Hidup dan Mati adalah Satu
Oleh: Mita Putri Indrayanti
“Hidupku tak selancar
air sungai yang mengikuti arus. Tetapi hidupku bagai air hujan yang selalu
terhalangi oleh atap dan dedaunan saat hendak menyentuh tanah. Walau begitu,
aku tetap bersyukur atas kesederhanaan hidup ini,” desah seorang anak jalanan
yang kini duduk di gagang jembatan menghadap sungai kumuh nan lebar. Tangan
kanannya memegang kain goni berisikan barang-barang bekas untuk dijual. Masih
lekat dalam memorinya akan kenangan masa lalu indah bersama sahabat terkasihnya
yang juga bergenre laki-laki.
6 Tahun silam. Seikat
hubungan persahabatan antara anak jalanan dengan anak pejabat negara terikat
dengan warna-warni kebersamaan. Status dan derajat sosial tak menyurutkan kedekatan
mereka. Anak jalanan yang hidup di tepi sungai kumuh bersama Emaknya itu bernama
Junet. Sedangkan anak pejabat yang hidup sempurna bersama kedua orang tuanya
yang dikelilingi kemewahan itu bernama Bily.
Suatu sore, Junet ingin
memperkenalkan Bily pada Emaknya. Di sepanjang sungai, mereka saling beradu
pikiran, mengutarakan pendapat.
“Jun, lingkungan ini
kotor sekali! Kenapa kau tak pindah dan mencari tempat yang lebih baik?
Lagipula kalau kau tinggal disini, pasti akan merusak pemandangan kota. Dan
yang paling kutakutkan, lahan ini bisa saja digusur! Karena ini lahan negara,” pendapat
Bily yang diungkapkan dengan mimik prihatin.
Junet yang mendengar
pendapat Bily kontan tertawa lepas. Ia tak memasukkan hati perkataan Bily dan
menganggap itu adalah pendapat tanpa mempertimbangkan berapa persen masyarakat
miskin sepertinya dapat dengan mudah mencari tempat yang bersih dan nyaman
untuk bernaung.
“Hahaha.. Jika aku punya
uang seratus ribuan sekarung ini, pasti sudah aku lakukan itu sedari dulu. Tapi
apakah kau tau, masyarakat miskin seperti kami ini sudah sangat bersyukur mempunyai
tempat untuk bernaung. Ya walaupun kotor dan kumuh seperti ini. Lagipula bagi
kami, pindah ke tempat lain yang lebih bersih dan nyaman itu sama sulitnya
dengan mencari jarum dalam jerami,” jawab Junet santai sambil menunjuk karung
dari kain goni yang berisi barang-barang bekas.
Bilypun terdiam
mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Rasa takjub dan bangga ia persembahkan
untuk Junet. Walau selama ini Junet menderita karena keadaan ekonomi yang
terpuruk, ia tetap bersyukur dan selalu menampakkan wajah cerianya.
Melihat kawan karibnya
tak menanggapi, Junetpun menambahkan dengan beberapa kalimat, “Bahkan aku
pernah berpikir kalau hidup di penjara akan jauh lebih baik daripada hidup
seperti ini.”
Mendengar pengakuan
tersebut, Bily yang berwajah tampan dan mengenakan seragam SMA seketika itu
pula menghentikan langkahnya. Junet terus berjalan tanpa menyadari sahabat
karibnya menghentikan langkahnya dan meneteskan air mata.
“Tinggallah bersamaku!
Kau akan menjadi saudaraku dan kita akan hidup bahagia di rumahku. Kau bisa
sekolah, dan kau tak perlu membanting tulang seperti ini,” seru Bily yang masih
menangis.
Junet menghentikan
langkahnya. Ia tak berani membalikkan badan untuk menatap sahabatnya itu. Junet
kini tau betapa besar rasa sayang yang Bily berikan padanya. Selama ini Bily
selalu menemaninya dan tak pernah malu berdekatan dengannya.
Junet ikut menangis
mendengar ucapan tulus sahabatnya itu. Namun ia menutupinya dengan tidak
membalikkan badan dan menjawab tenang dengan candaannya yang khas, “Sudah
berapa kali aku bilang, aku ngga bisa! Kau kan tau, aku ini bercita-cita
menjadi presiden. Karena itu aku hidup di lingkungan serba kemiskinan dulu,
baru aku akan mengangkat derajat mereka suatu hari nanti.”
Junet melangkahkan
kembali kakinya. Namun baru dua langkah, ia berhenti lagi karena mendengar
seruan Bily, ”Bagaimana bisa kau menjadi presiden kalau kau tak pernah
mengenyam bangku sekolah?”
Bily yang tak ingin melihat
sahabatnya menderita lagi menarik paksa tangan kanan Junet yang tengah memegang
kain goni berisi barang bekas. Namun dengan tegas Junet menampis tangan Bily
dan meninju wajah Bily.
“OK, aku memang tak akan
pernah menjadi presiden karena aku tak pernah sekolah! Aku tau itu! Tapi aku benar-benar
tak bisa hidup denganmu! Kalau aku ikut denganmu, bagaimana dengan emak?! Aku
ini tulang punggung keluarga,” bentak Junet kasar sembari memegang kerah
seragam Bily. Walau ia bersikap demikian, tapi air matanya terus mengalir.
“Kau bisa mengunjungi
emak kapan pun kau mau. Kau juga bisa membawakannya makanan enak, uang,
pakaian, dan kalau kau sukses kelak, kau bisa membahagiakan emak,” bujuk Bily
dengan berlinaang air mata pula.
Buk! Junet kembali
meninju wajah Bily hingga Bily terjerembab ke tanah. “Kau pikir emak gila
harta?! Ha?! Di usianya yang sudah lanjut, beliau hanya perlu kasih sayang!
Beliau membutuhkanku untuk merawatnya! Lagipula, aku tak akan menerima apapun
tanpa bekerja! Paham?!”
Sejujurnya Junet tak
menginginkan hal ini. Baru kali ini ia bertengkar dengan Bily. Namun seberapa
dekat dan sayangnya pada sahabat sedari kecilnya itu, ia akan tetap memilih
untuk tinggal bersama emak. Susah, senang, ia akan lalui bersama dengan emak.
Ya walau niat Bily baik, tapi ia merasa Bily telah meremehkan emak.
Polisipun datang dan
memisahkan mereka. Malang menghampiri Junet. Polisi memborgolnya dan hendak
membawanya ke kantor polisi walau Bily telah melarangnya. Emak datang mendekati
putranya sambil menangis dan emosi yang meledak.
“Junet...! Kau mau kemana?
Pak polisi! Mau dibawa kemana anakku ini! Ha,” ucap emak tak terkontrol.
Ternyata emak Junet memiliki kelainan pada syaraf otaknya. Emak Junet agak
gila. Walau demikian, beliau tetap menyayangi anak semata wayangnya sepenuh
hati.
“Maaf, Bu! Anak Ibu telah
menganiaya Bily, putra pejabat negara. Jadi kami harus menahannya,” jawab
polisi tegas. Dan memegang tangan Junet yang diborgol.
“Siapa bilang dia
menganiaya saya?! Lepaskan dia! Dia tidak bersalah,” bela Bily.
Emak Junet semakin tak
terkendali. Beliau memukul-mukul polisi, meminta agar anaknya dibebaskan.
Ide baru melintas di
otak Junet, “Selama ini Bily sangat baik padaku. Karena aku, dia jadi rela ikut
susah. Aku merasa aku bukan sahabat yang baik untuknya. Alangkah baiknya sekarang
juga aku menghilang dari kehidupannya,” pikir Junet dalam hati
“Pak polisi, memang saya
yang salah. Sebenarnya saya muak dengannya! Dia sudah hidup sempurna, tapi dia
selalu mendekati saya. Hal itu membuat saya iri, dan saya sudah berniat akan
membunuhnya saat dia berulang tahun ke-17,” bohong Junet.
“Bohong! Kenapa kau
bohong?! Ini akan memberatkan hukumanmu! Bagaimana dengan emak kalau kau
dipenjara,” ela Bily
“Aku tak bohong! Ini
alasannya kenapa aku selalu menolak tinggal di rumahmu! Karena aku dapat
dicurigai jika kau mati terbunuh di usiamu yang ke-17,” lanjut Junet.
Bily mulai emosi. Ia
termakan kata-kata Junet. Bily memukul wajah Junet kasar. Junet yang rela
berbohong demi kebahagiaan sahabatnya hanya pasrah. Pikirannya kini kacau. Jika
ia dipenjara, bagaimana nasib emak nanti?
Setelah memukul
sahabatnya, Bily tersenyum sinis. Ia pun berkata, “Selamat tinggal, MANTAN
SAHABATku! Selamat mendekam di penjara! Penghianatan ini akan kuingat
selamanya! Dan emakmu yang setengah gila ini pasti sebentar lagi mati karena
meratapi dirimu yang masuk sel tahanan!”
“Aku senang melihatmu
tersenyum. Walau itu hanyalah senyuman sinis. Teruslah tersenyum, senyum yang
simetris. Suatu saat nanti, aku berharap dapat melihatmu tersenyum penuh arti
dan kebahagiaan. Walau kebahagiaan itu kau dapat bukan bersamaku. Maaf kini aku
telah melukai hatimu. Bayangan matamu tak dapat menyembunyikan lara di hatimu.
Tolong maafkan aku! Tapi ini semua demi kebahagiaanmu,” ungkap Junet dalam hati
sembari memandang sahabatnya yang melangkah semakin jauh darinya.
Emak semakin histeris, meminta
agar Junet tak diletakkan di bui. Jikalau Junet tetap harus ditahan, maka ia
harus ikut tinggal di bui. Karena semakin histeris, polisipun membawa emak
Junet ke kantor polisi.
Hukuman telah
ditentukan, dan Junet ditetapkan sebagai tersangka dengan hukuman 5 tahun
penjara. Karena emak agak gila, polisi dan Junet telah sepakat menitipkan emak
ke rumah sakit jiwa hingga Junet bebas dari masa tahanan.
Ternyata cobaan masih
ingin berdekatan dengan Junet. Baru satu minggu dititipkan di Rumah Sakit Jiwa,
emak Junet bunuh diri dan akhirnya meninggal. Kini ia sendiri dan sebatang
kara.
Junet yang sangat sedih
dan trauma, mendapat hadiah sebuah MP3 dari polisi wanita yang baik hati.
Awalnya Junet tak mengerti bagaimana cara menggunakannya. Namun dengan
bimbingan polisi wanita itu, kini ia dapat memakainya. Salah satu lagu
favoritnya adalah lagu dari Mariah
Carey dengan judul Without You. Walau tak pernah menjajal bangku sekolah, tapi
Junet telah belajar banyak dari Bily. Termasuk pelajaran bahasa inggris.
“No, I
can’t forget this evening.. Or your face as you were leaving
But I guess that’s just the way this story goes,
You always smile....
But in you eyes your sorrow shows
Yes it shows
No I can’t forget tomorrow
When I think of all my sorrows
When I had you there but then I let you go
And now it’s only fair that I should let you know
What you should know”
But I guess that’s just the way this story goes,
You always smile....
But in you eyes your sorrow shows
Yes it shows
No I can’t forget tomorrow
When I think of all my sorrows
When I had you there but then I let you go
And now it’s only fair that I should let you know
What you should know”
Junet dengan suara
merdunya mulai menyanyikan lagu favoritnya di gagang jembatan menghadap sungai
kumuh nan lebar. walau penyanyinya perempuan, namun lagu itu tetap menjadi
kesukaannya. Lagu itu begitu menggambarkan kisah persahabatannya yang hancur 6
tahun silam.
6 tahun sudah, Junet tak
pernah melihat dan mendengar kabar dari Bily. Mungkin karena 5 tahun ia habiskan
di penjara, sehingga tak dapat mencari kabar tentang Bily.
“Aku tidak dapat
melupakan sore itu, ataupun wajahmu yang perlahan meninggakanku. Tapi aku
menganggap inilah cara yang tepat agar kisah sedih Bily berganti menjadi kisah
bahagia. Kamu tersenyum, namun matamu menggambarkan luka yang mendalam. Aku
selalu berpikir, berangan-angan untuk memberi tahumu hal yang sebenarnya,” kata
Bily mencoba mencari inti dari lagu favoritnya.
“I can’t
live
If living is without you
I can’t live
I can’t give anymore......”
If living is without you
I can’t live
I can’t give anymore......”
Junet
kembali melanjutkan senandungnya yang ia persembahkan untuk sahabat yang
selamanya akan menjadi sahabat. Namun senandungnya terhenti karena ia terbatuk.
Karena batuknya yang janggal dan menyebabkan rasa sakit di dada, Junet
memutuskan untuk turun dari gagang jembatan, dan berlari ke toilet umum di pom
bensin sambil terus batuk dan menutupi mulutnya. Saat di depan wastafel dan
cermin, Junet masih terus terbatuk. Merasa ada zat cair di tangannya, Junet
menjauhkan tangannya dari mulutnya. Betapa terkejutnya ia saat melihat banyak
darah di telapak tangannya dan jari-jarinya. Sesegera mungkin Junet membasuh
tangannya dengan air yang mengalir lewat kran.
Seorang
dokter masuk ke toilet umum dan melihat Junet terbatuk dengan mulut terus
mengeluarkan darah. Merasa kasihan, dokterpun mendekati Junet.
“Anda
baik-baik saja?” tanya dokter perhatian pada Junet. Dokter tampan yang seumuran
dengan Junet merasa mengenal wajah lelaki yang dihadapannya.
Merasa malu
karena ketahuan orang lain, Junet segera menahan batuknya dan membasuh mulutnya
dengan air hingga bersih. Setelah dirasa bersih, Junet memandang mulutnya lewat
kaca. Ia juga melihat sepintas wajah dokter itu lewat kaca.
“Wajah
itu.....wajah milik Bily! Ya, tak salah lagi, itu Bily! Tak disangka kita dapat
berjumpa lagi,” kata hati Junet senang. Namun Junet berharap kali ini Bily lupa
dengan dirinya karena ia belum siap untuk membuka rahasianya selama ini berkaitan
kebohongannya tentang rencana pembunuhan itu.
“Mas,
sepertinya Anda kurang sehat! Mari ikut saya ke Rumah Sakit,” ajak dokter yang
ternyata memang itu Bily dengan tulus.
Junet tak
bergerak dari tempatnya. Maka Bily mengira bahwa Junet tak mau ikut dengannya
karena kondisi ekonomi. Karena memang penampilan Junet seperti gelandangan.
“Mas tenang
saja! Soal biaya, nanti saya yang bayar. Yang terpenting, Mas dapat sehat
kembali,” ujar Bily meyakinkan dengan tulus. Kini ia mulai ingat akan garis
wajah pria berpenampilan awut-awutan yang ada di hadapannya kini.
“Oh, Tuhan! Garis
wajah itu....,” pekik Bily dalam hati. Ia tak dapat memungkiri perasaannya
bahwa ia sangat merindukan sahabat kecilnya yang telah menghianatinya. Hati
kecilnya terus memaksanya untuk membuka mulut dan menggetarkan pita suaranya
untuk menanyakan apakah pria di hadapannya kini adalah Junet. Namun ternyata
otaknya yang menerima perintah dari hati tak dapat mengabulkan. Otaknya menolak
untuk melakukan hal itu, dan masih belum bisa memaafkan Junet.
Junet masih
termenung menatap wajah pria yang ia yakini wajah Bily, sahabat yang selalu
menjadi sahabat di hatinya. Junet mencoba membuka mulut dan menanyakan
kebenaran itu langsung kepada orangnya.
“Terima
kasih sekali, Dok! Hati dokter sangat mulia. Anda mengingatkan saya kepada
teman kecil saya yang sudah lama tak berjumpa. Mmmm...Kalau boleh tau, Dokter
bernama siapa ya?” tanya Junet akhirnya walau dengan suara bergetar.
“Sahabat
kecil? Jangan-jangan dia benar Junet,” tanya hati Bily yang tak dilontarkan
lewat mulut. Sedikit rasa senang mampir di hati Bily. Namun sebagian kecil
hatinya masih belum bisa menerima pengakuan Junet 6 tahun silam.
“Oh ya? Nama
saya Bily, Bily Rape Ismawan. Anda?” jawab Bily seadanya untuk menutupi
kegugupannya. Bily mulai berpikir untuk memaafkan Junet dan kembali bersahabat
baik seperti sediakala.
Junet senang
setelah mendengar kenyataan bahwa pria yang kini di hadapannya memang benar
Bily. Air mata rasanya ingin menetes sekarang juga. Namun semua perasaan
bahagia Junet segera buyar saat ia kembali terbatuk dan mengeluarkan darah.
Bily yang
turut khawatir melihat pria di hadapannya segera menarik paksa pria itu tanpa
sempat mendengar jawaban darinya. Junetpun mengikuti sahabat ciliknya itu
menuju mobil dan melaju menuju Rumah Sakit.
Junet segera
mendapat pertolongan dari Bily. Tindakan yang dipenuhi kasih sayang itu dapat
meringankan rasa sakit dan sesak di dada Junet. Bily melakukan foto ronsen dan
tes darah terhadap pasiennya untuk mengetahui secara pasti penyakit yang
diderita. Bily tampak terkejut melihat hasilnya. Ternyata pasiennya itu
menderita kanker paru-paru akut, dan kini telah memasuki stadium akhir.
Dengan
langkah lunglai, Bily menuju kamar Junet. Dengan berat hati, Bily menanyakan
pertanyaan-pertanyaan yang membuat Junet bingung. “Mas, apakah Anda pecandu
rokok atau minuman keras?”
Junet
menjawab dengan pasti kalau dia tak pernah mengonsumsi rokok ataupun minuman
keras. Rasa takut tiba-tiba menghampiri setelah Bily bertanya demikian. Apalagi
melihat kondisi Bily yang tak bersemangat. Rasa takut akan penyakit keras telah
hinggap di tubuhnya kian memenuhi otak setelah Bily bertanya apakah Junet
mempunyai sanak saudara atau orang tua yang mengidap penyakit kanker.
“Ya, Bapak
saya meninggal karena kanker paru-paru. Apakah....saya menderita penyakit
kanker juga, Dok,” jawab Junet dengan was-was.
“Maaf, dengan berat hati harus saya sampaikan bahwa ternyata Ayah
Anda mewariskan penyakitnya kepada Anda. Anda positif mengidap penyakit kanker,”
kata Bily dengan sedih. Entah mengapa ia dapat merasakan apa yang pasiennya itu
rasakan. Bily merasa ia sudah sangat dekat dengan pasiennya.
Sementara, Junet sangat terpuruk setelah mendengar kenyataan bahwa
ia positif mengidap kanker. Walau sedih, ia tetap tersenyum tipis, dengan
harapan dapat mengurangi rasa sedih dan lara di hatinya.
“Baiklah,
saya akan mendaftarkan Anda sebagai pasien butuh donor paru-paru. Karena
keadaan Anda sudah sangat parah dan itu mengharuskan Anda untuk operasi.
Sementara untuk operasi itu dibutuhkan seseorang yang rela memberikan
paru-parunya untuk Anda. Untuk sementara waktu, Anda akan kami kemoterapi
setiap 3 bulan sekali. Anda tidak perlu membingungkan biaya. Karena semuanya
saya yang akan tanggung. Maaf, siapa nama Anda,” papar Bily sambil memegang
kertas, tatakan kertas, dan juga pulpen
Junet
bimbang apakah akan memberikan identitas aslinya kalau dia itu Junet. Tapi
kalau itu ia lakukan, sahabatnya itu pasti akan bertambah sedih. Sekarang saja
sebelum Bily tau kalau ia adalah Junet, ia sudah terlihat sedih dan tak
bersemangat.
“Kamaludin,”
dusta Junet. Ia memutuskan untuk tidak memberitahu Bily sekarang. Ia takut
melihat sahabatnya bersedih lagi.
Sementara
itu, Bily kecewa saat pasiennya itu mengucapkan namanya yang ternyata bukan
Junet. Namun entah mengapa Bily masih tetap yakin kalau pasien di hadapannya
ini adalah Junet. Bilypun melontarkan pertanyaan-pertanyaan lain yang berkaitan
dengan penyakit Junet. Setelah itu, Bily minta undur diri dan pergi
meninggalkan Junet sendiri.
Junet
kini tak dapat menahan air matanya. Ia menangis dalam diam dan memutuskan untuk
memberitahu Bily lewat sehelai kertas, kemudian ia akan pergi dari kehidupan
Bily untuk selamanya. Tak lupa ia tinggalkan mp3 pemberian polwan waktu itu
yang berisi lagunya Mariah Carey dengan
judul Without You.
Untuk Bily,
Bily, ini aku
Junet. Sebelumnya aku minta maaf karena sudah bohong tadi. Ya, aku Junet, bukan
Kamaludin.
Bily, aku ingin
mengatakan bahwa aku sayang padamu melebihi nyawaku. Kau adalah sahabat
terbaikku. Hidupku sangat berat ketika aku harus melaluinya tanpa kehadiranmu.
Nb: Oh, iya, ini
ada mp3 dan isinya lagu favoritku. Coba dengarkan ya! Lagunya menggambarkan
persahabatan kita yang hancur 6 tahun yang lalu
Ttd,
Junet Rohmawan,
Sahabat yang
selamanya menjadi sahabat
Siangnya Bily kembali ke ruang inap
Junet. Namun ia tak menemukan Junet, dan menemukan surat di meja pasien.
Setelah membaca, betapa terkejutnya ia setelah mengetahui kenyataan yang ada.
Bily kembali menitikkan air mata
setelah sekian lama ia menutup kenangannya bersama Junet dan menganggap Junet
penghianat. Kini ia merasa bersalah. Sesegera mungkin Bily ke luar dan berharap
ia masih punya waktu untuk meminta maaf dan menebus penderitaan yang telah ia
kirim untuk Junet.
Junet sedang berjalan menuju makam emak.
Ia menitikkan air mata dengan wajah yang sangat pucat. Ia meminta maaf atas
semua khilafnya dulu, dan ia juga menceritakan tentang penyakitnya.
“Emak, Junet minta maaf atas
kesalahan Junet selama ini. Maafkan juga karena Junet belum bisa membahagiakan emak.
Emak, ternyata Junet sakit kanker, sama seperti Bapak. Mungkin sebentar lagi
Junet akan menyusul Emak dan Bapak. Kita akan segera bertemu kembali, dan
bahagia bersama disana.”
Ternyata perkataan itu merupakan
perkataan terakhir Junet, hingga akhirnya ia memejamkan mata di sisi makam
emaknya dengan senyuman indah.
Tubuh Junet itu ditemukan oleh
penjaga kubur yang kemudian membawanya ke Rumah Sakit tempat Bily bekerja. Saat
itu Bily tengah berjalan setengah berlari untuk mencari Junet. Dan akhirnya ia
menemukan Junet yang sedang didorong di atas kereta dorong. Ia pun mengikuti
tubuh Junet yang tergolek lemah dengan senyuman.
Sambil menunggu rekannya memeriksa
keadaan Junet, Bily terus meneteskan air mata di depan ruangan. Ia mendengarkan
lagu favorit Junet lewat headset, dan terus membaca surat Junet.
“Junet, bertahanlah! Kalau perlu, aku
yang akan menggantikanmu memikul penderitaanmu,” desis Junet Lirih.
Ternyata Junet tak dapat tertolong
lagi. Ia sudah pergi jauh, ke alam yang berbeda.
Tolong selamatkan
Junet! Berikan paru-paruku ini pada Junet! Soal biaya, ambillah kartu ATM yang ada di
dompetku, di saku celana. Dan setelah ia sembuh, tolong katakan padanya kalau
aku minta maaf karena selama ini aku bersalah padanya. Aku bukan sahabat yang
baik. I love you, best friend!
Bily Rape Ismawan
Akhirnya, pada hari yang sama, Junet
dan Bily bersama-sama kembali ke hadapan sang maha kuasa. Mereka melanjutkan
persahabatan mereka di alam yang berbeda, yang tentunya lebih kekal dan abadi.
TAMAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar