Serba-Serbi Kehidupan Sastra

Terima kasih telah mengunjungi blog ini

Rabu, 11 September 2013

Sakura On My Mind


Sebuah kisah terukir dalam lembaran surat biru dalam kalbu. Lirih, angin menerpa wajahku yang mulai lupa bagaimana caranya untuk tersenyum, bagaimana cara menikmati dunia yang hanya sementara. Aku pun duduk di bangku panjang di depan kelas, mengenang masa-masa indah yang sekejap mulai menghilang dan menjauh dari nyataku.
Banyak orang yang berpendapat bahwa masa-masa SMA merupakan masa terindah dalam hidup. Lain halnya denganku. Hatiku sangat berat ketika meninggalkan dunia SMPku dan beranjak ke dunia yang serba dewasa.
Masa-masa MOS kian menjemput. Peluit tanda perang mulai disemarakkan. Kakak kelas yang membimbing mulai menampakkan wajah sangarnya, menyiutkan hati yang tengah gusar ini. Apalagi pagi ini aku datang terlambat, dan dipisahkan dari barisan kelas. semakin gusarlah hati ini.
Rasa syukur kupanjatkan karena aku mendapati seseorang yang sekelas denganku juga dipisahkan dari barisan karena tidak memakai kaos kaki setengah lutut. Ia pun akhirnya berdiri di sisiku. Ada perasaan hangat ketika ia melangkah mendekat ke arahku.
Salah seorang kakak kelas wanita mendekatiku, kemudian mengambil kartu nama yang terpasang di saku pakaianku. Dengan tersenyum sinis, ia menyoret kata “Metha” di kartu namaku. Kemudian ia berjalan menuju teman sekelasku tadi yang berdiri di sisiku. Ia juga menyoret nama siswa pria itu. Sekilas aku melirik ke arahnya. Wajahnya sangat khas dengan rambut ikal yang lucu. Tubuhnya cukup tinggi, dan kulitnya pun putih. Kulirik kartu nama yang telah dianiaya oleh kakak kelas tak berperasaan tadi. Dari situ, aku tau namanya. Dan...sungguh nama itu sangat cocok untuknya.
Tanpa kusadari ternyata sedari tadi kakak kelas memarahi siswa-siswa yang melanggar peraturan, termasuk aku. Seorang kakak kelas yang begitu marah karena ucapannya tak kuperhatikanpun mulai naik darah.
“Hei! Kamu ini keterlaluan sekali! Ada kakak kelas yang berbicara malah ngga diperhatikan!” hardik kakak kelas dengan garangnya. Aku yang masih belum sadar dari alam takjubkupun justru tersenyum-senyum memperhatikan ketampanan siswa pria tadi.
“Metha! Ada apa dengan Izura?! Kenapa kamu liatin dia terus?! Mitha!” teriak kakak kelas tadi dengan nada tinggi dan membahana.
Merasa namanya disebut-sebut, lelaki yang bernama Izura itupun menoleh, dan mendapatiku tengah memperhatikannya. Pandangannya yang tajam itulah yang justru membangunkanku dari lamunan.
Rasa gugup dan malu menjalar ke otakku. kakak kelas tadi tiba-tiba saja menangis. Dengan terisak, ia mulai memasang wajah memelas, “Kalian tau ngga, dhe? Dua bulan kakak nyiapin acara MOS ini! Dua bulan kakak-kakak disini ngga libur! Dua bulan dhe, dua bulan! Tapi apa hasilnya?! Apa yang kami dapet?! Banyak diantara kalian yang masih melanggar peraturan! Bahkan salah satu dari kalian dengan terang-terangan tidak memperhatikan kami ketika berbicara! Kakak kecewa, dhe! Kecewa!”
Akupun tersindir oleh ucapan kakak kelas itu. Ditambah lagi kakak kelas yang lain mulai turun tangan membentak-bentak angkatan kami. Rasa bersalah mulai menyerangku.
Tak kusangka sebuah tangan yang memegang permen bermerk “sakura” terulur ke arahku. Ternyata tangan itu milik Izura. Aku pun melihat ke arahnya.
“Ambillah!” bisiknya lirih sembari merundukkan tubuhnya agar lebih dekat dengan telingaku
Aku pun meraih permen itu perlahan. Izura terseyum tipis, dan ia menambahkan, “buat ngusir rasa bersalahmu. Udah ngga usah dipikirin! Kakakku sekolah disini. Katanya, kakak-kakak kelas kita yang mbimbing kita waktu MOS itu cuma acting. Mereka ngga bener-bener marah ke kita.”
“Makasih..” jawabku lirih. Kemudian kami tertawa lirih tak bersuara.
“Sejak pertama kali melihatmu, aku telah merasakan hal yang berbeda. Seakan hidup ini lebih bermakna, dan masa-masa SMA adalah hal yang tak terlupa,” curahanku setelah anganku mengembara pada masa-masa awal ku menginjakkan kaki di SMA.
Kuambil sesuatu berharga dari balik kantong saku pakaianku. Sebuah permen lengkap dengan bungkusnya dengan motif kotak-kotak jingga berpadu dengan putih bertuliskan “Sakura”. Permen itu adalah permen pemberian Izura yang mampu mengusir rasa bersalahku pada musim itu. Bayangan akan masa-masa indah kembali menyeruak.
“Mau somay?” tanya Izura sewaktu kami belajar kelompok bersama. Tidak hanya berdua tentunya. Kami belajar ramai-ramai berempat. Aku, Izura, Iska, dan Almira. Dalam proyek  PKn yang akan kami bahas, kami saling berpasangan. Aku dengan Iska, Izura dengan Almira. Iska adalah siswa laki-laki yang asyik dan manis. Dalam proyek pkn ini, aku dan Iska berencana akan membuat boneka mini berpakaian adat padang.
“Mau beli bahan kapan ya, Is?” Tanyaku pada Izura yang duduk di hadapanku. Ia tampak tak serius menanggapi ucapanku.
“Terserah. Yang penting jangan sekarang,” jawab Iska yang asyik bermain ponsel di kedua tangannya.
“Sekarang aja si! Biar proyeknya cepet selese,” tanggapku. Seketika itu pula ia mendelik ke arahku.
“Ei?! Aku lagi ngga pegang uang meth! Besok aja si!” jawabnya sewot ke arahku.
“Iya, aku tau kamu lagi ngga pegang uang. kamu kan lagi pegang DUA hp di tangan kanan dan kiri. Mentang-mentang pacarmu banyak,” sindirku yang sepertinya mengena di hati.
“eee... Cemburu apa gimana nih? Hayoo... ketauan...,” ledek Iska.
Akupun sewot sendiri sambil mencibir. Ku keluarkan hp nokiaku dari saku, dan betapa terkejutnya aku ternyata ada pesan dari Izura. Aneh, Izura kan ada disini. Kenapa dia ngga bilang langsung aja?
Kubuka pesan tersebut yang berbunyi “oh, mentang-mentang udah ada Iska jadi aku ngga diperduliin. Jadi Iska lebih nyenengin daripada aku! Ok, pacaran aja sama Iska sana!”
Akupun terkejut membacanya apa maksud Izura sms begini? Kulirik sekilas ke arah Izura. Ternyata dia dan Almira sibuk sendiri. Almira sibuk menyalin PR matematika Izura, dan Izura sendiri malah sedang melukis sebuah hati yang patah.
“Zura! Kamu mau beli bahan-bahan kapan? Bareng aja yuk sama aku dan Metha!” teriak Iska pada Izura. Namun Izura malah tak menjawab pertanyaan Iska.
“Izura!” panggil Iska lagi dengan lebih kencang. Lagi-lagi Izura tak menjawab. Akupun mulai khawatir pada Izura.
“Izura......” panggil Iska sekali lagi yang kali ini dibuat-buat seperti suara wanita. Almira pun tertawa, dan membantu memanggil Izura yang ada di sampingnya, “Izura, itu dipanggil pacarmu, si Iska!”
Namun di luar dugaan, Izura justru bangkit, kemudian pergi menuju motornya. Dengan cepat, Izura melesat meninggalkan taman kota dan memberikan tanda tanya besar bagi setiap orang, termasuk aku.
“Kamu memang aneh, Zur! Kamu marah melihatku lebih dekat dengan pria lain. Padahal, diantara kita belum terjalin hubungan yang serius!” ujarku di alam yang sebenarnya. Alam yang bukan di khayalan beberapa tahun yang lalu. Ku mainkan permen di genggamanku. Oh, Izura! You are the sakura on my mind!
Angan kembali bermain ke masa-masa dimana Izura mengungkapkan perasaannya padaku. Walau tidak secara langsung, namun hatiku merasa bagai diguncang angin kencang. Rasa tak percaya bercampur bahagia beraduk menjadi satu. Orang pertama yang kubagi cerita adalah Iska. Aku merasa sangat tenang setelah menceritakannya.
Suatu siang, aku terpana akan keberanian Izura. Di depan teman sekelas, Izura memberiku dua buah boneka laki-laki dan perempuan, yaitu boneka Ipin dan Mei-mei. Boneka Mei-mei yang ia berikan sungguh mirip denganku. Dengan rambut panjang yang dikepang. Rasa senang kembali menyelimuti hati yang tengah gundah karena nilai matematika yang sama sekali tak memuaskan.
“Cie.... Bonekanya buat aku satu dong...!!” ledek Iska padaku, yang langsung kubalas dengan mencubit tangannya yang kekar.
Namun Izura segera melerai kami, dan mengajakku pulang bersama, “Eh, udah-udah! Pulang bareng yuk!”
Baru aku akan menjawab, temanku yang bernama Tika langsung menyerobot, “Yuk pulang Meth! Kamu kan udah janji mau pulang bareng sama aku hari ini!”
Ada rasa kecewa di hati. Rasa bimbang menyeruak. Namun akhirnya aku memutuskan untuk memenuhi janjiku pada Tika, dan mengundur kebersamaanku dengan Izura.
Baru sebentar aku merasakan getaran cinta yang menusuk dadaku, musibah datang pada hubungan kami. Tanpa alasan dan tanpa penjelasan, Izura memutuskan hubungan kami, dan memilih untuk kembali dengan mantannya. Betapa sakit yang kurasakan. Namun apa yang dapat kulakukan? Tak ada! Aku hanya harus merelakannya pergi meninggalkanku.
Seminggu penuh, aku terus meratapi keputusannya yang tiba-tiba. Hingga hari minggu pun tiba. Aku mengajak Izura bertemu di Taman Kota. Rencananya aku hendak mengembalikan boneka yang telah ia beri untukku.
“Ada apa?” tanya Izura dingin tanpa ekspresi.
“Aku....aku.....aku cuma mau ngembaliin boneka ini!” kataku terbata-bata sembari mengulurkan boneka yang telah kuganti pakaiannya dengan pakaian jahitanku sendiri.
“Sebelumnya aku minta maaf, aku udah ngganti pakaian boneka ini dengan pakaian pengantin jahitanku sendiri. Soalnya...waktu itu aku...berharap hubungan kita akan semakin dekat. Tapi ternyata....ah sudahlah! Aku ngga pantas ngomong kaya gini ke kamu. Kamu sekarang udah punya cewe. Em...jaga cewemu baik-baik ya! Jangan sakiti hatinya! Kamu boleh kok ngasih boneka ini buat dia. Bilang aja kamu yang njait pakaiannya. Aku yakin, dia pasti tersanjung,” paparku panjang lebar. Entah mengapa aku merasa ada yang aneh di wajah Izura setelah aku berbicara demikian. Entah karena dia merasa bersalah, atau memang itu hanya perasaanku saja.
“Boneka itu.....kamu simpan aja. Anggap aja itu kenang-kenangan dariku. Udah kan? Ngga ada yang mau dibicarain lagi? Kalo gitu aku mau pergi dulu,” hanya itu jawaban yang kudapat.
Kupandangi punggung pria yang semakin lama semakin mengecil, semakin termakan oleh jarak. Dalam genggamanku masih tersimpan dua boneka berpakaian pengantin putih. Seandainya saja yang memakai pakaian itu aku dan Izura, bukan boneka yang hanya menyisakan kenangan.
Esok harinya, setelah pelajaran ekonomi selesai, hasrat ingin membuang airku tiba-tiba muncul. Dengan segera, akupun menuju WC yang berada dibelakang lapangan. Setelah aku membuang hasil eskresi ginjalku, akupun berniat hendak kembali ke kelas.
Langkahku tertahan ketika ku melihat sosok pria yang sangat kukenal berkeringat sambil memegangi perutya. Wajahnya menampakkan penderitaan. Sepertinya dia menahan rasa sakit yang sangat hebat. Perlahan ia mulai lemah, dan jongok.
“Izura!” pekikku lirih. Ada apa sebenarnya dengan Izura? Apa dia sakit? Rasa khawatir kian menyerang benakku. Hati kecilku beradu dengan egoku. Bagaimanapun jua rasa cintaku pada Izura masih sangat besar.
Sepertinya Izura mulai membaik. Kini ia dapat bangkit, dan berjalan menuju arahku. Akupun segera masuk ke WC kembali untuk bersembunyi. Ketika aku keluar dari persembunyianku, aku melihat ke arah tempat dimana Izura sepertinya merasakan rasa sakit. Pandanganku menemukan sebotol obat yang sangat asing bagiku. Merasa penasaran, akupun memungutnya.
Sore harinya, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi apotek dekat sekolah. Aku penasaran akan obat yang ditinggalkan oleh Izura.
“Ini adalah obat keras berdosis tinggi. Biasanya yang mengonsumsi obat ini adalah para penderita kanker yang sudah cukup parah,” jelas penanggung jawab Apotek.
Deg! Seketika itu pula ragaku serasa dihempas ke bumi dari ketinggian 1000 kaki. Izura mengidap kanker? Mengapa ia menutupi semua itu dariku? Apa ini adalah salah satu alasan mengapa Izura memutuskan hubungan kami?
Kebetulan hari itu para Pecinta Alam sedang latihan di Sekolah, dan kebetulan juga Izura tergabung dalam komunitas Pecinta Alam. Akupun segera berlari menuju sekolah untuk menemui Izura.
“Kenapa kamu menyembunyikan penyakitmu dariku?” tanyaku pada Izura. Aku tak berani untuk menatapnya secara langsung. Rasanya mataku panas, dan buliran air mata mendesak ingin keluar.
“Maksud kamu apa?” tanya Izura yang sepertinya belum mengerti.
“Aku udah tau semuanya! Tentang penyakit kamu, tentang kondisi kamu, semuanya aku tau! Kenapa kamu ngga mau berbagi rasa sakitmu denganku? Kenapa?” jawabku dengan penuh emosi. Air mataku bergulir silih berganti.
“Karena aku... aku sayang kamu! Aku ngga mau kamu sedih seperti sekarang. Cukup aku saja yang merasakan sakit. Kamu ngga perlu ikut menanggung rasa sakit ini,” papar Izura.
Tiba-tiba Izura memekik keras sembari memegangi perutnya. Rasa khawatir kembali menghampiri. Izura menolak dibawa ke Rumah Sakit. Dia bilang, dia hanya membutuhkan obatnya. Kuangsurkan obat yang tadi kutemukan.
Setelah meminum obat itu, ternyata Izura semakin merasakan sakit. Pada saat itu pula Iska berada di dekat kami. Dan pada ahirnya Iska membantuku membawa Izura ke Rumah Sakit.
“Mungkin Tuhan telah menyusun rencana yang indah untukku dan Izura. Semoga kamu tenang di alam sana ya, Izura! I always love you!” ujarku pada diri sendiri. Kini alam pikirku telah kembali. Aku mulai berjalan menuju pemakaman di sebuah desa dekat sekolah. Di pemakaman itulah Izura kini tengah beristirahat dengan tenang.
Dengan memakul tas punggung coklat berisi boneka pemberian Izura, aku duduk di sisi tempat peristirahatan kekal. Sebuah papan bertuliskan “Izura Alwan Denada” tertancap di tanah di hadapanku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar