Serba-Serbi Kehidupan Sastra

Terima kasih telah mengunjungi blog ini

Rabu, 28 Mei 2014

De Angel 1 Part 10 (KArya Luna Torashyngu)

Pabrik obat milik PT Venon Regen, Cikarang, Tangerang.

LEWAT tengah malam, pabrik obat yang terletak di kawasan industri itu terlihat sepi. Tapi suasana sepi itu terpecahkan ketika sebuah minibus berhenti di depan pintu gerbang pabrik. Seorang satpam pabrik tergopoh-gopoh menghampiri mobil minibus tersebut. Beberapa saat kemudian petugas keamanan tersebut mundur beberapa langkah dan memberi isyarat pada rekannya yang berada di pos untuk membuka pintu gerbang.

Setelah melewati kompleks pabrik yang sangat luas, minibus hijau tua itu berhenti di depan sebuah gedung yang terletak di belakang kompleks pabrik. Beberapa orang pria turun dari minibus itu. Salah seorang dari mereka membawa seorang anak kecil berusia sekitar delapan tahun. Mereka bergegas membuka pintu gedung dan masuk.

Tanpa diketahui, sesosok tubuh mengintip apa yang mereka lakukan dari kejauhan. Dia adalah Andika, dengan jaket dan celana jins yang selama ini selalu dipakainya. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Andika memutuskan mendatangi gedung yang tadi dimasuki orang-orang yang diintainya.

“Aku masuk...” kata Andika melalui alat komunikasi yang menempel di telinganya.

“Hati-hati. Mungkin ada yang menjaga di dalam...” terdengar suara Deva.

Setelah memastikan keadaan di sekitarnya aman, Andika membuka pintu masuk sedikit. Nggak ada orang. Dia membuka lagi hingga tubuhnya bisa menyusup melewati pintu tersebut.

“Aku tak bisa mengerti tindakanmu. Kau itu berani atau bodoh sih? Kau tidak punya persenjataan dan perlengkapan lengkap serta dukungan personil, tapi nekat masuk ke kandang macan.”

Andika cuma tersenyum mendengar ucapan Deva. “Jangan khawatir. Aku punya lebih daripada sekadar senjata.”

“Apa itu?”

“Nanti kau akan tahu. Tunggu, ada orang...”

Andika yang bersembunyi di balik sebuah mesin raksasa melihat dua orang berjalan mengelilingi gedung yang berisi mesin-mesin raksasa. Berbeda dengan petugas keamanan di pintu gerbang yang mengenakan seragam satpam, kedua orang ini mengenakan pakaian serbahitam, termasuk topi yang mereka kenakan, dengan senapan otomatis tersandang di pundak. Tampaknya mereka menjaga sesuatu yang sangat penting dan rahasia. Andika nggak melihat orang-orang yang tadi turun dari minibus. Ke mana mereka? tanya Andika dalam hati.

Andika nggak perlu lama menunggu. Sebuah pintu di salah satu sisi gedung dan bertuliskan “Refrigerator” terbuka. Seorang pria keluar dari sana. Andika mengenalinya sebagai salah seorang dari mereka yang turun dari minibus. Setelah menutup kembali pintu dan memberi salam kepada kedua penjaga di depannya, orang tersebut melangkah menuju pintu keluar gedung.

Jadi di situ...! kata Andika dalam hati.

Sekarang masalahnya, bagaimana masuk ke sana tanpa ketahuan? Bisa aja Andika membereskan kedua penjaga, tapi itu mungkin akan menimbulkan keributan, dan bukan nggak mungkin akan memancing munculnya penjaga lain yang akan memperkeruh suasana.

Andika nggak perlu susah-susah menemukan cara untuk masuk, karena saat itu pintu gedung terbuka kembali. Tiga orang masuk, salah satunya adalah Duta. Perwira tinggi ini nggak memakai seragam militer seperti biasanya, tapi memakai jaket kulit dan celana hijau tua. Dia berbicara pada penjaga yang memberinya hormat, lalu masuk ke Refrigerator. Sementara dua orang yang mendampinginya kembali keluar gedung bersama dua penjaga tadi. Tampaknya mereka akan mengambil sesuatu di luar.

Ini kesempatan bagus bagi Andika. Dia berlari dan segera membuka pintu Refrigerator.

“Aku udah menemukan pintu ke lab mereka. Aku akan masuk.”

“Oke. Hati-hati. Mungkin kita tidak akan berhubungan lagi...”

“Thanks...”

Sebelum penjaga kembali, Andika masuk ke lemari pendingin itu. Suhu dingin di bawah nol derajat Celcius segera menyergap tubuhnya. Di dalam ruangan itu Andika melihat obat-obatan produksi PT Venon Regen yang tersimpan dalam rak-rak dan lemari yang berjajar rapi memenuhi ruangan.

Sekarang ke mana? tanya Andika dalam hati. Dia nggak melihat ada satu pintu pun. Sementara itu tubuhnya mulai menggigil hebat. Jaket yang dipakainya nggak dapat melindungi tubuhnya dari hawa dingin yang menusuk. Lima menit lagi dia harus keluar atau tubuhnya akan membeku.

Pasti di sini ada pintu rahasia, tapi di mana? Andika memandangi deretan lemari yang berjajar di dinding. Saat itulah Andika mendengar suara-suara di luar. Para penjaga itu udah kembali. Bukan itu aja. Tampaknya mereka akan masuk ke ruangan itu.

Sial! Bagaimana ini?

Andika meneliti sekelilingnya. Nggak ada tempat baginya untuk bersembunyi.

Pintu Refrigerator terbuka. Dua penjaga dan dua orang yang datang bersama Duta tadi masuk sambil menggotong sebuah peti besi berukuran besar dan tampaknya sangat berat. Sesampainya di depan salah satu lemari yang berisi botol obat-obatan, salah seorang dari mereka menekan nomor-nomor kode pada keypad mini yang tersembunyi di samping lemari. Nggak lama kemudian lemari obat itu masuk ke dinding, kemudian bergeser ke samping, membentuk pintu. Setelah keempat orang itu masuk, lemari obat tadi kembali ke tempatnya semula.

Keempat orang yang baru masuk nggak menemui Andika di dalam. Ke mana dia? Rupanya Andika bersembunyi di bagian langit-langit, bergelantungan di atas pipa-pipa pendingin. Untung aja nggak ada yang menengok ke atas. Jika itu sampai terjadi, tamatlah riwayat Andika.

Andika turun. Berada di dekat pipa-pipa pendingin membuat dirinya lebih hangat. Tapi kini nggak ada waktu lagi. Dia harus segera masuk, walau dengan risiko berpapasan dengan salah satu atau keempat orang yang baru masuk yang dia yakin pasti akan kembali keluar.

Untung-untungan! batin Andika. Andika menuju ke tepat keypad berada. Nggak sulit membongkar sistem kode angka yang sebetulnya udah ketinggalan zaman itu, dengan alat pemecah kode yang dikantonginya di celananya yang berkantong banyak. Alat yang besarnya seukuran bungkus rokok itu disambungkan dengan sirkuit pada keypad. Nggak kurang dari tiga puluh detik kemudian, Andika udah mengetahui kombinasi angka yang tepat, dan membuka lemari obat yang merupakan pintu rahasia itu.

Ruang sempit di dalam pintu rahasia itu rupanya lift untuk turun. Ada tombol besar berwarna kuning dalam lift. Andika menekan tombol tersebut dan meluncurlah lift ke bawah. Dia menyiapkan diri menunggu kemungkinan yang terjadi dengan mengeluarkan pistol, satu-satunya senjata yang dibawanya.

Lift berhenti dan pintunya terbuka. Anehnya, nggak ada seorang pun yang terlihat di balik pintu lift yang merupakan koridor pendek. Di ujung koridor terlihat ruangan seperti lobi yang cukup luas, dengan dua koridor lain di sisi-sisinya. Dua penjaga tampak berada di sana.

Gawat nih! pikir Andika. Bagaimanapun dia nggak mungkin terus-terusan bersembunyi. Apalagi untuk mengetahui keberadaan Fika, Andika harus menyamar agar mendapat akses menjelajah setiap bagian laboratorium rahasia ini.

Lobi itu agak gelap. Sepertinya tidak semua lampu dinyalakan, hingga Andika dapat menyelinap saat kedua penjaga lengah nggak mengawasi koridor menuju lift. Andika menghampiri koridor yang ada di dekatnya. Setelah berjalan beberapa meter dengan hati-hati, dia mendengar suara langkah lain. Rupanya seorang penjaga menuju ke arahnya.

Ini kesempatan bagus!

Andika bersembunyi di salah satu sudut koridor yang gelap. Saat penjaga itu lewat di depannya, cepat dia menyergapnya. Satu gerakan kecil yang mematikan dan tanpa suara cukup untuk membuat si penjaga tersungkur lemas. Andika menyeret tubuh si penjaga ke sebuah ruangan yang ada di koridor tersebut. Beberapa menit kemudian dia keluar ruangan dengan mengenakan seragam penjaga. Seragam itu agak kebesaran untuk Andika, tapi nggak ada jalan lain. Dia juga mendapat senapan otomatis jenis MP5-HK, senjata standar yang dibawa penjaga tadi.

***

Duta, Chiko, dan Dave berdiri di dalam sebuah ruangan, di depan sebuah kaca. Di balik kaca itu, di ruangan lain, duduk anak kecil berusia sekitar delapan tahun, makan mi instan dengan lahap.

“Sekarang terserah Anda, mau Anda apakan dia...” kata Chiko.

Duta nggak langsung menjawab, melainkan terus memandang anak di hadapannya.

“Kenapa kau bawa dia kemari?”

“Memang kenapa? Takut dia membocorkan rahasia? Jangan khawatir, dia cuma seorang bocah. Kami telah menuruti keinginan Anda membawanya secara baik-baik. Butuh waktu seharian penuh untuk meyakinkan pihak Mabes, yang seharusnya menjadi tugas Anda. Untung Pak Dave mau membantu.”

“Kau tahu aku tidak bisa melakukannya. Akan menimbulkan banyak pertanyaan. Lalu bagaimana jika Mabes menanyakan hal ini pada Departemen Pertahanan?”

“Jangan cemas, itu sudah diatur...” Kali ini Dave angkat bicara.

“Sementara biarkan dia di sini. Nanti aku akan menanyainya, apa yang dia katakan pada penyidik. Sesudah itu, kita lihat aja nanti,” ujar Duta.

Pintu ruangan terbuka. Seorang penjaga masuk dan menghampiri Chiko, melaporkan sesuatu.

“Bapak-bapak, percobaan kita telah siap,” kata Chiko kemudian.

***

Andika masuk ke sebuah ruangan yang nggak terkunci. Sedari tadi dia menjelajah ruangan demi ruangan yang dilewatinya, tapi nggak menemui tanda-tanda keberadaan Fika.

Fika, di mana kamu? tanya Andika dalam hati.

Ruangan yang dimasukinya ternyata merupakan ruangan penghubung karena ada pintu lain di salah satu sisinya. Andika membuka pintu itu. Ruangan di belakangnya sangat besar dan luas. Tingginya kira-kira tiga lantai. Di setiap lantai terdapat beranda-beranda dari metal yang menghubungkan dengan ruangan lain di lantai tersebut. Andika sendiri berada pada salah satu beranda di lantai tiga.

Nggak masuk akal. Bagaimana mereka bisa membangun tempat sebesar ini tanpa ketahuan? Mustahil! batin Andika. Melihat besarnya ruangan itu, Andika nggak yakin kalau tempat ini cuma digunakan untuk membuat Genoid. Pasti ada fungsi lain, seperti membuat senjata atau peralatan perang misalnya.

Selain penjaga, beberapa orang yang berpakaian seperti jas lab berwarna biru muda berseliweran di lantai dasar. Mereka tampaknya sedang sibuk mempersiapkan sesuatu. Lalu Andika melihat empat orang keluar di beranda lantai dua. Mereka adalah Chiko, Duta, Dave, dan seorang lagi orang berkulit putih dengan rambut yang juga mulai memutih dan terlihat acak-acakan. Orang itu mengenakan kacamata dan jas lab. Dia adalah Prof. Albert Wischbert, kepala proyek Genoid. Andika mengenal orang itu dari brifing yang diterimanya dari CIA, juga dari masa tinggalnya di rumah Prof. Sahid sebelumnya.

Pengkhianat! batin Andika begitu melihat Prof. Wischbert. Dia tahu Prof. Wischbert dulunya adalah asisten Prof. Sahid.

Prof. Wischbert berbicara melalui earset yang tergantung di telinga kanannya. Dengan cara itulah dia berkomunikasi dengan anak buahnya di lantai dasar.

“Status?”

“Semua siap.”

“Oke, laksanakan.”

Salah satu pintu di lantai dasar terbuka. Sebuah truk berukuran sedang berwarna putih memasuki ruangan. Truk itu berputar-putar sebentar kemudian berhenti di salah satu sisi ruangan. Pintu lain terbuka. Sesosok tubuh tinggi besar dan berpakaian serbahitam keluar. Wajahnya yang dipenuhi cambang menatap dengan tatapan mata bengis. Andika mengenalnya sebagai salah satu Genoid. Genoid itu mengambil posisi berhadapan dengan truk putih.

“Itu Nomor Dua?” tanya Dave. Chiko mengangguk.

“Kami siap.”
         
“Laksanakan.”

Truk yang dikendarai oleh salah seorang staf itu menaikkan putaran mesinnya. Sementara di depannya, Genoid yang dipanggil No.2 itu menatap truk tanpa ekspresi. Matanya berhadapan bagaikan banteng melawan matador. Sejurus kemudian truk putih itu melesat, melaju ke arah No.2 dengan kecepatan tinggi. Benturan nggak dapat dihindari, sementara No.2 juga nggak menunjukkan tanda-tanda akan menghindar. Dalam hitungan detik sejak mulai melaju, truk itu menghantam No.2, membuatnya terpental sekitar sepuluh meter ke depan. Begitu menabrak, truk langsung berhenti. Kerasnya tabrakan terlihat pada bagian depan mobil yang agak ringsek. Sementara No.2 tergeletak beberapa meter di depannya.

“Dia tidak apa-apa?” tanya Duta. Sebagai jawaban Prof. Wischbert mengangkat HT-nya.

“Laporan status?”

“Denyut jantung lima puluh per menit... Oke!”

“Tekanan darah seratus dua puluh per seratus... Oke!”

“Respirasi sebelas per menit... Oke!”

“Aktivitas otak sembilan puluh lima persen... Oke!”

“Luka fisik sembilan puluh tujuh persen... Oke!”

Seolah menjawab gambaran dari laporan staf itu, No.2 perlahan-lahan bangun dan kembali berdiri seperti nggak mengalami kejadian apa pun.

“Mustahil! Dia ditabrak dengan keras. Mustahil tanpa cedera sedikit pun!”

“Kami belajar dari apa yang menimpa Nomor Empat...” Prof. Wischbert menjelaskan. “Rahasianya ada susunan DNA-nya. Kami mengubahnya sedikit untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya.”

“Apakah bisa mengubah susunan DNA saat dia udah dewasa?” tanya Chiko.

“Bisa. Memang sebaiknya dilakukan saat masih berbentuk embrio. Jika dilakukan saat sel-sel seseorang udah terbentuk, akan lebih rumit dan lama. Juga perubahan itu tidak terlalu berhasil dan dapat menimbulkan mutasi lain yang tidak kita inginkan. Tapi aku berhasil melakukannya.”

“Anda memang genius...” puji Dave.

“Tapi tidak segenius Profesor Sahid. Aku belum bisa menciptakan Genoid sesempurna dia.”

“Maksud Anda?”

“Kekuatan Nomor Dua memang meningkat. Tapi di sisi lain, membesarnya otot-otot tubuh mengakibatkan massa tubuhnya bertambah. Akibatnya kecepatannya akan sedikit berkurang. Juga kemampuan berpikirnya, walau masih di atas manusia normal. Dan yang paling disayangkan...”

“Apa?”

“Umur sel-sel tubuhnya menjadi lebih pendek. Dengan kata lain, kemampuan Nomor Dua kini cuma bisa bertahan tiga puluh enam jam, lebih pendek daripada sebelumnya yang empat puluh delapan jam.”

“Anda belum memasukkan Cathalyne ke tubuhnya? Bukankah gadis itu udah kita dapatkan?” tanya Duta.

“Kami belum selesai menganalisis sampel DNA-nya. Ada ribuan kombinasi DNA yang hilang. Kami harus mencocokkannya dengan jutaan kombinasi yang telah ada. Butuh waktu lama untuk itu. Bahkan superkomputer yang paling cepat saat ini pun butuh waktu berhari-hari untuk melakukannya.”

“Berapa lama, Prof? Kita dikejar waktu...”

Sebagai jawaban Prof. Wischbert cuma mengangkat bahu.

“Waktu harus menunggu. Yang penting semuanya sempurna,” gumam Prof. Wischbert.

* * *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar