Serba-Serbi Kehidupan Sastra

Terima kasih telah mengunjungi blog ini

Rabu, 11 September 2013

Ups

Love Journey Kinan

Sendiri, dan selalu sendiri. Itulah yang kian dirasakan oleh gadis berkebangsaan Indonesia yang bernama Kinan. Tujuh belas tahun sudah ia bertahan dengan penyakit AIDS yang selalu menyertainya. Penyakit AIDS yang ia dapatkan dari sang ibu yang telah meninggal dua tahun silam.
Di pagi hari yang cerah, Kinan melangkahkan kaki menuju sekolah disertai  semangat hidup yang tinggi. Dengan seragam putih berpadu warna ungu di bagian roknya, ia tampak sangat cantik, meski sinar mentari kian memucatkan wajahnya. Rambut panjangnya tampak berkilau indah.
Langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sekelompok genk dari sekolahnya mencemooh dirinya. Ketua genk tersebut pun unjuk bicara, “Heh! Masih PD aja loe ke sekolah! Tau diri dong! Loe cuma sampah disini!” yang kemudian disertai dengan tawa anggota genk yang berjumlah sembilan orang.
Kinan tak menanggapi cemoohan itu. Ia sudah terbiasa dihina, dan kini ia bertekad akan menerima hinaan itu dengan hati yang lapang. Kinan kembali berjalan, melewati genk tersebut dengan santai. Rambut panjangnya berkibar dan menyapu wajah ketua genk.
“Kok tumben dia ngga marah?” “Iya!” “padahal biasanya kan dia langsung sakit hati” begitulah bisikan-bisikan anggota genk, yang tak ditanggapi oleh sang ketua. Ia justru memandangi punggung Kinan yang kian menjauh.
Akhirnya Kinan sampai di depan gedung sekolah. Ia menatap cukup lama ke gedung yang megah tersebut, lalu ia tersenyum dan berteriak, “Ohayou!!” yang artinya selamat pagi. Kontan seluruh siswa yang berada disitu heran akan sikap aneh Kinan pagi ini.
Kinan kembali melangkah. Setiap anak yang ia lewati ia sapa dengan kata ohayou. Hingga ia sampai di kelas. ia menampakkan wajah ceria kepada setiap siswa. Walau ada rasa kecewa karena tak seorang pun yang membalas sapaannya. Bahkan tersenyum pun tidak.
Kinan duduk di baris pertama. Baru kali ini Kinan bersyukur karena dapat sekolah di SMA yang suasananya sangat mirip di jepang. Dari pakaian, arsitektur bangunan, bahkan makanan yang dijual di kantin pun makanan jepang.
Ia melihat ada seorang siswi yang menyendiri di pojok kelas sembari mempercantik diri. Awalnya Kinan hendak mendekatinya, namun suara pengumuman yang menyebut namanya menghentikannya. Kinan pun bergegas menuju ruang kepala sekolah.
“Selamat pagi, Bu!” ucap Kinan sembari memasuki ruang kepala sekolah.
“Silahkan duduk!” perintah kepala sekolah dengan halus. Kinan pun duduk di hadapan Bu Akiko yang merupakan kepala sekolah.
“Selamat, Kinan! Lukisan yang kamu kirimkan ke Jepang seminggu yang lalu mendapat respon positif dari pemerintahan Jepang!” tutur Bu Akiko penuh semangat.
“Maksud Ibu......saya menang?!” tanya Kinan yang juga bersemangat.
“Tidak! Hanya respon positif. Kita kalah bersaing dengan SMA dari Singapura,” jawab Ibu Akiko dengan nada datar, sehingga membuat semangat Kinan kembali luntur.
“Meskipun kamu tidak menang, namun pemerintah Jepang sangat antusias dengan karya kamu! Meskipun kamu tidak mendapatkan hadiah utama, tapi kamu mendapat kesempatan untuk sekolah melukis di Jepang GRATIS!” lanjut Bu Akiko dengan semangat yang kian membara.
Perasaan bahagia menyelimuti Kinan. Ya....walaupun hadiah utama tak dapat dimiliki, namun kesempatan datang ke Jepang dan bersekolah disana pun tak buruk! Bahkan itu jauh lebih berharga daripada beberapa lembar uang.
Esoknya, Kinan mulai mempacking keperluan yang akan ia bawa ke Jepang. Pakaian, seragam baru, alat tulis, kamus Indonesia-Jepang, kamera, foto sang ibu, suplemen AIDS, sandal, sepatu, jenang, rempeyek, molen, dan makanan khas Indonesia lainnya ia bawa. Ia ingin memperkenalkan makanan yang Indonesia miliki kepada Jepang, sekaligus menjualnya. Kinan bertekad untuk menjalankan usaha berjualan makanan khas Indonesia di negara Jepang.
Singkat cerita, Kinan tlah mendarat di Jepang, tepatnya di Tokyo. Suatu tempat yang ia akan kunjungi pertama kali yaitu Ueno Park yang berada di Taito, Tokyo.
Ueno Park terlihat begitu indah. Apalagi sekarang adalah musim semi. Berbagai bunga sakura bermekaran indah. Kinan merasakan hangatnya Jepang sembari berfoto ria. Pohon sakura, para pengunjung dari berbagai daerah, para siswa dan siswi Jepang berseragam unik dan lucu, seorang pria yang tengah melingkarkan rangkaian bunga sakura di kepala kekasihnya, patung Saigo Takamuri dan anjing setia (Hachiko), masyarakat Jepang yang tengah melakukan hanami (makan bersama di bawah pohon sakura), dan tak sengaja Kinan memotret seorang siswa Jepang berseragam putih berdasi kotak-kotak berpadu dengan celana panjang kotak-kotak.
“Soutou na!” puji Kinan yang artinya tampan pada foto siswa yang tak sengaja ia ambil. Berkulit putih, berambut agak pirang, bertubuh atletis, dan tinggi adalah gambaran dari siswa yang dipotret Kinan tersebut.
Tiba-tiba Kinan teringat sesuatu. Jam tangannya telah menunjukkan pukul 13.00. Kinan lupa minum suplemennya! Kinan pun duduk di tempat duduk kosong, lalu ia minum suplemennya. Hampir saja ia berhasil menelan pil suplemen itu kalau saja seorang pria seusia Kinan tidak memegang bahunya sembari berkata permisi dalam bahasa inggris.
Kinan pun memuntahkan pil suplemennya kembali. Dan jatuhlah pil itu ke tanah. Seorang petugas kebersihan melihat Kinan yang sedang memuntahkan pil suplemen itu. Karena Jepang sangat menjaga kebersihan, maka petugas itu memasang wajah garang hendak memarahi Kinan. Dan karena Kinan ketakutan, maka Kinan mencoba kabur dengan cara berlari menjauhi petugas itu. Tak lupa tasnya ia tutup dan ia gendong di bahu.
Setelah dirasa aman, Kinan pun berhenti. Dengan segera, Kinan mengambil suplemennya. Namun tertahan lagi oleh suatu suara, “Miss, can you help me to find a twin dormitory?” dan mendengar suara itu, lagi-lagi Kinan memuntahkan suplemennya.
“Oh, I’m sorry! I don’t.....”
“Mas, maaf, kenapa mas ngikutin saya terus?” tanya Kinan dengan bahasa Indonesia. Entah bagaimana caranya orang ini bisa berada di sampingnya lagi setelah ia berlari jauh.
“Mba dari Indonesia? Wah kebetulan sekali saya ketemu orang Indonesia! Duh, mba! Jangan marah-marah! Tadi kan mba yang narik tangan saya! Oh iya, saya juga dari Indonesia lho! Kenalin saya.....”
“Duh, bentar-bentar! Saya udah telat minum obat ini! Bentar!” putus Kinan yang langsung ia gunakan kesempatan ini untuk meminum suplemennya.
“Enak, mba?” tanya turism yang ternyata dari Indonesia itu dengan hati-hati.
“Enak, enak banget malah! Dan lebih enak lagi kalo aku ngga ketemu kamu!” jawab Kinan sembari meninggalkan pria itu sendirian.
Kinan pun naik kereta bawah tanah menuju asramanya yang bernama sakura yoritsuki. Tiba-tiba ia teringat pada penyakitnya. Kapankah penyakit AIDSnya akan merenggut nyawanya? Akankah ia diterima di lingkungan Jepang ini?
Setelah pihak asrama mengetahui penyakit Kinan, Kinan diberi kamar khusus yang hanya dihuni oleh satu orang. Rasanya memang seperti diasingkan. Namun Kinan mencoba berpikir positif. Di kamar khusus ini, ia akan lebih leluasa. Ya...walau kamarnya hanya berisi tempat tidur dan almari, tapi Kinan tetap semangat, dan tak sabar menunggu hari esok untuk pergi ke sekolah barunya.
Hari berlalu begitu cepat. Di sekolah melukis, Kinan tak mendapat perlakuan yang spesial. Setelah Kinan memperkenalkan diri dalam bahasa Jepang, semua anak menyambut kedatangan Kinan dengan mengucapkan, “itte rassahai!” yang artinya selamat datang. Namun ada seorang siswa laki-laki yang tampak angkuh. Ia tak mengucapkan selamat datang pada Kinan. Bahkan ia melempari Kinan dengan kertas yang telah dibentuk bulat. Merasa diremehkan, kouchou pun marah. Kouchou atau jika di Indonesia kepala sekolah pun mempersilahkan Kinan duduk di samping siswa tadi, dan kouchou menyuruh siswa tadi minta maaf. Dengan lantang dan dengan perasaan sebal pun siswa tadi minta maaf.
“Moshimoshi!” sapa Kinan pada siswa di sampingnya. Dan....oh, ternyata siswa tersebut merupakan siswa yang pernah dipotret Kinan secara tidak sengaja!
 “Bakageta!” desah Kinan yang artinya konyol. Dan sialnya desahan itu di dengar oleh teman sebangkunya.
“Apa?! Konyol?!” tanya teman sebangkunya dengan nada tak suka. Tentunya dalam bahasa Jepang.
“Boku no ikiru ni atarashii iro wo agete kurete,” jawab Kinan asal. Ia baru menyadari  kata-katanya itu setelah teman sebangkunya itu mendelik ke arahnya. Bagaimana tidak, Kinan belum mengenal siswa itu, malah ia berucap yang artinya berikan warna baru di hidupku.
“gomen nasai!” ucap Kinan dengan cepat dan gugup, yang artinya maaf.
Siswa itu pun kembali ke kesibukannya. Ia melukis kaligrafiひろまる. Dengan polos, Kinan membaca kaligrafi tersebut dengan ejaan “Hi-ro-ma-ru”. Kinan masih melihat kaligrafi siswa yang ternyata bernama Hiromaru itu. ≧◡≦   けいけい. Kinan kembali mengeja tulisan itu, “tanda love..keikei.
Kinan pun menutup mulutnya erat-erat. Ternyata siswa angkuh di sampingnya ini bisa juga jatuh cinta! Namun ia segera melupakan kaligrafi itu karena gurunya telah datang dan mulai mengajar melukis.
Guru itu memberi tugas untuk melukis partner tempat duduk masing-masing. Hiromaru nampak keberatan. Walau bagaimanapun ia menolak, pak guru tetap tak mengindahkannya. Sedangkan Kinan pun tersenyum puas.
Esok sore, Kinan dan Hiromaru bertemu di Osaka Mint Bureau untuk menyelesaikan tugas melukis. Dengan dress pendek berwarna coklat muda dan topi coklat muda yang lebar, Kinan tampak begitu cantik.
Mereka pun melakukan suit sebagai penentuan orang pertama yang akan dilukis. Dan hasilnya yang akan dilukis duluan adalah Kinan. Hiromaru pun memilih para penjual jajanan tradiosal sebagai background lukisannya.
“Hiromaru! Serius dong! Masa aku secantik ini dilukis dengan background penjual jajanan?!” keluh Kinan yang tentunya dalam bahasa Jepang.
“Hei,Darimana kamu tau namaku?” tanya Hiromaru penuh selidik. Ia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Kinan. Dengan sigap, Kinan melangkahkan kaki beberapa langkah ke belakang.
“Dari kaligrafi yang kamu buat kemarin. Hiromaru cinta Keikei! Hahaha!” ledek Kinan yang tak dihiraukan oleh Hiromaru. Ia malah mendorong tubuh Kinan untuk berdiri di depan penjual semacam sate babi, dan memandu tangan Kinan untuk berpose. Kemudian Hiromaru mulai melukis Kinan dari posisi yang lain.
“Hiromaru..” teriak Kinan yang langsung dipotong oleh lawan bicaranya itu.
“Panggil aku Hiro!”
“Mmm.. Siapa Keikei? Apa dia sekelas sama kita?” tanya Kinan penasaran.
“Keikei itu nenekku! Dia adalah orang yang paling aku cintai.”
“Oh....aku kira dia pacar kamu.” Jawab Kinan semangat setelah tau kalau Keikei itu nama neneknya Hiro.
“Udah diam! Nanti lukisanku jelek gara-gara bibirmu gerak terus!” dan Kinan pun manyun dan langsung diam.
Detik berganti detik, bunga-bunga cinta di hati Kinan dan Hiro pun semakin mengembang. Manisnya cinta terasa di lidah masing-masing. Bagai tengah mengemut jenang asli Indonesia. Namun sesegera mungkin Kinan mengusir rasa cintanya karena ia ingat akan penyakit AIDS nya yang dapat merenggut nyawanya kapanpun dan dimanapun.
Perlahan-lahan, Kinan merasakan tubuhnya semakin melemas. Ia juga merasakan bibirnya mengering. Hampir saja ia ambruk, kalau tak ditahan oleh tangan kekar Hiro.
“Hei, kamu kenapa?” tanya Hiro cemas. Baru kali ini Kinan mendengar nada lembut Hiro. Kinan pun berusaha bangun, dan ia mengambil suplemennya yang kemudian ia telan sekuat tenaga.
“A....kamu khawatir ya sama aku?” ledek Kinan dengan nada bercanda. Hiro yang merasa gugup tiba-tiba melepas tangannya dari Kinan. Kemudian ia kembali ke tepat duduknya, dan mulai melanjutkan melukis.
Walau berusaha bercanda, namun sebenarnya Kinan merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. *Kinan...kamu harus kuat. Kamu baru menemukan bagaimana indahnya hidup. Lawan penyakitmu! Lawan! Arrggg!!!!* begitulah erang hati Kinan. Namun Kinan tetap berusaha tersenyum.
“Huft.. Udah selese nih lukisanku!” ujar Hiro bangga. Kinan pun lega dan berlari ke arah Hiro. Dan betapa terkejutnya Kinan karena dirinya hanya dilukis setengah badan! Bukan setengah badan bagian atas, tapi setengah badan bagian kiri! Saat Kinan hendak memarahi Hiro, Hiro justru menampakkan senyum termanis yang pernah Kinan jumpai. Sehingga ia tak tega untuk marah.
Kini giliran Kinan yang akan melukis Hiro. Ia pun menyuruh Hiro berpose di dekat orang-orang jepang yang sedang melakukan hanami. Di segmen ini, Hiro diposisikan sebagai seorang pemuda yang membawa sepiring sushi yang ia pinjam dari keluarga jepang yang di sampingnya.
Ketika Kinan hendak melukis, tangannya bergetar. Ia bahkan tak dapat memegang kuas dengan benar. Berkali-kali kuas yang selama ini menjadi teman hidupnya kini justru seakan-akan menjauh darinya. Tubuh Kinan pun ambruk ke tanah. Hiro yang menduga Kinan hanya bercanda, kini membiarkan. Namun, setelah beberapa orang mengitari Kinan yang tak berdaya, barulah Hiro panik. Hiro pun membawa Kinan ke Rumah Sakit terdekat.
Betapa terkejutnya Hiro mengetahui status kesehatan Kinan yang sangat menurun. Apalagi dokter mengatakan bahwa Kinan positif terkena AIDS. Hiro yang baru kali ini merasakan cinta pertamanya merasa terpukul akan kabar yang mengejutkannya.
Hiro masuk ke ruangan Kinan serasa tak menggunakan kaki. Wajah Kinan yang sangat pucat membuatnya seperti telah mati. Ditambah lagi lingkaran hitam yang menyelubungi mata Kinan kian menggelap. Tubuh Kinan terbujur kaku di atas ranjang dengan selang infus menancap di pergelangan tangannya.
Hiro yang terkenal lelaki angkuh kini mulai menangis. Ia menangis di sisi Kinan, dan membiarkan air matanya menjatuhi tangan Kinan, dan membuat Kinan terbangun. Buru-buru Hiro menghapus air matanya.
“Kau... Ini dimana?” tanya Kinan lemas.
“Kau ini merepotkan saja! Kenapa kau tiba-tiba pingsan di saat aku akan dilukis?! Katanya kau sangat ahli melukis,” canda Hiro dengan memainkan mimik wajahnya.
“Kau ini bagaimana?! Aku sedang sakit seperti ini, tapi kau malah memarahiku! Dasar hati batu!” balas Kinan dengan mimik marah pula.
Hiro pun mendelik mendengar olokan Kinan. Namun Hiro segera memeluk tubuh lemah Kinan sembari berkata,” Anata ni fureru koto ga naze konna ni kurushii no desuka?” yang artinya menyentuhmu, mengapa menyakitkan begini?
Kinan yang tak mengerti apa yang dimaksud Hiro pun hanya bisa diam. Ia memilih untuk merasakan hangatnya kasih sayang yang Hiro berikan untuknya.
Namun tiba-tiba saja bayangan akan penyakit AIDSnya kembali hadir. Dengan sigap, Kinan mendorong tubuh Hiro, takut kalau-kalau Hiro tertular penyakitnya.
“Jauhi aku!” pinta Kinan sembari mengeluarkan air mata kepedihan.
“Kenapa? Karena kamu terkena AIDS? Kinan, aku mencintaimu apa adanya! Aku akan menjagamu dengan seluruh kemampuanku!” kata Hiro mantap.
“Darimana kamu yakin kalau kamu mencintaiku? Kamu baru mengenalku kemarin dan kamu sudah bilang cinta kepadaku?! Kamu terlalu terburu-buru Hiro!” kecam Kinan yang terus mengalirkan air mata. Kinan pun mengubah posisi tidurnya membelakangi Hiro.
“Untuk mencintai, tidak memerlukan waktu. Ketika hati kita mulai berbicara, mata kita mulai menangis demi orang lain, dan kulit kita merasakan luka yang dirasakan orang lain, maka kala itu jua kita tlah menemukan orang yang kita sayang,” papar Hiro meyakinkan Kinan.
“Cukup Hiro! Cukup!” teriak Kinan, dan hal itu mengejutkan Hiro.
“Aku juga cinta kamu! Aku sayang kamu! Tapi umurku ngga akan panjang lagi! Apalagi barusan penyakitku kambuh. Mungkin beberapa jam lagi, aku akan...”
“Aku ngga peduli! Bahkan walau jika kebersamaan kita hanya tinggal satu detik lagi. Aku hanya ingin menjadi bagian terindah dalam hidupmu! Aku akan memberi warna baru sesuai yang kamu minta kemarin!”
Tiba-tiba Kinan merasakan umurnya telah di ujung kematian.
“Hiro, tolong antarkan aku ke asrama sakura. Aku ingin di akhir hidupku ini, aku dapat memperkenalkan makanan khas Indonesia kepada masyarakat Jepang,” ujar Kinan penuh harap. Hiropun menyanggupi. Mereka pun meninggalkan rumah sakit menuju asrama Kinan.
Di asrama, Kinan segera membuka lemari tempat ia menyimpan jenang dan kawan-kawan. Senyum Kinan pun mengembang. Semangatnya kembali muncul. Namun ternyata peluit kematian telah ditiupkan untuk Kinan. Dengan wajah semakin memucat, Kinan menahan sakit. Ia pun meyampaikan pesan terakhirnya untuk Hiro, “Hiro, tolong jualkan makanan khas Indonesia ini kepada masyarakat Jepang. Kembangkan juga usaha tersebut demi aku. Aku mohon...”
Kemudian Kinan pun meninggal dalam keadaan tersenyum.
Dua tahun sudah Hiro lalui dengan kesendiriannya. Hiro tlah berubah, bukan Hiro yang sombong dan angkuh lagi. Tapi menjadi Hiro yang baik dan ramah. Ia juga kini tlah membuka usaha toko makanan khas Indonesia di Jepang.
Tampak Hiro tengah melihat ke arah layar monitor, foto-foto Kinan yang ia ambil dari kamera milik Hiro. Dan betapa terkejutnya ia menemukan foto dirinya yang tengah berada di Ueno Park ada di kamera milik Kinan. Berarti Kinan tlah melihat dirinya sebelum mereka bertemu di kelas! Sembari tersenyum dan meneteskan air mata, ia berucap, “Tuhan....jagalah Kinanku, sayangilah dia di sana, dan bahagiakan Kinan di surgamu.!”
END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar