DEVA berjalan menyusuri gang-gang kecil di sudut kota Jakarta. Ini pertama kalinya cowok berusia 25 tahun itu pulang ke tempat kosnya dalam beberapa hari terakhir. Beberapa hari ini Deva emang sibuk dalam misi CIA di Indonesia. Misi yang baru aja dibubarkan beberapa jam yang lalu. Sekarang dia ingin melampiaskan kelelahannya dengan beristirahat di tempat kosnya. Mungkin sekadar tidur, nonton TV, atau bahkan menjelajah Internet, melanjutkan hobinya sebagai hacker yang sempat tertunda.
“Deva...”
Seseorang memanggil namanya. Deva menoleh. Samar-samar dia melihat ada yang berdiri di salah satu sudut gang. Walau begitu Deva nggak tahu siapa itu, karena keadaan di sekitarnya emang gelap. Lampu penerangan jalan yang dipasang di dekat situ udah lama mati.
Tapi Deva nggak perlu menunggu lama untuk mengetahui siapa orang yang memanggilnya. Orang dalam kegelapan itu cepat menghampirinya, dan mencekal tangannya.
“Andika?”
Orang yang ternyata Andika itu membawa Deva ke tempat gelap.
“Bukannya kamu udah naik pesawat?”
“Aku kabur dari Martin saat dia lengah. Aku butuh bantuanmu. Aku harus tahu ke mana mereka membawa gadis itu...” lanjut Andika tanpa basa-basi.
“Untuk apa? Misi telah dibubarkan...”
“Tidak bagiku. Aku harus menyelamatkannya. Aku ingat kemarin kau bilang CIA telah tahu lokasi pembuatan Genoid. Aku ingin tahu di mana,” ujar Andika dengan suara memohon.
“Aku tidak tahu pasti. Cuma Pak Masdi pernah cerita begitu. Lokasi itu dirahasiakan oleh CIA.”
“Kau bisa mencarinya?”
“Kau gila? Itu berarti aku harus menembus jaringan data CIA. Hacker mana pun akan berpikir seribu kali untuk masuk ke sana. Tidak mudah ditembus. Selain itu risikonya juga besar jika ketahuan.”
“Tolonglah, ini menyangkut nyawa manusia...”
Deva terdiam mendengar ucapan Andika. Dia berpikir untuk mengiyakan permintaan Andika.
“Fika adalah warga negara Indonesia. Selain itu dia juga manusia yang berhak hidup, walau bukan manusia biasa. Selama ini kehidupannya damai, sampai kejadian itu mengusiknya. Apa kamu mau terus-terusan menuruti perintah negara lain? Sedang sesama bangsamu sedang menderita.”
“Tapi sekarang Fika di tangan orang-orang kita. Bukan di tangan bangsa lain.”
“Sama aja. Mereka membuat Genoid bukan untuk bangsa ini, tapi untuk dijual kepada siapa aja yang bisa membelinya. Mereka melakukan itu untuk keuntungan mereka sendiri. Dan kau pasti bisa tebak siapa pembelinya, bukan? Para teroris dan negara-negara diktator yang membutuhkan tentara bayaran yang kuat dan patuh untuk kepentingan mereka. Kekerasan pasti akan sering terjadi di muka bumi ini. Kau bisa bayangkan itu? Cuma karena mereka tidak bisa mendapatkan Fika semua itu bisa dicegah. Bagaimana jika mereka berhasil membuat Cathalyne?”
Ucapan Andika rupanya cukup bagi Deva untuk mengambil keputusan.
“Baiklah. Tapi aku butuh waktu. Tidak mudah menembus mainframe mereka.”
“Berapa lama?”
“Entahlah. Bisa satu jam, bisa seharian, atau bahkan bisa berhari-hari. Tergantung kemujuran kita aja.”
“Kalo begitu tunggu apa lagi?”
***
Lima menit kemudian, Deva dan Andika berada di dalam kamar kos Deva. Walau berukuran nggak terlalu besar, kamar kos itu mempunyai perangkat komputer lengkap. Segala jenis komputer mulai PC hingga laptop ada di dalamnya. Deva menggunakan perangkat khusus untuk masuk ke jaringan. Perangkat yang dibuatnya sendiri itu membuatnya nggak dapat terlacak jika masuk ke jaringan maya, sangat berguna bagi seorang hacker.
“Ini gila. Mereka bisa membunuhku...” ujar Deva sambil menyalakan laptop-nya. “Lagi pula andaikata kau tahu lokasinya, apa yang bisa kaulakukan? Tempat itu pasti dijaga ketat oleh pasukan bersenjata lengkap. Belum lagi para Genoid yang ada di dalam. Lagi pula kau tidak mungkin didukung CIA. Mereka telah membatalkan misi.”
“Itu urusanku. Kau cuma perlu mencari di mana lokasinya. Fika tidak bersalah, tidak sepantasnya menjadi korban.”
“Kau tidak peduli dengan nasib keluargamu?”
“Tentu aja aku peduli! Tapi aku tidak ingin mengorbankan seseorang demi kepentinganku sendiri.”
Deva tertegun sejenak mendengar ucapan Andika.
“Mulia sekali...” katanya. Deva menoleh ke arah Andika. “Katakan terus terang, kau jatuh cinta pada dia?” tanya Deva, membuat Andika sedikit terenyak.
“Kamu ngomong apa sih? Aku cuma kasihan padanya. Dia cuma gadis biasa. Dia udah cukup menderita tanpa tahu apa-apa. Ini udah keterlaluan,” bantah Andika. Tapi dia nggak sadar wajahnya memerah.
Deva menatap Andika sesaat. “Benar, kau jatuh cinta padanya,” begitu kesimpulan Deva. Lalu tanpa menunggu reaksi Andika dia kembali memandangi layar monitor. Saat ini mereka sedang terhubung dengan jaringan CIA.
“Sekarang kita akan masuk ke bagian yang menjelaskan seluruh daftar covert operation yang dilakukan CIA. Sistem keamanan bagian ini sangat kompleks. Tidak semua hacker bisa masuk. Kalaupun bisa, ada sistem pelacak yang segera aktif, melacak posisi penyusup. Kita cuma punya waktu satu menit sebelum mereka berhasil melacak posisi kita. Siapkan jammu.”
Andika segera mengeset stopwatch yang ada di jam tangannya.
“Siap? Tiga, dua, satu, sim salabim...” Deva menekan sebuah tombol, bersamaan dengan dijalankan stopwatch pada jam Andika. Segera terbentanglah daftar berbagai macam covert operation yang sudah/sedang/akan dilakukan CIA. Deva meneliti daftar yang lumayan banyak itu.
“Banyak juga...” gumam Deva. Sementara itu waktu terus berjalan.
“Gila... Indonesia juga jadi target beberapa operasi! Lihat nih, mereka merencanakan mengadu domba Indonesia dengan Malaysia. Targetnya dua tahun mendatang harus sudah terjadi konflik, hingga Amerika Serikat punya alasan untuk mendirikan pangkalan militer di sekitar Asia Tenggara. Juga ada...”
“Empat puluh detik lagi...” Andika mengingatkan, membuat Deva kembali berkonsentrasi ke tujuan utamanya.
“Ini dia, Operation Angel...” Deva mengklik nama pada daftar yang dimaksud.
“Tiga puluh detik...”
“Tujuan, lokasi, target, personil, cara kerja...”
“Dua puluh detik...”
“Laporan...”
“Sepuluh detik...”
“Cepat lihat!” perintah Deva.
Andika memelototi layar. Di sini? kata Andika dalam hati.
Lima, empat, tiga, dua...
Cepat Deva memutuskan hubungan. Layar monitor pun kembali ke sistem operasi standarnya.
Hampir aja! batin Deva. Tubuhnya basah kuyup berkeringat.
“Kuharap kau tahu apa yang akan kaulakukan...” ujar Deva lirih.
“Jangan khawatir. Aku udah punya rencana.”
***
Malam hari, Pak Oni baru pulang. Tubuhnya letih. Dia kesal, jengkel, dan merasa tidak dihargai. Bagaimana nggak, penyelidikannya tentang kasus penyerangan di kantor polisi tiba-tiba dihentikan dengan alasan yang nggak jelas. Selanjutnya kasus itu akan diambil alih tim yang terdiri atas gabungan militer, intelijen, dan Departemen Pertahanan. Yang membuat Pak Oni tambah jengkel, nggak satu pun unsur kepolisian dilibatkan. Padahal TKP maupun korban berasal dari pihak polisi. Seluruh hasil penyelidikannya yang sedang berjalan diambil tanpa menyisakan apa pun. Oni nggak bisa berbuat apa-apa, karena ini perintah dari atas. Perintah dari orang yang mempunyai wewenang tinggi.
“Ayah...” kata Reni yang melihat ayahnya baru datang. Pak Oni melirik anaknya.
“Ayah masih capek. Kalau mau bicara nanti aja setelah Ayah makan,” kata Oni dengan nada kaku.
“Tapi, Yah...”
“Reni, jangan ganggu Ayah. Nanti aja kalau mau ngomong...” sambar ibunya. Reni terdiam mendengar ucapan ibunya, lalu kembali ke kamar.
* * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar