Part 2
SEORANG gadis remaja berusia sekitar enam belas tahun berlari kecil dalam kegelapan, hanya mengenakan gaun putih seperti baju operasi. Setelah beberapa saat, gadis itu berhenti. Napasnya tersengal-sengal. Dia menoleh ke belakang, seolah memastikan nggak ada yang mengikutinya. Keadaan di sekitarnya sangat gelap. Seolah-olah jalan di depannya tak berujung.
Tapi aneh, begitu kembali melihat ke depan, sekonyong-konyong di sana muncul pintu logam yang tampak kusam dan berkarat. Gadis itu mendekati pintu tersebut. Pintu logam itu nggak mempunyai gagang. Bagaimana membukanya? Saat memikirkan hal itu, tiba-tiba sebuah suara laki-laki terdengar dari arah belakang.
“Kamu nggak bisa lari, Fika...”
Gadis bernama Fika itu menoleh. Seorang laki-laki berada beberapa meter di belakangnya. Suasana yang gelap membuat Fika nggak bisa melihat wajahnya.
“Kamu siapa?” tanya Fika.
“Nanti kamu akan tahu. Juga apa yang ada di balik pintu itu. Satu hal yang pasti, kita nggak berbeda. Kita adalah satu. Kamu nggak bisa lari dari semua ini...”
***
Fika membuka mata. Tubuhnya dipenuhi keringat. Sejenak ia cuma terpaku di tempat tidurnya. Mimpi tadi benar-benar merasuki pikirannya. Mimpi yang terus menghantuinya beberapa hari terakhir ini.
Gue mimpi lagi! Apa arti mimpi itu? Apa maksudnya? Kenapa gue terus bermimpi hal yang sama setiap hari? Siapa laki-laki yang ada dalam mimpi gue? Lalu, ada apa di balik pintu? Di mana sebenarnya pintu itu? Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak Fika. Fika melirik ke arah jam kecil di meja belajarnya. Baru jam tiga pagi! batinnya. Dia tahu setelah bermimpi seperti tadi, seterusnya dia nggak akan dapat tidur lagi hingga pagi. Dan itu berarti alamat dia bakal ketiduran lagi di kelas!
***
“Ya ampun! Anak ini kok masih tidur!?”
Mama Fika masuk ke kamar putrinya. Fika masih tergolek di tempat tidur. Ditutupi selimut tebal yang melindunginya dari dinginnya udara di pagi hari.
Mamanya duduk di samping tempat tidur Fika.
“Hei... Kamu nggak sekolah? Ini udah jam berapa?” katanya sambil menggoyang-goyang tubuh anaknya. Setelah berusaha dengan keras, akhirnya Fika bergerak juga.
“Mama? Ada apa, Ma?” tanya Fika sambil ngucek-ngucek mata.
“Katanya mau sekolah?”
“Ini jam berapa?”
“Jam setengah tujuh.”
“Setengah tujuh!?” Fika langsung terduduk kaget. “Mama, kenapa nggak bangunin Fika!?”
“Nggak bangunin? Mama dari tadi berusaha ngebangunin kamu. Kamunya aja yang nggak bangun-bangun,” kata mamanya membela diri.
Fika memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Sebetulnya dia masih ngantuk. Baru selepas subuh tadi dia bisa tidur, gara-gara mimpi buruk yang terus menghantuinya. Sekarang dia udah harus bangun. Tapi tiba-tiba Fika teringat sesuatu. Sesuatu yang menyebabkan dia harus masuk sekolah hari ini. Dia berusaha ngelawan rasa pusingnya.
“Ayo, Sayang, mau sekolah apa nggak?”
“Iya deh, Ma. Sebentar lagi Fika mandi.”
Sambil bengong di tempat tidur, Fika berusaha mengingat mimpinya tadi malam. Tapi entah kenapa semakin diingat kepalanya semakin sakit. Akhirnya Fika memutuskan melupakan mimpinya itu.
Setengah jam kemudian Fika udah siap dengan seragam SMA-nya. Rambutnya yang panjang sebahu memakai bando putih, hingga membuatnya keliatan cantik. Padahal boro-boro dandan, karena udah terlambat terpaksa Fika cuman mandi asal basah.
“Nggak sarapan dulu?” tanya mamanya saat Fika lewat ruang tengah. Mamanya saat itu juga udah siap berangkat kerja.
“Nggak, Ma. Fika udah telat,” jawab Fika.
***
Pagi itu, pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 273 dari Los Angeles mendarat dengan mulus di Bandara Soekarno-Hatta. Tidak seperti biasa, pesawat itu tidak terlalu penuh penumpang. Salah satu di antaranya adalah cowok berusia dua puluh tahunan yang mengenakan kemeja cokelat dan jins hitam. Cowok itu tampak seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, cuma aja kulitnya agak putih dan rambutnya gondrong hingga menutupi kedua telinganya. Rambut itu juga kadang-kadang menutupi guratan tipis garis seperti bekas luka sepanjang kurang-lebih tiga sentimeter di pelipis kirinya, tertutup kacamata hitam yang dipakainya. Walau nggak begitu terlihat dari jarak jauh, guratan itu mengurangi sedikit nilai wajahnya yang lumayan tampan dan kelihatan sedikit indo.
“Aku harus cepat... mudah-mudahan belum terlambat,” kata cowok tersebut pada dirinya sendiri. Di dekat pintu keluar sejenak dia berhenti sambil memegang ransel berukuran sedang yang merupakan barang bawaan satu-satunya. Dia sibuk melihat keadaan di sekelilingnya.
“Ada rokok?” Tiba-tiba di samping cowok itu berrdiri seorang pria berusia tiga puluh tahunan, berbadan besar, dan berkulit hitam. Cowok tersebut menoleh ke arah orang yang menyapanya.
“Kretek atau sigaret?” balas si cowok.
“Sigaret.”
“Nggak ada. Kretek lebih enak.”
Pria berbadan besar itu menatap sejenak mendengar jawaban orang di hadapannya dengan pandangan seolah menyelidik.
“Ikut saya,” katanya kemudian, kemudian berjalan ke arah pintu keluar diikuti si cowok.
***
Fika nggak dapat meneruskan tidurnya di dalam kelas, karena hari ini sekolahnya, SMA 132 Jakarta, mengadakan pertandingan voli persahabatan dengan SMA lain. Dan Fika merupakan andalan tim voli putri sekolahnya. Voli emang merupakan salah satu cabang olahraga yang dikuasai Fika, seperti juga halnya dengan basket, bulu tangkis, tenis, tenis meja, dan masih banyak lagi. Tubuh Fika emang ideal untuk olahraga seperti voli. Dengan tinggi sekitar 170 cm, dia bahkan bisa bermain lebih baik daripada kakak kelasnya.
“Lo nggak tau siapa cowok dalam mimpi lo?” tanya Ira, teman sebangku Fika, saat dia sedang ganti baju di ruang UKS yang disulap jadi ruang ganti atlet voli putri. Fika emang pernah cerita soal mimpinya pada Ira.
“Kalo tau, ngapain gue capek-capek mikirin?”
“Iya ya... eh, tapi cowok yang ada di dalem mimpi lo keren nggak? Gimana tampangnya? Kalo keren gue juga mau tuh dimimpiin kayak lo setiap hari.”
Mendengar pertanyaan Ira, Fika memelototi temannya itu. Orang lagi serius gini malah diajak bercanda! pikirnya.
“Gimana?”
“Keadaan gelap, jadi gue nggak pernah ngeliat wajahnya. Tapi ngeliat bentuk badannya, usianya mungkin lebih tua daripada gue. Mungkin sekitar dua puluh tahunan. Tapi yang jelas dia selalu bilang gue ama dia adalah satu, nggak berbeda.”
“Apa maksudnya?” Fika cuma mengangkat bahu tanda nggak tahu.
“Jangan-jangan lo punya saudara kembar. Ya, mungkin aja. Waktu lo kecil, lo berdua dipisahin. Gue pernah denger saudara kembar itu punya ikatan batin yang kuat, bisa merasakan satu sama lain. Jadi, mungkin aja dia sekarang juga lagi mimpi tentang lo...”
“Ngaco. Lo kebanyakan nonton sinetron sih, jadi kebawa. Mama nggak pernah cerita gue punya saudara kembar.”
“Mungkin aja nyokap lo nggak mau lo tau. Mungkin aja nyokap lo nggak pengin lo ketemu saudara kembar lo.”
“Apa alasannya? Mama pernah cerita gue baru lahir setelah Mama ama Papa menikah selama dua tahun. Setelah itu Mama nggak pernah hamil lagi, walau sebenarnya mereka ingin banget ngasih adik ke gue. Jadi nggak mungkin kalo Mama ama Papa misahin anak kembarnya, kalo gue bener-bener punya saudara kembar.”
“Mungkin nyokap lo punya kenangan buruk atau ada alasan lain. Kenapa nggak lo tanya langsung aja?”
“Ngapain gue nanya...?”
“Siapa tau. Lo penasaran juga, kan?”’
“Udah ah! Lo kok jadi tambah ngaco. Yuk! Yang lain udah pada ke lapangan tuh! Gue nggak mau dihukum gara-gara telat.”
***
Satu smash keras dari Fika menghunjam keras ke sudut kiri lapangan lawan. Mengakhiri pertandingan yang berlangsung ketat selama hampir dua jam itu.
“Gila... lo kok sempurna banget sih jadi cewek...? Emang dikasih makan apa lo waktu kecil?” puji Reni pada Fika saat pertandingan untuk putri selesai. SMA 132 menang telak atas lawannya. Dan seperti biasa, Fika jadi bintang lapangan dalam pertandingan itu. Padahal terus terang, Fika merasa kondisinya nggak begitu fit karena beberapa hari ini kurang tidur.
“Sempurna apanya?” tanya Fika sambil mengambil botol minuman yang sedang dipegang Ira, membuat Ira cuma bisa bengong. Padahal saat itu dia juga lagi haus berat. Maklum abis teriak-teriak ngedukung Fika.
“Rafika handayani, olahraga apa yang lo nggak bisa? Lagian napas lo kuat banget. Cowok aja kalah. Udah gitu lo pinter, lagi. Selalu ranking satu di kelas, bahkan di sekolah ini. Biasanya orang kalo jago olahraga, pasti otaknya memble. Juga sebaliknya...” lanjut Reni.
“Hukum keseimbangan alam. Nggak ada sesuatu di dunia ini yang sempurna,” lanjut Ira.
“Yup. Tapi lo... beda banget. Gue sampe punya pikiran, sebetulnya lo itu manusia atau robot sih? Nggak ada capek-capeknya.”
“Satu lagi yang lo lupa, Ren, cakep. Lo nggak tau berapa cowok di sekolah ini yang naksir Fika? Keduluan Kak Reza aja...” sambung Ira lagi sambil ngambil kembali botol minumannya sebelum dihabiskan Fika. Sejenak dia memandang botolnya dengan perasaan kecewa karena isinya udah hampir habis. Terpaksa cari minuman lain deh! gerutu Ira dalam hati.
“Huuss... gue ama Kak Reza kan belum jadian...”
“Tapi udah mulai mendekati ke arah sana, kan? Gimana? Lo jadi kan nge-date ama dia ntar malem?”
Mendengar itu Fika malah menggaruk-garuk kepalanya. “Yaaa jadi sih... tapi kok malah lo-lo yang ribut sih!?” katanya kemudian dengan wajah memerah tanpa sadar.
“Udah-udah... kasian tuh Fika, mukanya udah merah kayak udang rebus...” Zahra berusaha menengahi.
“Tapi bener kok, Fik. Lo tuh beda ama cewek-cewek lain...” ujar Reni.
“Beda apanya? Gue kok ngerasa biasa-biasa aja tuh, nggak ada yang istimewa.”
“Gimana caranya lo bisa nguasain semua itu?”
“Biasa aja. Gue liat, trus gue coba tiru gerakannya, dan lama-lama gue bisa sendiri. Gitu aja.”
“Tuh kan, gue udah bilang Fika tuh genius. Gue aja nggak bisa-bisa maen voli, padahal kata lo gampang,” kata Reni.
“Bisa aja. Kalo mo belajar, pasti lama-lama lo bisa juga. Jangan langsung nyerah dong... Gue liat kalo pas pelajaran olahraga lo belum setengah jam ada di lapangan udah minggir di bawah pohon.”
“Capeeek... lagian panas banget! Emang elo? Kagak ada capeknya...”
***
Kata-kata Reni benar. Jakarta hari ini emang terasa panas. Apalagi bagi Fika yang harus berdesak-desakan di dalam Metromini sepulang sekolah. Beruntung dia langsung menyambar tempat duduk yang kebetulan kosong di dekatnya saat dia naik, lebih cepat sepersekian detik dari seorang cowok yang juga mengincar tempat duduk tersebut.
“Sori, Mas...” kata Fika sambil tersenyum manis. Yah, minimal dia dapat mengurangi kedongkolan cowok tersebut, sebab tempat duduk tadi merupakan satu-satunya yang tersisa, sementara Metromini semakin penuh dengan penumpang yang berjubel. Maklum jam bubaran sekolah.
Di tengah panasnya suhu dalam Metromini, Fika mencoba memikirkan kembali kata-kata Ira. Apa benar dia punya saudara kembar? Kalau punya, kenapa kedua orangtuanya merahasiakan hal ini darinya? Tapi, mengingat cerita mamanya bahwa mereka dulu sangat menginginkan anak sebelum Fika lahir, nggak mungkin kedua orangtuanya memisahkan dia dan saudaranya, jika emang mereka lahir kembar.
Jika bukan saudara kembar, lalu apa? Fika kembali ingat kata-kata Ira yang lain.
“...kalo bukan saudara kembar, mungkin dia jodoh lo nanti. Mungkin aja suatu hari kalian ditakdirkan ketemu...”
Ada-ada aja! Fika tersenyum sendiri jika mengingat ucapan Ira. Dia melihat jam tangannya. Jam dua kurang. Mama pasti belum pulang! batin Fika. Sejak papanya meninggal karena kecelakaan saat Fika berusia tujuh tahun, mamanya emang langsung mengambil alih tanggung jawab keluarga. Mama Fika membuka butik pakaian untuk menghidupi mereka berdua. Dan mamanya cukup sukses mengelola usahanya itu. Usahanya berkembang dengan pesat. Mereka kini hidup lebih dari cukup. Walau begitu, baik Fika maupun mamanya bukanlah tipe orang yang senang mengeluarkan uang untuk hal yang mereka anggap kurang atau nggak penting. Mereka berdua hidup dalam kesederhanaan. Rumah pun cuma tipe 120 yang sederhana, tanpa pembantu. Alasan mamanya, buat apa rumah besar kalau cuma tinggal berdua. Soal pekerjaan rumah tangga biasa dibagi berdua antara Fika dan mamanya. Mamanya bahkan sampai saat ini masih memakai mobil jenis Kijang milik almarhum papanya untuk transportasi dari rumah ke toko miliknya, walau sebenarnya dia bisa membeli model yang terbaru. Hal itu yang membuat Fika segan untuk minta dibelikan kendraan, baik mobil atau motor, walau mamanya pernah nawarin. Lagi pula Fika udah terbiasa naik kendaraan umum sejak kecil. Bagi Fika, berdesak-desakan di bus memberi nuansa tersendiri. Walau perempuan, Fika nggak takut pergi ke mana-mana naik kendaraan umum. Yang penting bagi Fika adalah berhati-hati dan jangan lengah.
Teriakan kondektur Metromini membuyarkan lamunan Fika. Ini saatnya dia turun. Fika rencananya akan pergi dulu ke toko buku. Dia akan ganti bus ke jurusan yang ditujunya. Fika beranjak dari tempat duduknya. Cowok yang tadi berebut tempat duduk dengannya udah nggak kelihatan lagi. Mungkin udah turun lebih dulu. Fika mempersilakan seorang ibu setengah baya untuk menempati tempat duduknya, lalu bersusah payah berdesakan menuju pintu belakang bus.
***
Fika berkeliling di toko buku, pada jajaran rak yang memajang buku-buku terbaru, kebanyakan novel. Dia melihat-lihat mungkin aja ada novel yang menarik minatnya. Fika suka cerita novel yang berbau detektif dan misteri, tapi kurang suka drama percintaan, apalagi jika menurutnya ceritanya agak cengeng.
Membuka-buka contoh novel yang segelnya terbuka, Fika cuma butuh waktu singkat untuk tahu isi cerita novel yang dibacanya. Entah kenapa seolah-olah dia punya kemampuan membaca lebih cepat daripada teman-temannya. Satu novel dengan tebal sekitar dua ratus halaman dapat dibacanya habis cuma dalam waktu kurang-lebih setengah jam. Itu juga dia udah hafal sebagian besar isi dan jalan ceritanya. Hal itu juga berlaku dalam pelajarannya di sekolah. Fika bukan cuma hafal buku pelajaran yang pernah dibacanya dalam waktu singkat, tapi dia cepat mengerti semua pelajaran yang diajarkan di sekolah. Karena itu nggak heran kalau predikat juara kelas selalu diraihnya. Bahkan Fika dicalonkan mewakili sekolahnya tahun ini sebagai pelajar teladan tingkat kotamadya. Sebetulnya Fika sendiri nggak merasa dirinya istimewa. Teman-temannya yang bilang begitu.
Lima belas menit berada di dalam toko buku, Fika merasa dirinya diawasi seseorang. Dia nggak tahu pasti siapa dan di mana orang yang mengawasinya, tapi perasaan mengatakan sebaiknya dia nggak berlama-lama di tempat itu.
* * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar