DENGAN dikawal ketat, Andika memasuki sebuah ruangan yang cukup luas, walau nggak seluas ruangan tempat uji coba yang tadi dilihatnya. Di tengah ruangan berwarna serbaputih berbentuk oval itu cuma ada sebidang lantai kosong, tanpa ada benda lain yang ada di dalamnya. Ada sebuah pintu lain dan sebuah kaca gelap berbentuk persegi panjang pada salah satu sisi dindingnya. Andika yakin di balik kaca gelap itu ada yang sedang melihat ke dalam ruangan ini, seperti yang biasa terdapat pada ruang interogasi di kantor polisi.
Lima penjaga yang mengawal Andika meninggalkannya sendirian di dalam ruangan dan langsung menutup pintu. Nggak lama kemudian warna hitam pada kaca persegi panjang memudar, menjadi bening. Tepat seperti dugaan Andika, di ruangan sebelah berdiri Chiko, Duta, dan Dave. Kecuali Chiko yang menangkapnya tadi, Andika belum pernah bertemu langsung dengan Duta dan Dave kecuali tahu dari data-data mereka dari arsip CIA.
“Ini adalah salah satu ruangan latihan para Genoid,” kata Chiko pada Andika melalui mikrofon di depannya. Ruangan tempat Andika berada sangat dingin, apalagi Andika udah nggak mengenakan jaketnya yang tadi diambil para penjaga beserta seluruh senjata dan peralatan miliknya.
“Sekarang sesuai janji, saya akan pertemukan kau dengan orang yang kaucari,” lanjut Chiko. Kemudian dia menekan sebuah tombol pada panel kontrol di dekatnya.
Pintu di sisi lain dalam ruangan putih terbuka. Sesosok tubuh keluar dari pintu tersebut.
Fika! batin Andika.
Di hadapan Andika kini berdiri Fika, gadis yang selama ini dicarinya. Fika mengenakan kaus tanpa lengan dan celana panjang ketat berwarna hitam. Rambutnya terurai, menutupi sebagian wajahnya yang menurut Andika saat ini terlihat agak pucat. Pandangan Fika tertuju ke bawah.
Andika cukup surprise juga melihat Fika masih hidup. Tadinya dia merasa harapannya sangat tipis, mengingat yang dibutuhkan oleh para penculik cuma DNA Fika.
“Fika!” panggil Andika. Tapi Fika nggak merespons panggilan itu. Gadis itu tetap diam dengan pandangan tertunduk. Andika sadar ada yang nggak beres dengan diri Fika.
“Kalian apakan dia!? Bukankah kalian cuma membutuhkan DNA-nya!?” tanya Andika setengah berteriak. Walau nggak jelas ditujukan pada siapa, tapi Andika yakin orang-orang di balik kaca itu akan mendengarnya.
“Nona Fika terlalu berharga untuk dimusnahkan. Dia adalah Genoid tipe B yang berbeda dari Genoid tipe B lainnya,” jawab Chiko, nadanya menyiratkan senyuman. Jawaban Chiko itu membuat Andika bertanya-tanya. Andika kembali memandang Fika. Gadis itu berjalan pelan ke arah dirinya. Beberapa langkah di depan Andika, tiba-tiba mata Fika tertutup. Tubuhnya terkulai lemas, jatuh ke lantai.
“Fika!”
Cepat Andika menahan tubuh Fika sebelum jatuh seluruhnya. Lengan kanannya melingkari punggung Fika, sedang tangan yang lainnya memegang bahu kanan cewek itu. Andika kemudian berjongkok, dan kaki kanannya menahan punggung Fika. Dia melihat mata Fika yang masih terpejam.
“Fika? Kamu kenapa?”
Mata yang terpejam itu tiba-tiba terbuka. Tapi sorot mata yang terpancar dari dalam tampak lain. Sorot mata yang aneh yang nggak pernah dilihat Andika sebelumnya.
“Fika...”
Belum sempat Andika menyelesaikan ucapannya, sikutan tangan kiri Fika membuatnya terjengkang ke belakang. Saat itulah Fika berdiri.
“Fika, kamu kenapa?”
Pertanyaan itu nggak dijawab oleh Fika. Gadis itu tetap memandang tajam ke arah Andika. Perlahan-lahan Andika pun berdiri.
“Fika, apa yang...”
Fika menerjang ke arah Andika. Kecepatan geraknya sungguh mengagumkan, membuat Andika nggak sempat bereaksi. Gadis itu menghantamkan lutut kaki kanannya ke perut Andika. Gerakan tersebut disusul tinju ke wajah cowok itu, membuat Andika tersungkur beberapa meter ke belakang.
Andika sadar, Fika yang ada di hadapannya bukanlah Fika yang dulu dikenalnya.
“Kalian apakan dia!?” teriak Andika.
“Sudah saya bilang, Nona Fika terlalu berharga untuk dimusnahkan. Sekarang dia menjadi anggota pasukan khusus G, dengan nama baru, Nomor Empat...”
No. 4?
Andika ingat ada prajurit Genoid yang tewas ditabrak olehnya saat membantu Fika melarikan diri dari kantor polisi. Apakah Genoid itu yang dimaksud sebagai No. 4? Sekarang Fika menggantikan tempatnya. Tapi kenapa bisa? Kenapa Fika mau bekerja untuk mereka? Padahal Fika pernah bilang dia nggak menyukai kekerasan. Fika yang masih anak SMA itu sama sekali nggak berminat dengan dunia militer. Atau mereka udah mencuci otaknya? Itu juga bisa menjawab pertanyaan kenapa Fika seperti nggak mengenali dirinya dan menganggapnya sebagai musuh. Walau Andika tahu Fika sangat membencinya setelah tahu siapa dirinya, Fika yang normal nggak akan berbuat sejauh ini.
Andika mengusap wajahnya yang memar terkena pukulan Fika. Bibirnya bukan aja berdarah, tapi robek cukup besar. Dia ingat pukulan Fika ketika dia menolongnya di mal nggak sekeras ini. Pukulan yang sekarang terasa beberapa kali lebih keras. Untung Andika juga Genoid, hingga dia bisa sedikit menahannya. Kalau manusia biasa akibatnya bisa lebih fatal.
Sial! Mereka udah berhasil mengeluarkan kemampuan Genoid Fika yang selama ini tersembunyi! batin Andika.
Fika menerjang Andika lagi. Tapi kali ini Andika lebih siap. Dia membuang tubuhnya ke kiri, menghindari tendangan Fika. Tapi Fika nggak berhenti sampai di situ. Secepat kilat gadis itu menghampiri Andika kembali dan menyerangnya dengan pukulan bertubi-tubi.
“Fika, ini aku, Andika! Kamu nggak ingat?”
Ucapan Andika nggak ada gunanya. Fika terus menyerangnya. Bahkan serangannya lebih ditingkatkan.
“Akan kutinggalkan kalian untuk sedikit bersenang-senang,” kata Chiko. Seiring dengan ucapannya, kaca di depannya kembali menjadi gelap.
“Kenapa kita tidak mengawasi mereka terus? Bagaimana kalau gadis itu belum sepenuhnya berada di bawah pengaruh kita?” Duta mempertanyakan keputusan Chiko menutup jendela.
“Justru itu... saya ingin melihat apakah dia telah sepenuhnya berada di bawah pengaruh kita atau tidak.” Chiko menekan tombol lain. Layar monitor datar yang ada di ruangan menyala, memperlihatkan gambar ruangan sebelah tempat Fika sedang bertarung melawan Andika.
Fika bukan aja meningkatkan tenaga dan gerakannya. Cara bertarungnya pun berbeda. Hampir setiap gerakan beladiri dia kuasai dengan sempurna. Hal ini mengherankan Andika. Walau Fika memiliki kecerdasan Genoid dan cepat dalam belajar sesuatu, mustahil dapat menguasai semuanya dalam waktu 24 jam. Andika adalah Genoid A yang kemampuannya di bawah Genoid B seperti Fika, dan dia memerlukan waktu satu bulan untuk menguasai beladiri yang diajarkan padanya, itu pun belum semuanya. Gerakan Fika terlalu sempurna, bahkan untuk Genoid B yang tadinya nggak bisa apa-apa.
Mereka pasti punya alat untuk mempercepat proses belajar Fika! Entah alat apa itu dan bagaimana cara kerjanya! batin Andika.
Sebuah pukulan keras mengenai dada Andika, membuatnya susah bernapas. Andika mundur beberapa langkah untuk menarik napas, tapi Fika nggak memberinya kesempatan. setiap usaha Andika untuk meloloskan diri atau sekadar menjaga jarak selalu dihadang Fika. Nggak ada jalan lain bagi Andika selain melawan atau dia akan jadi bulan-bulanan Fika yang nggak mengenalinya.
“Fika! Sadarlah! Kamu kan nggak suka kekerasan! Kamu masih punya hati! Pake hati kamu!” Andika masih mencoba menyadarkan Fika walau ia tahu itu sia-sia. Andika balas menyerang Fika saat ada kesempatan. Serangan beruntunnya sempat memaksa Fika sedikit bertahan. Fika bahkan sampai harus bersalto ke belakang untuk menghindari tendangan memutar Andika.
“Hebat benar dia. Aku tidak menyangka ada manusia yang bisa mengimbangi Genoid,” ujar Dave sambil matanya nggak lepas dari layar monitor.
“Dia bukan Genoid, kan?” tanyanya pada Chiko. Chiko menggeleng walau saat itu dia juga nggak yakin dengan apa yang dilihatnya. Nggak mungkin manusia biasa bisa melakukan itu! kata Chiko dalam hati.
***
Menjelang pukul dua, tapi lampu di dalam rumah di Jalan Teuku umar, Jakarta masih tetap menyala, menandakan penghuninya belum tidur. Bahkan pintu depannya pun terbuka. Rumah itu milik Komisaris Besar Irwinanto Setyanta, salah seorang perwira menengah yang juga komandan pasukan khusus kepolisian, Brimob. Saat ini Kombes Irwinanto sedang menemui Oni yang datang menemuinya.
“Entahlah apa aku bisa memenuhi permintaanmu. Apa kau yakin?”
“Anak saya tidak mungkin mengada-ngada untuk hal seperti ini. Lagi pula firasat saya juga mengatakan ada sesuatu di balik kasus penyerbuan kantor polisi itu. Seperti ada sesuatu yang ditutup-tutupi, entah oleh siapa. Kalau tidak, kenapa kita tidak dilibatkan dalam tim gabungan? Seolah-olah kita ada di luar kasus ini.”
“Kau benar. Aku juga merasa begitu. Tapi membawa pasukan khusus untuk menyelidiki hal yang belum pasti begini, apa tidak terlalu berlebihan? Apa tidak sebaiknya hal ini diselidiki lebih dahulu?”
“Pesan di HP anak saya mengatakan akan terjadi sesuatu malam ini. Karena itulah saya menghadap Bapak secara langsung untuk meminta izin membawa pasukan khusus. Jika apa yang dikatakan pesan itu benar, kita akan kehilangan sesuatu yang mungkin dapat membantu kita mengungkap kasus ini.”
“Tapi jika tidak benar, kita dalam masalah besar. Sepasukan khusus menerobos masuk ke areal pabrik tanpa alasan yang kuat akan menimbulkan pertanyaan, bahkan hujatan. Apalagi pabrik itu milik perusahaan asing. Mereka bisa menuntut pihak kepolisian.”
“Karena itu saya datang langsung pada Bapak. Saya tidak mungkin menjelaskan hal ini di telepon. Saya harap Bapak bisa mengerti...”
“Oni... kita telah bersahabat sejak di akademi. Kau sering membantuku, maka aku tidak mungkin tidak membantumu. Cuma masalahnya tidak segampang itu. Jika pimpinan tahu aku menggerakkan personil tanpa izin, apalagi surat perintah, bisa-bisa kita dihadapkan ke Dewan Kode Etik dan Profesi.”
“Boleh saya berbicara sebagai teman, Pak?” tanya Oni.
“Kau pasti akan memberiku nasihat lagi. Aku sebal kalau kau sudah pakai pertanyaan begitu. Tapi biarlah. Kau mau bicara apa?”
“Hidup penuh risiko. Jika kita ingin berhasil, kita harus menghadapi risiko itu. Jika tidak, sia-sialah kehidupan ini.”
“Jadi menurutmu, aku harus mengambil risiko itu, walau taruhannya jabatanku?” Oni cuma tersenyum mendengar ucapan Kombes Irwinanto.
“Kau emang dari dulu pintar bicara. Baiklah, tapi aku cuma bisa memberimu satu SSK (Satuan Setingkat Kompi), tidak lebih. Dan bukan Brimob.”
“Tapi maaf, Pak, saya kira cuma Brimob yang pantas melaksanakan tugas ini. Bagaimana jika ternyata situasinya sangat berbahaya?”
“Aku tahu. Karena itu kau tidak kuberi Brimob, tapi yang terbaik, Detasemen 88 antiteror.”
“Detasemen 88? Terima kasih, Pak.”
“Aku akan menelepon Kombes Daryanto, Komandan Detasemen 88. Dia dulu kawan baikku waktu kami sama-sama bertugas di Papua. Biar aku yang jelaskan padanya, dia pasti mau membantu. Kau sendiri yang akan memimpin?”
“Ya. Saya telah janji pada anak saya untuk menyelidiki kasus ini. Anak saya yakin temannya tidak bersalah.”
“Bagus. Tipe Ayah yang sayang anak. Yah, paling tidak jika aku ditegur atau dijatuhi sanksi, aku punya teman. Hati-hati, Oni...”
“Baik, Pak...”
***
Walau kelihatannya imbang, makin lama makin terlihat perbedaan kemampuan Fika dan Andika. Terus-terusan bertarung dengan kecepatan tinggi membuat stamina Andika lama-lama terkuras. Napasnya semakin berat. Di sisi lain, penurunan stamina Fika nggak begitu terlihat, walau Andika yakin gadis itu juga telah berkurang staminanya. Dalam hati Andika memuji Prof. Sahid yang telah menyempurnakan Genoid B hingga menjadi mesin tempur yang sempurna.
Berkurangnya stamina membuat konsentrasi Andika juga berkurang. Pukulan dan tendangan Fika makin kerap mampir ke tubuhnya, sehingga stamina Andika semakin terkuras. Semakin lama Andika semakin nggak bisa meladeni gerakan cepat Fika. Tubuhnya kini menjadi bulan-bulanan gadis itu.
“Akhirnya, habis juga dia.”
“Belum tentu...” Chiko kembali menekan sebuah tombol.
Salah satu dinding di ruang latihan terbuka. Di dalamnya ada sebuah rak tersembunyi yang berisi berbagai macam senjata untuk pertarungan jarak dekat. Fika mendekati rak dan mengambil senjata. Sebilah tongkat baja yang dapat dipanjangkan. Kemudian dia menjauh dari rak, seakan-akan mempersilakan Andika memilih senjatanya.
“Ayo, kau ambil senjatamu kalau tidak ingin mati konyol. Jangan bilang kami tidak memberimu kesempatan...” suara Chiko menggema di dalam ruangan.
Udah kuduga dia pasti mengamati kami! Nggak mungkin kami dilepaskan begitu aja! pikir Andika. Darah nggak henti-hentinya mengalir dari mulutnya, sementara bentuk mukanya udah nggak keruan. Dengan terhuyung-huyung Andika menuju rak. Dia mengambil sebilah katana yang matanya terlihat berkilat karena tajamnya.
Terpaksa! Aku terpaksa membunuh Fika! Walau aku sendiri nggak mungkin keluar dari tempat ini, aku nggak akan membiarkannya berubah menjadi jahat! Begitu pikir Andika. Fika agak tertegun melihat senjata pilihan Andika. Beberapa saat setelah Andika memilih senjatanya, rak senjata kembali menyatu dengan dinding.
Ujung katana yang berkilat terarah pada Fika. Walau memegang senjata yang dapat membunuh dalam sekali sabetan, Andika nggak yakin dapat mengalahkan Fika. Dia juga nggak tahu alasan Fika memilih senjata tumpul yang nggak langsung dapat membunuhnya. Mungkin Fika ingin membuatnya kesakitan lebih dulu.
Fika kembali menyerangnya. Sambil memutar-mutarkan tongkat yang dipegangnya, gadis itu seakan ingin menciptakan barikade pertahanan yang kuat. Andika menyabetkan katana-nya, mencoba menerobos barikade yang dibuat Fika. Tapi, karena saat pelatihan Andika nggak begitu mendalami pertarungan memakai senjata, pertarungan itu nggak berlangsung lama. Dalam beberapa jurus Andika telah terdesak. Bahkan puncaknya Fika berhasil membuat katana yang dipegang Andika terlepas dari tangannya. Dan setelah itu telah bisa ditebak, Andika menjadi bulan-bulanan tongkat baja Fika.
Tulang-tulang Andika serasa remuk. Kemampuan Genoid-nya nggak dapat lagi menahan pukulan demi pukulan yang mendera dirinya. Setelah mencoba bertahan, akhirnya Andika roboh juga. Tubuhnya terempas ke lantai. Darah segar berceceran di lantai, kontras dengan warna lantai yang putih. Satu pukulan lagi, dan semuanya akan berakhir. Andika udah nggak bisa lagi menggerakkan tubuhnya. Dia pasrah jika saat ini Fika akan menghabisi nyawanya.
“Berhenti!” suara Chiko terdengar saat Fika akan menghantamkan tongkatnya ke kepala Andika. Kaca pembatas ruangan kembali menjadi bening.
“Sudah cukup. Letakkan senjatamu!”
Fika menuruti perintah Chiko. Dia menjatuhkan tongkat bajanya ke lantai.
“Kenapa kauhentikan? Bukankah kita harus membunuhnya?” tanya Duta.
“Tidak sekarang.”
Empat orang penjaga masuk ke ruang latihan. Dua orang di antaranya menggotong tubuh Andika yang setengah pingsan keluar ruangan, sedang yang dua orang lagi mengawal Fika keluar melalui pintu lain.
Duta melihat jam tangannya.
“Anda ada acara lain?” tanya Chiko.
“Ya. Ada pelepasan pasukan yang akan pergi ke Aceh dini hari nanti. Aku harus datang, atau akan mengundang pertanyaan. Dan kurasa ini saatnya aku bersiap-siap. Apa ada hal lain lagi yang perlu kuketahui?”
“Kurasa tidak. Biar saya yang mengurus semuanya di sini. Jika Anda ingin pergi, pergilah.”
“Kalau begitu aku juga. Besok ada rapat intern pagi-pagi,” sambung Dave.
“Baiklah. Aku rasa untuk hari ini cukup sampai di sini. Aku akan berbincang-bincang dahulu dengan Profesor Wischbert sebelum pulang. Kalau ada perkembangan terbaru, nanti kukabari. Selamat beristirahat untuk Anda semua.”
***
Sepeninggal Duta dan Dave, Chiko masuk ke ruang latihan. Ruang latihan masih penuh darah. Memang dia belum menyuruh ruangan tersebut dibersihkan. Chiko jongkok di dekat genangan darah yang belum mengering. Dia mengeluarkan alat pengukur pH mini dari dalam saku jasnya, mengambil contoh setetes sampel darah dengan ibu jarinya, dan menaruhnya di atas tempat yang tersedia pada alat. Angka digital pada alat menunjukkan angka 4,2.
Benar dugaanku! kata Chiko dalam hati.
* * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar