FIKA sama sekali nggak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Dia menjadi tersangka pembunuhan? Tersangka pembunuhan Bu Ira, mamanya sendiri. Fika kabur dari tempat Andika untuk menemui mamanya. Sesampainya di rumah, dia menemukan rumahnya dalam keadaan gelap gulita. Lampu belum dinyalakan. Fika menyangka mamanya belum pulang, karena pintu masih terkunci. Dan betapa kagetnya Fika saat masuk dan menemukan mamanya tergeletak di lantai ruang tamu dengan bersimbah darah.
“Mamaaa!!!”
Fika berlari memeluk tubuh Bu Ira. Tapi mamanya yang udah meninggal itu tetap diam nggak bergerak. Air mata Fika mengalir. Dia melihat sebilah pisau berlumuran darah di samping mayat mamanya.
Pasti itu pisau yang digunakan untuk menusuk Mama hingga tewas! pikir Fika.
Fika mengambil pisau tersebut dan mengamatinya. Ini pisau yang biasa dipakai mamanya di dapur. Pada saat yang hampir bersamaan tiba-tiba beberapa polisi masuk ke rumah. Melihat Fika berada di samping jenazah sambil memegang pisau berlumuran darah, udah bisa ditebak apa yang ada dalam pikiran para polisi tersebut.
***
“Tidak ada sidik jari lain pada pisau itu selain sidik jari tersangka. Juga di sekitar TKP. Tetangga sekitar tidak ada yang melihat orang lain masuk ke rumah. Mereka juga mendengar pertengkaran hebat dari dalam rumah antara tersangka dan ibunya sebelum kejadian,” ujar Edi Darmawan, polisi yang menangani kasus ini sambil memandang dari kejauhan ke arah Fika yang berada di dalam sel di kantor polisi.
“Tapi tampaknya dia depresi berat. Kematian ibunya tampaknya mengguncang jiwanya. Mungkin emang bukan dia yang membunuh ibunya,” balas Tantri Salma, polisi wanita yang mendampingi Fika selama pemeriksaan.
“Banyak kasus pembunuhan di mana si pelaku mengalami depresi berat setelah membunuh korbannya. Umumnya selain menyangkal membunuh, mereka juga mengaku tidak sadar saat membunuh. Karena itu penyidikan terhadap dia cukup sampai di sini malam ini. Besok akan kita lanjutkan, tentu setelah diperiksa psikiater untuk mengetahui keadaan jiwanya. Tapi melihat catatan yang ada di kepolisian...”
“Saya mengerti, Pak...”
Seorang polisi masuk mendekati Edi.
“Maaf, Pak, ada yang ingin ketemu Bapak.”
“Siapa?”
***
“Gue yakin lo nggak mungkin ngebunuh, apalagi ngebunuh nyokap lo sendiri,” kata Reni sambil terisak-isak saat menjenguk Fika dalam penjara. Ira dan Zahra juga ikut ke sana.
“Gue nggak tau apa-apa. Gue sama sekali nggak mengira akan mengalami hal ini...” kata Fika datar. Matanya kosong menatap dinding penjara.
“Kak Reza udah ke sini?”’
Fika menggeleng.
“Bokap lagi ngobrol ama petugas yang meriksa lo. Dia pasti bisa nolong lo. Gue yakin itu, Fik. Bokap juga nggak percaya lo ngelakuin ini semua,” lanjut Reni.
“Sebetulnya ada apa, Fik? Trus apa hubungannya ama kejadian di mal? Apa lo ngeliat pembunuhan satpam di mal? Jawab, Fik...” pinta Ira di sela-sela isak tangisnya.
Fika cuma diam. Nggak menjawab pertanyaan Ira.
“Fik, jawab dong? Ada apa?”
“Udah, Ra, jangan desek Fika. Dia lagi sedih karena kematian nyokapnya. Kita semua tau Fika nggak mungkin ngelakuin semua yang dituduhkan padanya. Nanti juga semua akan terungkap...” Zahra berusaha menenangkan Ira.
***
“Ayah akan membantu Fika, kan?” tanya Reni di mobil saat mereka dalam perjalanan pulang. Komisaris Oni, ayah Reni cuma diam sambil terus mengemudikan mobilnya.
“Yah...”
“Maafkan Ayah, Ren, ini di luar wewenang Ayah...”
“Ayah kan janji mo bantu Fika...”
“Benar. Tadi Ayah bicara dengan polisi yang memeriksa Fika, juga dengan komandannya. Saat itu ada telepon dari Polda. Mereka akan mengambil alih penyidikan kasus Fika. Katanya kasus Fika mungkin berkaitan dengan kasus pembunuhan di mal.”
“Tapi Ayah kan punya banyak kenalan di Polda?”
Oni kembali diam. Lama dia nggak menjawab pertanyaan Reni, lalu akhirnya menarik napas panjang.
“Dengar, mungkin Fika nggak seperti yang kalian duga...” kata Pak Oni akhirnya.
“Maksud Ayah apa?”
“Ayah tadi ditunjukkan catatan tentang diri Fika di kepolisian. Ternyata teman kalian itu punya catatan yang panjang sejak usia tiga belas tahun. Dia pernah ditangkap karena ketahuan mencuri di supermarket, sampai tertangkap sedang mengisap ganja. Fika juga diketahui pernah memukul ibunya hingga harus dirawat di rumah sakit. Semua kasus itu nggak dilanjutkan hingga pengadilan. Entah kenapa...”
Reni nggak percaya dengan apa yang dikatakan ayahnya. Zahra yang duduk di bangku belakang mobil karena ikut pulang juga nggak percaya.
“Nggak mungkin! Fika bukan orang seperti itu. Reni kenal dia. Fika sangat taat beribadah. Dan dia sangat sayang dengan mamanya. Ayah juga lihat tadi, Fika sangat terpukul dengan kematian mamanya. Dia stres berat,” bantah Reni.
“Benar, Oom. Jangankan make ganja atau sejenisnya. Nyentuh rokok aja Fika nggak pernah. Dia kan atlet. Napasnya lebih kuat daripada kita-kita. Lagi pula Fika juga pinter, agamanya kuat. Nggak mungkin dia pake narkoba. Sikapnya sehari-hari juga biasa, nggak ada yang aneh,” kata Zahra yang disambut anggukan kepala tanda setuju oleh Reni.
“Tapi begitulah menurut catatan kepolisian. Dan polisi nggak mungkin mengarang catatan itu. Kalian mungkin mengenal Fika dari satu sisi aja. Banyak orang yang mempunyai kepribadian ganda. Satu sisi berbeda dengan sisi yang lainnya...”
“Tapi Reni yakin Fika bukan orang seperti itu. Reni tetap nggak percaya!”
***
Duta duduk di ruang tengah rumahnya sambil memerhatikan berita di TV dengan saksama. Di layar TV terpampang berita yang membuat kepala perwira tinggi militer itu tiba-tiba serasa berputar.
“Penyerbuan itu tidak hanya menewaskan penduduk desa yang diduga sebagai anggota OPM, tapi juga hampir seluruh penduduk, termasuk wanita dan anak-anak. Satu-satunya yang selamat hanyalah seorang anak kecil berusia delapan tahun yang kini berada dalam perlindungan Kodim setempat. Anak tersebut terlihat masih trauma, mengingat apa yang baru saja dialaminya. Tapi dari keterangan yang berhasil kami dapat, anak itu sempat mengatakan bahwa yang menyerbu desanya hanya sekitar empat atau lima orang berpakaian serbahitam dan mengenakan topeng, tanpa atribut apa pun. Walau cuma berjumlah sekitar lima orang, mereka bisa membantai seluruh penduduk desa tanpa belas kasihan sedikit pun. Sementara itu di Jakarta, pihak TNI membantah adanya operasi militer yang dilakukan pada malam itu. Sampai sekarang belum diketahui pihak mana yang melakukan penyerbuan. Apakah dari TNI? Polisi? Atau pihak lain? Sementara itu jumlah empat sampai lima orang yang dikatakan saksi mata juga diragukan, mengingat diperkirakan ada tidak kurang dari seratus anggota OPM dengan senjata lengkap di desa itu. Menurut salah satu sumber, setidaknya butuh dua kompi pasukan khusus bersenjata lengkap untuk menyerbu desa itu. Belum lagi medannya yang berada di tengah hutan dan sukar dilalui. Mustahil kehadiran TNI di sana tidak diketahui pihak OPM...”
“Sialan kau, Chiko!” rutuk Duta sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
***
Menjelang tengah malam, suasana di kantor polisi mulai sepi. Cuma beberapa petugas jaga dan satu atau dua wartawan yang masih berada di sana. Jumlah mereka semua nggak lebih dari sepuluh orang.
Fika masih terdiam di dalam selnya. Dia masih nggak percaya dengan segala kejadian yang menimpanya hari ini. Mulai dari dikejar-kejar untuk diculik lalu dibunuh, kenyataan dia bukan manusia biasa, sampai tewasnya mamanya, mama yang paling disayanginya. Dan yang lebih menyakitkan, dia dituduh sebagai pembunuhnya. Semua bukti mengarah padanya, walau Fika sendiri nggak tahu apa-apa.
Ya Tuhan, cobaan apa yang sedang Kautimpakan padaku? batin Fika.
Sempat terlintas di pikiran Fika untuk mengakhiri hidupnya. Dengan demikian dia bisa terbebas dari penderitaan yang dialaminya. Mungkin juga bisa bertemu dengan mamanya. Tapi pikiran itu kemudian ditepis sendiri oleh Fika. Bunuh diri adalah perbuatan dosa yang dilarang agama. Dan Fika nggak ingin ngelakuin hal itu. Dia masih percaya semua ini suatu saat akan berakhir, walau entah sampe kapan.
Satu hal yang mengherankan Fika, sampai saat ini belum sekali pun dia berhubungan dengan Reza. Jangankan menengok ke penjara, mendengar kabarnya juga nggak. Padahal Reza udah janji akan makan malam dengannya. Ada apa ini? Fika nggak percaya Reza mengabaikan dirinya. Reza udah janji akan selalu menjaga dan melindunginya, seperti yang dia bilang kemarin malam saat mereka jadian.
Mungkin dia belum sempat ke sini! pikir Fika menghibur dirinya sendiri, walau sebenarnya dia nggak terlalu yakin.
Suara gaduh di luar sel menarik perhatian Fika—juga para tahanan lainnya, termasuk rekan satu selnya, seorang wanita berusia tiga puluh tahunan yang ditahan karena kasus penipuan yang sebelumnya sedang tertidur lelap. Nggak lama kemudian terdengar suara tembakan.
“Ada apa?” tanya wanita rekan satu sel Fika. Fika cuma diam, nggak menjawab. Dia juga nggak tahu apa yang terjadi. Beberapa saat kemudian lampu di seluruh kantor polisi padam, suasan menjadi gelap gulita. Beberapa tahanan berteriak-teriak di dalam selnya, menambah suasana menjadi panas. Perasaan Fika jadi nggak enak.
“Di belakang!”
Fika mendengar langkah kaki menuju sel yang berada di belakang kompleks markas polisi. Suara tembakan masih terdengar dengan gencar.
Sekonyong-konyong ada bayangan berkelebat di luar selnya.
“Fika?”
Fika mengenal suara itu.
“Andika!”
“Kamu di mana?”
“Di sini, deket bangku.”
Andika berdiri di depan sel yang ditempati Fika.
“Mundur!” perintah Andika. Fika mundur selangkah dari jeruji. Andika mengeluarkan pistolnya dan menembak kunci gembok yang mengunci sel Fika.
“Cepat!” Andika menarik tangan Fika agar segera keluar. Beberapa tahanan lain berteriak agar Andika juga membebaskan mereka. Tapi Andika nggak memedulikan teriakan-teriakan tersebut. Mereka berdua berlari menyelusuri koridor belakang.
“Tunggu...” kata Fika. Saat melewati sebuah ruangan dia melihat tas sekolahnya tergeletak di meja. Fika segera meraih tas sekolahnya yang berwarna menyala itu.
“Cepat!”
Mereka menuju bagian belakang. Sesampainya di halaman belakang, Andika melihat seseorang berada di depan mereka. Orang berbaju serbahitam dan memegang senjata otomatis itu juga melihat Andika dan Fika, dan tanpa basa-basi segera menembakkan senjatanya.
“Awas!” Andika mendorong Fika. Mereka berlindung di balik tembok bangunan di dekatnya.
“Siapa mereka?”
“Genoid. Mereka udah di sini.”
“Genoid?”
Andika balas menembak untuk menghentikan langkah Genoid yang berlari ke arah mereka. Tembakan itu cukup membuat Genoid tersebut menghentikan langkahnya dan mencari tempat perlindungan.
“Target ditemukan. Arah jam tujuh...”
Andika melihat keadaan sekelilingnya. Mencari jalan keluar.
“Kamu harus ke pagar tembok di sana, lalu loncat. Ada mobil sedan biru di balik tembok ini. Tunggu aku di sana.”
“Loncat? Tapi pagar itu kan tinggi...”
“Kamu pasti bisa. Percayalah... aku akan mengalihkan perhatiannya. Kamu lari aja secepatnya.”
“Kenapa lo nggak tembak aja Genoid itu? Mereka bisa mati, kan?”
“Bisa. Mereka sama seperti manusia juga. Tapi aku nggak mungkin mengalahkannya. Cuma kamu yang bisa melawan mereka, itu pun jika kamu udah dilatih. Sekarang nggak mungkin.”
Tembakan beruntun kembali diarahkan kepada mereka.
“Cepat! Naik ke atas mobil itu, lalu loncat! Kamu pasti bisa!” Seusai berkata begitu Andika keluar dari persembunyiannya, melepaskan tembakan sambil berlari ke sisi lain.
“Lari!”
Tanpa membuang waktu Fika berlari sekencang-kencangnya ke arah pagar tembok yang berjarak kurang-lebih tiga puluh meter darinya. Saat itu tembakan terdengar dari arah lain.
Mereka mulai datang! kata Andika dalam hati. Dia segera berlari menuju Fika. Tapi tembakan di depannya menghambat langkah cowok itu.
Shit! batin Andika.
Andika melihat Fika berhasil mencapai mobil sedan yang diparkir dekat tembok, naik ke atasnya, dan melompat.
Berhasil!
Fika berhasil melompat melewati pagar tembok yang tingginya sekitar tiga meter. Andika lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ransel yang selalu dibawanya. Granat tangan.
Terpaksa aku pakai ini! kata Andika dalam hati. Dia menarik pin yang mengunci granat tangan itu, dan melemparnya ke arah Genoid yang terus menembakinya. Para Genoid yang melihat ada granat terbang ke arah mereka segera berpencar menghindar.
Ledakan keras terjadi. Saat itu Andika mengambil kesempatan untuk lari menyusul Fika. Dia berhasil melompat menyeberangi tembok tepat saat sebuah tembakan tepat mengenai tangki bensin mobil yang jadi pijakan lompatnya. Ledakan keras mengiringi tubuh Andika yang terpental menyeberangi tembok. Andika mendarat di sisi jalan di seberang tembok, cuma beberapa sentimeter dari selokan.
“Lo nggak papa?” tanya Fika yang udah menunggu. Dengan terhuyung-huyung Andika bangkit, dan masuk ke mobil yang udah disiapkannya. Tanpa buang waktu dia menghidupkan mesin mobil dan langsung menginjak pedal gas. Tapi baru beberapa meter mobil melaju, sesosok bayangan melompat dari balik pagar kantor polisi, dan tepat mendarat di atap mobil yang membawa Fika dan Andika.
“Andika!”
Andika mengerem mobil secara mendadak, membuat orang yang berada di atas atap mobil jatuh tersungkur ke tengah jalan. Dia lalu memundurkan mobil dengan kecepatan tinggi.
“Pasang sabuk pengaman!” perintah Andika yang segera dikerjakan oleh Fika.
Andika menekan pedal gasnya dalam-dalam. Mobil kembali melaju ke depan dengan kecepatan tinggi ke arah Genoid yang sedang berusaha bangkit di tengah jalan.
“Andika jangan!!”
Tapi Andika nggak memedulikan teriakan Fika. Nggak ayal lagi mobil sedan yang melaju dengan kecepatan di atas 80 km per jam itu menabrak prajurit Genoid berbadan besar yang menghalangi jalannya. Tubuh Genoid tersebut terlempar hingga berpuluh-puluh meter.
“Kenapa lo tabrak dia?” tanya Fika, saat mobil mereka melaju makin jauh dari kantor polisi itu.
“Kalo nggak dia akan menyusahkan kita...” jawab Andika sambil melihat ke belakang melalui kaca spion. “Berharap aja dia tewas karena tabrakan tadi. Jadi musuh kita berkurang satu.”
“Kalo gitu lo udah jadi pembunuh...”
“Terpaksa. Kalo nggak kita yang akan dibunuh mereka.”
Fika hendak menimpali ucapan Andika saat terdengar suara gemuruh di belakang mereka. Seketika itu juga keadaan di dalam mobil menjadi terang benderang.
“Bagus, sekarang mereka pakai helikopter!” geram Andika.
Sebuah helikopter jenis Bell Air berada tepat di belakang mereka dengan lampu sorot mengarah pada mobil yang melaju kencang di bawahnya.
Suara tembakan terdengar dari arah helikopter.
“Mereka nembakin kita! Bagaimana kalo kena? Mobil ini bisa meledak!” ujar Fika panik. Dia ingat adegan film-film action saat mobil meledak kalau tangki bensinnya kena tembakan.
“Jangan khawatir. Mereka cuma menakuti kita. Mereka membutuhkan kamu,” jawab Andika. Dia lalu merogoh pinggangnya dan mencabut pistol.
“Pake ini. Balas tembakan mereka!” kata Andika sambil menyodorkan pistol pada Fika.
“Tapi gue nggak bisa pake pistol! Megang aja nggak pernah!”
“Kamu Genoid, pasti bisa. Pernah nonton film action?”
“Pernah. Tapi apa hubungannya?”
“Lakukan seperti yang ada dalam film. Kamu pasti bisa cepat belajar...” jawab Andika sambil meletakkan pistolnya di paha Fika. Sejenak Fika cuma memandang pistol yang berada di pangkuannya dengan ragu-ragu.
“Cepat! Itu akan memperlambat mereka. Setidaknya mereka nggak leluasa nembakin kita! Atau kamu lebih suka begini?” tanya Andika separo berteriak karena konsentrasinya terpecah dari usaha membuat mobil berlari zig-zag agar terhindar dari tembakan yang dilancarkan helikopter.
Fika cepat meraih pistol milik Andika. Berat amat! pikirnya.
Dia melongok ke luar jendela dan mulai membidikkan pistol, lalu mulai menembak. Suara tembakan terdengar. Tembakan pertama yang dilakukan Fika. Badan Fika terasa bergetar karena sentakan pistol yang ditembakkannya. Hampir aja pistol dalam genggamannya lepas.
“Tembak lampu sorotnya!”
“Ngomong sih gampang! Susah nih ngarahinnya!”
Setelah menembak beberapa kali, Fika mulai terbiasa dengan pistol semiotomatis yang dipegangnya. Benar kata Andika, Genoid emang lebih cepat belajar daripada manusia biasa. Walau begitu, menembak lampu sorot helikopter yang mengikuti mereka tetap bukan hal mudah. Apalagi Fika berada dalam mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dan selalu berubah-ubah arahnya.
Melewati persimpangan jalan, mobil minibus berwarna merah muncul dari arah lain jalan, berusaha menghadang laju mobil yang dikemudikan Andika. Andika cepat membanting setir mobilnya, belok ke arah yang berlawanan. Gerakan tiba-tiba itu membuat Fika kaget hingga tembakannya meleset jauh.
Sial! rutuk Fika dalam hati. Padahal dia udah membidik dengan tepat dan yakin kali ini bakal kena!
“Bilang-bilang dong kalo mo belok...”
Andika nggak peduli dengan ucapan Fika. Dia tetap memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Aduuhhh!!!”
Fika menjerit tertahan. Kepalanya kembali masuk mobil.
“Ada apa?”
Andika menoleh sekilas. Pangkal lengan kanan Fika berdarah.
“Kamu nggak apa-apa?”
“Gue kena...”
Ini makin gawat! batin Andika. Dia harus cepat lolos dari pengejarnya. Lolos dari mobil yang mengejarnya masalah gampang, tinggal masuk ke jalan-jalan sempit sambil sedikit bermanuver, jika pengemudi minibus yang mengejarnya bukan Genoid atau nggak sehebat dirinya, Andika yakin mereka dapat lolos. Lain soal dengan helikopter. Mereka dapat terus terlihat dari udara. Apalagi di tengah malam saat suasana sangat sepi. Mobil yang dikemudikannya gampang terlihat dan dikenali.
Tiba-tiba Andika melihat sebuah hotel bintang lima, dan suatu ide terlintas di benaknya. Dia segera membelokkan mobilnya ke halaman hotel itu.
Tentu aja Fika jadi bertanya-tanya. Apalagi ketika Andika membawa mobil masuk ke area parkir basement hotel tersebut.
“Kamu pernah ke diskotek?” tanya Andika tiba-tiba, membuat Fika semakin heran.
Fika menemukan jawaban beberapa menit kemudian, saat dia dan Andika memasuki diskotek yang terletak di salah satu bagian hotel tersebut. Perhitungan Andika benar. Satu-satunya tempat yang masih ramai saat tengah malam adalah diskotek. Dengan begitu mereka dapat bersembunyi, membaur dengan pengunjung lain. Apalagi didukung penerangan di diskotek yang minimalis. Paling nggak para pengejarnya akan mengalami kesulitan. Dari tempat persembunyiannya, Fika sempat melihat para pengejarnya kebingungan mencari mereka di dalam diskotek yang ramai. Mereka rata-rata bertampang dingin dan bengis. Nyaris tanpa ekspresi.
***
Telepon di rumah keluarga Pak Oni berdering. Setelah beberapa lama, akhirnya telepon itu diangkat oleh Reni yang belum tidur. Ternyata telepon untuk ayahnya. Ayah Reni yang terbangun karena suara dering telepon di tengah malam itu tampak serius melakukan pembicaraan di telepon selama beberapa menit.
“Ayah harus segera ke kantor. Ada hal penting,” kata Pak Oni pada istrinya yang juga ikut terbangun.
“Malam-malam begini?” tanya istrinya. Pak Oni mengangguk, kemudian menoleh ke arah Reni yang duduk di ruang tengah, nggak jauh dari mereka.
“Temanmu kabur. Seluruh petugas jaga di kantor polisi tewas,” ujar Pak Oni pada putrinya.
“Nggak mungkin. Fika nggak mungkin bisa ngelakuin hal itu!” bantah Reni.
“Benar. Ada yang membantunya. Dan siapa pun orang itu, mereka sangat profeFaizalal dan berdarah dingin.”
* * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar