a. Interfase
Secara umum, interfase
dapat dibedakan lagi menjadi tahap G1, S, dan G2. Tahap G1 (gap 1) merupakan tahap pembentukan
macam-macam protein dan transkripsi RNA. Hal tersebut menyebabkan pertumbuhan
sel terus membesar. Proses selanjutnya adalah tahap S (sintesis). Pada tahap S
terjadi sintesis DNA, berupa replikasi DNA dan sintesis protein histon. Jumlah
DNA dalam inti sel bertambah dua kali lipat dan protein histon serta protein
kromosom lain yang disintesis di sitoplasma bergabung dengan DNA setelah
melewati membran inti sel. Gabungan DNA serta protein tersebut membentuk
kromatin. Pada akhir tahap S, sel memasuki tahap G2 (gap 2). Pada tahap ini terjadi metabolisme normal dan pertambahan
pertumbuhan sempurna akibat pembentukan protein yang terus terjadi. Ketika sel
memasuki tahap M (mitosis), benang-benang kromatin terkondensasi, dan berkumpul
membentuk kromosom.
b. Profase (Kromosom terkondensasi dan membran inti sel melebur)
Memasuki profase,
benang-benang kromatin terkondensasi (mengalami pemendekan dan penebalan) membentuk
kromosom. DNA asal dan DNA hasil replikasi membentuk
kromosom dan merekat
pada sentromer. Kromosom tersebut tersusun atas dua kromatid. Kromosom dengan
dua kromatid ini disebut juga kromosom
dupleks. Melalui mitosis ini, setiap pasangan
kromatid dari kromosom nantinya akan terbagi ke sel anak. Dengan demikian,
setiap kromatid tersebut merupakan kromosom bagi setiap sel. Bentuk kromosom
tanpa pasangan kromatidnya disebut kromosom simpleks. Jika sel
baru tersebut akan melakukan pembelahan sel, setiap kromosom akan menggandakan
diri melalui proses duplikasi menjadi kromosom dupleks. Sebenarnya, proses
duplikasi merupakan hasil replikasi DNA yang terjadi pada tahap S interfase.
Tahap profase ditandai juga oleh penggandaan jumlah sentriol. Sentriol berada
di luar membran inti. Setelah terbentuk kromatid, sentriol-sentriol bergerak ke
kutub yang berlawanan. Dari sekitar sentriol tersebut muncul benang-benang
halus yang disebut benang spindel (mitotic spindle). Benang-benang spindel ini menyelimuti
inti sel dan akan memegang kromosom tepat pada struktur
protein komplek yang
disebut kinetokor. Benang-benang spindel ini
terbuat dari
mikrotubulus.
2) Metafase (kromosom
berjajar di bidang ekuator)
Ketika sentromer setiap
kromosom sejajar bidang ekuator, menandakan mitosis memasuki tahap metafase.
Pada metafase, semua kromosom sel bergerak ke arah bidang ekuator atau bidang
pembelahan. Pergerakan ini dibantu oleh benang spindel. Kromosom dengan dua
kromatid identik dapat diamati secar jelas pada tahap ini.
3) Anafase (kromosom
terbagi dan bergerak ke arah kutub yang berlawanan)
Anafase dimulai ketika
sentromer yang menggabungkan kedua kromatid terpisah. Kromatid tunggal ini
sekarang disebut kromosom simpleks, bergerak menuju kutub-kutub pada arah yang
berlawanan.Anafase berakhir ketika setiap sel kromosom sampai pada
kutub-kutubnya.
4) Telofase (Membran
inti terbentuk dan kedua sel terpisah)
Telofase dimulai saat
benang-benang spindel menghilang dan membran inti mulai terbentuk di sekeliling
daerah kromosom. Membran inti akhirnya membungkus kromosom-kromosom tersebut.
Lilitan kromosom mulai
terurai menjadi kromatin. Pada saat ini jika sel diamati menggunakan mikroskop,
kromosom terlihat menghilang dan inti sel menjadi jernih. Setelah tahap
telofase, biasanya diikuti oleh tahap sitokinesis, pemisahan sitoplasma. Pada
beberapa sel, sitokinesis terjadi sebelum telofase berakhir.
Pembelahan
Meiosis
Manusia memiliki jumlah
kromosom sel somatis sebanyak 46 buah. Jika sel gamet manusia memiliki jumlah
kromosom lengkap, melalui proses fertilisasi keturunan yang dihasilkan akan
memiliki 92 kromosom. Keturunan selanjutnya akan memiliki jumlah kromosom 184,
368, 736,
dan seterusnya. Akan
tetapi, akumulasi kromosom makhluk hidup tidak terjadi seperti itu. Terdapat
suatu proses yang menyebabkan jumlah kromosom keturunan sama dengan jumlah
induknya, meskipun berasal dari peleburan dua sel. Proses tersebut adalah
pembelahan meiosis. Pembelahan meiosis disebut juga pembelahan reduksi karena
jumlah kromosom sel hasil pembelahan ini berkurang setengahnya. Pada saat fertilisasi,
jumlah kromosom sel zigot akan kembali utuh karena berasal dari sel gamet
jantan dan sel gamet betina. Kromosom dari gamet jantan merupakan pasangan
kromosom homolog dari gamet betina. Sel yang mengandung dua set kromosom
homolog disebut diploid. Sel somatis (sel tubuh) pada tumbuhan, hewan, dan
manusia memiliki kromosom diploid. Adapun sel gametnya telah tereduksi dan
hanya memiliki satu set kromosom disebut haploid. Satu set kromosom disimbolkan
dengan huruf n sehingga set diploid adalah 2n dan set haploid adalah n. Selain
reduksi kromosom, pembelahan meiosis memiliki fungsi penting lain. Meiosis
menyebabkan terjadinya variasi antara induk dengan
keturunannya serta antarketurunan itu
sendiri. Hal tersebut terjadi melalui pengelompokan kromosom secara bebas dan
pindah silang (crossing over). Meiosis terjadi melalui dua tahap pembelahan
sel. Meskipun tahap meiosis mirip dengan tahap pada mitosis, terdapat perbedaan
besar pada perilaku kromosom dalam kedua proses tersebut. Dua tahap pembelahan
meiosis menghasilkan empat sel haploid dari satu sel diploid. Pada pembelahan
meiosis I terjadi pemisahan kromosom homolog ke dalam dua sel anak. Pembelahan
meiosis II tidak diikuti oleh fase S pada interfase sehingga replikasi DNA dan
duplikasi kromosom tidak tejadi pada kedua sel anak.
1.
Meiosis I
Sama halnya dengan
pembelahan mitosis, sebelum sel memasuki tahap pembelahan, terlebih dahulu
terjadi tahap interfase. Pada fase S interfase terjadi replikasi DNA yang
menghasilkan duplikasi kromosom. Tahap meiosis I terdiri atas profase I,
metafae I, anafase I, dan telofase I.
a. Profase I
Lihat Buku Cetak
Erlangga
b. Metafase
I
Pada metafase I,
benang-benang spindel menempatkan setiap tetrad sejajar bidang ekuator. Benang
spindel melekat pada kinetokor sentromer. Benang spindel dari satu kutub hanya
akan melekat pada salah satu kromosom homolog dari setiap tetrad. Benang
spindel dari kutub lain
akan melekat pada
kromosom homolog lain dari tetrad tersebut. Dengan demikian, setiap kromosom
dari pasangan kromosom homolog hanya dapat tertarik pada kutub yang berlawanan.
c. Anafase I
Berdasarkan pengaturan
pelekatan benang spindel pada metafase I, pada anafase I setiap kromosom
dupleks dari pasangan kromosom homolog bergerak menuju kutub yang berlawanan
sehingga ikatan tetrad saja yang terpisah. Hal ini berbeda dengan anafase pada
mitosis yang terjadi pemisahan kromatid. Pada fase ini jumlah kromosom bagi
calon sel anak sudah tereduksi.
d. Telofase
I dan Sitokinesis
kromosom berkumpul pada masing” kutub sel. Saat
ini setiap kutub sel memiliki jumlah kromosom haploid dan kromosomnya masih
dalam bentuk dupleks dgn 2 kromatid. Biasanya sitokinesis terjadi bersamaan
dengan telofase I dan meng-hasilkan dua sel anak haploid. Jika meiosis ini
terjadi pada sel gamet manusia, jumlah kromosom tubuh yang 46 buah akan
tereduksi menjadi 23 buah pada akhir meioisis I.
2.
Meiosis II
Dua sel haploid hasil
meiosis I sekarang memasuki meisosis II. Tedapat perbedaan dalam siklus sel
meiosis II ini. Pada interfase II, tidak terjadi replikasi DNA sehingga
kromosom dalam kedua sel tersebut berada dalam keadaan dupleks. Oleh karena,
kemiripannya dengan mitosis, tahap meiosis II ini secara keseluruhan dapat
dikatakan sebagai mitosis haploid.
a. Profase
II
Benang kromatin yang
semula terurai setelah telofase I mengalami kondensasi kembali membentuk
kromosom. Kromosom yang terbentuk masih dalam keadaan dupleks, dengan dua kromatid.
Membran inti mulai melebur.
b. Metafase
II
Kromosom mengumpul
kembali pada bidang pembelahan dengan bantuan benang-benang spindel.
Benang-benang spindel ini melekat pada kinetokor yang nantinya akan menarik
pasangan kromatid menuju kutub yang berlawanan.
c. Anafase
II
Anafase II mirip dengan
anafase pada mitosis. Tahap ini diawali pemisahan sentromer dan setiap kromatid
bergerak menuju kutub yang berlawanan.
d. Telofase
dan Sitokinesis
Tahap telofase II
berlanjut dengan terbentuknya membran inti yang menyelimuti kromosom pada
masing-masing kutub. Kromosom terurai kembali menjadi benang-benang kromatin
dan diikuti oleh sitokinesis. Sitokinesis pada dua sel tersebut menghasilkan
empat sel haploid.
Pada hewan jantan, empat
sel baru yang terbentuk dapat menjadi sperma. Pada bagian bunga jantan, dapat
menjadi serbuk sari (polen). Pada hewan atau bagian bunga betina, pembentukan
gametnya lebih kompleks.
Tabel 4.1 Perbedaan Mitosis dan Meiosis
Mitosis
|
Miosis
|
1. Satu
kali duplikasi dan satu kali pembelahan
2.
Dihasilkan dua sel anak diploid (2n)
3. Susunan
gen sama dengan sel parental (induk)
4. Terjadi
pada sel somatik dan zigot
5. Tidak
terbentuk tetrad, tidak terjadi sinapsis, dan tidak terjadi crossing over
6. Profase
terjadi dalam waktu yang relatif singkat
7.
Pemisahan sentromer di bidang ekuator langsung
terjadi
pada tahap anafase
8.
Tujuannya memperbanyak sel dan mengganti sel yang rusak
|
1.Satu
kali duplikasi dan membelah berturut-turut dua kali
2.Dihasilkan
empat sel anak haploid (n)
3.Susunan
gen rekombinasi dari kedua sel parental
4.Hanya
terjadi pada pembentukan gamet
5.Terbentuk
tetrad, terjadi peristiwa sinapsis, dan ada crossing over
6. Profase
terjadi dalam waktu yang relatif lama
7.Pemisahan
sentromer tidak langsung terjadi pada meiosis I, tetapi pada meiosis II
8.Tujuannya
mempertahankan jumlah kromosom pada generasi berikutnya
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar