Love Journey Kinan
Sendiri, dan selalu sendiri.
Itulah yang kian dirasakan oleh gadis berkebangsaan Indonesia yang bernama
Kinan. Tujuh belas tahun sudah ia bertahan dengan penyakit AIDS yang selalu
menyertainya. Penyakit AIDS yang ia dapatkan dari sang ibu yang telah meninggal
dua tahun silam.
Di pagi hari yang cerah, Kinan
melangkahkan kaki menuju sekolah disertai semangat hidup yang tinggi. Dengan seragam
putih berpadu warna ungu di bagian roknya, ia tampak sangat cantik, meski sinar
mentari kian memucatkan wajahnya. Rambut panjangnya tampak berkilau indah.
Langkahnya terhenti ketika matanya
menangkap sekelompok genk dari sekolahnya mencemooh dirinya. Ketua genk
tersebut pun unjuk bicara, “Heh! Masih PD aja loe ke sekolah! Tau diri dong!
Loe cuma sampah disini!” yang kemudian disertai dengan tawa anggota genk yang
berjumlah sembilan orang.
Kinan tak menanggapi cemoohan
itu. Ia sudah terbiasa dihina, dan kini ia bertekad akan menerima hinaan itu
dengan hati yang lapang. Kinan kembali berjalan, melewati genk tersebut dengan
santai. Rambut panjangnya berkibar dan menyapu wajah ketua genk.
“Kok tumben dia ngga marah?”
“Iya!” “padahal biasanya kan dia langsung sakit hati” begitulah bisikan-bisikan
anggota genk, yang tak ditanggapi oleh sang ketua. Ia justru memandangi
punggung Kinan yang kian menjauh.
Akhirnya Kinan sampai di depan
gedung sekolah. Ia menatap cukup lama ke gedung yang megah tersebut, lalu ia
tersenyum dan berteriak, “Ohayou!!” yang artinya selamat pagi. Kontan seluruh
siswa yang berada disitu heran akan sikap aneh Kinan pagi ini.
Kinan kembali melangkah. Setiap
anak yang ia lewati ia sapa dengan kata ohayou. Hingga ia sampai di kelas. ia
menampakkan wajah ceria kepada setiap siswa. Walau ada rasa kecewa karena tak
seorang pun yang membalas sapaannya. Bahkan tersenyum pun tidak.
Kinan duduk di baris pertama.
Baru kali ini Kinan bersyukur karena dapat sekolah di SMA yang suasananya
sangat mirip di jepang. Dari pakaian, arsitektur bangunan, bahkan makanan yang
dijual di kantin pun makanan jepang.
Ia melihat ada seorang siswi yang
menyendiri di pojok kelas sembari mempercantik diri. Awalnya Kinan hendak
mendekatinya, namun suara pengumuman yang menyebut namanya menghentikannya.
Kinan pun bergegas menuju ruang kepala sekolah.
“Selamat pagi, Bu!” ucap Kinan
sembari memasuki ruang kepala sekolah.
“Silahkan duduk!” perintah kepala
sekolah dengan halus. Kinan pun duduk di hadapan Bu Akiko yang merupakan kepala
sekolah.
“Selamat, Kinan! Lukisan yang
kamu kirimkan ke Jepang seminggu yang lalu mendapat respon positif dari
pemerintahan Jepang!” tutur Bu Akiko penuh semangat.
“Maksud Ibu......saya menang?!”
tanya Kinan yang juga bersemangat.
“Tidak! Hanya respon positif.
Kita kalah bersaing dengan SMA dari Singapura,” jawab Ibu Akiko dengan nada
datar, sehingga membuat semangat Kinan kembali luntur.
“Meskipun kamu tidak menang,
namun pemerintah Jepang sangat antusias dengan karya kamu! Meskipun kamu tidak
mendapatkan hadiah utama, tapi kamu mendapat kesempatan untuk sekolah melukis
di Jepang GRATIS!” lanjut Bu Akiko dengan semangat yang kian membara.
Perasaan bahagia menyelimuti
Kinan. Ya....walaupun hadiah utama tak dapat dimiliki, namun kesempatan datang
ke Jepang dan bersekolah disana pun tak buruk! Bahkan itu jauh lebih berharga
daripada beberapa lembar uang.
Esoknya, Kinan mulai mempacking
keperluan yang akan ia bawa ke Jepang. Pakaian, seragam baru, alat tulis, kamus
Indonesia-Jepang, kamera, foto sang ibu, suplemen AIDS, sandal, sepatu, jenang,
rempeyek, molen, dan makanan khas Indonesia lainnya ia bawa. Ia ingin
memperkenalkan makanan yang Indonesia miliki kepada Jepang, sekaligus
menjualnya. Kinan bertekad untuk menjalankan usaha berjualan makanan khas
Indonesia di negara Jepang.
Singkat cerita, Kinan tlah
mendarat di Jepang, tepatnya di Tokyo. Suatu tempat yang ia akan kunjungi
pertama kali yaitu Ueno Park yang berada di Taito, Tokyo.
Ueno Park terlihat begitu indah.
Apalagi sekarang adalah musim semi. Berbagai bunga sakura bermekaran indah.
Kinan merasakan hangatnya Jepang sembari berfoto ria. Pohon sakura, para
pengunjung dari berbagai daerah, para siswa dan siswi Jepang berseragam unik
dan lucu, seorang pria yang tengah melingkarkan rangkaian bunga sakura di
kepala kekasihnya, patung Saigo Takamuri dan anjing setia (Hachiko), masyarakat
Jepang yang tengah melakukan hanami (makan bersama di bawah pohon sakura), dan
tak sengaja Kinan memotret seorang siswa Jepang berseragam putih berdasi
kotak-kotak berpadu dengan celana panjang kotak-kotak.
“Soutou na!” puji Kinan yang
artinya tampan pada foto siswa yang
tak sengaja ia ambil. Berkulit putih, berambut agak pirang, bertubuh atletis,
dan tinggi adalah gambaran dari siswa yang dipotret Kinan tersebut.
Tiba-tiba Kinan teringat sesuatu.
Jam tangannya telah menunjukkan pukul 13.00. Kinan lupa minum suplemennya!
Kinan pun duduk di tempat duduk kosong, lalu ia minum suplemennya. Hampir saja
ia berhasil menelan pil suplemen itu kalau saja seorang pria seusia Kinan tidak
memegang bahunya sembari berkata permisi dalam bahasa inggris.
Kinan pun memuntahkan pil
suplemennya kembali. Dan jatuhlah pil itu ke tanah. Seorang petugas kebersihan
melihat Kinan yang sedang memuntahkan pil suplemen itu. Karena Jepang sangat
menjaga kebersihan, maka petugas itu memasang wajah garang hendak memarahi
Kinan. Dan karena Kinan ketakutan, maka Kinan mencoba kabur dengan cara berlari
menjauhi petugas itu. Tak lupa tasnya ia tutup dan ia gendong di bahu.
Setelah dirasa aman, Kinan pun
berhenti. Dengan segera, Kinan mengambil suplemennya. Namun tertahan lagi oleh
suatu suara, “Miss, can you help me to find a twin dormitory?” dan mendengar
suara itu, lagi-lagi Kinan memuntahkan suplemennya.
“Oh, I’m sorry! I don’t.....”
“Mas, maaf, kenapa mas ngikutin
saya terus?” tanya Kinan dengan bahasa Indonesia. Entah bagaimana caranya orang
ini bisa berada di sampingnya lagi setelah ia berlari jauh.
“Mba dari Indonesia? Wah
kebetulan sekali saya ketemu orang Indonesia! Duh, mba! Jangan marah-marah!
Tadi kan mba yang narik tangan saya! Oh iya, saya juga dari Indonesia lho!
Kenalin saya.....”
“Duh, bentar-bentar! Saya udah
telat minum obat ini! Bentar!” putus Kinan yang langsung ia gunakan kesempatan
ini untuk meminum suplemennya.
“Enak, mba?” tanya turism yang
ternyata dari Indonesia itu dengan hati-hati.
“Enak, enak banget malah! Dan
lebih enak lagi kalo aku ngga ketemu kamu!” jawab Kinan sembari meninggalkan
pria itu sendirian.
Kinan pun naik kereta bawah tanah
menuju asramanya yang bernama sakura yoritsuki. Tiba-tiba ia teringat pada
penyakitnya. Kapankah penyakit AIDSnya akan merenggut nyawanya? Akankah ia
diterima di lingkungan Jepang ini?
Setelah pihak asrama mengetahui
penyakit Kinan, Kinan diberi kamar khusus yang hanya dihuni oleh satu orang. Rasanya
memang seperti diasingkan. Namun Kinan mencoba berpikir positif. Di kamar
khusus ini, ia akan lebih leluasa. Ya...walau kamarnya hanya berisi tempat
tidur dan almari, tapi Kinan tetap semangat, dan tak sabar menunggu hari esok
untuk pergi ke sekolah barunya.
Hari berlalu begitu cepat. Di
sekolah melukis, Kinan tak mendapat perlakuan yang spesial. Setelah Kinan
memperkenalkan diri dalam bahasa Jepang, semua anak menyambut kedatangan Kinan
dengan mengucapkan, “itte rassahai!” yang artinya selamat datang. Namun ada
seorang siswa laki-laki yang tampak angkuh. Ia tak mengucapkan selamat datang
pada Kinan. Bahkan ia melempari Kinan dengan kertas yang telah dibentuk bulat.
Merasa diremehkan, kouchou pun marah. Kouchou atau jika di Indonesia kepala sekolah pun mempersilahkan Kinan
duduk di samping siswa tadi, dan kouchou menyuruh siswa tadi minta maaf. Dengan
lantang dan dengan perasaan sebal pun siswa tadi minta maaf.
“Moshimoshi!” sapa Kinan pada
siswa di sampingnya. Dan....oh, ternyata siswa tersebut merupakan siswa yang
pernah dipotret Kinan secara tidak sengaja!
“Bakageta!” desah Kinan yang artinya konyol.
Dan sialnya desahan itu di dengar oleh teman sebangkunya.
“Apa?! Konyol?!” tanya teman
sebangkunya dengan nada tak suka. Tentunya dalam bahasa Jepang.
“Boku no ikiru ni atarashii iro
wo agete kurete,” jawab Kinan asal. Ia baru menyadari kata-katanya itu setelah teman sebangkunya
itu mendelik ke arahnya. Bagaimana tidak, Kinan belum mengenal siswa itu, malah
ia berucap yang artinya berikan warna
baru di hidupku.
“gomen nasai!” ucap Kinan dengan
cepat dan gugup, yang artinya maaf.
Siswa itu pun kembali ke
kesibukannya. Ia melukis kaligrafiひろまる. Dengan polos, Kinan membaca kaligrafi tersebut dengan
ejaan “Hi-ro-ma-ru”. Kinan masih melihat kaligrafi siswa yang ternyata bernama
Hiromaru itu. ♥ ≧◡≦ ♥ けいけい. Kinan kembali mengeja tulisan itu, “tanda
love..keikei.
Kinan pun menutup mulutnya
erat-erat. Ternyata siswa angkuh di sampingnya ini bisa juga jatuh cinta! Namun
ia segera melupakan kaligrafi itu karena gurunya telah datang dan mulai
mengajar melukis.
Guru itu memberi tugas untuk
melukis partner tempat duduk masing-masing. Hiromaru nampak keberatan. Walau
bagaimanapun ia menolak, pak guru tetap tak mengindahkannya. Sedangkan Kinan
pun tersenyum puas.
Esok sore, Kinan dan Hiromaru
bertemu di Osaka Mint Bureau untuk menyelesaikan tugas melukis. Dengan dress
pendek berwarna coklat muda dan topi coklat muda yang lebar, Kinan tampak
begitu cantik.
Mereka pun melakukan suit sebagai
penentuan orang pertama yang akan dilukis. Dan hasilnya yang akan dilukis
duluan adalah Kinan. Hiromaru pun memilih para penjual jajanan tradiosal sebagai
background lukisannya.
“Hiromaru! Serius dong! Masa aku
secantik ini dilukis dengan background penjual jajanan?!” keluh Kinan yang
tentunya dalam bahasa Jepang.
“Hei,Darimana kamu tau namaku?”
tanya Hiromaru penuh selidik. Ia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Kinan.
Dengan sigap, Kinan melangkahkan kaki beberapa langkah ke belakang.
“Dari kaligrafi yang kamu buat
kemarin. Hiromaru cinta Keikei! Hahaha!” ledek Kinan yang tak dihiraukan oleh
Hiromaru. Ia malah mendorong tubuh Kinan untuk berdiri di depan penjual semacam
sate babi, dan memandu tangan Kinan untuk berpose. Kemudian Hiromaru mulai
melukis Kinan dari posisi yang lain.
“Hiromaru..” teriak Kinan yang
langsung dipotong oleh lawan bicaranya itu.
“Panggil aku Hiro!”
“Mmm.. Siapa Keikei? Apa dia
sekelas sama kita?” tanya Kinan penasaran.
“Keikei itu nenekku! Dia adalah
orang yang paling aku cintai.”
“Oh....aku kira dia pacar kamu.”
Jawab Kinan semangat setelah tau kalau Keikei itu nama neneknya Hiro.
“Udah diam! Nanti lukisanku jelek
gara-gara bibirmu gerak terus!” dan Kinan pun manyun dan langsung diam.
Detik berganti detik, bunga-bunga
cinta di hati Kinan dan Hiro pun semakin mengembang. Manisnya cinta terasa di
lidah masing-masing. Bagai tengah mengemut jenang asli Indonesia. Namun
sesegera mungkin Kinan mengusir rasa cintanya karena ia ingat akan penyakit AIDS
nya yang dapat merenggut nyawanya kapanpun dan dimanapun.
Perlahan-lahan, Kinan merasakan
tubuhnya semakin melemas. Ia juga merasakan bibirnya mengering. Hampir saja ia
ambruk, kalau tak ditahan oleh tangan kekar Hiro.
“Hei, kamu kenapa?” tanya Hiro
cemas. Baru kali ini Kinan mendengar nada lembut Hiro. Kinan pun berusaha
bangun, dan ia mengambil suplemennya yang kemudian ia telan sekuat tenaga.
“A....kamu khawatir ya sama aku?”
ledek Kinan dengan nada bercanda. Hiro yang merasa gugup tiba-tiba melepas
tangannya dari Kinan. Kemudian ia kembali ke tepat duduknya, dan mulai
melanjutkan melukis.
Walau berusaha bercanda, namun
sebenarnya Kinan merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. *Kinan...kamu
harus kuat. Kamu baru menemukan bagaimana indahnya hidup. Lawan penyakitmu!
Lawan! Arrggg!!!!* begitulah erang
hati Kinan. Namun Kinan tetap berusaha tersenyum.
“Huft.. Udah selese nih
lukisanku!” ujar Hiro bangga. Kinan pun lega dan berlari ke arah Hiro. Dan
betapa terkejutnya Kinan karena dirinya hanya dilukis setengah badan! Bukan
setengah badan bagian atas, tapi setengah badan bagian kiri! Saat Kinan hendak
memarahi Hiro, Hiro justru menampakkan senyum termanis yang pernah Kinan
jumpai. Sehingga ia tak tega untuk marah.
Kini giliran Kinan yang akan
melukis Hiro. Ia pun menyuruh Hiro berpose di dekat orang-orang jepang yang
sedang melakukan hanami. Di segmen ini, Hiro diposisikan sebagai seorang pemuda
yang membawa sepiring sushi yang ia pinjam dari keluarga jepang yang di
sampingnya.
Ketika Kinan hendak melukis,
tangannya bergetar. Ia bahkan tak dapat memegang kuas dengan benar.
Berkali-kali kuas yang selama ini menjadi teman hidupnya kini justru
seakan-akan menjauh darinya. Tubuh Kinan pun ambruk ke tanah. Hiro yang menduga
Kinan hanya bercanda, kini membiarkan. Namun, setelah beberapa orang mengitari
Kinan yang tak berdaya, barulah Hiro panik. Hiro pun membawa Kinan ke Rumah
Sakit terdekat.
Betapa terkejutnya Hiro
mengetahui status kesehatan Kinan yang sangat menurun. Apalagi dokter
mengatakan bahwa Kinan positif terkena AIDS. Hiro yang baru kali ini merasakan
cinta pertamanya merasa terpukul akan kabar yang mengejutkannya.
Hiro masuk ke ruangan Kinan
serasa tak menggunakan kaki. Wajah Kinan yang sangat pucat membuatnya seperti
telah mati. Ditambah lagi lingkaran hitam yang menyelubungi mata Kinan kian
menggelap. Tubuh Kinan terbujur kaku di atas ranjang dengan selang infus
menancap di pergelangan tangannya.
Hiro yang terkenal lelaki angkuh
kini mulai menangis. Ia menangis di sisi Kinan, dan membiarkan air matanya
menjatuhi tangan Kinan, dan membuat Kinan terbangun. Buru-buru Hiro menghapus
air matanya.
“Kau... Ini dimana?” tanya Kinan
lemas.
“Kau ini merepotkan saja! Kenapa
kau tiba-tiba pingsan di saat aku akan dilukis?! Katanya kau sangat ahli
melukis,” canda Hiro dengan memainkan mimik wajahnya.
“Kau ini bagaimana?! Aku sedang
sakit seperti ini, tapi kau malah memarahiku! Dasar hati batu!” balas Kinan
dengan mimik marah pula.
Hiro pun mendelik mendengar
olokan Kinan. Namun Hiro segera memeluk tubuh lemah Kinan sembari berkata,” Anata ni fureru koto ga
naze konna ni kurushii no desuka?” yang artinya menyentuhmu, mengapa menyakitkan begini?
Kinan yang tak mengerti apa yang
dimaksud Hiro pun hanya bisa diam. Ia memilih untuk merasakan hangatnya kasih
sayang yang Hiro berikan untuknya.
Namun tiba-tiba saja bayangan akan
penyakit AIDSnya kembali hadir. Dengan sigap, Kinan mendorong tubuh Hiro, takut
kalau-kalau Hiro tertular penyakitnya.
“Jauhi aku!” pinta Kinan sembari
mengeluarkan air mata kepedihan.
“Kenapa? Karena kamu terkena AIDS?
Kinan, aku mencintaimu apa adanya! Aku akan menjagamu dengan seluruh
kemampuanku!” kata Hiro mantap.
“Darimana kamu yakin kalau kamu
mencintaiku? Kamu baru mengenalku kemarin dan kamu sudah bilang cinta
kepadaku?! Kamu terlalu terburu-buru Hiro!” kecam Kinan yang terus mengalirkan
air mata. Kinan pun mengubah posisi tidurnya membelakangi Hiro.
“Untuk mencintai, tidak memerlukan
waktu. Ketika hati kita mulai berbicara, mata kita mulai menangis demi orang
lain, dan kulit kita merasakan luka yang dirasakan orang lain, maka kala itu
jua kita tlah menemukan orang yang kita sayang,” papar Hiro meyakinkan Kinan.
“Cukup Hiro! Cukup!” teriak Kinan,
dan hal itu mengejutkan Hiro.
“Aku juga cinta kamu! Aku sayang
kamu! Tapi umurku ngga akan panjang lagi! Apalagi barusan penyakitku kambuh.
Mungkin beberapa jam lagi, aku akan...”
“Aku ngga peduli! Bahkan walau jika
kebersamaan kita hanya tinggal satu detik lagi. Aku hanya ingin menjadi bagian
terindah dalam hidupmu! Aku akan memberi warna baru sesuai yang kamu minta
kemarin!”
Tiba-tiba Kinan merasakan umurnya
telah di ujung kematian.
“Hiro, tolong antarkan aku ke asrama
sakura. Aku ingin di akhir hidupku ini, aku dapat memperkenalkan makanan khas
Indonesia kepada masyarakat Jepang,” ujar Kinan penuh harap. Hiropun
menyanggupi. Mereka pun meninggalkan rumah sakit menuju asrama Kinan.
Di asrama, Kinan segera membuka
lemari tempat ia menyimpan jenang dan kawan-kawan. Senyum Kinan pun mengembang.
Semangatnya kembali muncul. Namun ternyata peluit kematian telah ditiupkan
untuk Kinan. Dengan wajah semakin memucat, Kinan menahan sakit. Ia pun
meyampaikan pesan terakhirnya untuk Hiro, “Hiro, tolong jualkan makanan khas
Indonesia ini kepada masyarakat Jepang. Kembangkan juga usaha tersebut demi
aku. Aku mohon...”
Kemudian Kinan pun meninggal dalam
keadaan tersenyum.
Dua tahun sudah Hiro lalui dengan
kesendiriannya. Hiro tlah berubah, bukan Hiro yang sombong dan angkuh lagi.
Tapi menjadi Hiro yang baik dan ramah. Ia juga kini tlah membuka usaha toko
makanan khas Indonesia di Jepang.
Tampak Hiro tengah melihat ke arah
layar monitor, foto-foto Kinan yang ia ambil dari kamera milik Hiro. Dan betapa
terkejutnya ia menemukan foto dirinya yang tengah berada di Ueno Park ada di
kamera milik Kinan. Berarti Kinan tlah melihat dirinya sebelum mereka bertemu
di kelas! Sembari tersenyum dan meneteskan air mata, ia berucap,
“Tuhan....jagalah Kinanku, sayangilah dia di sana, dan bahagiakan Kinan di
surgamu.!”
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar