Serba-Serbi Kehidupan Sastra

Terima kasih telah mengunjungi blog ini

Rabu, 11 September 2013

Dai-ni On Naomi’s Mind

Sebuah kisah terukir dalam lembaran daun sakura dalam kalbu. Lirih, angin menerpa wajah gadis berkalung ukiran nama “Naomi”. Terlihat dua orang anak berlarian memutari pohon sakura dengan tawa hiasi wajah mereka. Sebuah ingatan akan kisah lama kembali menembus otak.
Empat tahun yang lalu, ketiga siluet merah beterbangan di angkasa, tampak dua orang siswa dan siswi SMP dengan seragam putih berpadu motif kotak-kotak putih dan coklat di bagian dasi dan di bagian bawahan tengah duduk menikmati matahari terbenam di Hiroshima Peace Park di Hirosima, Jepang. Sang siswa berbaring menatap langit, dan sang siswi duduk tertunduk lemas. Mereka melakukan perbincangan serius dengan bahasa Jepang.
“Kamu serius mau sekolah di London?” tanya sang siswi yang berambut pendek dengan sedih.
“Ya! Tapi kamu ngga usah takut, aku akan segera kembali untuk menemuimu!” jawab sang siswa mantap.
“Aku takut sendirian. Disana kamu pasti dapet temen baru, terus kamu bakal nglupain aku,” desah sang siswi sedih.
Sang siswapun terbangun dari posisi tidurnya, kemudian ia melepas dai-ni (kancing seragam ke dua dari atas). Diberikannya dai-ni tersebut pada sang siswi yang ternyata sahabat sejatinya. Dalam kepercayaan Jepang, jika seorang lelaki memberikan dai-ni pada seorang gadis, maka ia telah memberikan hatinya untuk sang gadis. Sudah sejak kecil mereka selalu bersama. Dan kini sang siswa ingin meninggalkannya ke luar negeri. Hal itu membuat suatu ketakutan besar muncul di diri sang siswi.
“Dai-ni yang melambangkan hatiku tlah kuberikan padamu. Jaga dai-ni ini sebagaimana kamu menjaga hatiku selama ini. Dai-ni ini dapat menjadi teman sebagai pengganti diriku. Naomi, aku hanya pergi untuk beberapa waktu. Empat tahun kemudian, kamu dapat menemuiku di sungai sana!” jelas Izura sembari menunjuk sungai yang ditemani kurang lebih 300 jenis bunga sakura.
Kembali ke hari yang panas, di Peace Park. Seorang gadis berkalung ukiran nama “Naomi” duduk di tepi sungai. Jemarinya yang indah memainkan air danau yang hangat. Rambut panjangnya yang tergerai menari-nari tertiup semilir angin bersamaan sesekali bunga sakura berguguran.
“Masih ingatkah Izura pada janjinya empat tahun yang lalu untuk menemuiku di tempat ini?” tanya Naomi pada dirinya sendiri. Otak dan perasaannya beradu pendapat antara ya dan tidak.
Sayup-sayup Naomi mendengar seseorang menyebut namanya, “Ra, mana yang namanya Naomi?”
Kontan saja Naomi berdiri dan menengok ke belakang, dan tatapannya langsung bertabrakan dengan pandangan lelaki yang amat ia kenal. Lelaki yang pernah memberinya dai-ni yang merupakan lambang dari hati. Lelaki yang berjanji akan menemui Naomi di Sungai ini. Ya, Izura! Dan ternyata ia tak sendiri. Ia bersama seorang gadis cantik yang molek dengan dandanan ala barat.
“Izura-chan!” seru Naomi setelah ia yakin bahwa sosok di hadapannya adalah Izura, sahabatnya.
“Naomi-chan?” tanya Izura agak ragu-ragu. Ia terpukau dengan rambut panjang Naomi. Karena sepengetahuannya, Naomi tidak menyukai rambut panjang.
Naomi sangat bahagia melihat sahabatnya telah kembali, namun wajahnya segera sayu saat gadis di sisi Izura mengulurkan sebuah undangan pertunangannya dengan Izura. Raut wajah marah Izura terlihat ketika gadis itu mengulurkan undangan tersebut.
“Mariah! Kamu..!!!” ujar Izura dengan nada marah.
“Oh, kalian akan bertunangan? Mm...Selamat ya, Ra! Ngga nyangka kamu sudah menemukan gadis idamanmu! Wah, berarti sebentar lagi aku ngga boleh deket-deket sama kamu lagi nih! Semoga bahagianya ya!” sela Naomi. Naomi pun berlalu dari hadapan Izura dan calon tunangannya. Dalam kesendiriannya, ia menangis. Entah menangis senang, sedih, ataupun marah.
“Izura-chan..aku ngga tau kenapa aku sesedih ini setelah tau, kamu menemuiku dengan maksud memberi undangan pernikahanmu. Padahal kamu hanyalah sahabat untukku. Tapi hatiku sakit. Aku takut kehilanganmu! Kenapa kamu terasa sangat berharga setelah aku kehilanganmu?” bisik hati Naomi yang juga ikut menangis.
Seminggu sudah Naomi mengurung diri di sakura yoritsuki, sebuah asrama bernama Sakura di Jepang. Naomi enggan untuk keluar kamar. Ia hanya memandangi dai-ni yang diberi oleh Izura empat tahun yang lalu. Tiba-tiba pandangannya menangkap selembar undangan pertunangan Izura. Kembali Naomi menangisi undangan itu. Ketika tangannya hendak merobek undangan tersebut, secara mendadak perut Naomi sakit. Ia pun teringat akan magh yang ia derita. Dengan cepat, Naomi meminum obat maghnya. Namun ternyata rasa sakit itu tidak berkurang. Seorang teman yang berada tak jauh dari Naomi pun segera mendekat.
“Kamu kenapa?” tanya seorang teman dengan khawatir.
“Perutku sakit!” jawabnya dengan wajah merah. Dengan segera mereka menuju rumah sakit terdekat.
Naomi bertambah lesu sedetik setelah dokter mengabarkan bahwa dirinya mengidap kanker lambung. Namun ia tersenyum pahit dan berpikir, “Mungkin ini adalah jalan yang terbaik. Jika aku sakit kanker, maka hidupku mungkin tak akan bertahan lama lagi. Sehingga aku tak akan mengalami pahit dalam hati yang berkepanjangan.”
Naomi mulai bercermin. Ia memilih pakaian mana yang pantas ia gunakan untuk menghadiri pesta pertunangan Izura dengan Mariah, gadis molek asal Inggris itu.
Seorang teman sekamar Naomi melihat luka terukir di mata Naomi. Dengan ragu, ia pun bertanya, “Apa...kamu yakin akan menghadiri pesta itu? Bukankah itu akan semakin menyakiti hatimu?”
Naomi pun tersenyum. Buliran air mata mengalir lirih. Namun segera ia hapus sembari tersenyum, “Kamu salah, Akira! Aku justru senang menghadiri pesta pertunangan sahabatku sendiri. Mariah, sepertinya ia gadis yang baik. Ia pantas untuk Izura yang juga baik hati dan perhatian,”
Teman Naomi yang bernama Akira pun memeluk Naomi, mencoba memberinya kekuatan. Namun Naomi semakin menangis. Ia semakin erat memeluk tubuh Akira. Naomi kini menyadari, bahwa sesungguhnya ia tak dapat membunuh rasa cinta yang sudah tumbuh sejak kecil, sejak Izura membelanya ketika ia diejek sebagai anak pungut, karena memang sejak kecil orang tua Naomi kurang memberinya perhatian.
Seketika itu pula Naomi merasakan rasa sakit yang hebat di perutnya. Berangsur-angsur ia melepas pelukan Akira. Ia mengambil dai-ni yang Izura pernah berikan padanya. Ia pun memberikan dai-ni itu pada Akira, dan berucap, “Mungkin aku tak akan bisa menjaga dai-ni ini lebih lama lagi. Aku akan pergi, Akira! Tolong jaga dai-ni ini baik-baik. Demi aku, demi sahabat baikmu ini,” setelah menyampaikan pesan terakhirnya, Kinan pun ambruk, dan tak bernapas lagi.
Pesta pertunangan akulturasi Jepang-Inggris Izura dan Mariah berlangsung sangat meriah. Namun Izura tidak menampakkan ekspresi bahagianya. Ia memisahkan diri dari keramaian. Ia yang memakai kemeja putih berselimut jas hitam tampak sangat wibawa.
Tiba-tiba pandangannya menangkap seorang gadis berambut panjang bergaun putih panjang dan bermahkota. Gadis itu tak berteman, dan posisinya membelakangi Izura. Perlahan gadis itu berputar, dan tampaklah wajah yang sangat Izura kenal. Wajah cantik Naomi!
“Naomi?” panggil Izura halus. Namun sosok itu tak menjawab. Ia hanya tersenyum menjawab panggilan Izura.
Naomi membalikkan badan, dan beranjak pergi. Ketika Izura hendak mengejar, tangannya dicekal oleh seorang gadis yang tak ia kenal. Gadis itu pun bertanya, “Kau Izura?”
Izura pun memasang wajah biasa sembari menjawab, “Ya, ada apa?”
 Gadis yang ternyata Akira itu meminta dengan nada ketus, “Mari, ikut saya!”
Ternyata aksi Akira tlah keduluan oleh tarikan tangan Mariah. Ia menarik tangan Izura dengan manja. Dengan tegas, Akira meminta waktu kepada Mariah, “Maaf Mariah-san, saya ingin meminta waktu sebentar untuk meminjam Izura. Ada hal penting yang akan saya bicarakan empat mata dengan Izura”
Namun Izura segera menjawab dengan ketus ke arah Akira, “Maaf, bisakah saya berbicara dengan Anda setelah saya melangsungkan pertunangan dengan Mariah? Karena para tamu sudah menunggu lama. Maaf, permisi!”
Dengan cepat Akira memohon, “Tidak! Kamu tidak boleh bertunangan sebelum kamu mendengar kabar dari saya! Saya adalah sahabat Naomi! Kamu harus mendengar pesan dari Naomi!”
Ternyata Izura kembali melihat kehadiran Naomi, sehingga ia tidak memperhatikan ucapan Akira.
“Anda lihat sendiri kan?! Izura tidak menghiraukan Anda! Berarti memang Izura tidak ingin mendengar pesan itu!” bentak Mariah pada Akira.
Mariah menarik tangan Izura meninggalkan Akira. Dengan sedih karena tak dapat mencegah pertunangan Izura, Akira hanya dapat memandang dai-ni yang ia bawa.
Izura menyematkan cincin pertunangannya pada Mariah tanpa konsentrasi. Ia terus memandang ke arah sosok cantik Naomi yang berdiri di barisan depan dengan senyum. Walau tersenyum, namun sosok Naomi meneteskan air mata. Tetesan air mata Naomi menyadarkan Izura bahwa Naomi tak bahagia melihatnya bertunangan dengan Mariah. Sosok Naomi pun keluar dari barisan para tamu. Ia meninggalkan ruangan. Izura memutuskan untuk menghentikan pertunangannya dan mengejar Naomi.
“Naomi!” teriak Izura, dan teriakan itu membuat Naomi berhenti melagkah. Sosok Naomi pun membalikkan tubuhnya, dan mendekati Izura. Dengan gerakan cepat, Naomi berlutut di depan Izura. Izura tertegun melihat Naomi.
“Kalau boleh aku memohon, aku akan memohon agar waktu dapat kembali. Aku ingin kebersamaan kita kembali. Aku ingin keakraban kita kembali,” ucap Naomi dengan meneteskan beribu atom air mata.
“Tapi aku sadar, semua itu tak akan terkabulkan. Aku minta maaf karena mulai sekarang aku tak akan menemanimu lagi. Bukankah kau sudah terbiasa hidup tanpa hadirku? Jadi mungkin takdir ini tak akan menyakitkan bagimu,” ujar Naomi lirih dengan wajah merunduk.
“Sebenarnya ada apa, Naomi? Kenapa kamu bicara demikian?” tanya Izura khawatir. Ia mencoba menyentuh bahu Naomi, namun ia tak dapat menggapainya. Ia bahkan menembus bahu Naomi.
“Carilah seorang gadis yang tengah memegang dai-ni yang kamu berikan padaku empat tahun lalu. Dai-ni yang kamu persembahan sebagai lambang hati untukku. Kamu masih ingat kan? Gadis itu dapat menjawab seluruh pertanyaan yang ada di otakmu saat ini,” jawab Naomi sembari bangkit. Ia pun melangkah meninggalkan Izura. Semakin lama, tubuh Naomi terlihat semakin jauh dan mengecil, ia pun hilang ditelan kegelapan malam.
Izura berlari ke sepanjang ruangan. Ia ingin menemui gadis yang dimaksud Naomi. Angin dingin malam tak ia hiraukan. Bahkan ketika Mariah memanggil, Izura pun tak menoleh. Kata-kata Naomi semakin berkutat di otaknya. Teka-teki akan Naomi juga semakin menguat.
Izura melihat ke arah gadis yang tadi memintanya untuk bicara empat mata. Walau ragu, Izura akhirnya bertanya pada Akira, “Mmm...apakah kau mengenal Naomi? Apakah kau tau tentang dai-ni?”
Akira pun mengeluarkan dai-ni yang berada di sakunya. “Maksudmu dai-ni ini?”
Izura pun meraih sebuah kancing yang ada di telapak tangan Akira. Ia melihat dengan detail, dan memang benar itulah dai-ni yang ia persembahkan untuk Naomi. Tapi mengapa dai-ni itu ada pada gadis lain?
“Ikutlah denganku! Ada sebuah rahasia yang tak kau ketahui,” pinta Akira pada Izura. Izura pun mengikuti langkah kaki Akira. Ternyata Akira membawa Izura ke sakura yoritsuki.
“Bangunan apa ini? Kuno dan....” ujar Izura memperhatikan bangunan yang ia masuki.
“Inilah bangunan yang selama ini Naomi tempati,” kata Akira menjawab satu teka-teki yang ada di otak Izura.
“Bukankah Naomi punya tempat tinggal sendiri? Mengapa ia tinggal disini?” tanya Izura lagi.
“Orang tuanya bercerai dua tahun yang lalu, sehingga Naomi melakukan aksi protes dengan cara meninggalkan rumah. Ia tak memilih tinggal dengan Ibu dan Ayahnya. Dan sialnya, orang tuanya tak peduli lagi pada Naomi,” jawab Akira seakan mengungkap satu rahasia yang selama ini tak diketahui oleh Izura.
Izura mulai merasa kalau ia bukanlah sahaat yang baik. Bagaimana mungkin ia tidak mengetahui masalah besar yang dihadapi Naomi? Ia sungguh sahabat yang buruk untuk Naomi.
“Mmm...sebenarnya kamu ini siapa? Seberapa dekat dirimu dengan Naomi?” tanya Izura dengan nada yang lebih halus.
“Aku Akira, teman senasib Naomi. Kami sangat dekat. Bahkan....di akhir usianya, ia memberikan dai-ninya padaku untuk kujaga,”
“Di akhir usia? Maksudmu.......”
Akira menghentikan langkahnya. Ia pun membalikkan badannya. Ia menatap tajam ke arah Izura. “Ya, Naomi sudah meninggal tadi siang. Kanker lambungnya tlah merenggut nyawanya. Namun ia merasa kematian adalah hal yang terbaik untuknya. Karena, dengan mati, ia tak akan merasakan sakit yang berkepanjangan! Baik sakit di perut, maupun sakit di hatinya!” ujar Akira dengan nada yang berbeda dan sedikit kasar. Ia tak dapat menahan emosinya.
“Kau adalah lelaki yang tak peka! Naomi itu cinta sama kamu! Sejak kecil, ia sudah sayang padamu! Bahkan ia rela memanjangkan rambutnya hanya demi memenuhi kriteria gadis yang kamu suka! Ketahuilah, selama empat tahun, ia terus merawat rambutnya agar panjang! Itu ia lakukan karena kau menyukai gadis berambut panjang! Dia juga rela tak melirik berpuluh pria yang tertarik padanya. Itu semua Naomi lakukan dengan harapan kamu akan kembali, dan melirik Naomi! Tapi apa yang dia dapat? Saat pertama kali kalian kembali bertemu, ia disuguhi selembar undangan pertunangan. Ia juga melihatmu bersama dengan gadis lain yang tak lain adalah calon tunanganmu! Dimana perasaanmu? Hah?!” ungkap Akira dengan beberapa bulir air mata membasahi pipi dan menetas menyiram lantai asrama.
Izura mulai menangis sesenggukan. Ia meluapkan seluruh amarahnya, seluruh kecewanya terhadap dirinya. Ketika ia hendak pergi, meninggalkan gedung sakura yoritsuki, tangan Akira mencegahnya. Akira menarik Izura menuju kamar Naomi yang dipenuhi foto Izura kecil dimana-mana. Di atas ranjang, tergeletak tubuh Naomi tanpa nyawa. Seluruh tubuhnya pucat, dan ada lingkar hitam mengelilingi matanya.
Izura mendekati tubuh tak bernyawa itu. Ia menyentuh tangan Naomi yang dingin sembari meminta maaf.
“Uruslah jenazah Naomi dengan baik! Berilah penghormatan terakhirmu, dan sebarkan abunya ke laut! Itulah harapan Naomi. Ia berharap, raganya dapat berkeliling dunia setelah jiwanya meninggalkan dunia ini,” ujar Akira sembari meninggalkan gedung sakura yoritsuki.
Izura pun menggelar acara besar-besaran untuk mengenang Naomi. Ia juga menebarkan abu Naomi ke sepanjang laut sembari meminta maaf. Ia juga berjanji akan selalu setia kepada Naomi sepanjang umurnya. Ia juga tak akan menikah, dan akan menunggu waktu akan menjemput, dan mempersatukannya dengan Naomi kembali di dunia yang berbeda.
“Naomi, walau dai-ni yang kupersembahkan untukmu telah berpindah tangan, namun cintaku tak akan perpindah tangan. Terima kasih karena telah menitipkan dai-ni itu pada Akira. Karena Akira adalah gadis yang baik. Aku yakin, Akira dapat menjaga hatiku agar tetap mencintaimu, selamanya.. Cinta ini bukanlah tanggung jawab, bukan pula perasaan bersalah. Tapi cinta ini timbul karena kesetiaan, dan aku menyesal karena aku baru menyadari perasaan cinta ini setelah kau tlah tiada”
Selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar