Petir Vs Bulu
Ketek
Tampan, rupawan, bintang kelas, tinggi atletis, anak
band lagi. Siapa sih gadis yang tak tertarik pada lelaki sesempurna itu? Paket
lengkap itu telah dibungkus dalam diri seekor anak manusia (ingat! Manusia juga
punya tulang ekor. Jadi tak salah kan kalau menjadi seekor manusia?) yang
bersekolah di sebuah SMA Balik Tanah (emangnya semut yang sekolah di balik
tanah?! Eh, jangan salah! SMA Balik Tanah ini sebuah sekolah yang setara dengan
sekolah di Jepang..... yang telah hancur dilanda tsunami. =.=’) panggil saja
dia Martin.
Suatu malam, band Martin mendapat undangan dari SMA
swasta yang bertempat diantara dua pohon sawo besar, dan SMA itu bernama SMA
Belatung. Konon, kata “belatung” merupakan kepangjangan dari diBELAh dapat
unTUNG. Maksudnya, sekolah itu bagai sebagai pembelah antara dua pohon sawo
besar, yang menghasilkan keuntungan dari usaha pendidikan tersebut.
Malam itu tengah mendung. Hawa tak sedap dirasakan
oleh Martin. Maka, sebelum masuk ke SMA Belatung, ia mengatakan unek-uneknya
pada pemegang gitar di bandnya yang bernama Kao, “Hai, Kao!”
Tiba-tiba seluruh teman bandnya menengok ke arahnya.
Kecuali Kao yang tengah asik mendengarkan musik dengan headset yang menempel di
kedua kupingnya.
Martin pun mengulang panggilannya lebih keras lagi,
“Hei, Kaaaooo!!!”
Ternyata kini yang menengok ke arahnya bukan hanya
teman sebandnya. Tetapi juga siswa SMA Belatung yang kebetulan lewat.
“Bos, sebenarnya yang Bos panggil itu siapa sih?”
bisik teman sebandnya yang berada di sampingnya yang bernama Quet.
“Kau tak mendengar?! Aku ini memanggil Kao!” geram
Martin yang mulai naik pitam.
“Oh... Jadi Bos memanggil saya. Ada apa, Bos?” tanya
Quet lugu. Maklumlah, Martin itu tak begitu fasih mengucapkan huruf ‘o’. Jika
ia berucap ‘o’, maka yang keluar dari pita suaranya adalah huruf ‘u’. Jadilah
semua orang menganggap bahwa Martin tengah menyebut ‘kau’. Entah kau yang
dimaksud itu siapa.
“Haduh.... Bukan kau lah! Yang ku maksud KAO!
Kei-Ei-O! O yang bentuknya bulat! Bukan u yang kaya gelas! Uh!” jawab Martin
kesal, kemudian disambut oleh koor senada dari seluruh manusia di sekitar yang
menyuarakan, “O...... Bilang dong dari tadi!”
“Ya sudahlah lupakan! Ayo kita masuk!” ajak Martin
kepada teman-temannya. Kao yang belum juga melepas headsetnya kebingungan
karena teman-temannya berjalan meninggalkannya. Maka ia pun berteriak, “Hoi..!!
Tungguin eke dong! Tega nian kalian meninggalkan eke sendiri!” Ups! Ternyata
Kao rada-rada kewanita-wanitaan! Kok bisa ya ada anak seperti itu yang aktif
dalam sebuah band?!
Di dalam SMA Belatung, terlihat sekelompok siswi
yang menjauh, atau lebih tepatnya menyendiri dari keramaian. Mereka yang
beranggotakan empat orang tengah asik dengan buku yang mereka pegang, kecuali
siswi bergaun biru lembut. Tampilannya sangat berbeda dengan tiga anggota
lainnya yang memakai hem, berkacamata, dan diikat kuda pula.
“Hei, bulu-bulu! Kita nyari jajanan yuk! Aku laper,”
ajak sang siswi yang berpenampilan beda itu.
“Malas, ah! Bulu mata sedang asik baca komik Naruto
nih!” jawab siswi berhem kotak-kotak yang menjuluki diri sendiri dengan sebutan
bulu mata.
“Iya, bulu kuduk juga lagi tenggelam ke nuansa
romantis novel ini nih,” jawab siswi berhem kuning, dan ia menobatkan diri
sebagai bulu kuduk.
“Sama! Bulu kaki juga udah kadung cinta sama tokoh
anime di komik jepang ini,” jawab siswi yang berhem orange, dan ia menyamakan
diri sendiri dengan sehelai bulu kaki.
“Ah, bulu-bulu ngga asik ah! Ya udah, bulu ketek mau
nyari jajan dulu ya! Kalian jangan kemana-mana lho! Awas aja kalau kalian
ninggalin aku, sehelai bulu ayam menanti telinga kalian!” ujar siswi
berpenampilan berbeda yang ternyata menggelari dirinya dengan sebuah gelar
‘bulu ketek’ sembari mengeluarkan sehelai bulu ayam.
“Iya-iya!” jawab bulu-bulu dengan kompak, dan
kemudian bulu ketek pun pergi meninggalkan mereka dalam diam.
Di panggung SMA Belatung yang cukup luas, band
Martin pun mulai memainkan lagu-lagu westlife dengan indah. Mengapa lagu-lagu
westlife yang mereka mainkan? Karena inspirasi mereka untuk membuat band adalah
westlife. Maka tak heran jika nama band yang diketuai oleh Martin tersebut
bernama Eastdie (kematian Timur). biasanya sih pada nyebutnya esde band.
Ketike esde band memainkan lagu dengan judul “more
than word”, seluruh penonton tampak terpesona. Bahkan ada seorang gadis yang
meneteskan air mata setelah mendengar lagu tersebut. Setelah diusut, ternyata
ia menangis bukan karena terharu, tapi karena sedih melihat pacarnya yang hanya
menjadi penggulung kabel di acara tersebut! Ooo... He is so pity!
Lagu kedua yang akan mereka mainkan adalah lagu dengan
judul “If I let you go”. Perasaan tak enak kembali menjemput Martin. Ketika itu
langit tampak begitu gelap, bintang-bintang pun bersembunyi di balik kabut,
yang menandakan hujan akan turun.
Di saat yang bersamaan, sang bulu ketek melewati
panggung yang tengah diberdirikan (memangnya bangunan?!) esde band. Ia lewat
dengan cueknya.
“Day after day.....” alunan lagu yang indah mulai
mengucur dari pita suara Martin.
Bulu ketek pun mulai tersihir oleh suara lembut
milik Martin. Maka secara tak sengaja, ia tersandung oleh sepatu seseorang. Ia
pun tersungkur dan sialnya, wajahnya menyapu bribil (pupnya kambing) yang ada
di tanah bertanaman. Bribil itu memang sengaja disebar di tanah bertanaman agar
tanaman subur. Tapi kalo di wajah.....apa bisa ya menumbuhkan bibit-bibit
jerawat secara subur?
“Time passed away....” lanjut Martin dengan tenang
tanpa menghiraukan tawaan siswa-siswa yang menertawakan bulu ketek dengan
kejamnya.
Maka timbulah api di atas kepala bulu ketek yang
akan ia gunakan untuk membakar Martin. Ia merasa tlah dipermainkan oleh suara
lembut Martin. Maka ia pun mengumpat dengan menyuarakan, “Waktu, waktu! Waktu
itu ngga pantes mati tau! Kamu tuh yang pantes mati!”
Namun yang membuat api di kepala bulu ketek kian
membara adalah, karena Martin tidak menoleh sedikit pun padanya. Maka ia pun
berniat hendak melampar sepatu bootsnya pada Martin (memang aneh nih bulu
ketek! Pake gaun kok sepatunya boots). Namun, sebelum sepatunya melayang....
Jedeeerrr!!!! Suara petir
tiba-tiba saja menyela. Di saat itu pula, semua siswi tampak terkejut. Namun
keterkejutannya itu masih wajar. Kecuali......
“Aaaa.... Tidak...! Jangan....! Mama, aku mau
pulang... Huhuhu... Mama....!!!” teriak Martin histeris. Suara Martin tampak
semakin lantang karena pengeras suara yang ada di hadapannya. Martin pun
jongkok, menutup kepalanya ketakutan. Bahkan ia juga menangis!
Kao yang ternyata teman Martin sedari TK pun menepuk
dahinya sembari berucap, “Aduh! Pasti astraphobianya kumat lagi nih!”
“Astraphobia? Apa itu?” tanya Glen yang menguasai
drum di esde band.
“Sejenis phobia pada petir. Tingkah Martin bisa lebih
parah daripada ini kalo hujan mulai turun. Yuk kita amankan Martin!” ajak Kao.
Dengan segera, ia dan Glen pun hendak menarik Martin ke tempat yang aman.
“Ngga! Ngga mau! Aku maunya sama mama! Mama...!”
erang Martin, dan itu membuat seluruh siswi ilfeel padanya, kecuali bulu ketek.
Ia justru simpati dan merasa kasihan pada Martin.
“Martin, Ayo kita turun... Kita pulang saja! Biar
jauh dari petir,” ucap Kao.
“Ngga! Aku maunya sama mama!” jawab Martin
Bulu ketek pun naik ke atas panggung. Walau wajahnya
belepotan oleh bribil, ia tak peduli, dan ia pun berujar, “Udah, bawa paksa aja
dia! Biar aku yang nanganin masalah di sini!”
Maka Kao dan Glen pun menggendong paksa Martin
dengan cara memapah seperti memapah pasien rumah sakit jiwa yang mencoba kabur.
Bulu ketek yang penuh dengan bribil basah di
wajahnya pun berusaha menenangkan kawan-kawannya dengan berbicara dengan
pengeras suara. Bukannya diam, mereka malah melempari bulu ketek dengan apa
yang ada di sekitar mereka. Ada yang melempari sepatu, tas, hp, kacamata,
bahkan ada yang melemparkan uang dan beberapa perhiasan mereka sebagai
pelampiasan rasa kecewa, ilfeel, dan marahnya. Bulu ketek pun tak melewatkan
kesempatan emas ini. Ia pun memunguti uang dan barang-barang itu dengan harapan
dapat menggadaikannya (bukannya buntung malah untung. Lumayan.... buat mbakso☺).
Dengan cepat kilat, ia pun kembali menemui bulu-bulu yang lain, dan mengajak
mereka pergi dari sekolah sekarang juga.
Keesokan harinya, di hari Minggu, Martin lupa pada
kejadian semalam. Ketika ia membuka mata, ia telah berada di kamarnya yang
super duper berantakan. Entah apa yang terjadi semalam hingga membuat kamarnya
seperti botol obat yang baru dikocok sebelum dibuka. Tiba-tiba saja ingatannya
tertuju pada gadis aneh yang semalam telah MENIKMATI bribil untuk masker
wajahnya. dan ia juga teringat pada......
“Ya Tuhan! Semalam astraphobiaku pasti kambuh!
Aduh.... malu banget aku! Mana di
hadapan umum lagi kambuhnya! Pasti gadis itu ngrasa puas banget liat tingkahku
semalem!” ujar Martin sebal. Ia pun menggeliat hendak keluar kamar.
“Selamat pagi, Baby! Makan dulu nih! Mama udah
buatin kamu bubur. Jangan lupa dimakan ya!” ucap mama Martin setelah masuk ke
kamar Martin dan mendapati Martin sudah bangun.
“Ma! Sampai kapan Martin harus makan bubur hambar
dan obat-obatan ini? Toh astraphobia Martin ngga pernah mereda. Tetap saja
begini. Pokoknya Martin ngga mau makan bubur dan obat-obatan ini lagi!” ujar
Martin kesal.
“Kok baby mama gitu sih? Ooo....Pasti mau mama yang
suapin ya? Yuk buka mulutnya! Aaa..,”
“Ma! Martin itu udah gedhe! Martin udah SMA! Bukan
bayi lagi! Mama tolong berhenti untuk memperlakukan Martin seperti bayi,” kata
Martin dengan sedikit emosi. Martin pun keluar rumah tanpa mandi terlebih
dahulu.
Saat Martin di depan rumah, bulu ketek yang sedang
bersepeda kehilangan konsentrasi melihat Martin yang berdiri di tengah-tengah
jalan. Karena tak mampu menghentikan sepedanya, maka secara tak sengaja, ia pun
menabrak Martin.
“Au! Heh, ati-ati dong!” erang Martin emosi.
“Lho? Kamu?! Hahaha.... Ooo.. Jadi anak mama
sekarang udah normal lagi ya? Aduh... Jadi inget kejadian semalem nih! Hahaha...”
ejek bulu ketek puas.
“Lho, kamu si bulu ketek yang mencintai bribil kan?
Hahaha... aku juga jadi inget kejadian semalam, ketika kamu mencium bribil!
Hahaha....” balas Martin juga puas.
Bulu ketek pun melotot mendengar ledekan Martin. Ia
pun berkata, “Dasar petir!”
“Bulu ketek!”
“Petir gila!”
“Bulu ketek jelek!”
“Petir edan!”
“Bulu ketek bau!”
Setelah Martin mengejek bahwa bulu ketek bau, bulu
ketek pun mencium aroma yang tidak mengenakkan yang berasal dari Martin.
“Hiyak! Kamu ngompol ya? Kok bau banget sih? Apa
kamu pup di celana?” tanya bulu ketek menyelidik.
“Enak aja! Itu kan bau badan kamu! Namanya aja bulu
ketek!” jawab Martin cuek.
“Serius nih aku! Coba deh kamu cium aroma tubuh
kamu! Jangan-jangan... Hi... Kamu belum mandi ya?!” tuduh bulu ketek dengan
menutup hidung erat-erat.
Martin pun mengendus-endus tubuhnya sendiri seperti
anjing pelacak. “Hehehe... Iya aku belum mandi,” ujar Martin cengengesan.
Bulu ketek pun kini berhasil menimpuk kepala Martin
dengan sepatu bootsnya sembari berucap, “Ih, jorok! Dasar petir! Udah gila,
edan, bau lagi!”
Martin pun menggaruk kepalanya yang tak gatal
sembari cengengesan sambil berkata, “Hehehehe... Eh bulu ketek, sebenarnya
namaku Martin! Bukan petir.”
“Namaku juga sebenarnya bukan bulu ketek, tapi Rose.
Eh, aku mau pulang dulu deh! Udah siang, aku mau mengembala babi,” jawab bulu
ketek yang ternyata bernama Rose. Ia pun berdiri, dan kembali bersepeda menjauh
dari Martin.
Martin pun kini merasa semakin baik, dan dengan
bahagia ia menemui ibunya yang ternyata sedang menangis di kamar Martin.
“Mama, mama kenapa nangis?” tanya Martin khawatir.
“Mama sudah kehilangan bayi mama,” jawab Mama Martin
singkat.
“Mama tidak kehilangan bayi mama. Hanya saja, bayi
mama sudah tumbuh menjadi pria remaja yang kini sepertinya mulai tumbuh
benih-benih cinta di hatinya,” ujar Martin dengan duduk di sisi mamanya sembari
merangkul pundak mamanya.
“Benarkah? Kamu jatuh cinta? Ternyata kamu
benar-benar sudah remaja! Maafkan mama ya, selama ini mama tidak menyadari
kalau kamu sudah remaja! Apakah kamu....sudah.....ngompol?” tanya mama martin
jail sembari menyapu air matanya.
“Ah, mama! Kenapa mama tanya seperti itu?! Martin
kan malu,” jawab Martin. Wajah Martin tampak memerah menahan malu.
“Kamu jawab saja! Sudah, apa belum?” tanya mama
martin penasaran.
“Ada deh... hahahaha.....” jawab Martin menyisakan
tanda tanya besar di otak mamanya.
Esok hari, di SMA Balik Tanah...
“Gimana, Bro? Yei udah baikan?” tanya Kao cemas. Ia
juga memegang dahi Martin.
“Apaan sih, Kao?! Aku ini sudah tak apa-apa! Oh iya,
makasih ya sudah menolong aku di malam itu. Kalau tak ada kau, aku tak tahu
bagaimana jadinya diriku,” jawab Martin sembari menonjok lirih bahu Kao.
“Okelah. Oh iya, jangan lupa bilang makasih juga
sama siapa itu, bulu ketek!”
“Bulu ketek?”
“Iya! Dia rela lho ditimpukin anak-anak SMA Belatung
demi mbelain yei!,”
Martin pun merasa betapa jahatnya ia karena malam
itu ia tak menghiraukan Rose ketika jatuh, ia juga kemarin tidak menolong Rose
setelah jatuh dari sepeda karena dirinya. Maka ia pun berlari menuju SMA
Belatung.
Di sana ternyata sedang ramai-ramainya anak SMA
Belatung yang mengejar Rose sembari meminta barang-barangnya dikembalikan.
“Aneh sekali mereka! Bukankah kemarin mereka yang
melempariku dengan barang-barangnya?! Kenapa sekarang mereka menyerbuku?! Ini
tak adil!” desah Rose lirih sembari berlari menjauh dari kelas, menuju gerbang
sekolah.
Saat di gerbang sekolah, lagi-lagi ia menabrak
Martin. Ia pun bersembunyi di balik punggung Martin.
“Woi! Ada apa ini?!”teriak Martin meredakan suasana
di SMA Belatung.
“Hahaha....anak mama mencoba menyelamatkan bulu
ketek! Balas budi nih ceritanya?!” ledek salah satu siswa SMA Belatung.
“Malam itu kan kalian yang nimpukin barang-barang
kalian sendiri ke aku?! Kenapa sekarang kalian minta barang-barang itu kembali?!”
teriak Rose mencoba membela diri.
“Kemarin itu kami cuma meluapkan amarah kami! Bukan
berniat ngasih barang-barang itu ke kamu!” balas siswa lain.
Martin pun menarik tangan Rose menjauh dari
kerumunan. Ia membawa Rose ke bukit belakang SMA Belatung.
“Huh huh, makasih ya, Tir! Kalo ngga ada kamu, pasti
sekarang aku udah jadi dendeng babi!” ucap Rose pada Martin dengan nafas yang
tinggal beberapa mililiter. Ia harus menarik nafas panjang untuk mengisi
pasokan paru-parunya lagi.
“Makasih juga ya, Tek! Kalo malam minggu kemarin kamu
ngga nolong aku, pasti aku akan lebih gila dari kemarin!” balas Martin dengan
senyum yang lebar. Mereka pun tertawa bersama melepas rasa lelah.
Rose pun memandangi wajah Martin cukup lama.
Kemudian ia berujar, “Kalo diliat-liat, kamu ini mirip Pouni ya?!”
“Pouni? Pouni siapa?” tanya Martin dengan tatapan
bingung.
“Mau tau? Liat itu!” jawab Rose sembari menunjuk jauh seekor babi putih yang
berbeda dari semua babi yang ada di sekitarnya.
“Mana?” tanya Martin celingak-celinguk mencari arah
yang ditunjuk ujung jari telunjuk Rose.
“Itu! yang kulitnya putih dan paling bersih diantara
yang lain!” jawab Rose seraya mengarahkan kepala Martin ke arah objek yang ia
maksud.
“Apa?! Kemarin kamu bilang aku ini petir gila dan
edan. Sekarang? Kau menyamakan aku dengan seekor babi?! Wah, parah!” tanggap
Martin dengan mata melotot. Ia juga menyingsingkan lengan bajunya setinggi yang
ia mampu.
“Eh, jangan salah! Pouni itu lucu, imut, paling
bersih, dan dia adalah babi yang paling aku sayang!”
“Jadi maksud kamu......aku lucu, imut, dan aku
adalah orang yang paling kau sayang?” tanya Martin dengan mengerlingkan
matanya.
“Hahaha... Apaan sih! Aku kan cuma bilang kalo kamu
itu mirip sama Pouni. Bukan berarti kamu adalah orang yang paling aku sayang!”
elak Rose gelagapan.
“Ah, mengaku saja!” goda Martin sambil menyenggol
bahu Rose.
“Tidak mau!” jawab Rose ketus.
“Ayolah,” pinta Martin sekali lagi.
“Tak akan pernah!” jawab Rose yang lagi-lagi ketus.
“Dasar!” umpat Martin yang menyerah memaksa Rose.
“Eh Bulu
Ketek,” panggil Martin
“Hm?”
“Dari mana kamu belajar mencuri?”
“Aku ini bukan pencuri!”
“Tapi kok kamu ngambilin barang-barangnya anak SMA
Belatung sih?”
“Ya kan mereka yang nglemparin ke aku! Itu berarti
kan secara ngga langsung mereka udah merelakan barang mereka buat aku,”
“Tapi kamu udah terlanjur jadi pencuri! Pencuri.....hatiku...”
“Apaan sih! Ngga lucu tau!”
“Dasar bulu ketek ngga punya selera humor!”
“Biarin! Aku kan seriously girl!”
“Oke, will you be my partner in my life?”
“No! I won’t be your life partner!”
“Why?
“Because.... I will become your last love forever!
Baik di kehidupan dunia, dan alam selanjutnya!”
Tiba-tiba... jederrr!!!!
Suara petir kembali hadir. Namun anehnya, Martin bersikap biasa saja! Ia bahkan
tidak menangis dan berkeringat dingin!
“Petir.... Kamu sembuh!”
“Oh ya?! Yes! Akhirnya.... Ternyata hanya cinta yang
mampu sembuhkan aku!”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar