Serba-Serbi Kehidupan Sastra

Terima kasih telah mengunjungi blog ini

Rabu, 28 Mei 2014

De Angel 1 Part 7 (KArya Luna Torashyngu)

SEBUAH sedan abu-abu melintas dengan kecepatan sedang. Pengendaranya cowok berusia dua puluh tahunan, berpakaian rapi dan wangi. Di pinggir jalan yang sepi, tiba-tiba mobil itu berhenti.

Dari jok belakang mobil muncul Andika dengan pistol teracung pada si pengendara mobil. Kemudian menyusul Fika.

“Sekarang apa yang kalian inginkan?” tanya pengendara mobil, wajahnya berkeringat karena takut. Rupanya Andika dan Fika ikut dalam mobilnya sejak dari diskotek. Mereka berdua sembunyi di jok belakang supaya nggak ada yang melihat.

“Keluar dari mobil,” perintah Andika.

“Jangan... jangan bunuh saya... ambil semua uang, HP, dan semua milik saya. Tapi jangan bunuh saya...”

“Keluar!”

“Andika, jangan bunuh dia. Dia nggak tau apa-apa...” kata Fika lirih.

“Tenang aja...”

Ternyata Andika cuma meminta STNK sedan dan HP si pemilik mobil. Setelah itu dia mengambil alih kemudi, dan meninggalkan si pemilik mobil sendirian di pinggir jalan.

“Kenapa lo tinggalin dia? Gimana kalo ada apa-apa ama dia?” tanya Fika yang udah pindah ke bangku depan.

“Nggak bakal ada apa-apa. Paling sebentar lagi ada mobil lewat. Percaya deh...”

“Iya, tapi kalo nggak ada? Lagian kenapa HP-nya harus lo ambil juga? Kita kan cuman butuh mobilnya?”

“Ini untuk memberi jarak agar dia nggak segera lapor polisi. Paling nggak kita punya waktu sebelum polisi mencari mobil ini.”

“Apa kita udah lolos?”

“Mungkin. Sebab mereka nggak curiga waktu mobil ini keluar dari tempat parkir. Mereka pasti mengira kita masih di dalam diskotek...”

Tiba-tiba Fika merintih.

“Kenapa? Kamu cuman keserempet peluru. Besok juga lukanya udah kering.”

“Bukan itu...”

“Apa?” Fika memandang Andika.

“Gue laper. Dari tadi belum makan.”

Andika melirik ke arah Fika sejenak dengan perasaan curiga. Dia ingat saat Fika menipunya di rumahnya. Saat dirinya ke luar membeli makanan, cewek itu malah kabur.

“Kali ini gue bener-bener laper. Sumpah...” Fika seakan tau arti lirikan Andika.

“Kita mo ke mana sih?” tanyanya kemudian.

“Cirebon.”

“Cirebon?”

“Ya. Saat ini mereka pasti udah menunggu di bandara. Nggak mungkin bagi kamu buat lolos memakai pesawat. Apalagi status kamu sekarang buronan polisi. Alternatif lainnya memakai kapal laut. Aku udah mengaturnya. Besok pagi ada kapal di pelabuhan Cirebon yang akan berangkat ke Singapura. Kita bisa ikut. Dan kamu harus mau. Ini untuk keselamatan kamu juga.”

“Iya, tapi bisa cari makan dulu nggak? Paling nggak biar gue nggak mati kelaparan.”

Andika menghentikan mobilnya di halaman sebuah rumah makan yang buka 24 jam.

“Tunggu di sini,” kata Andika, tapi kali ini nada suaranya tampak ragu-ragu.

“Jangan khawatir. Kali ini gue nggak akan ke mana-mana. Lagian kenapa kita nggak makan di dalem sih?” tanya Fika.

“Jangan. Mungkin sekarang peristiwa di kantor polisi itu udah ada di TV. Mungkin nanti ada yang ngenalin kamu.”

Fika mengangguk, menunggu Andika.

Sekitar lima belas menit kemudian Andika keluar dari dalam rumah makan. Dan dia kembali nggak menemukan Fika di dalam mobil.

Sialan! Aku tertipu lagi! umpat Andika dalam hati. Dia menyesali dirinya yang bisa dua kali dibohongi dengan alasan yang sama. Tanpa sadar cowok itu melampiaskan kekesalannya dengan memukuli bagian belakang mobilnya.

“Lo lagi ngapain?”

Fika ternyata udah berdiri di belakang Andika. Dia nggak kabur.

“Kamu dari mana?” Andika balik bertanya.

“Gue dari ATM. Emang kenapa? Dikira gue mo kabur? Jangan khawatir, gue bukan tipe orang yang suka boong.”

“ATM?”

“Iya, duit gue udah tipis. Ke Singapura juga perlu modal, kan? Tapi sial, ATM-nya rusak. Kartu gue ditolak mulu. Dianggap nggak ada.”

Mendengar ucapan Fika, Andika tertegun.

“Cepat masuk!”

“Ada apa?”

“Kira harus cepat pergi dari sini.”

Dengan penuh perasaan heran Fika mengikuti perintah Andika.

“Ada apa sih?”

“Bukan mesin ATM-nya yang rusak, tapi kartu kamu udah diblokir. Dengan make kartu itu, kamu juga menunjukkan keberadaan kita,” kata Andika sambil menjalankan mobilnya.

“Kok bisa?”

“Mereka memonitor jaringan ATM. Selain diblokir, nomor kartu kamu juga ditandai. Dari situ mereka bisa tau dari ATM mana kartu kamu dimasukkan. Dengan diblokir, mereka mengharap kamu akan mencoba ATM lain, sehingga bisa diketahui pola pergerakan kamu.”

Walau nggak sepenuhnya mengerti penjelasan Andika, Fika mengangguk.

“Jadi kartu ATM ini udah nggak bisa dipake?’

“Sayangnya, nggak!”

“Sayang... padahal duitnya lumayan...”

Fika membuang kartu ATM-nya dari jendela mobil.

“Kok dibuang?”

“Kata lo nggak bisa dipake? Ya gue buang aja. Buat apa? Siapa tau ada orang bodoh yang nemuin dan coba masukin ke mesin ATM. Dengan demikian bisa mengecoh mereka.”

Andika mengangguk mendengar ucapan Fika. Cerdik juga gadis ini! batinnya.

***

“Kenapa berhenti di sini?” tanya Fika saat Andika membelokkan mobilnya keluar jalan utama dan berhenti di balik sebuah pohon, agak jauh dari sisi jalan.

“Tadi restoran aku sekalian menelepon. Kapal di Cirebon baru berangkat siang. Kita masih punya banyak waktu sampai di sana. Lebih baik sekarang istirahat dulu. Tidur. Kamu juga udah lelah, kan?”

“Di sini?” Fika melihat sekelilingnya. Mereka berhenti di antara pohon-pohon besar yang rimbun. Suasana sangat sepi. Nggak ada seorang pun terlihat. Cuma satu-dua kendaraan yang lewat setiap beberapa menit. Mobil mereka pun nggak terlihat dari arah jalan.

“Berbahaya kalau di penginapan atau hotel. Ingat, kamu sekarang buronan.”

“Iya, tapi...” Fika memandang Andika. Bagaimanapun Andika seroang pria, dan dirinya wanita, walaupun Genoid. Walau Andika udah beberapa kali menolong dirinya, Fika belum begitu kenal padanya dan belum bisa menduga maksud cowok itu sebenarnya.

Andika rupanya tahu apa yang dipikirkan Fika.

“Jangan khawatir. Kamu lihat saung itu? Aku akan tidur di sana. Kamu tidur aja di dalam sini. Kunci semua pintu,” kata Andika sambil menunjuk deretan saung yang berada di pinggir jalan. Di siang hari saung-saung tersebut biasa dipakai sebagai tempat berjualan makanan dan minuman oleh penduduk sekitar.

Andika hendak membuka pintu mobil saat Fika menahan tangannya.

“Kamu di sini aja. Nggak papa kok!”

“Bener?”

Fika mengangguk.

“Tapi inget, jangan macem-macem ya! Terus terang gue juga takut sendirian di tempat jin buang anak gini.”

Andika kembali duduk di samping Fika. Beberapa saat keduanya kembali terdiam. Nggak ada yang mulai tidur atau berbicara.

“Sampai kapan semua ini berakhir?” ucap Fika tiba-tiba. Suaranya bergetar. Baru sekarang guncangan jiwa gadis itu muncul. Rentetan peristiwa yang terjadi hari ini benar-benar membuatnya merasa nggak ingin hidup lagi. Yang paling membuatnya terguncang adalah kematian mamanya, orang yang paling disayangi dan menyayanginya sejak kecil.

“Andai mereka nggak mendapat Cathalyne, dan semua Genoid yang dibuat udah tewas. Tapi kurasa nggak mungkin. Suatu saat mereka pasti menemukan cara mempertahankan kestabilan DNA dalam Genoid buatan mereka. Dan jika saat itu tiba, semua ini nggak akan berakhir,” balas Andika.

“Mungkin lebih baik gue emang mati aja. Jadi mereka nggak mendapatkan apa yang mereka cari. Paling nggak bukan dari tubuh gue...”

“Jangan punya pikiran seperti itu. Bagaimanapun kamu juga manusia, walau lahir sebagai Genoid. Kamu juga berhak hidup seperti manusia lainnya.”

Tiba-tiba Fika memandang Andika. “Bukannya lo benci ama Genoid?”

“Aku nggak benci Genoid. Yang aku benci adalah apa yang dilakukan Genoid itu, dan dengan tujuan apa mereka diciptakan. Kalau semua Genoid diciptakan untuk tujuan kebaikan, membantu orang-orang yang ingin mendapatkan keturunan, kalau semua Genoid seperti kamu, nggak ada masalah...”

“Thanks...” ucap Fika. “Boleh gue nanya?” tanyanya lagi.

“Apa?”

“Lo bilang proyek Genoid itu baru diaktifkan lagi setahun belakangan ini. Tapi kok para Genoid yang mengejar kita keliatan udah tua? Kayak berumur tiga puluh tahunan? Padahal gue aja masih enam belas tahun. Jadi mereka mungkin dibuat tiga puluh tahun yang lalu...”

“Entahlah. Mungkin mereka emang nggak mengikuti pertumbuhan manusia...”

“Maksud lo?”

“Ingat, para Genoid itu nggak dilahirkan dari rahim manusia seperti kamu, melainkan dari alat semacam inkubator. Mungkin aja inkubator itu dapat mempercepat pertumbuhan sel-sel mereka, hingga mereka tumbuh dan berkembang lebih cepat daripada manusia biasa.”

“Kayaknya nggak masuk akal, tapi kalo liat kejadian sehari belakangan ini, mau nggak mau gue harus percaya itu.”

“Itu mungkin aja. Dan karena nggak punya orangtua, para Genoid itu nggak punya perasaan sebagaimana layaknya manusia. Mereka dibesarkan oleh mesin dan komputer. Sejak kecil udah dikenalkan berbagai macam senjata dan kekerasan, serta doktrin harus mematuhi semua perintah tanpa membantah. Mereka nggak diajarkan untuk melawan perintah dan punya belas kasihan...”

“Kasihan betul mereka...”

Fika membayangkan jika manusia nggak mempunyai hati dan perasaan. Nggak ada kasih sayang dan cinta, apakah manusia tersebut bisa hidup?

“Ngomong-ngomong, gue belum bilang terima kasih ke lo, karena lo udah beberapa kali nyelamatin gue. Kalo nggak ada lo, mungkin gue udah...”

“Itu tugasku. Aku cuma melaksanakan pesan terakhir Ayah. Ayah nggak ingin hasil ciptaannya digunakan untuk membunuh sesama manusia.”

“Dari mana lo bisa beladiri ama memakai senjata? Lo tentara? Atau polisi?”

“Bukan... bukan...” Tiba-tiba Andika merasa gugup, nggak menyangka Fika akan bertanya demikian. Untung Fika memandang ke arah depan, nggak melihat ekspresi Andika.

“Ayah mempersiapkan aku sejak kecil. Aku dilatih oleh seorang kenalan Ayah yang mantan marinir.”

“Ooo... gitu...”

“Sebetulnya seberapa besar sih kekuatan para Genoid? Hingga lo takut kalo mereka dijadikan tentara. Apa kayak Superman?” tanya Fika.

“Nggak. Nggak sebesar itu. Kecepatan, kekuatan, dan kecerdasan Genoid kira-kira dua kali lipat manusia biasa. Walau begitu, cukup besar untuk membuat perbedaan. Kamu liat sendiri kemampuan mereka di kantor polisi, kan? Bayangkan jika ada ribuan yang seperti itu. Ribuan Genoid yang nggak punya hati dan dipenuhi hawa membunuh yang kuat,” Andika menjelaskan.

“Jadi begitu. Pantes selama ini gue merasa biasa-biasa aja. Gue kirain mereka tuh kuat kayak Hulk, cepet kayak Flash, dan pinter kayak Einstein. Tapi mereka bisa mati, kan?”

“Tentu aja. Pada dasarnya Genoid juga manusia, cuma susunan genetiknya yang direkayasa. Mereka juga nggak bisa melawan takdir alam. Jadi tua dan meninggal. Cuma aja mereka mempunyai kekebalan tubuh yang lebih kuat daripada manusia biasa. Lebih kebal terhadap penyakit, dan lebih tahan terhadap luka. Mereka lebih susah mati, kecuali secara alami. Kamu ngerti, kan?”

Fika mengangguk.

“Dengar, pada dasarnya kamu adalah Genoid B. Di dalam tubuhmu terdapat kemampuan yang luar biasa. Cuma aja kemampuan kamu belum keluar seluruhnya. Kamu harus dilatih untuk itu. Percayalah, jika kamu udah dilatih, kemampuanmu sama dengan Genoid-Genoid yang mengejar kita, bahkan mungkin kamu lebih unggul...”

“Kenapa?”

“Karena kamu punya hati. Punya perasaan sebagai manusia. Itu keunggulan kamu. Kamu juga bisa berpikir dan mempergunakan otak kamu. Membedakan mana yang baik dan buruk. Dengan keunggulan kamu itu, suatu saat kamu bisa mengalahkan mereka. Aku yakin itu...”

“Tapi gue nggak suka kekerasan. Gue nggak mau dilatih buat bertempur. Gue nggak mau badan gue berubah jadi kayak Rambo. Gue cuman pengin jadi manusia biasa. Kembali ke kehidupan normal gue, sebelum semua ini terjadi...”

“Tapi ini adalah takdir. Takdir kamu sebagai Genoid. Kamu nggak bisa menghindarinya. Dan kamu harus melakukan semua ini, suka atau nggak suka.”

***

Pak Oni cuma geleng-geleng kepala sesampainya di markas polisi yang kini porak poranda.

Seperti habis terjadi perang! katanya dalam hati. Mayat-mayat anggota polisi yang tewas satu per satu diangkut ke ambulans untuk diautopsi terlebih dahulu di rumah sakit.

“Para tahanan yang lain nggak ada yang melihat jelas kejadiannya, karena mereka semua berada di belakang, dan saat itu listrik padam. Cuma aja mereka melihat beberapa orang berpakaian serbahitam dan bersenjata berlarian. Tampaknya mereka mengejar gadis itu dan orang yang menolongnya,” lapor seorang perwira polisi berpangkat Inspektur Dua yang menyelidiki kejadian ini.

“Menolong? Berarti ada orang lain yang menolong gadis itu? Dan mereka bukan orang-orang yang mengakibatkan semua ini?” tanya Pak Oni.

“Saya kira begitu, Pak...”

Aneh! pikir Pak Oni. Kenapa ada orang lain yang menginginkan Fika? Ada apa dengan gadis itu? Dan melihat efek kerusakan yang ditimbulkan, orang-orang yang mengincar Fika pasti bukan orang biasa. Minimal mereka diperlengkapi senjata standar militer! Dugaan Oni semakin kuat ketika melihat beberapa orang berseragam militer berada di sekitar TKP (Tempat Kejadian Perkara). Kabarnya mereka berasal dari salah satu kesatuan TNI yang ada di Jakarta. Tapi untuk tujuan apa mereka di sini, nggak dijelaskan secara rinci.

***

Malam semakin larut, bahkan menjelang dini hari. Tapi Fika belum bisa memejamkan mata. Dia melirik ke samping. Andika tampak terlelap. Tampaknya dia lelah setelah seharian ini sibuk menyelamatkan dirinya. Fika sebenarnya juga lelah. Tapi entah kenapa dia nggak bisa memejamkan mata. Dia memandang Andika lebih lama.

Cakep juga dia! batin Fika. Beda dengan wajah Reza yang cenderung cool, sebetulnya Andika mempunyai wajah yang lebih imut. Dengan kulit agak putih, dan hidung mancung. Di kening sebelah kirinya ada luka bekas goresan. Fika menebak Andika pasti punya darah blasteran. Mungkin ayahnya, Prof. Sahid menikah dengan orang bule, atau semacamnya. Dan itu mungkin saja mengingat Prof. Sahid lama tinggal di Amerika. Hampir separuh umurnya dihabiskan di Negeri Paman Sam tersebut.

Eh! Kenapa gue jadi merhatiin dia? Apa gue jatuh cinta ama dia? batin Fika. Nggak mungkin! Gue udah punya Reza. Gue nggak mungkin ngekhianatin dia!

Perhatian Fika kemudian berpindah ke arah dasbor mobil. Pandangannya tertuju pada seperangkat CD player yang ada di dasbor, dia iseng ingin tahu, koleksi CD apa yang ada di dalamnya. Fika menghidupkan CD player itu.

Here I am
At six o’clock in the morning
Still thinking about you
It’s still hard

At six o’clock in the morning
To sleep without you
And I know that it might
Seem to late for love
All I know

I need you now
More than words can say
I need you now
I’ve got to find a way
I need you now
Before I loser my mind
I need you now

Here I am
I’m looking out my window
I’m dreaming about you
Can’t let go
At six o’clock in the morning
I feel you beside me
And I know that it might
Seem to late for love
For love

I need you now
More than words can say
I need you now
I’ve got to find a way
I need you now
Before I lose my mind
I need you now
More than words can say
I need you now
I got to hear you say
I need you now
Before I lose my mind
I need you now

I need you now

(More Than Words Can Say – Alias)

“Sori, gue nggak bermaksud ngebangunin lo,” ujar Fika melihat Andika terbangun dari tidur lelapnya.

“Kamu nggak tidur?” Andika malah balik nanya.

Fika menggeleng.

“Nggak bisa tidur. Makanya gue iseng ngeliat koleksi CD di sini. Ternyata pemilik mobil itu tipe cowok sentimentil. Atau mungkin cengeng. Abis koleksinya lagu cinta mulu.”

“Bukannya itu bagus. Remaja seusia kamu juga seneng hal-hal berbau cinta, kan?”

“Iya, tapi nggak sampe kejebak jadi sentimentil atau cengeng. Bagi gue biasa aja. Cinta itu sesuatu yang alami. Anugerah dari Tuhan. Sesuatu yang pasti dimiliki setiap orang. Kecuali para Genoid itu tentunya. Tergantung kita aja mempergunakannya menjadi hal yang baik atau buruk pada diri kita.”

“Ternyata kamu ahli soal cinta.”

“Emangnya gue dewi cinta? Itu kan umum. Semua orang pasti tau.”

Untuk beberapa saat lamanya mereka berdua menikmati alunan musik yang mengalun. Alunan musik itu sejenak menenangkan perasaan Fika. Bahkan dia udah dapat melupakan luka di lengan kanannya. Kadang-kadang gadis itu bersenandung mengikuti lirik lagu yang mengalun.

“Boleh gue nanya sesuatu yang pribadi?” tanya Fika tiba-tiba.

“Nanya apa?”

“Lo udah punya cewek?”

Pertanyaan Fika membuat mata Andika yang tadinya terpejam menjadi terbuka lagi.

“Kamu kangen ama pacar kamu, ya?” tanya Andika.

“Ditanya kok bales nanya?”

“Tapi bener, kan?”

“Jawab dulu pertanyaan gue.”

Andika mendesah perlahan, kemudian mengangguk.

“Dia sekarang di mana?”

“Di LA, kuliah...”

“Temen satu kuliah? Lo mahasiswa, kan?”

Kembali Andika mengangguk.

“Namanya siapa?”

“Sivia. Ayumi Sivia Pentucci...”

“Ayumi? Pacar lo orang Jepang?”

“Blasteran Jepang-Itali. Emang kenapa?”

“Nggak... nggak papa. Trus, dia tau kegiatan lo?”

Andika menggeleng.

“Pinter banget lo ngerahasiainnya.”

“Kami udah lama nggak berhubungan. Sejak setahun belakangan ini, sejak aku sibuk mencari keberadaan Genoid B. Yang aku tau, dia menganggap aku udah meninggalkannya tanpa kabar, tanpa pesan.”

“Jadi hubungan kalian sekarang ngambang?”

“Kira-kira begitulah. Gimana? Bener, kan?”

“Bener apanya?”

“Kamu kangen ama pacar kamu?”

“Kok lo bisa nebak gue udah punya pacar?”

“Namanya Reza. Anak kelas 2IPA3. Bener, kan?”

“Dari mana lo tau?”

Andika membetulkan posisi duduknya yang mulai melorot dan menoleh ke arah Fika.

“Aku harus mendapat informasi sebanyak-banyaknya tentang kamu dan orang-orang yang berada di sekeliling kamu, untuk memudahkan pencarian.”

Sekarang Fika nggak bisa mengelak lagi.

“Iya, gue inget ama dia. Sejak pulang sekolah kemarin gue belum ketemu dia. Waktu gue ditahan pun dia nggak dateng. Mustahil dia nggak tau, karena temen-temen gue udah nelepon dia,” ujar Fika lirih. Ada rasa sedih di hatinya. Saat dirinya dilanda kesusahan, saat jiwanya sedang guncang, orang yang paling dekat dengannya—orang yang bisa jadi tempat curahan hatinya—nggak ada di sisinya.

“Tindakan cowok kamu benar. Pada situasi seperti ini, siapa pun yang berhubungan dengan kamu berarti membahayakan dirinya. Mereka akan mempergunakan segala cara untuk mendapatkan kamu, termasuk mempergunakan orang-orang terdekat kamu sebagai umpan. Contohnya mama kamu.”

Mendengar mamanya disebut, ingatan Fika kembali teringat pada mamanya, serta kejadian yang menimpanya.

“Reza bukan orang seperti itu! Dia baek dan care ama gue. Pasti ada alasan lain kenapa dia nggak nemuin gue di kantor polisi.”

“Terserah. Tapi apa pun itu, jangan coba-coba menghubungi dia. Mungkin aja mereka udah mengintai pacarmu juga. Ini demi keselamatan kalian berdua.”

“Gue tau. Lagian mo ngehubungin pake apa? HP gue kan udah lo buang. Di sini nggak ada wartel atau telepon umum.”

* * *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar