Serba-Serbi Kehidupan Sastra

Terima kasih telah mengunjungi blog ini

Rabu, 11 September 2013

Sssstttttt

Petir Vs Bulu Ketek


Tampan, rupawan, bintang kelas, tinggi atletis, anak band lagi. Siapa sih gadis yang tak tertarik pada lelaki sesempurna itu? Paket lengkap itu telah dibungkus dalam diri seekor anak manusia (ingat! Manusia juga punya tulang ekor. Jadi tak salah kan kalau menjadi seekor manusia?) yang bersekolah di sebuah SMA Balik Tanah (emangnya semut yang sekolah di balik tanah?! Eh, jangan salah! SMA Balik Tanah ini sebuah sekolah yang setara dengan sekolah di Jepang..... yang telah hancur dilanda tsunami. =.=’) panggil saja dia Martin.
Suatu malam, band Martin mendapat undangan dari SMA swasta yang bertempat diantara dua pohon sawo besar, dan SMA itu bernama SMA Belatung. Konon, kata “belatung” merupakan kepangjangan dari diBELAh dapat unTUNG. Maksudnya, sekolah itu bagai sebagai pembelah antara dua pohon sawo besar, yang menghasilkan keuntungan dari usaha pendidikan tersebut.
Malam itu tengah mendung. Hawa tak sedap dirasakan oleh Martin. Maka, sebelum masuk ke SMA Belatung, ia mengatakan unek-uneknya pada pemegang gitar di bandnya yang bernama Kao, “Hai, Kao!”
Tiba-tiba seluruh teman bandnya menengok ke arahnya. Kecuali Kao yang tengah asik mendengarkan musik dengan headset yang menempel di kedua kupingnya.
Martin pun mengulang panggilannya lebih keras lagi, “Hei, Kaaaooo!!!”
Ternyata kini yang menengok ke arahnya bukan hanya teman sebandnya. Tetapi juga siswa SMA Belatung yang kebetulan lewat.
“Bos, sebenarnya yang Bos panggil itu siapa sih?” bisik teman sebandnya yang berada di sampingnya yang bernama Quet.
“Kau tak mendengar?! Aku ini memanggil Kao!” geram Martin yang mulai naik pitam.
“Oh... Jadi Bos memanggil saya. Ada apa, Bos?” tanya Quet lugu. Maklumlah, Martin itu tak begitu fasih mengucapkan huruf ‘o’. Jika ia berucap ‘o’, maka yang keluar dari pita suaranya adalah huruf ‘u’. Jadilah semua orang menganggap bahwa Martin tengah menyebut ‘kau’. Entah kau yang dimaksud itu siapa.
“Haduh.... Bukan kau lah! Yang ku maksud KAO! Kei-Ei-O! O yang bentuknya bulat! Bukan u yang kaya gelas! Uh!” jawab Martin kesal, kemudian disambut oleh koor senada dari seluruh manusia di sekitar yang menyuarakan, “O...... Bilang dong dari tadi!”
“Ya sudahlah lupakan! Ayo kita masuk!” ajak Martin kepada teman-temannya. Kao yang belum juga melepas headsetnya kebingungan karena teman-temannya berjalan meninggalkannya. Maka ia pun berteriak, “Hoi..!! Tungguin eke dong! Tega nian kalian meninggalkan eke sendiri!” Ups! Ternyata Kao rada-rada kewanita-wanitaan! Kok bisa ya ada anak seperti itu yang aktif dalam sebuah band?!
Di dalam SMA Belatung, terlihat sekelompok siswi yang menjauh, atau lebih tepatnya menyendiri dari keramaian. Mereka yang beranggotakan empat orang tengah asik dengan buku yang mereka pegang, kecuali siswi bergaun biru lembut. Tampilannya sangat berbeda dengan tiga anggota lainnya yang memakai hem, berkacamata, dan diikat kuda pula.
“Hei, bulu-bulu! Kita nyari jajanan yuk! Aku laper,” ajak sang siswi yang berpenampilan beda itu.
“Malas, ah! Bulu mata sedang asik baca komik Naruto nih!” jawab siswi berhem kotak-kotak yang menjuluki diri sendiri dengan sebutan bulu mata.
“Iya, bulu kuduk juga lagi tenggelam ke nuansa romantis novel ini nih,” jawab siswi berhem kuning, dan ia menobatkan diri sebagai bulu kuduk.
“Sama! Bulu kaki juga udah kadung cinta sama tokoh anime di komik jepang ini,” jawab siswi yang berhem orange, dan ia menyamakan diri sendiri dengan sehelai bulu kaki.
“Ah, bulu-bulu ngga asik ah! Ya udah, bulu ketek mau nyari jajan dulu ya! Kalian jangan kemana-mana lho! Awas aja kalau kalian ninggalin aku, sehelai bulu ayam menanti telinga kalian!” ujar siswi berpenampilan berbeda yang ternyata menggelari dirinya dengan sebuah gelar ‘bulu ketek’ sembari mengeluarkan sehelai bulu ayam.
“Iya-iya!” jawab bulu-bulu dengan kompak, dan kemudian bulu ketek pun pergi meninggalkan mereka dalam diam.
Di panggung SMA Belatung yang cukup luas, band Martin pun mulai memainkan lagu-lagu westlife dengan indah. Mengapa lagu-lagu westlife yang mereka mainkan? Karena inspirasi mereka untuk membuat band adalah westlife. Maka tak heran jika nama band yang diketuai oleh Martin tersebut bernama Eastdie (kematian Timur). biasanya sih pada nyebutnya esde band.
Ketike esde band memainkan lagu dengan judul “more than word”, seluruh penonton tampak terpesona. Bahkan ada seorang gadis yang meneteskan air mata setelah mendengar lagu tersebut. Setelah diusut, ternyata ia menangis bukan karena terharu, tapi karena sedih melihat pacarnya yang hanya menjadi penggulung kabel di acara tersebut! Ooo... He is so pity!
Lagu kedua yang akan mereka mainkan adalah lagu dengan judul “If I let you go”. Perasaan tak enak kembali menjemput Martin. Ketika itu langit tampak begitu gelap, bintang-bintang pun bersembunyi di balik kabut, yang menandakan hujan akan turun.
Di saat yang bersamaan, sang bulu ketek melewati panggung yang tengah diberdirikan (memangnya bangunan?!) esde band. Ia lewat dengan cueknya.
“Day after day.....” alunan lagu yang indah mulai mengucur dari pita suara Martin.
Bulu ketek pun mulai tersihir oleh suara lembut milik Martin. Maka secara tak sengaja, ia tersandung oleh sepatu seseorang. Ia pun tersungkur dan sialnya, wajahnya menyapu bribil (pupnya kambing) yang ada di tanah bertanaman. Bribil itu memang sengaja disebar di tanah bertanaman agar tanaman subur. Tapi kalo di wajah.....apa bisa ya menumbuhkan bibit-bibit jerawat secara subur?
“Time passed away....” lanjut Martin dengan tenang tanpa menghiraukan tawaan siswa-siswa yang menertawakan bulu ketek dengan kejamnya.
Maka timbulah api di atas kepala bulu ketek yang akan ia gunakan untuk membakar Martin. Ia merasa tlah dipermainkan oleh suara lembut Martin. Maka ia pun mengumpat dengan menyuarakan, “Waktu, waktu! Waktu itu ngga pantes mati tau! Kamu tuh yang pantes mati!”
Namun yang membuat api di kepala bulu ketek kian membara adalah, karena Martin tidak menoleh sedikit pun padanya. Maka ia pun berniat hendak melampar sepatu bootsnya pada Martin (memang aneh nih bulu ketek! Pake gaun kok sepatunya boots). Namun, sebelum sepatunya melayang....
Jedeeerrr!!!! Suara petir tiba-tiba saja menyela. Di saat itu pula, semua siswi tampak terkejut. Namun keterkejutannya itu masih wajar. Kecuali......
“Aaaa.... Tidak...! Jangan....! Mama, aku mau pulang... Huhuhu... Mama....!!!” teriak Martin histeris. Suara Martin tampak semakin lantang karena pengeras suara yang ada di hadapannya. Martin pun jongkok, menutup kepalanya ketakutan. Bahkan ia juga menangis!
Kao yang ternyata teman Martin sedari TK pun menepuk dahinya sembari berucap, “Aduh! Pasti astraphobianya kumat lagi nih!”
“Astraphobia? Apa itu?” tanya Glen yang menguasai drum di esde band.
“Sejenis phobia pada petir. Tingkah Martin bisa lebih parah daripada ini kalo hujan mulai turun. Yuk kita amankan Martin!” ajak Kao. Dengan segera, ia dan Glen pun hendak menarik Martin ke tempat yang aman.
“Ngga! Ngga mau! Aku maunya sama mama! Mama...!” erang Martin, dan itu membuat seluruh siswi ilfeel padanya, kecuali bulu ketek. Ia justru simpati dan merasa kasihan pada Martin.
“Martin, Ayo kita turun... Kita pulang saja! Biar jauh dari petir,” ucap Kao.
“Ngga! Aku maunya sama mama!” jawab Martin
Bulu ketek pun naik ke atas panggung. Walau wajahnya belepotan oleh bribil, ia tak peduli, dan ia pun berujar, “Udah, bawa paksa aja dia! Biar aku yang nanganin masalah di sini!”
Maka Kao dan Glen pun menggendong paksa Martin dengan cara memapah seperti memapah pasien rumah sakit jiwa yang mencoba kabur.
Bulu ketek yang penuh dengan bribil basah di wajahnya pun berusaha menenangkan kawan-kawannya dengan berbicara dengan pengeras suara. Bukannya diam, mereka malah melempari bulu ketek dengan apa yang ada di sekitar mereka. Ada yang melempari sepatu, tas, hp, kacamata, bahkan ada yang melemparkan uang dan beberapa perhiasan mereka sebagai pelampiasan rasa kecewa, ilfeel, dan marahnya. Bulu ketek pun tak melewatkan kesempatan emas ini. Ia pun memunguti uang dan barang-barang itu dengan harapan dapat menggadaikannya (bukannya buntung malah untung. Lumayan.... buat mbakso☺). Dengan cepat kilat, ia pun kembali menemui bulu-bulu yang lain, dan mengajak mereka pergi dari sekolah sekarang juga.
Keesokan harinya, di hari Minggu, Martin lupa pada kejadian semalam. Ketika ia membuka mata, ia telah berada di kamarnya yang super duper berantakan. Entah apa yang terjadi semalam hingga membuat kamarnya seperti botol obat yang baru dikocok sebelum dibuka. Tiba-tiba saja ingatannya tertuju pada gadis aneh yang semalam telah MENIKMATI bribil untuk masker wajahnya. dan ia juga teringat pada......
“Ya Tuhan! Semalam astraphobiaku pasti kambuh! Aduh.... malu banget  aku! Mana di hadapan umum lagi kambuhnya! Pasti gadis itu ngrasa puas banget liat tingkahku semalem!” ujar Martin sebal. Ia pun menggeliat hendak keluar kamar.
“Selamat pagi, Baby! Makan dulu nih! Mama udah buatin kamu bubur. Jangan lupa dimakan ya!” ucap mama Martin setelah masuk ke kamar Martin dan mendapati Martin sudah bangun.
“Ma! Sampai kapan Martin harus makan bubur hambar dan obat-obatan ini? Toh astraphobia Martin ngga pernah mereda. Tetap saja begini. Pokoknya Martin ngga mau makan bubur dan obat-obatan ini lagi!” ujar Martin kesal.
“Kok baby mama gitu sih? Ooo....Pasti mau mama yang suapin ya? Yuk buka mulutnya! Aaa..,”
“Ma! Martin itu udah gedhe! Martin udah SMA! Bukan bayi lagi! Mama tolong berhenti untuk memperlakukan Martin seperti bayi,” kata Martin dengan sedikit emosi. Martin pun keluar rumah tanpa mandi terlebih dahulu.
Saat Martin di depan rumah, bulu ketek yang sedang bersepeda kehilangan konsentrasi melihat Martin yang berdiri di tengah-tengah jalan. Karena tak mampu menghentikan sepedanya, maka secara tak sengaja, ia pun menabrak Martin.
“Au! Heh, ati-ati dong!” erang Martin emosi.
“Lho? Kamu?! Hahaha.... Ooo.. Jadi anak mama sekarang udah normal lagi ya? Aduh... Jadi inget kejadian semalem nih! Hahaha...” ejek bulu ketek puas.
“Lho, kamu si bulu ketek yang mencintai bribil kan? Hahaha... aku juga jadi inget kejadian semalam, ketika kamu mencium bribil! Hahaha....” balas Martin juga puas.
Bulu ketek pun melotot mendengar ledekan Martin. Ia pun berkata, “Dasar petir!”
“Bulu ketek!”
“Petir gila!”
“Bulu ketek jelek!”
“Petir edan!”
“Bulu ketek bau!”
Setelah Martin mengejek bahwa bulu ketek bau, bulu ketek pun mencium aroma yang tidak mengenakkan yang berasal dari Martin.
“Hiyak! Kamu ngompol ya? Kok bau banget sih? Apa kamu pup di celana?” tanya bulu ketek menyelidik.
“Enak aja! Itu kan bau badan kamu! Namanya aja bulu ketek!” jawab Martin cuek.
“Serius nih aku! Coba deh kamu cium aroma tubuh kamu! Jangan-jangan... Hi... Kamu belum mandi ya?!” tuduh bulu ketek dengan menutup hidung erat-erat.
Martin pun mengendus-endus tubuhnya sendiri seperti anjing pelacak. “Hehehe... Iya aku belum mandi,” ujar Martin cengengesan.
Bulu ketek pun kini berhasil menimpuk kepala Martin dengan sepatu bootsnya sembari berucap, “Ih, jorok! Dasar petir! Udah gila, edan, bau lagi!”
Martin pun menggaruk kepalanya yang tak gatal sembari cengengesan sambil berkata, “Hehehehe... Eh bulu ketek, sebenarnya namaku Martin! Bukan petir.”
“Namaku juga sebenarnya bukan bulu ketek, tapi Rose. Eh, aku mau pulang dulu deh! Udah siang, aku mau mengembala babi,” jawab bulu ketek yang ternyata bernama Rose. Ia pun berdiri, dan kembali bersepeda menjauh dari Martin.
Martin pun kini merasa semakin baik, dan dengan bahagia ia menemui ibunya yang ternyata sedang menangis di kamar Martin.
“Mama, mama kenapa nangis?” tanya Martin khawatir.
“Mama sudah kehilangan bayi mama,” jawab Mama Martin singkat.
“Mama tidak kehilangan bayi mama. Hanya saja, bayi mama sudah tumbuh menjadi pria remaja yang kini sepertinya mulai tumbuh benih-benih cinta di hatinya,” ujar Martin dengan duduk di sisi mamanya sembari merangkul pundak mamanya.
“Benarkah? Kamu jatuh cinta? Ternyata kamu benar-benar sudah remaja! Maafkan mama ya, selama ini mama tidak menyadari kalau kamu sudah remaja! Apakah kamu....sudah.....ngompol?” tanya mama martin jail sembari menyapu air matanya.
“Ah, mama! Kenapa mama tanya seperti itu?! Martin kan malu,” jawab Martin. Wajah Martin tampak memerah menahan malu.
“Kamu jawab saja! Sudah, apa belum?” tanya mama martin penasaran.
“Ada deh... hahahaha.....” jawab Martin menyisakan tanda tanya besar di otak mamanya.
Esok hari, di SMA Balik Tanah...
“Gimana, Bro? Yei udah baikan?” tanya Kao cemas. Ia juga memegang dahi Martin.
“Apaan sih, Kao?! Aku ini sudah tak apa-apa! Oh iya, makasih ya sudah menolong aku di malam itu. Kalau tak ada kau, aku tak tahu bagaimana jadinya diriku,” jawab Martin sembari menonjok lirih bahu Kao.
“Okelah. Oh iya, jangan lupa bilang makasih juga sama siapa itu, bulu ketek!”
“Bulu ketek?”
“Iya! Dia rela lho ditimpukin anak-anak SMA Belatung demi mbelain yei!,”
Martin pun merasa betapa jahatnya ia karena malam itu ia tak menghiraukan Rose ketika jatuh, ia juga kemarin tidak menolong Rose setelah jatuh dari sepeda karena dirinya. Maka ia pun berlari menuju SMA Belatung.
Di sana ternyata sedang ramai-ramainya anak SMA Belatung yang mengejar Rose sembari meminta barang-barangnya dikembalikan.
“Aneh sekali mereka! Bukankah kemarin mereka yang melempariku dengan barang-barangnya?! Kenapa sekarang mereka menyerbuku?! Ini tak adil!” desah Rose lirih sembari berlari menjauh dari kelas, menuju gerbang sekolah.
Saat di gerbang sekolah, lagi-lagi ia menabrak Martin. Ia pun bersembunyi di balik punggung Martin.
“Woi! Ada apa ini?!”teriak Martin meredakan suasana di SMA Belatung.
“Hahaha....anak mama mencoba menyelamatkan bulu ketek! Balas budi nih ceritanya?!” ledek salah satu siswa SMA Belatung.
“Malam itu kan kalian yang nimpukin barang-barang kalian sendiri ke aku?! Kenapa sekarang kalian minta barang-barang itu kembali?!” teriak Rose mencoba membela diri.
“Kemarin itu kami cuma meluapkan amarah kami! Bukan berniat ngasih barang-barang itu ke kamu!” balas siswa lain.
Martin pun menarik tangan Rose menjauh dari kerumunan. Ia membawa Rose ke bukit belakang SMA Belatung.
“Huh huh, makasih ya, Tir! Kalo ngga ada kamu, pasti sekarang aku udah jadi dendeng babi!” ucap Rose pada Martin dengan nafas yang tinggal beberapa mililiter. Ia harus menarik nafas panjang untuk mengisi pasokan paru-parunya lagi.
“Makasih juga ya, Tek! Kalo malam minggu kemarin kamu ngga nolong aku, pasti aku akan lebih gila dari kemarin!” balas Martin dengan senyum yang lebar. Mereka pun tertawa bersama melepas rasa lelah.
Rose pun memandangi wajah Martin cukup lama. Kemudian ia berujar, “Kalo diliat-liat, kamu ini mirip Pouni ya?!”
“Pouni? Pouni siapa?” tanya Martin dengan tatapan bingung.
“Mau tau? Liat itu!” jawab Rose  sembari menunjuk jauh seekor babi putih yang berbeda dari semua babi yang ada di sekitarnya.
“Mana?” tanya Martin celingak-celinguk mencari arah yang ditunjuk ujung jari telunjuk Rose.
“Itu! yang kulitnya putih dan paling bersih diantara yang lain!” jawab Rose seraya mengarahkan kepala Martin ke arah objek yang ia maksud.
“Apa?! Kemarin kamu bilang aku ini petir gila dan edan. Sekarang? Kau menyamakan aku dengan seekor babi?! Wah, parah!” tanggap Martin dengan mata melotot. Ia juga menyingsingkan lengan bajunya setinggi yang ia mampu.
“Eh, jangan salah! Pouni itu lucu, imut, paling bersih, dan dia adalah babi yang paling aku sayang!”
“Jadi maksud kamu......aku lucu, imut, dan aku adalah orang yang paling kau sayang?” tanya Martin dengan mengerlingkan matanya.
“Hahaha... Apaan sih! Aku kan cuma bilang kalo kamu itu mirip sama Pouni. Bukan berarti kamu adalah orang yang paling aku sayang!” elak Rose gelagapan.
“Ah, mengaku saja!” goda Martin sambil menyenggol bahu Rose.
“Tidak mau!” jawab Rose ketus.
“Ayolah,” pinta Martin sekali lagi.
“Tak akan pernah!” jawab Rose yang lagi-lagi ketus.
“Dasar!” umpat Martin yang menyerah memaksa Rose.
 “Eh Bulu Ketek,” panggil Martin
“Hm?”
“Dari mana kamu belajar  mencuri?”
“Aku ini bukan pencuri!”
“Tapi kok kamu ngambilin barang-barangnya anak SMA Belatung sih?”
“Ya kan mereka yang nglemparin ke aku! Itu berarti kan secara ngga langsung mereka udah merelakan barang mereka buat aku,”
“Tapi kamu udah terlanjur jadi pencuri! Pencuri.....hatiku...”
“Apaan sih! Ngga lucu tau!”
“Dasar bulu ketek ngga punya selera humor!”
“Biarin! Aku kan seriously girl!”
“Oke, will you be my partner in my life?”
“No! I won’t be your life partner!”
“Why?
“Because.... I will become your last love forever! Baik di kehidupan dunia, dan alam selanjutnya!”
Tiba-tiba... jederrr!!!! Suara petir kembali hadir. Namun anehnya, Martin bersikap biasa saja! Ia bahkan tidak menangis dan berkeringat dingin!
“Petir.... Kamu sembuh!”

“Oh ya?! Yes! Akhirnya.... Ternyata hanya cinta yang mampu sembuhkan aku!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar