Part 3
REZA datang ke rumah Fika tepat jam lima. Dan sumpah, baru kali ini Fika melihat wajah Reza begitu manis. Lebih manis daripada yang dia lihat sehari-hari di sekolah. So cute! batin Fika.
“Berangkat sekarang, Fik?” tanya Reza begitu Fika muncul dari dalam kamarnya. Reza juga nggak kalah terpananya melihat dandanan Fika malam ini. Walau memakai kaus dan celana panjang katun yang terkesan sederhana, kecantikan alami Fika justru terpancar. Kecantikan tanpa polesan make-up apa pun. Rambutnya dibiarkan tergerai. Soal rambut itu sendiri merupakan saran dari Ira. Kata Ira yang hobi banget baca majalah wanita dan kecantikan, rambut wanita yang tergerai menimbulkan kesan sensual yang disukai oleh pria. Fika mulanya nggak terlalu percaya ucapan Ira. Dia menggerai rambutnya karena emang habis keramas, karena itu rambutnya nggak boleh terlipat-lipat atau diikat sesuatu. Tapi, melihat tatapan Reza pada dirinya malam ini, diam-diam dia mulai memercayai ucapan sahabatnya itu.
Setelah pamit pada mamanya, Fika dan Reza berangkat ke tempat yang udah disiapkan oleh Reza. Mereka berdua rencananya akan nonton, lalu makan malam. Karena itu Fika emang minta Reza untuk pergi agak sore, supaya pulangnya nggak kemalaman.
***
Seusai nonton, Reza mengajak Fika makan malam di restoran yang cukup mewah dan eksklusif. Fika kaget juga saat tahu Reza akan membawanya ke mana. Terus terang dia agak minder karena belum pernah masuk restoran yang dia pikir takkan pernah dimasukinya seumur hidup. Selain itu dia merasa bajunya kurang pas untuk tempat seperti ini. Fika agak menyesal juga nggak ikut saran mamanya untuk memakai gaun, karena menurutnya dia cuma makan malam biasa dengan Reza, di tempat yang biasa juga. Tapi, dia nggak mau mengecewakan Reza yang udah mengajaknya. Untung Fika dapat melupakan kegugupannya dan bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya dengan cepat.
***
“Ini untuk kamu...” kata Reza sambil meletakkan sebuah kotak hitam kecil di depan Fika, saat mereka selesai menyantap hidangan penutup. Walau udah dapat menduga apa isi kotak itu, tapi nggak urung Fika kaget juga dengan pemberian Reza. Dia membuka kotak yang isinya sebuah cincin perak bermatakan cubic zirkonia yang memancarkan sinar kemilau.
“Kak Reza...?” tanya Fika nggak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Maksudnya apa, Kak?”
“Ini untuk kamu. Sengaja aku pilihkan khusus untuk kamu. Mudah-mudahan pas di jari kamu...” ucap Reza.
“Iya... tapi... buat apa? Fika kan nggak ulang tahun?”
“Emang harus nunggu ulang tahun kamu kalo mo ngasih sesuatu?”
“Bukan gitu... tapi kenapa Kak Reza ngasih hadiah ke Fika? Cincin ini bagus banget! Harganya pasti mahal banget!”
“Itu karena...” Reza nggak melanjutkan ucapannya. Dia tampak ragu-ragu dan cuma memandang Fika. Suasana menjadi hening, cuma ditingkahi alunan musik lembut yang bergema di seluruh ruangan restoran. Fika balas memandang mata Reza. Dia jadi penasaran menunggu lanjutan ucapan Reza, walau sebetulnya udah bisa nebak ke mana arah pembicaraan kakak kelasnya itu. Jantung Fika tiba-tiba berdegup kencang. Sebenarnya dia ingin pergi ke toilet untuk menenangkan diri. Tapi Fika nggak mau kehilangan momen yang menurutnya sangat romantis ini.
“Aku sayang ama kamu. Aku ingin kamu jadi pacarku...” akhirnya Reza bisa melanjutkan ucapannya. Tentu aja setelah dia menghela napas beberapa kali dan mengumpulkan keberanian untuk mengatakan hal tersebut. Tubuh Reza terasa panas-dingin. Keringat tampak di wajahnya yang cool itu. Nggak heran jika ucapannya agak kaku dan sedikit terpatah-patah.
“Gimana?”
Fika terdiam sejenak. Wajahnya agak tertunduk. Seperti juga Reza, sebetulnya tubuhnya juga tiba-tiba merasa panas-dingin. Cuma aja dia masih bisa menyembunyikan sikapnya di hadapan Reza.
“Kamu mau nggak jadi pacarku?” Reza mengulangi pertanyaannya. Fika kembali menatap wajah Reza.
Kini beban ada di pundak Fika. Reza tinggal menunggu jawaban dari gadis itu. Walau yakin Fika juga senang padanya, Reza juga udah siap jika Fika mengatakan sebaliknya. Kemungkinan itu selalu ada. Bisa aja Fika menolaknya dengan berbagai alasan, mulai dari alasan nggak mau pacaran dulu, atau cuma menganggapnya sebagai teman dan kakak kelasnya yang sejak pertama kali masuk SMA 132 selalu bersikap baik dan membantunya dalam segala hal. Mungkin dia bukan tipe kekasih yang diidamkan Fika, walau banyak yang bilang dirinya punya semua hal yang diidamkan semua gadis. Tampan, kaya, dan baik hati.
“Fika harus jawab sekarang?” tanya Fika lirih. Hampir tanpa suara. Reza mengangguk.
“Fika nggak bisa...”
Ucapan Fika yang tak diduganya itu membuat Reza terkesiap. Dia nggak yakin dengan apa yang baru didengarnya. Ucapan Fika terlalu pendek dan cepat, walau diucapkan dengan jelas.
“Apa kamu bilang?”
“Fika nggak bisa jawab sekarang...”
“Kenapa? Kamu ada cowok lain?”
“Bukan gitu. Fika cuman nggak bisa ngasih jawaban secepat ini. Fika butuh waktu buat mikirin hal ini...”
Mendengar jawaban Fika, Reza tertunduk. Walau belum tahu apa jawaban yang akan diberikan Fika nanti, Reza merasa seolah-olah dia udah kalah berperang.
“Fika minta pengertian Kak Reza. Fika janji akan ngasih jawaban secepatnya. Kak Reza mau kan ngasih Fika waktu untuk berpikir?”
Reza menatap wajah Fika sejenak, lalu mengangguk perlahan.
“Makasih...”
***
Di sebuah hutan di Provinsi Papua, tengah malam...
Malam ini begitu gelap. Langit yang masih mendung setelah seluruh daratan Papua diguyur hujan tadi sore menjadi faktor utama kegelapan malam ini. Kegelapan itu menyelimuti seluruh daratan, nggak terkecuali sebuah perkampungan kecil di tengah hutan di kawasan pegunungan Papua Tengah. Suasana lebih gelap di perkampungan yang terdiri atas puluhan gubuk sederhana kayu dan hasil hutan lain itu, karena cuma beberapa di antara gubuk-gubuk tersebut yang berpenerangan, baik dari sinar petromaks, lentera, atau lilin. Nggak ada penerangan listrik di tempat itu. Selain karena PLN emang belum masuk sampai pegunungan, hal itu disengaja, karena perkampungan itu sebenarnya salah satu markas Gerakan Separatis Papua atau yang lebih dikenal dengan sebutan OPM yang bertujuan memisahkan Papua dari Indonesia. Ada sekitar seratus anggota OPM di situ, termasuk beberapa pemimpinnya. Kampung itu sengaja memasang sumber cahaya seminim mungkin hingga keberadaannya nggak diketahui Militer Indonesia yang terus berpatroli mencari keberadaan anggota dan markas OPM di seluruh Papua. Letaknya yang di tengah hutan dan jauh dari pemukiman penduduk, serta dengan akses masuk melewati hutan belantara yang sulit dan berbahaya membuat keberadaan kampung OPM ini aman dari sergapan Militer, setidaknya hingga sekarang.
Suara helikopter tiba-tiba terdengar di atas perkampungan. Beberapa orang anggota OPM yang berjaga di sekeliling kampung menjadi kaget. Mereka nggak menyangka ada helikopter yang lewat di atas mereka, apalagi tengah malam dan di saat hujan begini.
“Oei, kasi mati itu lampu, tempo!”
Cornelius Rumampai, kepala pasukan OPM di perkampungan itu yang juga salah satu dari empat panglima OPM paling berpengaruh, keluar dari gubuknya. Pria paruh baya itu kebetulan belum tidur. Dia sedang rapat dengan beberapa anak buahnya.
“Tra usah takut! Mungkin heli itu de cuma lewat saja!” teriak Cornelius pada anak buahnya.
“Se begimana kalo dorang liat kita pu tempat, Bapa?”
“Tra usah takut. Kalopun dorang liat tempat ini, pasti makan waktu berhari-hari buat dorang pu pasukan darat sampe ke torang pu tempat.”
Beberapa saat kemudian ketegangan situasi mereda. Para anggota OPM yang tadinya bersikap siaga dengan membawa senjata masing-masing mulai masuk lagi ke gubuk mereka, kecuali mereka yang bertugas menjaga malam ini. Cornelius masuk kembali ke gubuknya, ketika terdengar suara tembakan nggak jauh dari tempatnya berada.
“Dari timur!”
Beberapa anggota OPM terlibat baku tembak di timur kampung. Banyak dari mereka tersungkur terkena peluru yang ditembakkan dari dalam hutan yang mengelilingi kampung tersebut.
“Dorang tra pernah serang torang kalo su malam. Eh! Kenapa torang tra tau kalo dorang datangkah?” ujar Cornelius setengah nggak percaya.
Dugaan Cornelius benar. Memang bukan Militer Indonesia yang menyerang. Setidaknya tak ada tanda-tanda kesatuan militer pada baju serbahitam yang dikenakan penyerang. Jumlah mereka pun bukan satu pasukan, melainkan cuma lima orang! Ya, cuma lima orang bersenjata serbalengkap. Mereka semua berpakaian serbahitam dengan penutup kepala yang menutupi seluruh wajah kecuali bagian mata. Pada bagian mata yang tak tertutup mereka mengenakan kacamata malam, sehingga kegelapan malam bukan hambatan. Kemampuan kelima orang itu begitu mencengangkan dan hampir nggak masuk akal. Cuma berlima, mereka berhasil menewaskan banyak anggota OPM, dan tak satu pun dari mereka terkena peluru yang dimuntahkan anggota OPM. Gerakan mereka sangat lincah. Tembakan mereka juga akurat. Hampir nggak ada peluru yang terbuang sia-sia. Pendek kata, kemampuan kelima penyerbu itu sama dengan kemampuan satu kompi pasukan, bahkan lebih.
“Ayo, cepat sedikit, bawa mama-mama dong anak-anak masuk hutan!” perintah Cornelius melihat begitu banyak korban jatuh di pihaknya. Sampai saat ini dia dan sebagian besar anggota OPM masih mengira mereka diserang sepasukan tentara. Cuma satu kompi militer bersenjata lengkap yang dapat mengakibatkan korban begitu banyak.
Selain anggota OPM, di perkampungan itu juga terdapat wanita dan anak-anak yang merupakan keluarga sebagian anggota OPM. Mereka pun nggak luput dari sasaran peluru. Cornelius melihat sendiri seorang wanita tersungkur terkena tembakan sambil menggendong anaknya yang masih balita.
“Biadab!” maki Cornelius. Sebuah ledakan terjadi di belakangnya. Sebuah gubuk terbakar dihantam roket. Nggak cuma itu. Para penyerbunya juga melemparkan granat gas air mata, sehingga suasana semakin panik.
“Nomor Dua, Nomor Empat, ke arah jam satu! Jangan ada yang lolos!!”
Perlawanan para anggota OPM sepertinya sia-sia. Kemampuan mereka jauh di bawah para penyerangnya. Padahal jumlah mereka dua puluh kali lebih banyak. Satu per satu para milisi bersenjata itu tersungkur di tanah yang becek sambil meregang nyawa. Nggak cuma mereka yang bersenjata, anak-anak dan wanita juga mengalami nasib yang sama.
Cornelius pun demikian. Setelah melawan sengit dengan AK-47 di tangannya, panglima OPM itu akhirnya roboh setelah serentetan tembakan mengenai tubuhnya. Dalam waktu nggak sampai setengah jam, seluruh penghuni kampung tewas tak bersisa. Cuma ada suara kobaran api dari gubuk-gubuk yang terbakar.
Kelima orang berpakaian serbahitam itu berpencar menyisir seluruh kampung, mencari siapa tahu ada yang masih tersisa. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Sesekali terdengar suara tembakan jika mereka menemukan ada yang belum tewas. Salah seorang dari mereka berjongkok di depan mayat Cornelius Rumampai.
“Gagak hitam pada sarang. Misi tahap satu sudah dilaksanakan...”
“Bagaimana dengan target utama?”
“Positif tewas. Lima belas lubang peluru di badan, dua di kaki, satu di kepala.”
“Bagus. Sekarang lanjutkan ke tahap dua. Bersihkan tempat itu. Jangan ada bukti yang tersisa. Helikopter akan menjemput kalian tiga puluh menit lagi.”
“Baik.”
Orang yang tampaknya pimpinan dari keempat lainnya itu berdiri.
“Kalian sudah dengar, jangan ada yang tersisa,” katanya.
“Bagaimana dengan dia?” kata salah seorang di antara mereka sambil mencekal lengan seorang pria paruh baya.
“Katanya dia kerja untuk TNI.”
“Betul, sa pu nama Yance. Sa yang kasi tau tempat ini. Kalo Cornelius, Kolonel Haris de sendiri yang kasi sa tugas itu. Pasti dia toh yang cerita sa sama kamu orang?”
Pimpinan regu itu memandang sejenak Yance. Lalu tanpa basa-basi dia mencabut pistol yang terselip di pinggangnya, dan menembakkannya ke arah Yance. Tepat di keningnya. Pria itu langsung roboh dan tewas.
“Jangan ada bukti yang tersisa,” katanya. Ucapannya diikuti tangis bayi. Rupanya salah seorang anggota regu menemukan seorang bayi dalam pelukan ibunya yang tewas.
“Kalau dia?” tanya salah satu anak buahnya yang menggendong bayi itu. Suaranya menunjukkan dia seorang wanita.
Pimpinan regu tersebut memandang bayi dalam gendongan anak buahnya. Bayi yang nggak berdosa itu terus menangis, seolah-olah mencari ibunya.
“Tanpa kecuali,” ujarnya singkat.
***
Pukul dua dini hari, Fika belum bisa memejamkan mata. Saat-saat bersama Reza masih memenuhi pikiran gadis itu. Fika nggak bisa memungkiri perasaannya bahwa dia juga menyukai Reza sejak pertama kali masuk SMA 132 dan mengenal cowok itu sebagai salah satu panitia ospek yang sering membantu dia dan teman-temannya. Teman-temannya juga memberi support begitu tahu Reza naksir dirinya. Tapi, ada satu hal yang masih mengganjal di benak Fika, yaitu status Reza sebagai salah satu siswa terpopuler di sekolah. Bukan rahasia lagi banyak siswi di SMA 132 yang menginginkan Reza sebagai pacar. Setiap saat selalu ada aja berita Reza sedang dekat dengan si A, lain waktu dengan si B, dan seterusnya. Walau Reza pernah membantah semua gosip itu, hal tersebut tetap aja menjadi pikiran Fika. Bukannya Fika nggak percaya pada ucapan Reza. Dia tahu Reza nggak pernah bohong padanya selama ini. Fika juga tahu bukan salah Reza kalau dia selalu menjadi bahan gosip. Reza emang baik, bahkan sangat baik pada semua orang. Dia bukan tipe remaja kaya yang bersikap borju dan memilih-milih teman. Reza mau berteman dengan siapa aja yang juga baik padanya, termasuk para cewek. Karena sikap Reza itu, nggak heran kalau banyak dari mereka yang salah sangka saat Reza sedang dekat atau memberi perhatian padanya. Dikiranya Reza naksir dirinya, hingga tersebarlah gosip-gosip yang nggak jarang bersumber dari diri si cewek itu sendiri. Fika dan teman-temannya juga pernah mengalami hal tersebut. Barulah setelah mereka tahu sifat Reza dan siapa gadis yang ditaksirnya, teman-temannya perlahan-lahan mundur teratur dan memberi jalan pada Fika untuk lebih dekat dengan Reza.
Sekarang Reza udah terang-terangan menyatakan perasaannya. Kini semua tergantung pada Fika. Terus terang Fika sendiri nggak menyangka Reza akan “nembak” dia secepat ini. Pake ngasih hadiah cincin segala. Fika belum siap. Dia belum siap menghadapi apa yang akan terjadi seandainya dia menerima cinta Reza. Akankah gosip-gosip di sekolah tentang Reza akan hilang begitu tahu Reza udah menentukan pilihannya? Dan jika gosip-gosip tersebut masih terus berembus, sanggupkah Fika mendengar dan menerimanya? Dia sendiri selama ini merasa sedikit jealous jika mendengar kabar kedekatan Reza dengan cewek lain, padahal saat itu Reza belum jadi pacarnya. Apalagi nanti?
Gue nggak boleh mikirin diri gue sendiri! Gue juga harus ngerti perasaan Kak Reza! batin Fika. Dia memandang cincin pemberian Reza yang masih tersimpan rapi di dalam kotak, di meja belajarnya. Walau Reza tadi bilang dia ikhlas memberikannya dan cincin itu akan tetap jadi milik Fika walaupun nanti Fika menolak cintanya, Fika tahu bagaimana perasaan Reza saat memilih dan memberikan cincin tersebut.
Entah kekuatan apa yang mendorongnya, tangan Fika meraih HP yang diletakkan di samping tempat tidurnya lalu menekan sebuah nomor telepon.
“Halo? Fika? Ada apa?” terdengar suara Reza dari seberang. Dari suaranya terbaca bahwa Reza tadinya udah tidur, dan terbangun mendengar dering HP-nya.
“Fika...” Fika menarik napas sebentar sebelum melanjutnya ucapannya, “...Fika mau jadi pacar Kak Reza. Fika juga sayang Kak Reza...” ujar Fika akhirnya dengan suara bergetar karena gugup.
Seusai berkata demikian Fika langsung menutup HP. Dia nggak memberi kesempatan pada Reza untuk mengucapkan sepatah kata pun. Dia juga nggak tau apa Reza sempat menyimak ucapannya barusan, atau masih dalam keadaan setengah sadar dari tidur. Yang jelas saat ini Fika udah tenang. Hatinya diliputi perasaan bahagia. Mungkin Fika dapat tidur dan bermimpi indah. Malam ini salah satu malam terindah yang dirasakan Fika sepanjang hidupnya.
* * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar