan Almira.
Dalam proyek PKn yang akan kami bahas,
kami saling berpasangan. Aku dengan Iska, Izura dengan Almira. Iska adalah
siswa laki-laki yang asyik dan manis. Dalam proyek pkn ini, aku dan Iska
berencana akan membuat boneka mini berpakaian adat padang.
“Mau
beli bahan kapan ya, Is?” Tanyaku pada Izura yang duduk di hadapanku. Ia tampak
tak serius menanggapi ucapanku.
“Terserah.
Yang penting jangan sekarang,” jawab Iska yang asyik bermain ponsel di kedua
tangannya.
“Sekarang
aja si! Biar proyeknya cepet selese,” tanggapku. Seketika itu pula ia mendelik
ke arahku.
“Ei?!
Aku lagi ngga pegang uang meth! Besok aja si!” jawabnya sewot ke arahku.
“Iya,
aku tau kamu lagi ngga pegang uang. kamu kan lagi pegang DUA hp di tangan kanan
dan kiri. Mentang-mentang pacarmu banyak,” sindirku yang sepertinya mengena di
hati.
“eee...
Cemburu apa gimana nih? Hayoo... ketauan...,” ledek Iska.
Akupun
sewot sendiri sambil mencibir. Ku keluarkan hp nokiaku dari saku, dan betapa
terkejutnya aku ternyata ada pesan dari Izura. Aneh, Izura kan ada disini.
Kenapa dia ngga bilang langsung aja?
Kubuka
pesan tersebut yang berbunyi “oh,
mentang-mentang udah ada Iska jadi aku ngga diperduliin. Jadi Iska lebih
nyenengin daripada aku! Ok, pacaran aja sama Iska sana!”
Akupun
terkejut membacanya apa maksud Izura sms begini? Kulirik sekilas ke arah Izura.
Ternyata dia dan Almira sibuk sendiri. Almira sibuk menyalin PR matematika
Izura, dan Izura sendiri malah sedang melukis sebuah hati yang patah.
“Zura!
Kamu mau beli bahan-bahan kapan? Bareng aja yuk sama aku dan Metha!” teriak
Iska pada Izura. Namun Izura malah tak menjawab pertanyaan Iska.
“Izura!”
panggil Iska lagi dengan lebih kencang. Lagi-lagi Izura tak menjawab. Akupun
mulai khawatir pada Izura.
“Izura......”
panggil Iska sekali lagi yang kali ini dibuat-buat seperti suara wanita. Almira
pun tertawa, dan membantu memanggil Izura yang ada di sampingnya, “Izura, itu
dipanggil pacarmu, si Iska!”
Namun
di luar dugaan, Izura justru bangkit, kemudian pergi menuju motornya. Dengan
cepat, Izura melesat meninggalkan taman kota dan memberikan tanda tanya besar
bagi setiap orang, termasuk aku.
“Kamu
memang aneh, Zur! Kamu marah melihatku lebih dekat dengan pria lain. Padahal,
diantara kita belum terjalin hubungan yang serius!” ujarku di alam yang
sebenarnya. Alam yang bukan di khayalan beberapa tahun yang lalu. Ku mainkan
permen di genggamanku. Oh, Izura! You are the sakura on my mind!
Angan
kembali bermain ke masa-masa dimana Izura mengungkapkan perasaannya padaku.
Walau tidak secara langsung, namun hatiku merasa bagai diguncang angin kencang.
Rasa tak percaya bercampur bahagia beraduk menjadi satu. Orang pertama yang
kubagi cerita adalah Iska. Aku merasa sangat tenang setelah menceritakannya.
Suatu
siang, aku terpana akan keberanian Izura. Di depan teman sekelas, Izura
memberiku dua buah boneka laki-laki dan perempuan, yaitu boneka Ipin dan
Mei-mei. Boneka Mei-mei yang ia berikan sungguh mirip denganku. Dengan rambut
panjang yang dikepang. Rasa senang kembali menyelimuti hati yang tengah gundah
karena nilai matematika yang sama sekali tak memuaskan.
“Cie....
Bonekanya buat aku satu dong...!!” ledek Iska padaku, yang langsung kubalas
dengan mencubit tangannya yang kekar.
Namun
Izura segera melerai kami, dan mengajakku pulang bersama, “Eh, udah-udah!
Pulang bareng yuk!”
Baru
aku akan menjawab, temanku yang bernama Tika langsung menyerobot, “Yuk pulang
Meth! Kamu kan udah janji mau pulang bareng sama aku hari ini!”
Ada
rasa kecewa di hati. Rasa bimbang menyeruak. Namun akhirnya aku memutuskan
untuk memenuhi janjiku pada Tika, dan mengundur kebersamaanku dengan Izura.
Baru
sebentar aku merasakan getaran cinta yang menusuk dadaku, musibah datang pada
hubungan kami. Tanpa alasan dan tanpa penjelasan, Izura memutuskan hubungan
kami, dan memilih untuk kembali dengan mantannya. Betapa sakit yang kurasakan.
Namun apa yang dapat kulakukan? Tak ada! Aku hanya harus merelakannya pergi
meninggalkanku.
Seminggu
penuh, aku terus meratapi keputusannya yang tiba-tiba. Hingga hari minggu pun
tiba. Aku mengajak Izura bertemu di Taman Kota. Rencananya aku hendak
mengembalikan boneka yang telah ia beri untukku.
“Ada
apa?” tanya Izura dingin tanpa ekspresi.
“Aku....aku.....aku
cuma mau ngembaliin boneka ini!” kataku terbata-bata sembari mengulurkan boneka
yang telah kuganti pakaiannya dengan pakaian jahitanku sendiri.
“Sebelumnya
aku minta maaf, aku udah ngganti pakaian boneka ini dengan pakaian pengantin
jahitanku sendiri. Soalnya...waktu itu aku...berharap hubungan kita akan
semakin dekat. Tapi ternyata....ah sudahlah! Aku ngga pantas ngomong kaya gini
ke kamu. Kamu sekarang udah punya cewe. Em...jaga cewemu baik-baik ya! Jangan
sakiti hatinya! Kamu boleh kok ngasih boneka ini buat dia. Bilang aja kamu yang
njait pakaiannya. Aku yakin, dia pasti tersanjung,” paparku panjang lebar.
Entah mengapa aku merasa ada yang aneh di wajah Izura setelah aku berbicara
demikian. Entah karena dia merasa bersalah, atau memang itu hanya perasaanku
saja.
“Boneka
itu.....kamu simpan aja. Anggap aja itu kenang-kenangan dariku. Udah kan? Ngga
ada yang mau dibicarain lagi? Kalo gitu aku mau pergi dulu,” hanya itu jawaban
yang kudapat.
Kupandangi
punggung pria yang semakin lama semakin mengecil, semakin termakan oleh jarak.
Dalam genggamanku masih tersimpan dua boneka berpakaian pengantin putih.
Seandainya saja yang memakai pakaian itu aku dan Izura, bukan boneka yang hanya
menyisakan kenangan.
Esok
harinya, setelah pelajaran ekonomi selesai, hasrat ingin membuang airku
tiba-tiba muncul. Dengan segera, akupun menuju WC yang berada dibelakang
lapangan. Setelah aku membuang hasil eskresi ginjalku, akupun berniat hendak
kembali ke kelas.
Langkahku
tertahan ketika ku melihat sosok pria yang sangat kukenal berkeringat sambil
memegangi perutya. Wajahnya menampakkan penderitaan. Sepertinya dia menahan
rasa sakit yang sangat hebat. Perlahan ia mulai lemah, dan jongok.
“Izura!”
pekikku lirih. Ada apa sebenarnya dengan Izura? Apa dia sakit? Rasa khawatir
kian menyerang benakku. Hati kecilku beradu dengan egoku. Bagaimanapun jua rasa
cintaku pada Izura masih sangat besar.
Sepertinya
Izura mulai membaik. Kini ia dapat bangkit, dan berjalan menuju arahku. Akupun
segera masuk ke WC kembali untuk bersembunyi. Ketika aku keluar dari
persembunyianku, aku melihat ke arah tempat dimana Izura sepertinya merasakan
rasa sakit. Pandanganku menemukan sebotol obat yang sangat asing bagiku. Merasa
penasaran, akupun memungutnya.
Sore
harinya, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi apotek dekat sekolah. Aku
penasaran akan obat yang ditinggalkan oleh Izura.
“Ini
adalah obat keras berdosis tinggi. Biasanya yang mengonsumsi obat ini adalah
para penderita kanker yang sudah cukup parah,” jelas penanggung jawab Apotek.
Deg!
Seketika itu pula ragaku serasa dihempas ke bumi dari ketinggian 1000 kaki.
Izura mengidap kanker? Mengapa ia menutupi semua itu dariku? Apa ini adalah
salah satu alasan mengapa Izura memutuskan hubungan kami?
Kebetulan
hari itu para Pecinta Alam sedang latihan di Sekolah, dan kebetulan juga Izura
tergabung dalam komunitas Pecinta Alam. Akupun segera berlari menuju sekolah
untuk menemui Izura.
“Kenapa
kamu menyembunyikan penyakitmu dariku?” tanyaku pada Izura. Aku tak berani
untuk menatapnya secara langsung. Rasanya mataku panas, dan buliran air mata
mendesak ingin keluar.
“Maksud
kamu apa?” tanya Izura yang sepertinya belum mengerti.
“Aku
udah tau semuanya! Tentang penyakit kamu, tentang kondisi kamu, semuanya aku
tau! Kenapa kamu ngga mau berbagi rasa sakitmu denganku? Kenapa?” jawabku
dengan penuh emosi. Air mataku bergulir silih berganti.
“Karena
aku... aku sayang kamu! Aku ngga mau kamu sedih seperti sekarang. Cukup aku
saja yang merasakan sakit. Kamu ngga perlu ikut menanggung rasa sakit ini,”
papar Izura.
Tiba-tiba
Izura memekik keras sembari memegangi perutnya. Rasa khawatir kembali
menghampiri. Izura menolak dibawa ke Rumah Sakit. Dia bilang, dia hanya
membutuhkan obatnya. Kuangsurkan obat yang tadi kutemukan.
Setelah
meminum obat itu, ternyata Izura semakin merasakan sakit. Pada saat itu pula
Iska berada di dekat kami. Dan pada ahirnya Iska membantuku membawa Izura ke
Rumah Sakit.
“Mungkin
Tuhan telah menyusun rencana yang indah untukku dan Izura. Semoga kamu tenang
di alam sana ya, Izura! I always love you!” ujarku pada diri sendiri. Kini alam
pikirku telah kembali. Aku mulai berjalan menuju pemakaman di sebuah desa dekat
sekolah. Di pemakaman itulah Izura kini tengah beristirahat dengan tenang.
Dengan
memakul tas punggung coklat berisi boneka pemberian Izura, aku duduk di sisi
tempat peristirahatan kekal. Sebuah papan bertuliskan “Izura Alwan Denada”
tertancap di tanah di hadapanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar