Dai-ni On Naomi’s Mind
Sebuah
kisah terukir dalam lembaran daun sakura dalam kalbu. Lirih, angin menerpa
wajah gadis berkalung ukiran nama “Naomi”. Terlihat dua orang anak berlarian memutari
pohon sakura dengan tawa hiasi wajah mereka. Sebuah ingatan akan kisah lama
kembali menembus otak.
Empat
tahun yang lalu, ketiga siluet merah beterbangan di angkasa, tampak dua orang
siswa dan siswi SMP dengan seragam putih berpadu motif kotak-kotak putih dan coklat
di bagian dasi dan di bagian bawahan tengah duduk menikmati matahari terbenam
di Hiroshima Peace Park di Hirosima, Jepang. Sang siswa berbaring menatap
langit, dan sang siswi duduk tertunduk lemas. Mereka melakukan perbincangan
serius dengan bahasa Jepang.
“Kamu
serius mau sekolah di London?” tanya sang siswi yang berambut pendek dengan
sedih.
“Ya!
Tapi kamu ngga usah takut, aku akan segera kembali untuk menemuimu!” jawab sang
siswa mantap.
“Aku
takut sendirian. Disana kamu pasti dapet temen baru, terus kamu bakal nglupain
aku,” desah sang siswi sedih.
Sang
siswapun terbangun dari posisi tidurnya, kemudian ia melepas dai-ni (kancing
seragam ke dua dari atas). Diberikannya dai-ni tersebut pada sang siswi yang
ternyata sahabat sejatinya. Dalam kepercayaan Jepang, jika seorang lelaki
memberikan dai-ni pada seorang gadis, maka ia telah memberikan hatinya untuk
sang gadis. Sudah sejak kecil mereka selalu bersama. Dan kini sang siswa ingin meninggalkannya
ke luar negeri. Hal itu membuat suatu ketakutan besar muncul di diri sang
siswi.
“Dai-ni
yang melambangkan hatiku tlah kuberikan padamu. Jaga dai-ni ini sebagaimana
kamu menjaga hatiku selama ini. Dai-ni ini dapat menjadi teman sebagai
pengganti diriku. Naomi, aku hanya pergi untuk beberapa waktu. Empat tahun
kemudian, kamu dapat menemuiku di sungai sana!” jelas Izura sembari menunjuk
sungai yang ditemani kurang lebih 300 jenis bunga sakura.
Kembali
ke hari yang panas, di Peace Park. Seorang gadis berkalung ukiran nama “Naomi”
duduk di tepi sungai. Jemarinya yang indah memainkan air danau yang hangat.
Rambut panjangnya yang tergerai menari-nari tertiup semilir angin bersamaan
sesekali bunga sakura berguguran.
“Masih
ingatkah Izura pada janjinya empat tahun yang lalu untuk menemuiku di tempat
ini?” tanya Naomi pada dirinya sendiri. Otak dan perasaannya beradu pendapat
antara ya dan tidak.
Sayup-sayup
Naomi mendengar seseorang menyebut namanya, “Ra, mana yang namanya Naomi?”
Kontan
saja Naomi berdiri dan menengok ke belakang, dan tatapannya langsung
bertabrakan dengan pandangan lelaki yang amat ia kenal. Lelaki yang pernah
memberinya dai-ni yang merupakan lambang dari hati. Lelaki yang berjanji akan
menemui Naomi di Sungai ini. Ya, Izura! Dan ternyata ia tak sendiri. Ia bersama
seorang gadis cantik yang molek dengan dandanan ala barat.
“Izura-chan!”
seru Naomi setelah ia yakin bahwa sosok di hadapannya adalah Izura, sahabatnya.
“Naomi-chan?”
tanya Izura agak ragu-ragu. Ia terpukau dengan rambut panjang Naomi. Karena
sepengetahuannya, Naomi tidak menyukai rambut panjang.
Naomi
sangat bahagia melihat sahabatnya telah kembali, namun wajahnya segera sayu
saat gadis di sisi Izura mengulurkan sebuah undangan pertunangannya dengan Izura.
Raut wajah marah Izura terlihat ketika gadis itu mengulurkan undangan tersebut.
“Mariah!
Kamu..!!!” ujar Izura dengan nada marah.
“Oh,
kalian akan bertunangan? Mm...Selamat ya, Ra! Ngga nyangka kamu sudah menemukan
gadis idamanmu! Wah, berarti sebentar lagi aku ngga boleh deket-deket sama kamu
lagi nih! Semoga bahagianya ya!” sela Naomi. Naomi pun berlalu dari hadapan Izura
dan calon tunangannya. Dalam kesendiriannya, ia menangis. Entah menangis
senang, sedih, ataupun marah.
“Izura-chan..aku
ngga tau kenapa aku sesedih ini setelah tau, kamu menemuiku dengan maksud
memberi undangan pernikahanmu. Padahal kamu hanyalah sahabat untukku. Tapi
hatiku sakit. Aku takut kehilanganmu! Kenapa kamu terasa sangat berharga
setelah aku kehilanganmu?” bisik hati Naomi yang juga ikut menangis.
Seminggu
sudah Naomi mengurung diri di sakura yoritsuki, sebuah asrama bernama Sakura di
Jepang. Naomi enggan untuk keluar kamar. Ia hanya memandangi dai-ni yang diberi
oleh Izura empat tahun yang lalu. Tiba-tiba pandangannya menangkap selembar
undangan pertunangan Izura. Kembali Naomi menangisi undangan itu. Ketika tangannya
hendak merobek undangan tersebut, secara mendadak perut Naomi sakit. Ia pun
teringat akan magh yang ia derita. Dengan cepat, Naomi meminum obat maghnya.
Namun ternyata rasa sakit itu tidak berkurang. Seorang teman yang berada tak
jauh dari Naomi pun segera mendekat.
“Kamu
kenapa?” tanya seorang teman dengan khawatir.
“Perutku
sakit!” jawabnya dengan wajah merah. Dengan segera mereka menuju rumah sakit terdekat.
Naomi
bertambah lesu sedetik setelah dokter mengabarkan bahwa dirinya mengidap kanker
lambung. Namun ia tersenyum pahit dan berpikir, “Mungkin ini adalah jalan yang terbaik. Jika aku sakit
kanker, maka hidupku mungkin tak akan bertahan lama lagi. Sehingga aku tak akan
mengalami pahit dalam hati yang berkepanjangan.”
Naomi
mulai bercermin. Ia memilih pakaian mana yang pantas ia gunakan untuk
menghadiri pesta pertunangan Izura dengan Mariah, gadis molek asal Inggris itu.
Seorang
teman sekamar Naomi melihat luka terukir di mata Naomi. Dengan ragu, ia pun
bertanya, “Apa...kamu yakin akan menghadiri pesta itu? Bukankah itu akan
semakin menyakiti hatimu?”
Naomi
pun tersenyum. Buliran air mata mengalir lirih. Namun segera ia hapus sembari
tersenyum, “Kamu salah, Akira! Aku justru senang menghadiri pesta pertunangan
sahabatku sendiri. Mariah, sepertinya ia gadis yang baik. Ia pantas untuk Izura
yang juga baik hati dan perhatian,”
Teman
Naomi yang bernama Akira pun memeluk Naomi, mencoba memberinya kekuatan. Namun
Naomi semakin menangis. Ia semakin erat memeluk tubuh Akira. Naomi kini
menyadari, bahwa sesungguhnya ia tak dapat membunuh rasa cinta yang sudah
tumbuh sejak kecil, sejak Izura membelanya ketika ia diejek sebagai anak
pungut, karena memang sejak kecil orang tua Naomi kurang memberinya perhatian.
Seketika
itu pula Naomi merasakan rasa sakit yang hebat di perutnya. Berangsur-angsur ia
melepas pelukan Akira. Ia mengambil dai-ni yang Izura pernah berikan padanya.
Ia pun memberikan dai-ni itu pada Akira, dan berucap, “Mungkin aku tak akan
bisa menjaga dai-ni ini lebih lama lagi. Aku akan pergi, Akira! Tolong jaga dai-ni
ini baik-baik. Demi aku, demi sahabat baikmu ini,” setelah menyampaikan pesan
terakhirnya, Kinan pun ambruk, dan tak bernapas lagi.
Pesta
pertunangan akulturasi Jepang-Inggris Izura dan Mariah berlangsung sangat
meriah. Namun Izura tidak menampakkan ekspresi bahagianya. Ia memisahkan diri
dari keramaian. Ia yang memakai kemeja putih berselimut jas hitam tampak sangat
wibawa.
Tiba-tiba
pandangannya menangkap seorang gadis berambut panjang bergaun putih panjang dan
bermahkota. Gadis itu tak berteman, dan posisinya membelakangi Izura. Perlahan
gadis itu berputar, dan tampaklah wajah yang sangat Izura kenal. Wajah cantik
Naomi!
“Naomi?”
panggil Izura halus. Namun sosok itu tak menjawab. Ia hanya tersenyum menjawab
panggilan Izura.
Naomi
membalikkan badan, dan beranjak pergi. Ketika Izura hendak mengejar, tangannya
dicekal oleh seorang gadis yang tak ia kenal. Gadis itu pun bertanya, “Kau
Izura?”
Izura
pun memasang wajah biasa sembari menjawab, “Ya, ada apa?”
Gadis yang ternyata Akira itu meminta dengan
nada ketus, “Mari, ikut saya!”
Ternyata
aksi Akira tlah keduluan oleh tarikan tangan Mariah. Ia menarik tangan Izura
dengan manja. Dengan tegas, Akira meminta waktu kepada Mariah, “Maaf
Mariah-san, saya ingin meminta waktu sebentar untuk meminjam Izura. Ada hal
penting yang akan saya bicarakan empat mata dengan Izura”
Namun
Izura segera menjawab dengan ketus ke arah Akira, “Maaf, bisakah saya berbicara
dengan Anda setelah saya melangsungkan pertunangan dengan Mariah? Karena para
tamu sudah menunggu lama. Maaf, permisi!”
Dengan
cepat Akira memohon, “Tidak! Kamu tidak boleh bertunangan sebelum kamu
mendengar kabar dari saya! Saya adalah sahabat Naomi! Kamu harus mendengar
pesan dari Naomi!”
Ternyata
Izura kembali melihat kehadiran Naomi, sehingga ia tidak memperhatikan ucapan
Akira.
“Anda
lihat sendiri kan?! Izura tidak menghiraukan Anda! Berarti memang Izura tidak
ingin mendengar pesan itu!” bentak Mariah pada Akira.
Mariah
menarik tangan Izura meninggalkan Akira. Dengan sedih karena tak dapat mencegah
pertunangan Izura, Akira hanya dapat memandang dai-ni yang ia bawa.
Izura
menyematkan cincin pertunangannya pada Mariah tanpa konsentrasi. Ia terus
memandang ke arah sosok cantik Naomi yang berdiri di barisan depan dengan
senyum. Walau tersenyum, namun sosok Naomi meneteskan air mata. Tetesan air
mata Naomi menyadarkan Izura bahwa Naomi tak bahagia melihatnya bertunangan
dengan Mariah. Sosok Naomi pun keluar dari barisan para tamu. Ia meninggalkan
ruangan. Izura memutuskan untuk menghentikan pertunangannya dan mengejar Naomi.
“Naomi!”
teriak Izura, dan teriakan itu membuat Naomi berhenti melagkah. Sosok Naomi pun
membalikkan tubuhnya, dan mendekati Izura. Dengan gerakan cepat, Naomi berlutut
di depan Izura. Izura tertegun melihat Naomi.
“Kalau
boleh aku memohon, aku akan memohon agar waktu dapat kembali. Aku ingin
kebersamaan kita kembali. Aku ingin keakraban kita kembali,” ucap Naomi dengan
meneteskan beribu atom air mata.
“Tapi
aku sadar, semua itu tak akan terkabulkan. Aku minta maaf karena mulai sekarang
aku tak akan menemanimu lagi. Bukankah kau sudah terbiasa hidup tanpa hadirku?
Jadi mungkin takdir ini tak akan menyakitkan bagimu,” ujar Naomi lirih dengan
wajah merunduk.
“Sebenarnya
ada apa, Naomi? Kenapa kamu bicara demikian?” tanya Izura khawatir. Ia mencoba
menyentuh bahu Naomi, namun ia tak dapat menggapainya. Ia bahkan menembus bahu
Naomi.
“Carilah
seorang gadis yang tengah memegang dai-ni yang kamu berikan padaku empat tahun
lalu. Dai-ni yang kamu persembahan sebagai lambang hati untukku. Kamu masih
ingat kan? Gadis itu dapat menjawab seluruh pertanyaan yang ada di otakmu saat
ini,” jawab Naomi sembari bangkit. Ia pun melangkah meninggalkan Izura. Semakin
lama, tubuh Naomi terlihat semakin jauh dan mengecil, ia pun hilang ditelan
kegelapan malam.
Izura
berlari ke sepanjang ruangan. Ia ingin menemui gadis yang dimaksud Naomi. Angin
dingin malam tak ia hiraukan. Bahkan ketika Mariah memanggil, Izura pun tak
menoleh. Kata-kata Naomi semakin berkutat di otaknya. Teka-teki akan Naomi juga
semakin menguat.
Izura
melihat ke arah gadis yang tadi memintanya untuk bicara empat mata. Walau ragu,
Izura akhirnya bertanya pada Akira, “Mmm...apakah kau mengenal Naomi? Apakah
kau tau tentang dai-ni?”
Akira
pun mengeluarkan dai-ni yang berada di sakunya. “Maksudmu dai-ni ini?”
Izura
pun meraih sebuah kancing yang ada di telapak tangan Akira. Ia melihat dengan
detail, dan memang benar itulah dai-ni yang ia persembahkan untuk Naomi. Tapi
mengapa dai-ni itu ada pada gadis lain?
“Ikutlah
denganku! Ada sebuah rahasia yang tak kau ketahui,” pinta Akira pada Izura.
Izura pun mengikuti langkah kaki Akira. Ternyata Akira membawa Izura ke sakura
yoritsuki.
“Bangunan
apa ini? Kuno dan....” ujar Izura memperhatikan bangunan yang ia masuki.
“Inilah
bangunan yang selama ini Naomi tempati,” kata Akira menjawab satu teka-teki
yang ada di otak Izura.
“Bukankah
Naomi punya tempat tinggal sendiri? Mengapa ia tinggal disini?” tanya Izura
lagi.
“Orang
tuanya bercerai dua tahun yang lalu, sehingga Naomi melakukan aksi protes
dengan cara meninggalkan rumah. Ia tak memilih tinggal dengan Ibu dan Ayahnya.
Dan sialnya, orang tuanya tak peduli lagi pada Naomi,” jawab Akira seakan
mengungkap satu rahasia yang selama ini tak diketahui oleh Izura.
Izura
mulai merasa kalau ia bukanlah sahaat yang baik. Bagaimana mungkin ia tidak
mengetahui masalah besar yang dihadapi Naomi? Ia sungguh sahabat yang buruk
untuk Naomi.
“Mmm...sebenarnya
kamu ini siapa? Seberapa dekat dirimu dengan Naomi?” tanya Izura dengan nada
yang lebih halus.
“Aku
Akira, teman senasib Naomi. Kami sangat dekat. Bahkan....di akhir usianya, ia
memberikan dai-ninya padaku untuk kujaga,”
“Di
akhir usia? Maksudmu.......”
Akira
menghentikan langkahnya. Ia pun membalikkan badannya. Ia menatap tajam ke arah
Izura. “Ya, Naomi sudah meninggal tadi siang. Kanker lambungnya tlah merenggut
nyawanya. Namun ia merasa kematian adalah hal yang terbaik untuknya. Karena,
dengan mati, ia tak akan merasakan sakit yang berkepanjangan! Baik sakit di
perut, maupun sakit di hatinya!” ujar Akira dengan nada yang berbeda dan
sedikit kasar. Ia tak dapat menahan emosinya.
“Kau
adalah lelaki yang tak peka! Naomi itu cinta sama kamu! Sejak kecil, ia sudah
sayang padamu! Bahkan ia rela memanjangkan rambutnya hanya demi memenuhi
kriteria gadis yang kamu suka! Ketahuilah, selama empat tahun, ia terus merawat
rambutnya agar panjang! Itu ia lakukan karena kau menyukai gadis berambut
panjang! Dia juga rela tak melirik berpuluh pria yang tertarik padanya. Itu
semua Naomi lakukan dengan harapan kamu akan kembali, dan melirik Naomi! Tapi
apa yang dia dapat? Saat pertama kali kalian kembali bertemu, ia disuguhi
selembar undangan pertunangan. Ia juga melihatmu bersama dengan gadis lain yang
tak lain adalah calon tunanganmu! Dimana perasaanmu? Hah?!” ungkap Akira dengan
beberapa bulir air mata membasahi pipi dan menetas menyiram lantai asrama.
Izura
mulai menangis sesenggukan. Ia meluapkan seluruh amarahnya, seluruh kecewanya
terhadap dirinya. Ketika ia hendak pergi, meninggalkan gedung sakura yoritsuki,
tangan Akira mencegahnya. Akira menarik Izura menuju kamar Naomi yang dipenuhi
foto Izura kecil dimana-mana. Di atas ranjang, tergeletak tubuh Naomi tanpa
nyawa. Seluruh tubuhnya pucat, dan ada lingkar hitam mengelilingi matanya.
Izura
mendekati tubuh tak bernyawa itu. Ia menyentuh tangan Naomi yang dingin sembari
meminta maaf.
“Uruslah
jenazah Naomi dengan baik! Berilah penghormatan terakhirmu, dan sebarkan abunya
ke laut! Itulah harapan Naomi. Ia berharap, raganya dapat berkeliling dunia
setelah jiwanya meninggalkan dunia ini,” ujar Akira sembari meninggalkan gedung
sakura yoritsuki.
Izura
pun menggelar acara besar-besaran untuk mengenang Naomi. Ia juga menebarkan abu
Naomi ke sepanjang laut sembari meminta maaf. Ia juga berjanji akan selalu
setia kepada Naomi sepanjang umurnya. Ia juga tak akan menikah, dan akan
menunggu waktu akan menjemput, dan mempersatukannya dengan Naomi kembali di
dunia yang berbeda.
“Naomi,
walau dai-ni yang kupersembahkan untukmu telah berpindah tangan, namun cintaku
tak akan perpindah tangan. Terima kasih karena telah menitipkan dai-ni itu pada
Akira. Karena Akira adalah gadis yang baik. Aku yakin, Akira dapat menjaga
hatiku agar tetap mencintaimu, selamanya.. Cinta ini bukanlah tanggung jawab,
bukan pula perasaan bersalah. Tapi cinta ini timbul karena kesetiaan, dan aku
menyesal karena aku baru menyadari perasaan cinta ini setelah kau tlah tiada”
Selesai

Tidak ada komentar:
Posting Komentar