Serba-Serbi Kehidupan Sastra

Terima kasih telah mengunjungi blog ini

Rabu, 11 September 2013

Hidup dan Mati adalah Satu


Oleh: Mita Putri Indrayanti

“Hidupku tak selancar air sungai yang mengikuti arus. Tetapi hidupku bagai air hujan yang selalu terhalangi oleh atap dan dedaunan saat hendak menyentuh tanah. Walau begitu, aku tetap bersyukur atas kesederhanaan hidup ini,” desah seorang anak jalanan yang kini duduk di gagang jembatan menghadap sungai kumuh nan lebar. Tangan kanannya memegang kain goni berisikan barang-barang bekas untuk dijual. Masih lekat dalam memorinya akan kenangan masa lalu indah bersama sahabat terkasihnya yang juga bergenre laki-laki.
6 Tahun silam. Seikat hubungan persahabatan antara anak jalanan dengan anak pejabat negara terikat dengan warna-warni kebersamaan. Status dan derajat sosial tak menyurutkan kedekatan mereka. Anak jalanan yang hidup di tepi sungai kumuh bersama Emaknya itu bernama Junet. Sedangkan anak pejabat yang hidup sempurna bersama kedua orang tuanya yang dikelilingi kemewahan itu bernama Bily.
Suatu sore, Junet ingin memperkenalkan Bily pada Emaknya. Di sepanjang sungai, mereka saling beradu pikiran, mengutarakan pendapat.
“Jun, lingkungan ini kotor sekali! Kenapa kau tak pindah dan mencari tempat yang lebih baik? Lagipula kalau kau tinggal disini, pasti akan merusak pemandangan kota. Dan yang paling kutakutkan, lahan ini bisa saja digusur! Karena ini lahan negara,” pendapat Bily yang diungkapkan dengan mimik prihatin.
Junet yang mendengar pendapat Bily kontan tertawa lepas. Ia tak memasukkan hati perkataan Bily dan menganggap itu adalah pendapat tanpa mempertimbangkan berapa persen masyarakat miskin sepertinya dapat dengan mudah mencari tempat yang bersih dan nyaman untuk bernaung.
“Hahaha.. Jika aku punya uang seratus ribuan sekarung ini, pasti sudah aku lakukan itu sedari dulu. Tapi apakah kau tau, masyarakat miskin seperti kami ini sudah sangat bersyukur mempunyai tempat untuk bernaung. Ya walaupun kotor dan kumuh seperti ini. Lagipula bagi kami, pindah ke tempat lain yang lebih bersih dan nyaman itu sama sulitnya dengan mencari jarum dalam jerami,” jawab Junet santai sambil menunjuk karung dari kain goni yang berisi barang-barang bekas.
Bilypun terdiam mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Rasa takjub dan bangga ia persembahkan untuk Junet. Walau selama ini Junet menderita karena keadaan ekonomi yang terpuruk, ia tetap bersyukur dan selalu menampakkan wajah cerianya.
Melihat kawan karibnya tak menanggapi, Junetpun menambahkan dengan beberapa kalimat, “Bahkan aku pernah berpikir kalau hidup di penjara akan jauh lebih baik daripada hidup seperti ini.”
Mendengar pengakuan tersebut, Bily yang berwajah tampan dan mengenakan seragam SMA seketika itu pula menghentikan langkahnya. Junet terus berjalan tanpa menyadari sahabat karibnya menghentikan langkahnya dan meneteskan air mata.
“Tinggallah bersamaku! Kau akan menjadi saudaraku dan kita akan hidup bahagia di rumahku. Kau bisa sekolah, dan kau tak perlu membanting tulang seperti ini,” seru Bily yang masih menangis.
Junet menghentikan langkahnya. Ia tak berani membalikkan badan untuk menatap sahabatnya itu. Junet kini tau betapa besar rasa sayang yang Bily berikan padanya. Selama ini Bily selalu menemaninya dan tak pernah malu berdekatan dengannya.
Junet ikut menangis mendengar ucapan tulus sahabatnya itu. Namun ia menutupinya dengan tidak membalikkan badan dan menjawab tenang dengan candaannya yang khas, “Sudah berapa kali aku bilang, aku ngga bisa! Kau kan tau, aku ini bercita-cita menjadi presiden. Karena itu aku hidup di lingkungan serba kemiskinan dulu, baru aku akan mengangkat derajat mereka suatu hari nanti.”
Junet melangkahkan kembali kakinya. Namun baru dua langkah, ia berhenti lagi karena mendengar seruan Bily, ”Bagaimana bisa kau menjadi presiden kalau kau tak pernah mengenyam bangku sekolah?”
Bily yang tak ingin melihat sahabatnya menderita lagi menarik paksa tangan kanan Junet yang tengah memegang kain goni berisi barang bekas. Namun dengan tegas Junet menampis tangan Bily dan meninju wajah Bily.
“OK, aku memang tak akan pernah menjadi presiden karena aku tak pernah sekolah! Aku tau itu! Tapi aku benar-benar tak bisa hidup denganmu! Kalau aku ikut denganmu, bagaimana dengan emak?! Aku ini tulang punggung keluarga,” bentak Junet kasar sembari memegang kerah seragam Bily. Walau ia bersikap demikian, tapi air matanya terus mengalir.
“Kau bisa mengunjungi emak kapan pun kau mau. Kau juga bisa membawakannya makanan enak, uang, pakaian, dan kalau kau sukses kelak, kau bisa membahagiakan emak,” bujuk Bily dengan berlinaang air mata pula.
Buk! Junet kembali meninju wajah Bily hingga Bily terjerembab ke tanah. “Kau pikir emak gila harta?! Ha?! Di usianya yang sudah lanjut, beliau hanya perlu kasih sayang! Beliau membutuhkanku untuk merawatnya! Lagipula, aku tak akan menerima apapun tanpa bekerja! Paham?!”
Sejujurnya Junet tak menginginkan hal ini. Baru kali ini ia bertengkar dengan Bily. Namun seberapa dekat dan sayangnya pada sahabat sedari kecilnya itu, ia akan tetap memilih untuk tinggal bersama emak. Susah, senang, ia akan lalui bersama dengan emak. Ya walau niat Bily baik, tapi ia merasa Bily telah meremehkan emak.
Polisipun datang dan memisahkan mereka. Malang menghampiri Junet. Polisi memborgolnya dan hendak membawanya ke kantor polisi walau Bily telah melarangnya. Emak datang mendekati putranya sambil menangis dan emosi yang meledak.
“Junet...! Kau mau kemana? Pak polisi! Mau dibawa kemana anakku ini! Ha,” ucap emak tak terkontrol. Ternyata emak Junet memiliki kelainan pada syaraf otaknya. Emak Junet agak gila. Walau demikian, beliau tetap menyayangi anak semata wayangnya sepenuh hati.
“Maaf, Bu! Anak Ibu telah menganiaya Bily, putra pejabat negara. Jadi kami harus menahannya,” jawab polisi tegas. Dan memegang tangan Junet yang diborgol.
“Siapa bilang dia menganiaya saya?! Lepaskan dia! Dia tidak bersalah,” bela Bily.
Emak Junet semakin tak terkendali. Beliau memukul-mukul polisi, meminta agar anaknya dibebaskan.
Ide baru melintas di otak Junet, “Selama ini Bily sangat baik padaku. Karena aku, dia jadi rela ikut susah. Aku merasa aku bukan sahabat yang baik untuknya. Alangkah baiknya sekarang juga aku menghilang dari kehidupannya,” pikir Junet dalam hati
“Pak polisi, memang saya yang salah. Sebenarnya saya muak dengannya! Dia sudah hidup sempurna, tapi dia selalu mendekati saya. Hal itu membuat saya iri, dan saya sudah berniat akan membunuhnya saat dia berulang tahun ke-17,” bohong Junet.
“Bohong! Kenapa kau bohong?! Ini akan memberatkan hukumanmu! Bagaimana dengan emak kalau kau dipenjara,” ela Bily
“Aku tak bohong! Ini alasannya kenapa aku selalu menolak tinggal di rumahmu! Karena aku dapat dicurigai jika kau mati terbunuh di usiamu yang ke-17,” lanjut Junet.
Bily mulai emosi. Ia termakan kata-kata Junet. Bily memukul wajah Junet kasar. Junet yang rela berbohong demi kebahagiaan sahabatnya hanya pasrah. Pikirannya kini kacau. Jika ia dipenjara, bagaimana nasib emak nanti?
Setelah memukul sahabatnya, Bily tersenyum sinis. Ia pun berkata, “Selamat tinggal, MANTAN SAHABATku! Selamat mendekam di penjara! Penghianatan ini akan kuingat selamanya! Dan emakmu yang setengah gila ini pasti sebentar lagi mati karena meratapi dirimu yang masuk sel tahanan!”
“Aku senang melihatmu tersenyum. Walau itu hanyalah senyuman sinis. Teruslah tersenyum, senyum yang simetris. Suatu saat nanti, aku berharap dapat melihatmu tersenyum penuh arti dan kebahagiaan. Walau kebahagiaan itu kau dapat bukan bersamaku. Maaf kini aku telah melukai hatimu. Bayangan matamu tak dapat menyembunyikan lara di hatimu. Tolong maafkan aku! Tapi ini semua demi kebahagiaanmu,” ungkap Junet dalam hati sembari memandang sahabatnya yang melangkah semakin jauh darinya.
Emak semakin histeris, meminta agar Junet tak diletakkan di bui. Jikalau Junet tetap harus ditahan, maka ia harus ikut tinggal di bui. Karena semakin histeris, polisipun membawa emak Junet ke kantor polisi.
Hukuman telah ditentukan, dan Junet ditetapkan sebagai tersangka dengan hukuman 5 tahun penjara. Karena emak agak gila, polisi dan Junet telah sepakat menitipkan emak ke rumah sakit jiwa hingga Junet bebas dari masa tahanan.
Ternyata cobaan masih ingin berdekatan dengan Junet. Baru satu minggu dititipkan di Rumah Sakit Jiwa, emak Junet bunuh diri dan akhirnya meninggal. Kini ia sendiri dan sebatang kara.
Junet yang sangat sedih dan trauma, mendapat hadiah sebuah MP3 dari polisi wanita yang baik hati. Awalnya Junet tak mengerti bagaimana cara menggunakannya. Namun dengan bimbingan polisi wanita itu, kini ia dapat memakainya. Salah satu lagu favoritnya adalah lagu dari Mariah Carey dengan judul Without You. Walau tak pernah menjajal bangku sekolah, tapi Junet telah belajar banyak dari Bily. Termasuk pelajaran bahasa inggris.
No, I can’t forget this evening.. Or your face as you were leaving 
But I guess that’s just the way this story goes,
You always smile....
But in you eyes your sorrow shows 
Yes it shows
No I can’t forget tomorrow 
When I think of all my sorrows 
When I had you there but then I let you go
And now it’s only fair that I should let you know
What you should know
Junet dengan suara merdunya mulai menyanyikan lagu favoritnya di gagang jembatan menghadap sungai kumuh nan lebar. walau penyanyinya perempuan, namun lagu itu tetap menjadi kesukaannya. Lagu itu begitu menggambarkan kisah persahabatannya yang hancur 6 tahun silam.
6 tahun sudah, Junet tak pernah melihat dan mendengar kabar dari Bily. Mungkin karena 5 tahun ia habiskan di penjara, sehingga tak dapat mencari kabar tentang Bily.
“Aku tidak dapat melupakan sore itu, ataupun wajahmu yang perlahan meninggakanku. Tapi aku menganggap inilah cara yang tepat agar kisah sedih Bily berganti menjadi kisah bahagia. Kamu tersenyum, namun matamu menggambarkan luka yang mendalam. Aku selalu berpikir, berangan-angan untuk memberi tahumu hal yang sebenarnya,” kata Bily mencoba mencari inti dari lagu favoritnya.
“I can’t live 
If living is without you 
I can’t live 
I can’t give anymore......
Junet kembali melanjutkan senandungnya yang ia persembahkan untuk sahabat yang selamanya akan menjadi sahabat. Namun senandungnya terhenti karena ia terbatuk. Karena batuknya yang janggal dan menyebabkan rasa sakit di dada, Junet memutuskan untuk turun dari gagang jembatan, dan berlari ke toilet umum di pom bensin sambil terus batuk dan menutupi mulutnya. Saat di depan wastafel dan cermin, Junet masih terus terbatuk. Merasa ada zat cair di tangannya, Junet menjauhkan tangannya dari mulutnya. Betapa terkejutnya ia saat melihat banyak darah di telapak tangannya dan jari-jarinya. Sesegera mungkin Junet membasuh tangannya dengan air yang mengalir lewat kran.
Seorang dokter masuk ke toilet umum dan melihat Junet terbatuk dengan mulut terus mengeluarkan darah. Merasa kasihan, dokterpun mendekati Junet.
“Anda baik-baik saja?” tanya dokter perhatian pada Junet. Dokter tampan yang seumuran dengan Junet merasa mengenal wajah lelaki yang dihadapannya.
Merasa malu karena ketahuan orang lain, Junet segera menahan batuknya dan membasuh mulutnya dengan air hingga bersih. Setelah dirasa bersih, Junet memandang mulutnya lewat kaca. Ia juga melihat sepintas wajah dokter itu lewat kaca.
“Wajah itu.....wajah milik Bily! Ya, tak salah lagi, itu Bily! Tak disangka kita dapat berjumpa lagi,” kata hati Junet senang. Namun Junet berharap kali ini Bily lupa dengan dirinya karena ia belum siap untuk membuka rahasianya selama ini berkaitan kebohongannya tentang rencana pembunuhan itu.
“Mas, sepertinya Anda kurang sehat! Mari ikut saya ke Rumah Sakit,” ajak dokter yang ternyata memang itu Bily dengan tulus.
Junet tak bergerak dari tempatnya. Maka Bily mengira bahwa Junet tak mau ikut dengannya karena kondisi ekonomi. Karena memang penampilan Junet seperti gelandangan.
“Mas tenang saja! Soal biaya, nanti saya yang bayar. Yang terpenting, Mas dapat sehat kembali,” ujar Bily meyakinkan dengan tulus. Kini ia mulai ingat akan garis wajah pria berpenampilan awut-awutan yang ada di hadapannya kini.
“Oh, Tuhan! Garis wajah itu....,” pekik Bily dalam hati. Ia tak dapat memungkiri perasaannya bahwa ia sangat merindukan sahabat kecilnya yang telah menghianatinya. Hati kecilnya terus memaksanya untuk membuka mulut dan menggetarkan pita suaranya untuk menanyakan apakah pria di hadapannya kini adalah Junet. Namun ternyata otaknya yang menerima perintah dari hati tak dapat mengabulkan. Otaknya menolak untuk melakukan hal itu, dan masih belum bisa memaafkan Junet.
Junet masih termenung menatap wajah pria yang ia yakini wajah Bily, sahabat yang selalu menjadi sahabat di hatinya. Junet mencoba membuka mulut dan menanyakan kebenaran itu langsung kepada orangnya.
“Terima kasih sekali, Dok! Hati dokter sangat mulia. Anda mengingatkan saya kepada teman kecil saya yang sudah lama tak berjumpa. Mmmm...Kalau boleh tau, Dokter bernama siapa ya?” tanya Junet akhirnya walau dengan suara bergetar.
“Sahabat kecil? Jangan-jangan dia benar Junet,” tanya hati Bily yang tak dilontarkan lewat mulut. Sedikit rasa senang mampir di hati Bily. Namun sebagian kecil hatinya masih belum bisa menerima pengakuan Junet 6 tahun silam.
“Oh ya? Nama saya Bily, Bily Rape Ismawan. Anda?” jawab Bily seadanya untuk menutupi kegugupannya. Bily mulai berpikir untuk memaafkan Junet dan kembali bersahabat baik seperti sediakala.
Junet senang setelah mendengar kenyataan bahwa pria yang kini di hadapannya memang benar Bily. Air mata rasanya ingin menetes sekarang juga. Namun semua perasaan bahagia Junet segera buyar saat ia kembali terbatuk dan mengeluarkan darah.
Bily yang turut khawatir melihat pria di hadapannya segera menarik paksa pria itu tanpa sempat mendengar jawaban darinya. Junetpun mengikuti sahabat ciliknya itu menuju mobil dan melaju menuju Rumah Sakit.
Junet segera mendapat pertolongan dari Bily. Tindakan yang dipenuhi kasih sayang itu dapat meringankan rasa sakit dan sesak di dada Junet. Bily melakukan foto ronsen dan tes darah terhadap pasiennya untuk mengetahui secara pasti penyakit yang diderita. Bily tampak terkejut melihat hasilnya. Ternyata pasiennya itu menderita kanker paru-paru akut, dan kini telah memasuki stadium akhir.
Dengan langkah lunglai, Bily menuju kamar Junet. Dengan berat hati, Bily menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Junet bingung. “Mas, apakah Anda pecandu rokok atau minuman keras?”
Junet menjawab dengan pasti kalau dia tak pernah mengonsumsi rokok ataupun minuman keras. Rasa takut tiba-tiba menghampiri setelah Bily bertanya demikian. Apalagi melihat kondisi Bily yang tak bersemangat. Rasa takut akan penyakit keras telah hinggap di tubuhnya kian memenuhi otak setelah Bily bertanya apakah Junet mempunyai sanak saudara atau orang tua yang mengidap penyakit kanker.
“Ya, Bapak saya meninggal karena kanker paru-paru. Apakah....saya menderita penyakit kanker juga, Dok,” jawab Junet dengan was-was.
“Maaf, dengan berat hati harus saya sampaikan bahwa ternyata Ayah Anda mewariskan penyakitnya kepada Anda. Anda positif mengidap penyakit kanker,” kata Bily dengan sedih. Entah mengapa ia dapat merasakan apa yang pasiennya itu rasakan. Bily merasa ia sudah sangat dekat dengan pasiennya.
Sementara, Junet sangat terpuruk setelah mendengar kenyataan bahwa ia positif mengidap kanker. Walau sedih, ia tetap tersenyum tipis, dengan harapan dapat mengurangi rasa sedih dan lara di hatinya.
“Baiklah, saya akan mendaftarkan Anda sebagai pasien butuh donor paru-paru. Karena keadaan Anda sudah sangat parah dan itu mengharuskan Anda untuk operasi. Sementara untuk operasi itu dibutuhkan seseorang yang rela memberikan paru-parunya untuk Anda. Untuk sementara waktu, Anda akan kami kemoterapi setiap 3 bulan sekali. Anda tidak perlu membingungkan biaya. Karena semuanya saya yang akan tanggung. Maaf, siapa nama Anda,” papar Bily sambil memegang kertas, tatakan kertas, dan juga pulpen
Junet bimbang apakah akan memberikan identitas aslinya kalau dia itu Junet. Tapi kalau itu ia lakukan, sahabatnya itu pasti akan bertambah sedih. Sekarang saja sebelum Bily tau kalau ia adalah Junet, ia sudah terlihat sedih dan tak bersemangat.
“Kamaludin,” dusta Junet. Ia memutuskan untuk tidak memberitahu Bily sekarang. Ia takut melihat sahabatnya bersedih lagi.
Sementara itu, Bily kecewa saat pasiennya itu mengucapkan namanya yang ternyata bukan Junet. Namun entah mengapa Bily masih tetap yakin kalau pasien di hadapannya ini adalah Junet. Bilypun melontarkan pertanyaan-pertanyaan lain yang berkaitan dengan penyakit Junet. Setelah itu, Bily minta undur diri dan pergi meninggalkan Junet sendiri.
Junet kini tak dapat menahan air matanya. Ia menangis dalam diam dan memutuskan untuk memberitahu Bily lewat sehelai kertas, kemudian ia akan pergi dari kehidupan Bily untuk selamanya. Tak lupa ia tinggalkan mp3 pemberian polwan waktu itu yang berisi lagunya Mariah Carey dengan judul Without You.
Untuk Bily,
Bily, ini aku Junet. Sebelumnya aku minta maaf karena sudah bohong tadi. Ya, aku Junet, bukan Kamaludin.
Bily, aku ingin mengatakan bahwa aku sayang padamu melebihi nyawaku. Kau adalah sahabat terbaikku. Hidupku sangat berat ketika aku harus melaluinya tanpa kehadiranmu.
Aku minta maaf karena 6 tahun lalu telah membuat persahabatan kita hancur. Jujur, saat itu aku berbohong saat aku mengatakan aku ingin membunuhmu. Mana ada sahabat sejati yang mau membunuh sahabatnya sendiri? Tapi aku rela berbohong dan dipenjara agar hidupmu tak terus-terusan terbebani oleh kemiskinanku. Agar hidupmu jauh dari air mata. Maaf, aku tak bisa memberi sesuatu yang berharga untukmu.
Kini kau telah mengetahui kalau aku sakit, dan tak mungkin bertahan lama. Aku tak mau kau menangisi kematianku. Maka dari itu, aku akan pergi dari hidupmu sekarang juga.
Nb: Oh, iya, ini ada mp3 dan isinya lagu favoritku. Coba dengarkan ya! Lagunya menggambarkan persahabatan kita yang hancur 6 tahun yang lalu
Ttd,
 




Junet Rohmawan,
Sahabat yang selamanya menjadi sahabat
Siangnya Bily kembali ke ruang inap Junet. Namun ia tak menemukan Junet, dan menemukan surat di meja pasien. Setelah membaca, betapa terkejutnya ia setelah mengetahui kenyataan yang ada.
Bily kembali menitikkan air mata setelah sekian lama ia menutup kenangannya bersama Junet dan menganggap Junet penghianat. Kini ia merasa bersalah. Sesegera mungkin Bily ke luar dan berharap ia masih punya waktu untuk meminta maaf dan menebus penderitaan yang telah ia kirim untuk Junet.
Junet sedang berjalan menuju makam emak. Ia menitikkan air mata dengan wajah yang sangat pucat. Ia meminta maaf atas semua khilafnya dulu, dan ia juga menceritakan tentang penyakitnya.
“Emak, Junet minta maaf atas kesalahan Junet selama ini. Maafkan juga karena Junet belum bisa membahagiakan emak. Emak, ternyata Junet sakit kanker, sama seperti Bapak. Mungkin sebentar lagi Junet akan menyusul Emak dan Bapak. Kita akan segera bertemu kembali, dan bahagia bersama disana.”
Ternyata perkataan itu merupakan perkataan terakhir Junet, hingga akhirnya ia memejamkan mata di sisi makam emaknya dengan senyuman indah.
Tubuh Junet itu ditemukan oleh penjaga kubur yang kemudian membawanya ke Rumah Sakit tempat Bily bekerja. Saat itu Bily tengah berjalan setengah berlari untuk mencari Junet. Dan akhirnya ia menemukan Junet yang sedang didorong di atas kereta dorong. Ia pun mengikuti tubuh Junet yang tergolek lemah dengan senyuman.
Sambil menunggu rekannya memeriksa keadaan Junet, Bily terus meneteskan air mata di depan ruangan. Ia mendengarkan lagu favorit Junet lewat headset, dan terus membaca surat Junet.
“Junet, bertahanlah! Kalau perlu, aku yang akan menggantikanmu memikul penderitaanmu,” desis Junet Lirih.
Ternyata Junet tak dapat tertolong lagi. Ia sudah pergi jauh, ke alam yang berbeda.
Saat dokter keluar hendak mengabarkan kematian Junet pada Bily, ia menemukan tubuh Bily dalam keadaan yang mengenaskan. Sebilah pisau menancap di perutnya, yang membuat darah segar terus mengalir. Sehelai kertas tiba-tiba terjatuh dari genggamannya.

Tolong selamatkan Junet! Berikan paru-paruku ini pada Junet! Soal biaya, ambillah kartu ATM yang ada di dompetku, di saku celana. Dan setelah ia sembuh, tolong katakan padanya kalau aku minta maaf karena selama ini aku bersalah padanya. Aku bukan sahabat yang baik. I love you, best friend!
Bily Rape Ismawan
Akhirnya, pada hari yang sama, Junet dan Bily bersama-sama kembali ke hadapan sang maha kuasa. Mereka melanjutkan persahabatan mereka di alam yang berbeda, yang tentunya lebih kekal dan abadi.


TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar