Serba-Serbi Kehidupan Sastra

Terima kasih telah mengunjungi blog ini

Rabu, 28 Mei 2014

De ANgel 1 Part 8 (Karya Luna Torashyngu)

PAGI menjelang. Matahari udah muncul di ufuk timur. Kicauan burung terasa merdu di antara asrinya pepohonan yang tumbuh lebat di hutan yang berada di sepanjang jalan Pantai Utara Jawa. Sebuah sedan tampak terparkir di antara pepohonan tersebut, agak jauh dari jalan raya hingga hampir luput dari pandangan orang yang lewat.

Andika terbangun ketika merasakan ada benda menempel di keningnya. Ketika Andika membuka mata, yang pertama dilihatnya adalah Fika menggenggam pistol yang ujungnya tertempel pada kening kirinya.

“Ada apa?” tanya Andika.

“Siapa lo sebenarnya?”

Andika tentu aja kaget dengan pertanyaan itu. Dia beringsut membetulkan posisi di kursinya. Tapi Fika menekan pistolnya ke kening Andika dengan lebih kuat.

“Jangan bergerak! Jawab dulu pertanyaan gue!”

“Apa maksud kamu?”

“Jangan pura-pura! Sekali lagi gue tanya, siapa lo sebenarnya? Jangan coba-coba bohong ama gue. Gue nggak segen-segen nembak lo!”

“Emang kamu bisa?”

“Mau coba?”

Fika berhasil meyakinkan Andika bahwa dirinya nggak main-main.

“Kamu udah tau. Aku udah cerita semuanya...”

“Bahwa lo itu anak Profesor Sahid yang sedang kuliah, trus terpanggil buat nyelamatin gue. Begitu?”

“Emang begitu...”

“Oya? Lalu kenapa mahasiswa seperti lo punya macam-macam senjata dan peralatan seperti ini di dalam tas?” Fika menunjuk beberapa alat yang dibawa Andika dalam ranselnya. Sebagian di antara alat-alat itu baru pertama kali diliat Fika dan dia nggak tau apa fungsinya. Tapi dia bisa dengan mudah mengenali berbagai macam senjata ringan, juga beberapa bahan peledak, termasuk granat tangan.

“Kan aku pernah cerita, aku dipersiapkan untuk ini...”

“Jangan bohong. Gue tau semua ini alat militer. Orang sipil kayak lo nggak mungkin ngedapetin alat dan senjata kayak gini. Apalagi sebagian dari alat-alat ini merupakan alat canggih yang nggak ada di Indonesia. Dan satu lagi...” Fika menunjukkan HP satelit milik Andika.

“Semalem HP lo bunyi. Ada SMS masuk. Karena lo nggak bangun, gue yang buka. Nggak jelas dari siapa, tapi ada pesen singkat buat lo...”

“Apa isinya?”

Fika menunjukkan layar HP Andika. Andika membaca SMS yang tertulis pada layar HP-nya:

Paman Sammy sdh diberitahu. Akan ambil bidadari di kandang singa, hubungi kalau sdh tiba.

“Paman Sammy itu Paman Sam alias Amrik, kan? Sedang kandang singa adalah Singapura. Dan yang disebut bidadari pasti gue. Bener, kan?”

“Kenapa kamu bisa mengambil kesimpulan seperti itu?”

“Gue ini Genoid. Ingat? Lo yang bilang kalo kecerdasan gue di atas manusia biasa. Jadi gue bisa ngambil kesimpulan dengan cepat. Apa hubungan lo ama Amrik? Cepat jelasin! Atau gue turun dan terserah lo mo pergi ke mana aja, tapi gue nggak ikut!”

Andika nggak bisa mengelak lagi. Dia tahu, sebagai Genoid Fika memiliki kelebihan, antara lain daya pikir dan nalarnya yang cepat dan kadang di luar batas pikiran manusia. Andika juga menyesali rekan-rekannya yang gegabah mengirim SMS, walau berusaha memakai bahasa sandi. Sandi seperti ini terlalu mudah bagi seorang Genoid seperti Fika.

“Aku emang bukan anak Profesor Sahid...” Andika berhenti sejenak, menunggu reaksi Fika. Tapi Fika tetap diam. Dia menunggu Andika menyelesaikan ceritanya.

“Singkatnya, CIA menugaskan aku untuk membawa kamu keluar dari Indonesia. Mereka tahu apa yang terjadi di sini. Proyek Genoid ternyata juga menarik perhatian mereka.”

“CIA? Maksud lo CIA yang agen rahasia Amrik itu?” tanya Fika.

Andika mengangguk.

“Jadi lo orang CIA? Tapi lo kayak orang Indonesia.”

“Aku emang orang Indonesia. Orang Indonesia yang tinggal dan dibesarkan di Amerika Serikat.”

“Jadi lo mo ngejual gue ke CIA? Dengan mengkhianati bangsa lo sendiri?”

“Aku terpaksa. CIA sangat berbahaya, lebih berbahaya daripada organisasi yang ada di sini. Jaringan mereka lebih luas. Seperti juga kamu, mereka bisa membuatku seakan-akan nggak pernah ada di dunia ini.”

“Setahu gue, CIA punya banyak agen. Kenapa harus nyuruh lo?”

“CIA tahu kalau proyek Genoid melibatkan pejabat militer dan pemerintahan. Mereka nggak ingin berhadapan langsung dengan militer dan pemerintah Indonesia. Jadi mereka menugaskan orang Indonesia untuk melaksanakan tugas ini. Dan asal kamu tahu, CIA memiliki banyak agen di sini, yang hampir semuanya orang Indonesia asli. Bahkan mereka ada yang menempati posisi penting di pemerintahan, juga militer. Dari merekalah CIA mengetahui semuanya tentang negara ini.”

“Tapi kenapa harus lo? Kenapa bukan yang lain aja? Gue udah percaya semuanya ama lo...” Mata Fika mulai berkaca-kaca.

Andika menghela napas. “Aku nggak sepenuhnya bohong.”

“Maksud lo?”

“Profesor Sahid emang punya anak laki-laki. Sekitar sebulan yang lalu anak keduanya yang usianya hampir sama dengan kamu dan sekolah di San Diego tewas terbunuh. Mereka mengira anak Profesor Sahid itu adalah Genoid B. Tapi mereka salah. beberapa hari setelah itu anak pertamanya yang ada di Boston menghilang secara misterius. Sampai sekarang nggak ada yang tahu keberadaannya. Dan alasan mereka memilihku...”

“Teruskan...”

“...sejak kecil aku ikut ibuku yang menjadi pembantu di rumah keluarga Profesor Sahid. Walau begitu dia dan istrinya nggak pernah menganggap kami sebagai pembantu dan anaknya. Mereka menganggap kami keluarga. Aku diberi tempat tinggal, makanan, pakaian, dan disekolahkan di tempat yang sama dengan anak-anaknya. Sejak kecil aku mengenal baik kedua anak Profesor Sahid, Dayat dan Faizal. Sifat, kebiasaan, dan perilaku mereka, aku tahu pasti. Ketika Faizal tewas dan Dayat menghilang, CIA merekrutku untuk menyamar menjadi anak Profesor Sahid. Mereka mengancam jika aku nggak melakukannya, mereka nggak bisa menjamin keselamatan ibuku dan keluarga Profesor Sahid yang masih ada, yaitu istrinya. Aku nggak punya pilihan lain. Sejak saat itu aku resmi menjadi anggota CIA. Aku termasuk anggota covert operation, yaitu misi-misi CIA yang nggak resmi dan nggak diakui oleh mereka. Jadi jika aku gagal dalam tugasku, tertangkap, atau terbunuh, mereka akan menyangkal bahwa aku agen mereka. Dan semua kulakukan demi keluargaku dan keluarga Profesor Sahid.”

Fika tersenyum sinis mendengar cerita Andika.

“Lo mo coba boong lagi? Kalo lo baru aja direkrut, kenapa lo udah jago berantem, pake senjata, granat, dan sejenisnya? Apa tadinya lo tentara?”

“Ternyata kamu emang pintar. Kamu benar, nggak mungkin seseorang bisa ahli menggunakan senjata dan beladiri dalam waktu singkat, kecuali...”

“Kecuali apa?”

“...kecuali kalau dia Genoid.”

Fika terperanjat mendengar ucapan Andika.

“Lo... Genoid juga?”

Andika mengangguk. “Genoid tipe A, generasi yang diciptakan Profesor Sahid. Aku juga baru tau setelah CIA menceritakan semuanya. Ternyata dulu Profesor Sahid menggunakan ibuku sebagai percobaan untuk embrio Genoid yang baru ditemukannya. Dia memasukkan embrio Genoid itu ke tubuh ibuku, hingga ibuku hamil. Itulah sebabnya kenapa aku nggak pernah tahu siapa ayahku. Bahkan fotonya pun nggak ada. Ibu cuma bilang Ayah udah meninggal saat aku masih dalam kandungan. Belakangan aku tahu aku emang nggak punya ayah. Dari dulu hingga sekarang ibuku nggak pernah menikah.”

“Kalo lo Genoid, kenapa mereka nggak ngebedah tubuh lo aja? Daripada repot-repot ngejar gue, dan menghacurkan hidup gue...”

“Karena aku Genoid A. Kemampuan Genoid A jauh di bawah Genoid B. Mungkin cuma sedikit di atas manusia biasa. Selain itu tubuh Genoid A nggak mempunyai Cathalyne. CIA nggak ingin repot-repot memproduksi Genoid A. Mereka ingin memproduksi Genoid B yang kemampuannya jauh lebih hebat.”

Fika nggak bisa berkata apa-apa lagi. Dia cuma memandang Andika dengan perasaan yang berkecamuk. Perasaan benci, sedih, juga kecewa.

“Gue kecewa ama lo. Ternyata lo nggak beda ama mereka. Apa pun alasan lo, lo nggak berhak ngelakuin itu ke gue!” kata Fika di sela isak tangisnya. Sejurus kemudian dia membuka pintu mobil, dan keluar sambil membawa tas dan pistol yang masih dipegangnya.

“Kamu mau ke mana?”

“Jangan ikutin gue! Gue nggak mau dijadiin kelinci percobaan siapa pun!!”

“Iya, tapi kamu mau ke mana? Ingat, kamu adalah buronan! Mereka mengejar kamu!”

“Gue nggak peduli! Terserah gue mo ke mana! Yang penting gue nggak mau dimanfaatin siapa pun! Apalagi ama orang yang ngakunya mau nolong gue...”

“Fika! Tunggu!”

Andika keluar dari mobil, mencoba mengejar Fika. Tapi baru membuka pintu mobil, suara tembakan terdengar. Fika menembak salah satu roda depan mobil, membuat roda itu kempes.

“Gue bilang jangan ikutin gue! Dan gue nggak akan maen-maen! Selangkah lagi lo bergerak, peluru berikutnya gue arahin ke lo!”

Dalam situasi begini Andika nggak bisa berbuat banyak. Dia cuma bisa menyaksikan Fika berlari ke jalan raya, menghilang di balik pepohonan.

Shit! rutuk Andika. Segala usahanya selama ini gagal. Sekarang dia harus mulai dari nol lagi. Dia nggak tahu ke mana Fika akan pergi.

***

Di kantor PT Venon Regen Indonesia, Duta memasuki ruangan direktur utama, Chiko Chandra.

Chiko menyambut kedatangan Duta dengan tampak gusar. Setelah Duta masuk, pria bertubuh kurus itu menyuruh asistennya menutup pintu.

“Ini sudah keterlaluan. Harus dihentikan!” kata Duta langsung.

“Sabar-sabar... ada apa?”

“Ada apa? Kau tahu ada apa... tanpa izinku, kau mengirim Genoid ke Papua! Dan kemarin, apa yang ada dalam pikiranmu hingga kau mengirim mereka semua ke kantor polisi? Membunuh seluruh petugas polisi di sana, cuma demi mencari seorang gadis? Apa kau tidak bisa tunggu sampai besok?”

Menghadapi Duta yang menyemprotnya dengan kata-kata pedas, Chiko tetap tenang. Dia duduk di kursinya sambil tersenyum, menunggu Duta selesai berbicara.

“Para calon pembeli butuh bukti. Mereka ingin tahu kemampuan para Genoid,” kata Chiko setelah Duta selesai berbicara.

“Tapi sudah kubilang kita cari saat yang tepat untuk hal itu. Kita harus hati-hati. Udah kubilang tunggu izin dariku jika ingin melakukan operasi militer seperti itu.”

“Mereka tidak bisa menunggu. Ini menyangkut kepercayaan. Dan saya rasa Papua adalah sasaran yang tepat. Lagi pula bukannya itu malah mempermudah tugas TNI?”

“Ya, kalau tidak ada saksi. Para Genoid-mu ceroboh. Ada yang selamat. Dan walau dia cuma seorang bocah kecil, dia udah bernyanyi di mana-mana. Mabes TNI bahkan akan membentuk tim untuk menyelidiki masalah ini, untuk membuktikan pihak militer tidak terlibat. Dan bukan tidak mungkin, cepat atau lambat penyelidikan itu akan mengarah padaku. Jika aku tertangkap, keseluruhan rencana ini bisa gagal...”

“Tidak, jika Anda tidak buka mulut.”

“Bagaimana bisa? Aku tidak ingin hancur sendirian. Menanggung apa yang kalian rencanakan.”

Chiko tersenyum mendengar ucapan Duta.

“Anda jangan khawatir. Saya udah mengatur hal itu. Mulai besok, tidak akan ada saksi. Penyelidikan tidak akan mengarah pada Anda. Percayalah.”

“Apa yang akan kalian lakukan? Jangan buat masalah baru!”

“Tidak akan. Seperti saya bilang, saya yang akan membereskannya. Anda tenang aja. Tidak bakal ada masalah baru.”

“Kau yakin?”

Chiko mengangguk.

“Termasuk masalah di kantor polisi?”

“Ya. Termasuk itu.”

“Baiklah. Tapi kuminta saat ini jangan perlihatkan Genoid di muka umum. Mereka belum sempurna.”

“Baiklah.”

“Bagaimana dengan usaha kalian? Kalian sudah dapatkan gadis itu?”

“Belum. Di luar dugaan, ternyata ada yang membantunya. Salah seorang Genoid dalam kondisi kritis, bahkan mungkin akan tewas.”

“Bagaimana bisa? Mereka Genoid, kan?”

“Genoid bukanlah Superman. Mereka juga bisa tewas seperti manusia biasa.”

“Jadi, gadis itu lolos?”

“Sampai sekarang, iya. Tapi jangan khawatir... dia tidak akan bisa ke mana-mana. cepat atau lambat kita pasti akan mendapatkannya...” tandas Chiko dengan nada yakin.

***

Di sebuah pemakaman umum di Jakarta Selatan, sedang berlangsung pemakaman Bu Ira, seorang wanita yang tewas terbunuh kemarin, dan diduga dibunuh oleh anaknya sendiri yang sampai sekarang masih buron. Beberapa tetangga, teman, maupun kenalan Ira tampak hadir dalam prosesi pemakaman tersebut. Wajah mereka diliputi kesedihan. Mereka umumnya nggak menduga kehidupan keluarga yang tampaknya harmonis dan bahagia itu harus berakhir secara tragis. Sebagian besar dari mereka juga nggak percaya Fika tega membunuh mamanya sendiri. Beberapa dari mereka bahkan tahu bagaimana Fika sangat menyayangi dan disayangi mamanya. Mendung yang menggelayut di atas Jakarta walau menjelang tengah hari seakan-akan ikut merasakan duka yang dialami para pelayat. Selain para pelayat, beberapa polisi juga tampak berada di sekeliling pemakaman tersebut.

***

Agak jauh dari sana, di dalam sebuah taksi yang diparkir di pinggir pemakaman, Fika menyaksikan seluruh prosesi pemakaman hingga selesai. Walau diliputi kesedihan, Fika nggak dapat mendekati prosesi pemakaman mamanya. Dia nggak ingin ada yang mengenali dirinya, apalagi dengan adanya polisi di tempat itu.

Mama! Maafin Fika! Fika ingin memeluk dan mencium Mama untuk terakhir kalinya. Tapi Mama tahu itu nggak mungkin Fika lakukan saat ini. Tapi Fika berjanji akan menemukan pembunuh Mama yang sebenarnya. Dan kalau keadaan memungkinkan, suatu saat Fika akan mengunjungi Mama. Kita kan dapat ngobrol seperti dulu lagi! batin Fika sambil terus memandang ke arah makam mamanya dengan perasaan sedih. Butiran air mata mengalir membasahi pipinya yang putih. Setelah prosesi pemakaman selesai, Fika segera menghapus air matanya dan menyuruh sopir taksi menjalankan kendaraannya.

***

Kawasan Kuningan, Jakarta, tengah hari...

Siang ini suasana di kafe C’rios nggak terlalu ramai. Padahal sekarang jam makan siang, dan kafe itu berada di salah satu daerah perkantoran dan pusat bisnis yang padat di Jakarta. Cuma ada beberapa orang pengunjung yang ada di dalam, dan salah satu pengunjung kafe adalah Reza.

Masih mengenakan seragam sekolahnya, Reza duduk sendiri di salah satu meja yang ada di tengah kafe. Wajahnya tampak gelisah dan tegang. Sebentar-sebentar dia melihat jam tangannya dan melongok ke arah pintu masuk, seperti sedang menunggu seseorang.

Nggak lama kemudian wajahnya sedikit berseri. Yang ditunggunya datang. Fika tampak memasuki kafe. Gadis itu memakai topi biru dan kacamata hitam untuk menyamarkan penampilannya. Rambutnya yang panjang diikat menjadi satu. Pakaiannya pun udah ganti. Walau masih mengenakan celana jins yang dipakainya sejak kemarin, sekarang Fika memakai T-shirt putih. Topi, kacamata, dan T-shirt itu baru dibelinya saat dia akan ke kafe ini. Tujuannya udah jelas, agar nggak ada yang mengenali dirinya.

Reza memberi tanda saat Fika memandang berkeliling mencari dirinya. Fika segera bergegas menuju tempat Reza. pertemuan sepasang kekasih ini tentu aja menimbulkan suasana yang berbeda.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Reza saat Fika udah duduk di depannya.

Fika melepas kacamata hitamnya. Saat itulah terlihat wajahnya yang kusut dan matanya yang sembap.

“Kamu habis nangis?” tanya Reza lagi.

“Fika baru aja ikut pemakaman Mama,” jawab Fika dengan suara sedikit bergetar.

“Kamu bisa dateng ke...”

“Tentu aja Fika nggak ikut langsung. Fika cuman ngeliat dari jauh. Ngeliat jasad Mama dikubur.”

Reza tertunduk mendengar perkataan Fika. “Maaf, aku nggak bisa dateng ke pemakaman mamamu. Tadi ada ulangan, jadi...”

“Nggak papa... kamu nggak perlu minta maaf. Fika ngerti kok.”

Reza memandang kekasihnya dengan perasaan iba. Wajah Fika yang imut, tapi nggak terlalu feminin tetap cantik walau sedang dilanda banyak masalah. Dan terus terang wajah Fika itulah yang membuat Reza jatuh hati padanya sejak pertama kali mengenal cewek itu. Walau sebenarnya masih banyak cewek lain di SMA 132 yang lebih cantik daripada Fika dan suka padanya, wajah Fika memiliki ciri khas yang nggak dimiliki cewek-cewek lain di sekolah.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Aku sama sekali nggak menduga...”

“Kamu percaya Fika ngelakuin semua ini? Fika yang ngebunuh mama?”’

“Bukan masalah aku percaya atau nggak, tapi masalahnya kamu terlibat dalam hal ini. Polisi bilang semua bukti mengarah ke kamu...”

“Fika dijebak!” kata Fika agak keras, membuat sebagian pengunjung kafe menoleh ke arah mereka. Melihat itu Fika jadi sadar.

“Dijebak?”

“Ada yang menginginkan Fika. Dan untuk itu, mereka bersedia melakukan apa aja untuk mendapatkan Fika, termasuk membunuh Mama...” ujar Fika dengan suara lirih.

“Menginginkan kamu ? Untuk apa mereka menginginkan kamu ? Mereka ingin menculik kamu ?”

Hampir aja Fika mengatakan siapa dia sebenarnya. Tapi dia ingat pesan Andika untuk nggak mengatakan yang sebenarnya pada siapa pun. Dan walaupun kepercayaan Fika pada Andika udah hilang, dia mengakui kebenaran ucapan cowok itu. Dia nggak ingin membahayakan nyawa Reza. Selain itu belum tentu Reza percaya dengan apa yang dikatakannya.

“Lebih baik kamu menyerahkan diri,” tukas Reza kemudian.

“Menyerahkan diri? Tapi Fika nggak bersalah. Kamu nggak percaya ama Fika?”

“Bukan begitu. Walau kamu nggak bersalah, masalah ini nggak akan selesai dengan kamu melarikan diri. Menyerahlah pada polisi. Kita selesaikan masalah ini bersama-sama. Bila perlu aku akan membujuk Ayah untuk menyewa pengacara yang paling hebat di sini untuk membela kamu.”

“Fika nggak akan menyerahkan diri. Jika Fika lakukan itu, sama aja dengan bunuh diri. Fika pasti akan mati. Dan asal kamu tahu, Fika nggak pernah mencoba melarikan diri. Orang-orang yang menginginkan Fika datang ke kantor polisi. Merekalah yang membunuh para polisi itu, bukan Fika.”

“Iya, tapi...”

Reza nggak melanjutkan ucapannya karena Fika memberi isyarat untuk diam. Entah kenapa tiba-tiba naluri Fika mengatakan ada sesuatu yang nggak beres di sekitarnya. Fika memandang ke sekeliling kafe. Baru dia sadar dia satu-satunya pengunjung kafe ini yang cewek. Sekitar sepuluh pengunjung lainnya selain mereka berdua adalah cowok. Usia dan perawakan mereka hampir sama, kecuali cowok yang duduk di belakang Reza dan mengenakan jaket krem, yang menurut Fika berusia sekitar empat puluh tahunan. Walau Fika belum bisa menduga apa yang terjadi, nalurinya mengatakan dia harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini.

“Dengar, Fika nggak ada waktu. Fika cuma mo minta bantuan kamu...”

“Bantuan apa?”

“Fika harus pergi menghindar. Tapi sekarang ini uang Fika udah hampir habis. Semua ATM Fika diblokir. Jadi kalo kamu nggak keberatan, Fika pengin pinjam uang dulu ke kamu. Berapa aja...”

“Fika, bukannya aku nggak mau minjamin kamu uang...”

Saat itu Fika melihat ada yang lain pada diri Reza. Wajah Reza tampak pucat dan berkeringat, padahal kafe ini ber-AC. Matanya juga sedari tadi melirik ke kanan dan ke kiri, seperti sedang menunggu sesuatu.

“Shit!” Fika segera sadar. Cepat dia bangkit dari tempat duduknya dan beranjak hendak pergi. Seketika itu juga, sepuluh pengunjung yang duduk di sekeliling mereka bangkit. Masing-masing mengeluarkan pistol dari balik baju dan menodongkan Fika dengan posisi mengepung.

“Jangan bergerak!”

Posisi Fika terkepung. Berada di tengah-tengah para penodong yang semua mengarahkan pistol ke arahnya. Fika menoleh ke arah Reza yang masih terduduk di kursinya.

“Teganya kamu...” geram Fika.

“Maaf, aku terpaksa. Mereka mengancam keluargaku. Aku nggak punya pilihan...” ujar Reza dengan suara bergetar. Fika nggak dapat menahan kemarahannya. Tiba-tiba gadis itu menggebrak meja di depan Reza dengan keras. Begitu kerasnya hingga meja kayu jati itu terbelah dua. Reza yang nggak menduga Fika akan berbuat demikian menjadi kaget. Dia emang tahu Fika punya fisik dan stamina yang kuat, di atas rata-rata gadis-gadis lainnya. Tapi dia nggak menduga Fika akan mampu mematahkan meja kayu jati dalam sekali pukul. Tangan kanan Fika tampak berdarah. Dia mencopot cincin dari Reza dan melemparkannya ke arah cowok itu.

“Pengecut...”

“Tangkap!”

Beberapa orang yang mengepung Fika maju hendak menangkapnya. Fika berontak, tapi nggak berdaya ketika ujung-ujung pistol didekatkan pada dirinya. Salah seorang dari mereka mengeluarkan borgol yang bentuknya agak lain dari borgol yang biasa dipakai polisi dan memakaikannya ke kedua tangan Fika. Fika akhirnya diam dan nggak berbuat apa-apa. Dia cuma memandang Reza dengan tatapan penuh kebencian.

“Kamu salah. Kamu akan celaka seperti Mama. Percayalah...”

Ucapan bernada ancaman yang diucapkan Fika itu nggak urung membuat Reza bergidik. Dia bergeming di tempatnya walau Fika udah dibawa pergi oleh orang-orang yang menangkapnya. Pria berjaket krem yang berdiri di belakang Reza memasukkan pistolnya dan menepuk pundak Reza.

“Bagus, Nak. Kamu melaksanakan tugas dengan baik...”

“Bapak akan melepaskan ayah dan ibu saya, kan?” tanya Reza dengan suara masih bergetar gugup. Orang di belakangnya itu tersenyum.

“Tentu aja. Ayo, sekarang kamu ikut Bapak. Kita berdua akan menjemput ayah dan ibumu...” katanya dengan senyum yang misterius. Senyum yang mengandung arti tersembunyi.

***

Depok, Jawa Barat.

Mobil yang dikemudikan Andika berhenti di depan pagar sebuah rumah yang terletak dalam sebuah kompleks perumahan. Saat turun dari mobilnya Andika melihat ke sekelilingnya. Kompleks perumahan tersebut tampak sepi. Nggak ada orang yang terlihat di luar rumah. Andika meneruskan langkahnya memasuki halaman rumah di hadapannya. Nggak lama setelah menekan bel dengan irama tertentu, pintu terbuka. Andika masuk ke rumah, tempat tiga pria udah menunggunya. Salah seorang di antaranya adalah pria yang menjemputnya di bandara. Dialah yang membuka pintu. Selain itu ada dua orang lagi. Seorang pria berkacamata tipis sedang duduk di depan komputer, dan seorang lagi yang lebih tua dari yang lainnya, berkumis tipis dengan rambut mulai memutih, duduk di ruang tengah sambil mengisap sebatang rokok.

“Aku tidak bisa menemukannya. Dia hilang. Kita harus mulai dari awal lagi!” kata Andika.

“Tidak perlu,” tiba-tiba orang berkumis tipis itu berbicara. Suaranya berat dan tegas. Namanya Masdi Sularta, seorang perwira TNI Angkatan Darat berpangkat Kolonel yang juga berprofesi ganda sebagai agen CIA di Indonesia. Dialah yang memimpin operasi yang dilakukan Andika dan timnya.

“Tidak perlu? Apa maksud Anda?” tanya Andika sambil memandang ke arah Masdi, lalu menatap dua rekannya. Yang berbadan besar dan berkulit hitam bernama Martin, mantan narapidana yang divonis hukuman mati karena merampok dan membunuh seorang pejabat pemerintah, tapi cuma dipenjara kurang dari dua tahun karena CIA berhasil merekayasa bukti-bukti kejahatannya dan membuatnya bebas pada sidang Peninjauan Kembali (PK) di Mahkamah Agung. Sejak saat itu Martinus bekerja untuk CIA, melakukan pekerjaan kotor agen rahasia Amerika Serikat itu di Indonesia.

Pria satunya yang memakai kacamata dan berbadan agak kurus bernama Deva Ekada, lulusan Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dulunya hacker, selain bekerja resmi sebagai konsultan informatika. CIA berhasil melacak dan mengungkap bukti-bukti kejahatan Deva di dunia maya, yang dapat membuatnya mendekam cukup lama di terali besi. Dengan bukti-bukti itu, CIA mengancam Deva sehingga mau bekerja di bawah mereka.

“Saya bilang tidak perlu. Misi telah gagal...” lanjut Masdi.

“Apa? Gagal? Kenapa?”

“Mereka telah menemukan bidadarinya. Sekarang, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan,” kata Masdi.

Andika seakan nggak percaya dengan ucapan Masdi.

Mereka udah mendapatkan Fika? Bidadari adalah sandi untuk Fika.

“Fika tertangkap? Bagaimana bisa?”

“Sebagaimana yang kita duga. Dia menemui salah seorang temannya. Ternyata mereka udah lebih dulu menunggunya...”

Mendengar itu mendadak tubuh Andika menjadi lemas. Sia-sialah usahanya selama ini. Fika udah tertangkap dan pasti dibawa ke markas besar organisasi penculiknya yang CIA sendiri sampai sekarang nggak tahu ada di mana.

“Bersiap-siaplah... Martin akan mengantarmu ke bandara. Operasi ini sudah dibubarkan,” ujar Masdi lagi.

“Tapi kita belum tahu apa yang terjadi. Mungkin dia masih ada di salah satu tempat, belum dibawa ke markas mereka?”

“Percuma. Kita tidak bisa berbuat apa-apa...”

“Tentu bisa. Kita dapat mulai melacaknya dari sekarang. Aku akan cari informasi...”

“Tidak bisa!!” tiba-tiba suara Masdi meninggi. Membuat Andika terperanjat.

“Ini perintah langsung dari Washington. Misi telah dinyatakan gagal. Kita harus cepat-cepat membubarkan diri sebelum ada yang curiga. Dan kau! Kau diperintahkan untuk segera kembali ke Amerika Serikat. Ada yang harus kaukerjakan di sana!”

Seakan tahu apa yang menunggunya jika kembali ke Amerika Serikat, Andika merasa tubuhnya lemas. Tapi dia nggak bisa berbuat apa-apa. Sama seperti yang lain, dia hanyalah pion yang nggak punya kekuatan untuk menentukan dan mengambil keputusan.

“Sekarang bersiap. Kau akan naik pesawat malam ini juga. Martin! Pastikan dia naik pesawat menuju Los Angeles!” perintah Masdi tegas. Ciri khas perwira militer.

* * *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar